Isu Wakaf

Pengertian
Wakaf adalah satu bentuk kebajikan unik dalam islam. Dikatakan kebajikan unik karena wakaf merupakan ibadah yang mengabungkan dua aspek sekaligus, yaitu aspek kerohanian dan kebendaan. Wakaf, Secara bahasa adalah al-habs (menahan). Kata al-waqf adalah bentuk masdar (gerund) dari ungkapan waqfu al-syai’. Yang berarti menahan sesuatu. Dengan semikian, pengertian wakaf, secara bahasa adalah menyerahkan tanah kepada orang-orang miskin—atau untuk orang-orang miskin—untuk ditahan.

Makna wakaf secara istilah (hukum), pendapat para ulama berbeda-beda. Mereka mendefinisikan wakaf dengan definisi yang beragam, sesuai dengan perbedaan mazhab yang mereka anut, baik dari segi kelaziman dan ketidak lazimannya, syarat pendekatan didalam masalah wakaf ataupun posisi pemilik harta wakaf setelah diwakafkan. Selain itu, juga perbedaan persepsi di dalam tatacara pelaksanaan wakaf—apakah bisa diangap sah atau gugur ?. Dan, apa-apa yang berkaitan dengan wakaf, seperti pensyaratan serah terima secara sempurna, dan sebagainya

Ketika mendefinisikan wakaf, para ulama merujuk kepada para imam mazhab, seperti Abu Hanifah, Maliki, Syafi’I dan imam-imam lainnya. Maka yang terlintas setelah membaca definisi-definisi yang mereka buat, seolah-olah definisi tersebut adalah kutipan dari mereka. Padahal kenyataannya tidak demikian. Karena definisi itu hanyalah karangan ahli-ahli fikih yang datang sesudah mereka, sebagai aplikasi dari kaidah umum masing-masing imam mazhab yang mereka anut.

Para ahli fikih mazhab Safi’i mendefinisikan wakaf dengan beragam definisi, yang dapat ringkas sebagai berikut:
1. Imam Nawawi, dari kalangan mazhab Safi’i, mendefinisikan wakaf dengan: “menahan harta yang dapat diambil manfaatnya bukan untuk dirinya, sementara benda itu tetap ada. Dan digunakan manfaatnya untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah”
2. Al-Syarbini Al-Khatib dan Ramli Al-Kabir mendefinisikan wakaf dengan:”menahan harta yang bisa diambil manfaatnya dengan menjaga keamaan benda tersebut danmemutuskan kepemilikan barang tersebut dari pemiliknya untuk hal-hal yang dibolehkan”.
3. Ibn Hajar Al-Haitimi dan Syaikh Umairah mendefinisikan dengan:”menahan harta yang bisa dimanfaatkan dengan menjaga keutuhan harta tersebut, dengan memutuskan kepemilikan barang tersebut dari pemiliknya untuk hal yang dibolehkan”.
4. Syaikh Sihabuddin Al-Qalyubi mendefinisikan dengan:”menahan harta untuk dimanfaatkan, dalam hal yang dibolehkan, denan menjaga keutuhan harta tersebut”.

Definisi wakaf mazhab Hanafi memunculkan perebedaan dari beberapa aspek, yaitu:
1. Imam Abu Hanifah:
a. Habsul mamluk ‘an al-tamik min al-ghair. “menahan harta dari jangkauan (kepemilikan) orang lain”. (Imam Syarkhasi)
b. Habsul ‘aini ala milki al-waqif wa tashaduq bi al-manfa’ah. ” menahan harta di bawah tanngan pemiliknya, disertai pemberian manfaat sedekah”. (Al-Murghinany)
c. Habs Al-‘aini ala hukmi milki al-waqif, wa tashadduq bi al-manfaah wa lau bi-al-jumlah. “ penahanan harta dengan memberikan legalitas hukum milik waqif, dan mendermakan manfaat harta tersebut meski tidak terperinci”. ( pengarang kitab Al-Dur Al-Mukhtar)
2. Ulama Pengikut Abu Hanifah, penulis Kitab Tanwir Al-Abshar dan Al-Dur Al-Mukhtar, mendefinisikan wakaf yaitu ditahan sebagai milik Allah, dan manfaatnya diberikan pada mereka yang dikehendaki. Ibn Hammam mengomentari ungkapan kitab Al-Hidayah, ketika menerangkan makna wakaf dalam versi kedua sahaba (pengikut) Abu Hanifah, yaitu, ”hak kepemilikan Waqif beralih kepada Allah, dimana porsi harta itu sengaja ingin diberikan untuk seluruh hamba-Nya”. Ugkapan yang agak pas bahwa jika wakaf sah, maka kepemilikan si waqif menjadi hilang dan semestinya dia tidak memiliki lagi”.

Definisi wakaf mazhab Malikiyah, Ibn Arafah mendefinisikan bahwa wakaf adalah memberikan manfaat sesuatu, pada batas waktu keberadaannya, bersamaan tetapnya wakaf dalam kepemilikan si pemberinya meski hanya perkiraan (penggadaian.). definisi ini mengandung makna “kepemilikan masih dipegang oleh pemberi wakaf”

Wakaf didefinisikan oleh Al-Kabisi adalah “menahan asal dan mengalirkan hasilnya” sebagai mana dikutip dari hadis nabi SAW, definisi ini hanya membatasi pada hakikat wakaf saja.

Perbedaan definisi dan perincian tatacara mengenai wakaf menjadi sebuah khasanah yang sangat berharga dalam memahami wakaf secara keseluruhan.

Isu-isu wakaf;
Adanya definisi dari pala ulama mazhab yang berbeda dalam menjalankan wakaf memberikan dampak pada keberagaman tatacara dan pemanfaatan wakaf itu sendiri. Dan, seiring dengan perjalanan sejarah, pelaksanaan wakaf sudah memberikan gambaran yang sangat tertasa manfaat dalam pengembangan dan perbaikan kehidupan manusia, terbukti melalui beberapa catatan mengenai wakaf yang mampu menciptakan tercapainya kemajuan bangsa terdahulu.

Menurut Data Dirjen Bimas Islam Departemen Agama, institusi tanah wakaf pada tahun 2006 diseluruh indonesia berjumlah 403.845 lokasi tanah wakaf dengan keseluruhan mencapai 1.566.672.402 meter persegi. Selama ini aset wakaf yang berupa tanah ini diklasifikasikan kepada lima jenis pemanfaatan, yaitu: untuk masjid, langgar/mushala, madrasah/sekolah, kuburan/makam, dan sosial/lainnya. Corak penggunaan aset wakaf yang terklasifikasi seperti diatas sangat konsumtif tidak produktif.

Agar manfaat wakaf lebih terasa dan memberikan dampak pada kemakmuran masyarakat sekitar, kiranya perlu menjadikan wakaf sebagai aset produktif dalam mewujudkan tercapainya kesejahteraan sosial.

Sebenarnya, bila saja pengelola aset wakaf (nadzir) mampu mengoptimalkan aset wakaf, bisa saja tanah-tanah wakaf yang digunakan untuk masjid, langgar, atau sekolah dan masih menyisakan lahan disekitarnya dioptimalkan untuk menjadi lebih produktif.

Dalam perkembangan selanjutnya, aset wakaf menjadi lebih terbuka tidak hanya aset yang merupakan benda tidak bergerak semata. Juga, membuka untuk wakaf dengan aset benda bergerak. Sejarah mencatat pada masa Daulah Utsmaniah sudah terdapat kategori harta wakaf berupa aset tidak bergerak dan aset wakaf bergerak. Bahkan dalam UU No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf di Indonesia. Sudah terbuka peluang dan pengaturan mengenai wakaf benda bergerak seperti uang tunai.

Sehingga diperlukan kemampuan pengelolaan aset wakaf yang dapat mendorong terciptanya pendayagunaan aset secara lebih produktif dan menghasilkan manfaat yang baik secara material maupun non material. Dan pada akhirnya kontribusi aset wakaf dalam penciptaan masyarakat yang sejahtera dapat dirasakan.

UU No. 41 Tahun 2004 mengatur mengenai perlu adanya lembaga tersendiri yang mengelola aset-aset wakaf yang ada. Semangat penciptaan lembaga ini yaitu bercermin pada pengalaman beberapa negara yang sudah mampu mengelola aset wakaf secara lebih baik dalam penggunaannya. Sehingga dipandang perlu adanya lembaga sentral yang mengelola aset wakaf. Akan tetapi dalam undang-undang ini masih belum menjelaskan secara tegas bagaimana hubungan kelembagaan antara pemegang aset wakaf perseorangan dengan lembaga wakaf baik tingkat nasional maupun tingkat provinsi, tingkat kota/kabupaten.

Simpulan
Beberapa isu yang terkait dengan pengelolaan aset wakaf secara optimal sehingga manfaat dapat digunakan untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian masyarakat yang berdaya, antara lain:
1. Perbedaan yang beragam dalam memahami pengertian wakaf. perlu penetapan para ulama untuk mengambil kesepahaman dalam menggunakan pengertian tentang wakaf yang mana yang dijadikan sebagai pegangan operasional dalam menangani wakaf
2. Optimalisasi aset wakaf menjadi memberikan manfaat yang dapat berkontribusi dalam pencapaian kemakmuran umat untuk kesejahteraan sosial. Perlu peningkatan kemampuan pengelolaan aset para pengelola (nadzir) wakaf
3. Institusi wakaf yang masih tercerai berai menciptakan rendahnya dampak dari manfaat aset wakat bagi masyarakat. Perlu adanya penciptaan instituional wakaf yang terpusat dan pola hubungan yang dibangun untuk mendatangkan manfaat lebih besar

Daftar Pustaka:

Al-Kabis. 2004. Hukum Wakaf, kajian kontemporer pertama dan terlengkap tentang fungsi dan pengelolaan wakaf serta penyelesaian atas sengketa wakaf. Dompet Dhuafa-IIMan, Jakarta.
K. Lubis, Suhrawardi, dkk. 2010 Wakaf dan Pemberdayaan Umat, Sinar Grafika-UMSU publiser. Jakarta.
Qahaf Mundzir, 2008. Manajemen Wakaf Produktif, penerjemah. Muhyiddin Mas Rida, Lc. Kahalifa. Jakarta