Category Archives: Essay Hasil Lomba GID

Konsep Manhaj Islam dan Alquran Sebagai Bahan Bakar Revolusi Ahlak

Bagaimanakah kondisi ahlak dan moral di Indonesia saat ini ? tentu, jawaban ini lebih condong kepada kemunduran moral, karena di berita-berita nasional memberitakan kejahatan kriminalitas dan lain sebagainya, yang berbau negatif. Apakah ini bisa memundurkan suatu peradaban negara ? bisa saja, bukan hanya ekonomi loh! Yang menyebabkan suatu bangsa mengalami kemunduran, tapi hal-hal seperti ini bisa berdampak besar dengan skala luas. Apa buktinya bisa berdampak luas ? ya, lihat saja kasus-kasus penyebar berita hoax pencurian, korupsi uang negara, pemerkosaan dan prostitusi yang secara bebas dan legal, menyebabkan penyakit HIV dan AIDS tersebar dengan mudah. Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas semua ini ? bukan hanya dari pemerintah, tetapi seluruh warga Indonesia berhak bertanggung jawab. Yang awalnya dari perbaikan moral, dalam hal ini Presiden Joko Widodo mencanangkan program revolusi mental, memang program ini tidak asing karena pada abad ke 18 ideologi sosialis komunis. Terlepas, dari hubungan kedekatan dengan konsep terdahulu dan sekarang revolusi mental jawaban terbaik untuk permasalahan kemunduran suatu bangsa. Namun, islam menawarkan lebih tepatnya yaitu revolusi ahlak.

Perlunya penjelasan, mengenai revolusi mental ini supaya masyarakat awam bisa menangkap dan mengerti dengan baik-baik. Apa itu artinya revolusi ? Revolusi merupakan perubahan secara cepat atau relatif singkat, sedangkan mental kemampuan untuk merespon terhadap situasi kondisi. Ajaran revolusi mental ini dipopulerkan oleh golongan sosialis dan komunis. Dalam pandangannya yang diperkenalkan oleh Karl Max ini yaitu, bahwa agama adalah belenggu kebebasan mental manusia. Sebenarnya, aturan ini lah yang membelenggu tiap manusia sebab fitrahnya manusia itu beragama. Sayid Quthub dalam awal bukunya “Ma’alim fi Thariq” Keberadaan umat manusia yang terancam hancur diakibatkan oleh kebangkrutan nilai-nilai sistem kehidupan dunia Barat dan Timur. Benarkah seperti ini realitanya ? coba bandingkan, inti masalahnya berada di ahlak, toh patokan ekonomi dan kejeniusan dari peradaban bangsa yang maju bukan sebagai hal utama. Tapi ahlaknya yang maju dan terjaga sesuai dengan keislaman tentu kejeniusan dan ekonomi akan membawa kepada kesuksesan suatu bangsa.

Salahsatu, konsep agama islam dalam hal ahlak ini yaitu, manhaj islam konsep yang menawarkan otoritas hanya dimiliki oleh Allah S.W.T. Manhaj islam tidak menawarkan produk materil tetapi berupa ahlaq yang layak memegang qiyadah manusia. Sumber yang pasti dalam acuan menjalankan konsep ini alquran dan rasul sebagai pemberi contohnhya, untuk diikuti oleh umatnya, juga konsep ini bersifat menyeluruh.

Rasulullah S.A.W diutus oleh Allah dengan visi makarimal ahlak, yaitu menyempurnakan ahlak. Umat islam yang dikehendaki oleh Allah merupakan umat yang terpilih hal itu, tercantum sesuai dengan surat Ali Imran ayat 110 yang artinya :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah ….”

Dan juga terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 143 yang artinya :

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu …”.

Namun, peradaban sekarang sedikit demi sedikit terlalu condong terhadap budaya barat, sehingga umat yang sesuai tercantum pada surat diatas terkikis. Bahkan, banyak orang yang mengaku islam tetapi untuk mencegah perbuatan mungkar dan menyeru amar makruf, yah salahsatunya berupa solat. Banyak sekali kasus ini jika ditemukan di berbagai kalangan. Naudzubillah jangan sampai ya, kita termasuk golongan yang merugi hanya karena meninggalkan kewajiban yang telah diperintah oleh Allah S.W.T.

Kemabali lagi menuju konsep awal, apa yang kita butuhkan sebenarnya dari fitrah manusia ini ? yaitu alquran dan manhaj islam. Dengan kita kembali ke konsep ini, dan kita berjuang kembali untuk memperbaiki ahlak umat manusia ini dan tidak melenceng yang telah digariskan oleh islam, yakinlah kejayaan umat islam akan terwujud untuk menyejahterakan seluruh umat manusia. Apakah ini benar ? Tentu saja, hal ini bukan berita baru karena Allah berfirman dalam Alquran surat  An-Nuur ayat 55 yang artinya :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa,….” 

Peristiwa apa yang sesuai dengan konteks ayat ini ? yaitu terdapat peristiwa Fathul Mekkah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad S.A.W dalam menaklukan kota Mekkah. Lalu, penaklukan konstatinopel oleh Muhammad Al Fatih tahun 1453. Ini adalah hanya beberapa bukti dari sekian banyak peristiwa pada jaman dahulu, dan hanya orang-orang beriman yang mempunyai karakteristik seperti dalam Ali Imran ayat 110 tadi.

Kesimpulannya islam membawakan konsep revolusi ahlak. Dimana aturan sumber utamanya berasal dari Alquran. Alquran inilah yang menentukan sikap untuk menghadapi segala tantangan dalam berbagai perkembangan peradaban di seluruh dunia. Dan Bukti bahwa, kejayaan islam bukan menjadi penghalang revolusi tapi sebagai bahan bakar revolusi.

 

Sumber :

ALQURAN DAN MANHAJ ISLAM SEBAGAI BAHAN BAKAR REVOLUSI AKHLAQ

Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai

Geological Islamic Day

Disusun oleh:

Hadiati Rabbani

NPM : 130112150582

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2016

Surat Al Kafirun Dalam Perspektif Sosiologi Agama serta Kaitannya dengan Toleransi

Assalamualaikum tiap upload pasti ada tulisan-tulisan yang baru nih… dan enak buat dibaca oleh umat muslim, insyaallah materi ini lebih seru dari sebelumnya lho!

Sekarang kan, lagi booming nya tuh, masalah toleransi dan isu SARA, nah itulah yang akan dipaparkan dalam tulisan ini sekarang!! Pahami dengan benar-benar yaaa!!

Memang, isu SARA dan toleransi ini paling sensitif, di negeri-ku yang tercinta ini Indonesia. Namun, saudara muslim kuuu, kalian juga harus tau, dan pegangan yang terbaik yaitu dari alquran, tidak melenceng dari apa-apa yang didalamnya!!

Penasaran, ga? Let’s check it out!!

Toleransi dan isu SARA merupakan salah satu masalah yang sering di singgung di negeri Indonesia. Mengapa sering disinggung ? Karena, negara kita memang jamak atau plural, beragam suku dan agama ada di Indonesia sehingga antar satu umat dan umat yang lain harus saling menghormati mengenai aturan yang ada di setiap agamanya masing-masing. Lalu, apa landasan umat muslim dalam hal toleransi ? yaitu dalam surat Al Kafirun, langsung kita ke inti masalahnya.

Tuduhan mengenai intoleransi terhadap umat muslim, contoh yang mainstreamnya yaitu tidak boleh mengucapkan selamat natal dan larangan memilih pemimpin non muslim. Setiap institusi memilliki aturannya masing-masing yang diakui oleh negara dan pula pengakuan, oleh karena itu umat muslim pun merujuk pada hal tsb, sehingga harus saling menghormati. Agama bersifat doktrinal dan mengekang, dalam agama islam jelas bahwa surat Al Kafirun ini sebagai landasan dalam menjalankannya, tanpa ada kecaman dan memliki rasa aman begitupun dengan golongan yang lainnya. Nah, inilah titik temu toleransi tersebut. Selanjutnya, mari kita kupas terkait mengucapkan selamat natal dan larangan pemimpin non muslim.

Institusi sosial agama Mengkupas kasus mengucapkan selamat natal, dalam proses nya seperti ini, natal merupakan kelahiran Yesus Kristus, atau Isa Al Masih yang diyakini oleh suatu golongan bahwa dia merupakan Anak Bapak (allah). Namun, dalam konteks agama islam bahwa keyakinan seperti itu bertentangan dengan Alquran bahwa Allah tidak diperanakan, dan merupakan zat yang tunggal, konteksnya jika kita mengucapkan selamat natal maka, mengakui juga bahwa Nabi Isa A.S sebagai Anak Allah, tentunya ini sangat bertentangan. Disinilah perannya institusi sosial agama sebagai toleransi menyikapi masalah ini, yang berperan sebagai doktrinal, serta mendapat pengakuan dan diakui oleh negara.

Lalu, Larangan memilih pemimpin non muslim sebagai pemimpin. Konteks ini sebenarnya bukan isu SARA tapi balik lagi ke konsep institusi sosial agama, yang berhak menentukan pilihannya dan meyakini apa yang telah diajarkan oleh agamanya serta dengan rasa tentram dan aman. Lagipula, ini mendukung program pemerintah sebagai salahsatu revolusi mental. Disinilah peran dari semua golongan untuk saling menghormati setiap orang tentang keyakinannya, dan inti dari toleransi seperti ini lah yang harus dilakukan di berbagai golongan agama di Indonesia. Lalu, bagaimana hubungannya dengan pancasila ? Toh, selama ahok menjadi gubernur pun kita selaku umat islam menghormati pancasila artinya ketika dia jadi gubernur, tidak ada saling menggulingkan kepemimpinan, apalagi sampai kudeta ? bener ga ? Nah, itulah umat muslim menghormati dan menghargai sebagai realisasinya dari pancasila yang demokrasi.

            Alquran dalam surat Al Kafirun telah menjadi sebuah toleransi dalam agama islam terhadap agama yang lainnya. Jika dalam realisasinya setiap hari, seperti islam tidak memaksakan kepada non muslim untuk masuk menjadi agama islam, serta islam juga tidak mengganggu keberadaan non muslim ketika mereka beribadah, mereka beribadah dengan rasa tentram dan aman dan di Jakarta merupakan salahsatu bukti kerukunan beragama seperti masjid istiqlal berdampingan dengan sebuah gereja. Dan ini pun, tidak ada kecaman dari pihak manapun kedua golongan saling tentram dan damai dalam menjalankan institusi sosial agama yang telah diyakininya dan diajarkannya.

 

Sumber :

Surat Al-Kafirun Dalam Perspektif Sosiologi Agama Sebagai Bagian Dari Institusi Sosial Dan Solusi Masalah Toleransi Kerukunan Hidup Umat Beragama

 

            Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai Geological Islamic Day

Oleh : Ali Ar-Ridho, 170310150054

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Padjadjaran

Jatinangor

2016

Penentuan Agenda Media Massa dengan Perspektif Alquran

Assalamualaikum, akhi ukhti apa kabar ? Semoga sehat selalu yaa..

Alhamdulillah barakallah… kami dari tim media gema FTG Unpad menghadirkan kembali tulisan-tulisan yang insyaallah bermanfaat untuk dibacanya!!

Ayook simak berikut mengenai tulisan resume, lho kok resume ? Kaya tugas dari dosen aja ?

Yaa.. yang penting menebar kebaikan ada medianya, dakwah pun jalan yaa, allahuakbar!! Resume ini, diambil dari acara terbesar di gema yaitu GID (Geological Islamic Day) dalam lomba essay tingkat pelajar yang bersekolah di region Bandung, Jawa Barat.

 

Baiklah, quotes pertama dimunculkan seperti ini “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”, kira-kira akhi dan ukhti tau dari siapa quotes ini ?  ya, memang jika ilmu tanpa agama juga nantinya akan membawa kepada kesombongan karena tidak memikirkan, siapa yang telah memberikan ilmu sehebat ini, kepada seorang manusia. Lanjuutt…

Ilmu di dunia ini terbagi menjadi dua yaitu ilmu eksakta dan ilmu humaniora, perbedaannya ialah jika ilmu eksakta ini berasal dari filsafat alam sedangkan ilmu humaniora berasal dari filsafat humaniora. (Bakker, Anton: 1990). Salahsatu yang akan disampaikan dalam resume ini berupa, ilmu humaniora khususnya di bidang ilmu komunikasi. Memangnya ilmu komunikasi ini penting banget, ya ?  Tentu saja, dikarenakan jaman sekarang mudah sekali informasi tersebar seperti media sosial, yang beritanya entah berujung kepada kebenaran atau berujung kepada kebohongan, biasanya disebut hoax. Tapi, sebenarnya agama islam telah mengatur tentang cara berkomunikasi serta, tidak boleh berbohong dalam menyampaikan berita seperti yang tercantum dalam surat Ash-Shaff ayat 2 hingga 3, dengan artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuau yang tidak kamu kerjakan ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Allah saja membenci kepada orang yang melakukan hal tersebut, oleh karena itu sebagai umat manusia tidak boleh melakukan hal tersebut, menyebarkan fitnah atau berita hoax. Hal tersebut hanya membuat keresahan di masyarakat yang berujung tidak akan dipercaya oleh siapapun. Meskipun, pembicaraanya sekali-sekali pernah benar tetap tidak akan percaya selamanya. Yang rugi siapa ? Orang yang melakukannya lah!

Selain surat Ash-Shaff tadi, Allah memerintahkan kepada, hambanya dalam surat Al Isra ayat 53 yang artinya : Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku : “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan (suka) menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

 

Dalam satu teori komunikasi yang dicetuskan oleh Mc Combs dan DL Shaw pada tahun 1972. Dengan intinya seperti ini bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa (Suparapto, Tomi: 2009).

Seperti kasus yang masih hangat bahkan sampai sekarang yaitu berita mengenai penistaan agama oleh ahok (4/11), ini merupakan fakta dari teori penentuan agenda tersebut serta, seluruh lapisan masyarakat tertuju pada kasus tersebut. Efek dari kasus ini, timbul demo anarkis yang beroknum mengatasnamakan islam berorientasi pada hal-hal anarkisme, padahal jika dikritisi dan diteliti beritanya, ternyata yang melakukan anarkis tersebut hanyalah preman-preman bayaran supaya mudah memprovokasi yang lainnya. Disini media massa dengan mudahnya merekam, dan menyebarluaskan berita tersebut. Allahuakbar ! jangan sampai umat islam mudah terprovokasi. Sebagai umat islam tentunya, dalam mendapatkan berita haruslah tersaring secara benar-benar, dan juga mengenai pemahaman terhadap penentuan agenda media massa yang tidak transparansi dalam memberikan informasi. Dalam Alquran surat Al Hujurat ayat ke 6 yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”.

Lalu, pada surat At Taubah ayat 96 juga, Allah memerintahkan kepada kita supaya teliti dan cermat dalam mendapatkan berita, yang artinya : “Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan kamu.”

Ada yang mengatakan bahwa “diam itu emas”. Memang, daripada kita menyebarkan berita hoax atau jadi juru fitnah, lebih baik diam jika tidak mengetahui sumbernya dan kebenarannya. Karena Allah pun, dalam Alquran senantiasa mengingatkan kepada umat manusia, supaya tidak berbohong,  kemudian berhati-hati dalam menerima berita dari seseorang agar nantinya tidak merugikan kepada orang yang menyebarkannya.

 

Kesimpulannya dengan media massa segala sesuatu mengenai berita bisa terekam, baik berita itu hoax atau benar, tentunya sebagai seorang muslim kita sudah dibekali perintah oleh Allah dalam Alquran­-Nya supaya benar-benar menyaring berita dan menentukan sumber serta kebenarannya. Jaman sekarang memang berbeda dengan dahulu, karena informasi dapat dengan mudah diakses disinilah kita berperan untuk menyaring dan memanfaatkan hal-hal positif untuk diteruskan dan disebarluaskan, sehingga umat manusia tidak merasa rugi dengan telah mengakses suatu informasi tersebut.

 

Sumber : Essay kompetisi Geological Islamic Day “PERSPEKTIF ALQURAN TERHADAP DAMPAK PENENTUAN AGENDA OLEH MEDIA MASSA KEPADA KHALAYAK”, Oleh Huurummaqsyuura (210510150078) Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor 2016.