RESEARCH THERAPEUTIC

  1. Pendahuluan

    Praktik kesejahteraan sosial / pekerjaan sosial pada prinsipnya merupakan praktik yang bertujuan menciptakan perubahan dari individu-individu dalam kelompok, keluarga, organisasi bahkan masyarakat agar memiliki kemampuan untuk mandiri dengan potensi yang dimiliki.

    Hal yang paling mendasar yaitu membawa individu itu sendiri pada kesadaran secara pribadi akan kejelasan-kejelasan terhadap masalah sebenarnya yang dihadapi, kebutuhan sebenarnya yang harus dipenuhi, dan potensi sebenarnya yang dimiliki.

    Apabila aspek yang disebutkan diatas sudah ditemukan jawabannya secara gamblang dan tepat maka upaya praktik kesejahteraan sosial / pekerjaan sosial akan mencapai tujuannya secara efektif dan efisien.

  2. Konteks Penelitian Terapi (Therapeutic Research)

    Kirst-Ashman and Hull (1999:31) mengungkapkan proses perubahan dalam pandangan Generalis Intervention Models (GIM) profesi kesejahteraan / pekerjaan sosial, terdapat tujuh tahapan proses perubahan, yaitu:

    1. Engagement
    2. Assessment
    3. Planning
    4. Implementation
    5. Evaluation
    6. Termination
    7. Follow-Up

    Paradigma yang lebih sederhana diungkapkan oleh Zastrow (2003:58) dalam melihat tahapan proses perubahan dalam praktik kesejahteraan/pekerjaan sosial, yaitu terdapat empat tahap, yaitu

    1. Assessment
    2. Intervention
    3. Termination and
    4. Evaluation

    Pandangan kedua tokoh terhadap tahapan proses perubahan dalam praktik kesejahteraan/pekerjaan sosial, tahap Assessment dianggap tahapan yang paling penting dan krusial dalam menyumbangkan keberhasilan dari perubahan yang direncanakan itu.

    Tahap assessment, seperti yang disampaikan oleh Zastrow (1994), merupakan tahap yang penting dalam praktik pekerjaan sosial. Penentuan tujuan dan bentuk intervensi pekerjaan sosial sangat tergantung kepada hasil dari assessment.

    Assessment yang tidak lengkap ataupun tidak akurat akan menyebabkan ketidaktepatan dalam menentukan tujuan dan bentuk intervensinya; akibatnya, perubahan yang diharapkan tidak dapat tercapai

    Hepworth dan Larsen (1986:165) mendefinisikan assessment sebagai berikut:

    Assessment is the process of gathering, analyzing, and synthesizing salient data into a formulation that encompasses the following vital dimentions: (1) the nature of client’s problems, including special attention to the roles that clients and significant other play in the difficulties; (2) the functioning (strenghts, limitation, personality assetand deficiencies) of client and significant other;(3) motivation of client to work on the problems; (4) relevant environmental factors that contribute to the problems; and (5) resources that are available or are neeeded to ameliorate the clients’ difficulties (zastrow.2003:58)

    Zastrow (2003:59) juga mengungkapkan bahwa assessment sekali waktu merupakan sebuah hasil dan kadang merupakan sebuah proses yang sedang berjalan (on going process).

    Assessment dipandang sebagai sebuah proses yang sedang berjalan ini diperkuat dengan pendapat Rudi S. Darwis (2005) bahwa fokus assessment tidak semata-mata untuk mengidentifikasi masalah dan potensi semata.

    Melainkan juga ada proses intervensi yang terjadi terhadap masyarakat ketika proses assessment dilakukan. Oleh karenanya dikatakan sebagai “intervention within research“. Dikatakan Marti-Costa dan Serrano-Garcia (1983) merupakan proses assessment yang dilakukan menekankan pada adanya penyadaran kepada masyarakat mengenai permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaannya menekankan pada aspek problematization.

    Assessment yang pada dasarnya ditujukan untuk memperoleh pemahaman kondisi individu dalam kelompok, keluarga, organsasi dan masyarakat. Sehingga proses assessment secara tidak langsung sudah dilakukan sebagian dari kegiatan perubahan terhadap individu dalam kelompok, keluraga, organisasi, dan masyarakat, yaitu memberikan penyadaran akan adanya kondisi yang perlu diperbaiki ataupun ada potensi yang dapat didayagunakan untuk menggerakkan upaya perubahan individu tersebut. Kenyataan ini yang memberikan pendorong dalam memunculkan paradigman penelitian yang mengarah pada penelitian terapi atau therapeutic research.

    Untuk itu, kegiatan assessment yang dilakukan harus didasarkan kepada prinsip partisipasi; artinya membantu individu memahami kondisi dirinya dan memutuskan apa yang dapat dilakukan untuk dapat berkembang dan maju.

    Partisipasi didefinisiakan sebagaimana diungkapkan Praktisi Pemberdayaan Masyarakat, Ema Wibowo;

    Partisipasi adalah suasana dimana orang dalam (insider) aktif berinisiatif, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan orang luar (out sider) lebih banyak berperan sebagai pendamping dan penasehat. Karenanya pendekatan partisipatif haruslah bertujuan mendukung inovasi lokal, menghargai perbedaan dan kesulitan pihak lain, serta mengutamakan peningkatan kemampuan lokal (enhance local capability). (Ema Wibowo;2006)

    Partisipasi dalam prosesnya terbagi kedalam beberapa tingkatan seperti di gambarkan dalam gambar. 1. berikut:

     

    Gambar.1. Tangga Partisipasi

        

    Mengadaptasi pendekatan Partisipatif Action Research (PAR), dimana pendekatan ini merupakan proses kolaborasi antara peneliti dengan para stakeholders atau para pemangku kepentingan dalam semua proses penelitian diluar penentuan kesimpulan yang telah melibatkan refleksi peneliti. (Turnbull,Friesesn and Ramirez; 1998).

    Dalam pandangan ini pendekatan PAR harus diikuti serangkaian nilai demokratis (democratic), keadilan (equality), kebebasan (Liberations) dan peningkatan taraf hidup (life enhancing). (stringer, 1996).

    Pendekatan ini merupakan bagian dari metodologi penelitian aksi (action Research) yang menekankan secara seimbang antara penelitian dan aksi (Aimers 1999). Penelitian aksi muncul merupakan koreksi dari perspektif teori kritis bahwa meniru pendekatan ilmu empiris yang tidak cocok untuk studi tentang manusia.

    Penelitian aksi ini muncul sebagai riset alternatif dalam ilmu sosial. Ia berusaha menjadi riset paradigma baru yang berbeda dengan logika positivis dan empiris (Ravik Karsidi; 2001).

    Dalam prosesnya penelitian aksi ini berjalan secara iteratif, berkelanjutan seolah-olah membentuk loop proses yang terus dapat dikembangkan ( Kemmis 1985, Susman 1983) dimana terdiri dari empat tahap: plan, act. observe and reflect seperti dapat kita liat dalam gambar 2. berikut.

     

    Gambar.2. Protokol riset aksi Kemmis dalam Hopkins (1985)

     

    Seperti diungkapkan diatas, dalam penelitian ini pendekatan Participatory Action Research digunakan untuk menjawab masalah dan pertanyaan dalam penelitian, melalui tiga tahap (Aimers 1999):

    1. Penguatan basis untuk partisipasi,

  • Set up a working group, ensuring there are a range of stakeholder representatives, to act as information brokers pembentukan kelompok tugas, yang didalamnya merefleksikan keterwakilan dari para pemangku kepentingan masyarakat lokal.
  • Appoint a suitably qualified research co-ordinator karena masyarakat berperan sebagai co-reseacrher, maka penentuan orang dalam aktivitas ini sangat penting
  • Identify potential stakeholders, including communities of interest and other agencies identifikasi terhadap potensi-potensi kemasyarakatan
  • Identify roles and responsibilities and devise structures for stakeholder involvement mengidentifikasikan aspek sosial dan budaya yang dapat menjadi potensi dalam proses pene;itian aksi
  • Develop a project brief, including timeframes, staff and resources available menentukan langkah-langkah penelitian aksi secara bersama-sama.

 

2. Pengumpulan data dan analisis data (Data collection and analysis) dilakukan melalui proses yang partisipatif dengan menggunakan beragam teknik yang selama ini dapat dikembangkan dan di adopsi dari teknik PRA (Partisipatory Rural Appraisal)

    

3. Tindakan dan Evaluasi (Action and evaluation)

  • Stakeholders plan and implement action based on the analysis dalam tahapan kegiatan perencanaan dan pengimplementasian selalu dilakukan bersama dengan masyarakat, dalam hal ini aksi dilandaskan pada hasil analisis.
  • Stakeholders monitor and evaluate action bahkan dalam proses monitoring serta evaluasi para pemangku kepentingan ini melakukan aktivitas tersebut
  • If necessary modify action, based on evaluation hasil monitoring dan evaluasi proses ini memungkinkan terjadinya modifikasi dari aksi yang telah disepakati.
  • Re-enter data collection/analysis phase if necessary melakukan lefleksi terhadap proses aksi yang telah dijalankan yang dimungkinkan untuk tahapan penelitian selanjutnya dalam kerangka penelitian aksi masuk pada tahap lingkaran berikutnya.

 

  1. Model Tindakan Sosial; Produk dari Therapeutic Research

    Sebuah model dapat membantu kita dalam memahami apakah sebenarnya itu, apakah hal itu mungkin, dan bagaimana mencapai kemungkinan itu sendiri. Keberadaan model akan dapat memberikan kejelasan terhadap kompleksitas permasalahan yang harus diselesaikan, melalui upaya pemilahan – pemilahan berdasarkan komponen kunci sesuai fungsi dalam proses penanganan masalah.

    Model tidak hanya digunakan dalam menerangkan permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan ilmu pengetahuan semata, juga digunakan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Model yang digunakan dalam proses pemecahan masalah dalam masyarakat harus didasari asumsi-asumsi tertentu agar model itu dapat secara universal diaplikasikan pada masyarakat yang berbeda.

    Masyarakat dengan atribut yang menyertainya dapat memunculkan kompleksitas permasalahan yang tinggi sebagai akibat terjadinya interaksi antara pribadi-pribadi individu dengan sesamanya bahkan dengan lingkungan fisik yang memberikan ruang gerak pada aktivitasnya.

    Masyarakat didefinisikan oleh Cary (1970): “… refers to people who live in some spatial relationship to one another and who share interact and values. The community may be an urban neighborhood, town, city, county, region, or any other combination of resources and population that makes up a viable unit“. Cary tidak menunjuk posisi geografik sebagai ciri umum dari sebuah komunitas.

    Satu hal yang perlu dikemukakan tentang konteks masyarakat setempat ini adalah bahwa sedikitnya terdapat dua pertimbangan kontekstual yang sangat mempengaruhi proses pengorganisasian masyarakat, seperti dikemukakan oleh Cary (1970): “… wether the activity is part of a regional or national plan or distinctly local, and wether the community is located within a predominantly rural, preindustrial setting or an urban, industrial complex

    Model yang ditujukan melakukan perubahan bagi individu-individu dalam kelompok, keluarga, organsasi dan masyarakat dalam praktiknya merupakan sebuah pendekatan social treatment yang mengupayakan perubahan dalam masyarakat. Sasaran perubahan bisa diawali dari perubahan perilaku individu dalam masyarakat yang akan memberikan efek sentrifugal pada terjadinya perubahan struktur dan perubahan culture jika diperlukan.

    Model dalam pendekatan social treatment diungkapkan oleh Loewenberg (1977:20) didalamnya akan terdapat elemen-elemen:

    1. Values
    2. Problems
    3. Goals
    4. Participants, and
    5. Strategy