Membentuk Masyarakat Sadar Bahan Pangan Pokok Lokal Selain Beras

Menurut Undang-Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan, Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan makanan, bahan baku pangan dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan atau pembuatan makanan atau minuman.

Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik dalam jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Ketahanan pangan berkaitan dengan ketersediaan pangan, yaitu tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri atau sumber lainnya.( Dian Histifarina; 2008)

Dalam kurun waktu sepuluh tahun pola konsumsi pangan masyarakat Indonesia berubah cenderung lebih banyak mengkonsumsi terigu. Menurut data susenas telah terjadi peningkatan konsumsi terigu sebesar 3 kg/kap/thn dalam kurun waktu satu tahun (2006 – 2007). Terjadi perubahan pola konsumsi ke arah beras dan terigu.

Sementara cara pandang masyarakat terhadap sumber pangan pokok dalam kurun waktu 25 tahun kebelakang seolah-olah digiring kedalam pandangan yang lebih sempit bahwa sumber pangan pokok masyarakat hanya beras. Buktinya seluruh pegawai pemerintah memperoleh pembagian beras sebagai sumber bahan pangan pokoknya, tanpa memandang asal daerah. Walaupu daerah tersebut memiliki bahan pangan pokok lokal selain beras.

Perilaku konsumsi masyarakat yang tergantung pada satu jenis sumber bahan pangan pokok sedikit banyaknya akan memberikan dampak pada tingkat ketahanan pangan masyarakat yang rentan. Sehingga masalah ikutan dari rendahnya ketahanan pangan masyarakat dapat menimbulkan masalah lain yang lebih serius.

Pencarian sumber pangan pokok alternatif yang mampu meningkatkan ketahanan pangan masyarakat perlu menjadi perhatian bersama. Iklim tropis di Indonesia menjadikan wilayah Indonesia sangat kaya akan sumber bahan pangan pokok selain beras. Misalnya, potensi umbi-umbian dan serealia yang beragam sebagai sumber karbohidrat dapat tumbuh dengan subur dan beragam jenisnya seperti; ubi jalar, ubi kayu, gembili, garut, ganyong dan lain-lain. Apabila ditinjau dari segi nutrisi, tanaman umbi-umbian mempunyai nilai nutrisi yang rendah dibandingkan dengan beras maupun kacang-kacangan, terutama kandungan protein dan lemak, namun cukup tinggi pada kandungan karbohidratnya.

Bukan hal mudah mengajak kembali masyarakat untuk menyadari dan membiasakan perilaku konsumsi pangan pokok selain beras yang dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing daerah.

Untuk menjamin agar ketahanan pangan dapat berkelanjutan maka pencapaian ketahanan pangan harus diarahkan pada keragaman sumberdaya bahan pangan, kelembagaan dan budaya lokal/domestik, ketersediaan dan distribusi pangan mencapai seluruh wilayah serta peningkatan pendapatan masyarakat agar mampu mengakses pangan secara berkelanjutan yang dapat dicapai melalui berbagai cara diantaranya dengan menggali dan mengoptimalkan potensi sumberdaya pangan lokal.

Identifikasi potensi ketersediaan pangan lokal dimulai secara berjenjang mulai dari tingkat akar rumput dengan melakukan pengorganisasian masyarakat dalam upaya penyadaran serta mendorong tindakan kolektif dalam merubah pola konsumsi serta menhasilkan bahan pangan pokok lokal selain beras. Dilanjutkan dengan upaya sosialisai secar terus menerus, guna meningkatkan popularitas sumberbahan pangan lokal alternatif.

Masalah pokok yaitu:

  1. Bagaimana keragaman hayati yang dapat berpotensi pada ketersediaan bahan pangan lokal selain beras?
  2. Bagaimana keberadaan kelembagaan dan budaya lokal dalam mendorong pola konsumsi bahan pangan pokok lokal selain beras?