Tinjauan Kritis Tentang Ilmu Kesejahteraan Sosial Dalam Filsafat Ilmu

  1. Filsafat Ilmu Kesejahteraan Sosial

Filsafat ilmu merupakan suatu studi yang menyangkut masalah eksplanasi, artinya bagaimana menjelaskan tentang ilmu menurut proses berpikir yang logis dan rasional. Pertanyaan berikut ini dapat menjelaskan filsafat ilmu, meliputi; apakah ilmu itu; apakah ilmu itu sama dengan pengetahuan; apa sajakah yang dipelajari oleh pengetahuan dan ilmu pengetahuan; apakan fungsi dan sarana berfikir yang digunakan ilmu, yang karena itu ilmu harus dikuasai; bagaimanakah dampak ilmu itu pada kehidupan manusia.

Ilmu Kesejahteraa Sosial merupakan Ilmu pengetahuan, penelaahan ilmu pengetahuan secara filsafat dimulai dari pengetahuan yang berasal dari fakta dan pengalaman-pengalaman hidup. Pengetahuan bergeser menjadi sebuah ilmu ketika fakta dielaborasi dengan cara-cara tertentu sehingga menjelaskan tentang data empiris tadi yang berasal dari fakta dan pengalaman, tahapan tersebut merupakan struktur dan prosedur ilmu menuju arah filsafat ilmu yang alur dimulai dari tahap pengetahuan ke ilmu dan menuju kepada filsafat ilmu.

Fungsi dan peran ilmu pengetahuan akan tampak dari bagaimana operasionalisasinya, atau mengapa orang harus melakukan hal berkaitan dengan apa yang dioperasionalisasikan itu, keadaan itu dapat dijelaskan adalah oleh karena ilmu itu bukan hanya sekedar sarana berpikir belaka, tetapi juga ilmu harus menjelaskan fakta. Pengetahuan yang berasal dari fakta dan pengalaman melalui cara tertentu bertransformasi menjadi ilmu pengetahuan. Fakta dan pengalaman yang terkandung dalam pengetahuan merupakan sebuah objek tertentu yang menjadi telaahan dari ilmu.

Pengetahuan akan kesejahteraan sosial adalah fakta-fakta mengenai masyarakat yang memiliki kepuasan interaksi antar sesamanya dalam kehidupannya. Karena masyarakat terhimpun dari individu-individu, yang berkelompok dalam keluarga dan komunitas-komunitas kepentingan, dan kewilayahan. Maka, pengetahuan kesejahteraan sosial mengungkapkan fakta dan pengalaman dari individu, keluarga, dan komunitas-komunitas tentang kepuasan interaksi antar sesamanya dalam kehidupan. Fakta dan pengalaman mengenai kepuasan individu dalam interaksi antar sesamanya dalam kehidupan merupakan data, melalui proses eksplanasi data inilah maka ilmu pengetahuan mengenai interaksi antar sesamanya dalam kehidupan menjadi objek dari ilmu kesejahteraan sosial.

Pada hakekatnya arti filsafat ilmu merupakan telaahan ilmu pengetahuan secara filsafat, yang ingin menjawab pertanyaan tentang hakekat ilmu pengetahuan, secara rinci dalam menelaah ilmu diuraikan dalam tiga landasan filsafat; ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ketiga landasan filsafat ini dapat dijadikan pembeda antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya, melalui pertanyaan – pertanyaan berikut secara jelas filsafat membedakan ilmu.

  1. Apakah yang akan dikaji oleh pengetahuan itu
  2. Bagaimanakah cara memperoleh pengetahuan itu
  3. Untuk apakah pengetahuan itu digunakan

Jawaban – jawaban yang diperoleh dari ketiga pertanyaan itu akan dapat membedakan tentang apa dan bagaimana berbagai jenis pengetahuan manusia dalam kehidupannya, serta meletakkan pengetahuan itu pada tempatnya yang berfungsi, sehingga kehidupan tersebut akan lebih bermakna bagi mereka yang menjalaninya.

 

  1. Landasan Filsafat Ilmu Kesejahteraan Sosial.
    1. ONTOLOGI

    Pada dasarnya, menurut Jujun S. Suriasumantri landasan ontologi dipahami melalui pemahaman mengenai filsafat ilmu itu sendiri yang merupakan telaahan secara filsafat untuk menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu seperti :

    “obyek apa yang ditelaah ilmu ? bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut ? bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan ?

     

    Konkritnya, bidang telaah sebagaimana konteks diatas merupakan landasan Ontologi Ilmu. Apabila konteks tersebut dapat dikorelasikan dengan Ilmu Kesejahteraan Sosial maka landasan Ontologi Ilmu Kesejahteraan Sosial pada hakikatnya akan menjawab pertanyaan apakah titik tolak kajian substansial dari Ilmu Kesejahteraan Sosial. Ternyata dari Optik Ontologi maka kajian substansial Ilmu Kesejahteraan Sosial terletak pada “kaidah-kaidah dalam mencapai kepuasan interaksi antar sesama manusai dalam masyarakat”.

    Fakta dan pengetahuan tentang kesejahteraan sosial adalah sebuah kondisi dalam masyarakat beserta indivudu-individu di dalamnya berada dalam keadaan yang ‘harmoni’, melalui ilmu kesejahteraan sosial akan diungkapkan upaya pencapaian kondisi masyarakat yang puas dengan kehidupan sosialnya sehingga berdampak pada keadaan harmoni dalam masyarakat.

 

  1. EPISTEMOLOGI

Ditinjau aspek etimologi maka epistologi berasal dari bahasa Yunani yang merupakan kata gabungan dari kata episteme dan logos, Episteme artinya pengetahuan dan logos lazim dipakai untuk menunjukkan adanya pengetahuan sistematik. Sehingga secara mudah epistemologi dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Selanjutnya, menurut A.M.W. Pranarka menyebutkan, bahwa menurut:

“Webster Third New International Dictionary mengartikan epitemologi sebagai “the study of methol and grounds of knowledge, especially with reference to its limits and validity”.

 

Runnes didalam Dictionary of Philosophy memberikan keterangan bahwa epistemologi merupakan ‘the bronch of philosophy which investigates the origin, structure methode an validity of knowledge’. Terdapat tiga persoalan yang mendasar dalam epistemologi yaitu: pertama tentang sumber pengetahuan manusia, kedua tentang teori kebenaran pengetahuan manusia, ketiga tentang watak pengetahuan manusia. (Kaelan, 2003: 67).

Pada dasarnya, apabila ilmu kesejahteraan sosial sebagai ilmu yang bertujuan menciptakan kondisi-kondisi kepuasan interaksi atara sesama anggota masyarakat, dan dapat dikatakan objek studi ilmu kesejahteraan sosial adalah kepuasan interaksi dalam masyarakat. Menurut Teori Kebutuhan sehingga memotivasi manusia untuk memenuhnya diungkapkan oleh Albert Maslow, maka kepuasan interaksi individu dalam masyarakat akan tercipta apabila semua kebutuhan dan keinginan sesuai dengan tahapan kebutuhan dapat terpenuhi sesuai dengan status masing-masing individu dan peran yang dimainkannya.

Teori ini di jadikan landasan bagaimana pengetahuan terhadap fakta dan pengalaman yang ada dielaborasi dengan pendekatan ilmiah dan diperoleh ilmu tentang kesejahteraan sosial yang membicarakan cara-cara mencapai keadaan kesejahteraan sosial

 

  1. AXIOLOGI

Menurut Jujun S Suriasumantri maka ditinjau dari aspek axiologi membahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

“Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan ? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/referisonal ?”

 

Konkritnya, dari aspek tersebut Axiologi Ilmu kesejahteraan sosial akan berkoleratif terhadap kegunaan dari Ilmu Kesejahteraan sosial itu sendiri. Diketahui bahwasanya Ilmu Kesejahteraan Sosial bersifat dinamis dalam artian mempunyai pengaruh dan fungsi yang khas dibanding dengan bidang bidang sosial lainnya.

 

  1. Simpulan

Kaitannya dengan karya ilmiah disertasi, landasan filsafat yang menelaah ilmu pengetahuan ini, hanya dapat memenuhi dua landasan filsafat terakhir, yaitu; landasan Epistemologi dan Axiologi, sedangkan landasan Ontologi merupakan landasan yang sudah menjadi pembeda utama dari keberadaan ilmu kesejahteraan sosial dengan ilmu-ilmu lainnya, oleh karenanya landasan ontologi ini tidak serta merta dapat digali oleh pengkajian berfikir ilmiah yang dapat merubah atau pergeseran ilmu kesejahteraan sosial. Kalau pun dari karya disertasi ini menemukan aspek ontologi baru maka akan memunculkan sebuah penelaahan mendalam kembali sehingga hasil disertasi ini akan mengantarkan pada suatu pengetahuan baru, kemudian dengan cara tertentu dielaborasi menjadi sebuah ilmu dan menjadi ilmu pengetahuan baru, dengan kajian filsafat terhadap ilmu yang baru ditemukan itu.

Manfaat akademik dan praktis dari penulisan disertasi ini sebagian besar dapat memberikan pengaruh dan dampak pada pengembangan ilmu dari landasan epistemologi dan axiologi. Dengan memainkan capaian dan manfaat akademik dan praktis dari penulisan disertasi pengembangan ilmu kesejahteraan sosial dapat dilakukan. Etika keilmuan dan moral ilmiah dalam penulisan disertasi yang dijaga dengan tingkat objektivitas yang tinggi serta kaidah-kaidah metode ilmiah serta pertanggunjawaban diri yang kuat bagi integritas pengembangan ilmu menjadi kunci utama agar hasil penulisan disertasi tidak membelokkan arah ontologi ilmu yang sudah menjadi aspek yang khas dari ilmu itu sendiri.