Hakikat ber-Keluarga;

Ketika seseorang mendapati dirinya terjaga dari tidur yang menghilangkan segala kepenatan yang dialami dalam keseharian…”dan menyaksikan disisi terdapat seorang istri yang masih tertidur pulas dengan bayi usia beberapa minggu dalam dekapannya…, Atau sebaliknya, didapatinya seorang bayi sedang pulas nyaman dalam pelukannya dan bapak dari anaknya masih tertidur disisi lain tubuhnya”… tertegun sesaat menyadari posisi diri sebagai suami atau istri sekaligus ibu atau bapak dari bayi itu.

Terdapat dua kecenderungan sikap yang akan muncul dalam benak suami/istri muda, yaitu;

1.Suami atau Istri dan anak yang ada akan menjadi beban buat kehidupannya, baik secara ekonomi maupun secara sosial
2.Suami atau Istri dan anak yang ada akan menjadi investasi dalam proses kehidupannya, baik secara ekonomi maupun secara sosial

Kedua kecenderungan ini, berawal pada upaya seseorang dalam memahami hakikat dari ber-Keluarga.

Banyak pendapat para ahli yang mencoba memberikan pendefinisian terhadap istilah keluarga. Sebut saja, Cressey dalam Zastrow dalam bukunya The Practice of Social Work. 6th ed, (1999:177) mendefinisikan keluarga sebagai : a group of people related by marrige, ancestry, or adoption who live together in a common household.

Bahkan definisi ahli yang menjadi landasan perundang-undangan negara seperti,
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan batasan;
“Keluarga pada adanya ikatan perkawinan yang sah antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami istri, yang pada umumnya bertujuan untuk meneruskan keturunan dan mencapai kesejahteraan bersama”.

Baiknya, ber-Keluarga harus dipahami sebagai sebuah kebutuhan setiap orang, sehingga kita memiliki kecenderungan dalam mensikapi kehidupan ber-Keluarga sebagai sebuah investasi dalam proses kehidupan seseorang itu.