Category Archives: Essay Hasil Lomba GID

Tabayyun Solusi Terbaik Menangani Krisis Kepercayaan

   Berbagai aksi dari media sosial, yang berpengaruh dalam kehidupan ini sangat berdampak besar. Sebagai salah contohnya, pernah mendengar “Usir Metro TV?” Ya, berita ini memang sudah lama. Dan berita ini terjadi ketika aksi damai tanggal 4 November. Pasti tau kan, seluruh umat muslim di Indonesia mengenai aksi 4 November ?. Yang menjadi perhatiannya dari berita ini yaitu, suaranews.com, situs metrotvnews.com menyiarkan berita dengan judul “Tembak di Tempat Berlaku” pada Demo 4 November, Senin (31/10/16) pukul 12:32 WIB. Sehingga respon dari peserta aksi damai pada tanggal 4 November, yang mengeliling SNG Metro Tv agar kru televisi swasta tersebut tidak meliput tayangan aksi damai ke 2 itu. Tentu saja, ini menjadi kebingungan bagi polisi sendiri. Dari pihak kepolisian tidak pernah mengungkapkan hal seperti ini seperti yang dimaksud “Tembak di Tempat Berlaku”. Justru polisi, dalam programnya membuat pasukan asmaul husna. Dengan asmaul husna ini, tujuannya untuk pendekatan persuasif kepada massa umat islam pada peserta aksi damai, jika kondisinya memanas. Nah, loh sumber nya dari mana tiba-tiba berani menyiarkan berita “Tembak di Tempat Berlaku”. Masyarakat pun akhirnya, banyak yang bertanya-tanya kepada pihak polri. Tanggapan dari pihak polri, agar masyarakat mencermati berita yang sedang beredar dan yang ingin membuat memperkeruh suasana. Memang sebenarnya, membuat berita provokatif itu tidak jadi masalah. Bahkan menurut Hikmat Kusumaningrat, dalam Jurnalistik Teori dan Praktik, salah satu syarat berita yaitu provokatif. Maksudnya apa ? yaitu judul berita dibuat semenarik mungkin sehingga, orang lain pun ingin tahu apayang terdapat dalam isinya berita tersebut. Praktik yang terjadi jika konteksnya seperti pada judul berita tersebut, itu membuat sensasional hanya ingin menggemparkan, situasi dan memperkeruh serta mengesampingkan fakta dan aktualitas. Salah satu prinsip elemen jurnalistik yang dikemukakan oleh Bill Kovach, elemen urutan ketiga dari jurnalstik yaitu verifikasi. Verifikasi merupakan memeriksa ulang apa yang terjadi dengan sebenar-benarnya agar yang tersebar bukan berita bohong. ilansir dari tempo.co, menurut data Dewan Pers, jumlah pengaduan terkait pers dari seluruh Indonesia yang masuk sepanjang 2012 mencapai lebih dari 500 kasus. Dari jumlah itu, 328 di antaranya merupakan kasus dari media cetak dan 98 pengaduan terkait media online alias media cyber. Ada enam jenis pelanggaran kode etik jurnalistik yang dilakukan oleh media siber, salah satunya tidak menguji informasi atau melakukan konfirmasi yang terjadi sebanyak 30 kasus. Pelanggaran ini terjadi karena media cyber mengutamakan kecepatan tanpa dibarengi dengan verifikasi. Apalagi, sekarang sudah dalam keadaan teknologi modern yang rata-rata setiap orang mempunyai gadget, berita hoax pun mudah tersebar apabila tidak cermat si penggunanya. Hati-hati yah jangan sampai kita termakan berita bohong!
Islam mengajarkan kepada kita oleh firman Allah Subhanahuwata’ala, bahwa dalam memverifikasi data yang disampaikan itu, harus benar-benar ditelusuri kebenarannya. Seperti yang tercantum dalam surat Al Hujurat ayat ke 6 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. Betapa indahnya, agama islam ini jauh sebelum teori Bill Kovach dicetuskan ternyata dalam alquran telah diperintahkan seperti ini untuk seluruh umat manusia. Tentunya, apabila ayat ini direalisasikan pada semua elemen masyarakat dan elemen agama, pasti berita bohong pun mudah untuk ditepis. Nah, inilah konteks tabayyun yang terdapat dalam agama islam yang menjadi solusi dari zaman ke zaman. Dengan konteksnya menanyakan sumber kebenarannya dan ketelitiaannya sebelum disebarluaskan ke yang lain. Allah, menyuruh kita untuk berhati-hati dalam menerima berita. Karena, efeknya bisa sangat besar jika kita langsung menerima berita tanpa di klarifikasi serta verifikasi. Oleh karena itu, relasasi dari surat ini harus benar-benar direalisasikan supaya tidak kehilangan kepercayaan, dan tidak menjadi sumber bencana sensasional bagi yang lainnya.
Kesimpulannya langkah tindakan yang perlu diambil oleh media dan wartawan. Jika, di negara kita ini mengacu kepada UU Pers No. 40, etika pers, serta mengikuti prinsip Sembilan Elemen Jurnalisme, dan tentunya perintah Allah untuk selalu ber-tabayyun sebelum menyiarkan berita. Supaya media berfungsi sebagai kontrol sosial di masyarakat, bukan pencari sensasional dan dapat memperoleh kepercayaan untuk dikonsumsi dan menambah pengetahuan tanpa adanya pembohongan.

Sumber : Essay lomba GID “Tabayyun, Solusi dari Zaman ke Zaman”

Disusun Oleh :

Dina Aqmarina Yanuary
210110110267
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran
Jatinangor
2016

Masyarakat Multikultural dengan Perspektif Alquran

         Apakah Negara Indonesia merupakan negara yang jamak ? Tentu saja, yang diambil dari judul ini pun multikultural. Uniknya, terdapat solusi-solusi yang ditawarkan oleh Allah   lewat alquran untuk tetap nyaman, dalam unity in diversity. Surat Adz Dzariat ayat 56 yang artinya “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. Mengisyaratkan kepada kita bahwa harus beribadah baik dari golongan manusia maupun jin, dalam hal ini siapa yang harus di sembahnya ? yaitu Allah Azza Wa jalla. Ibadah terbagi menjadi dua, ada ibadah vertikal yaitu hubungan manusia dengan Allah serta terdapat horizontal yaitu hubungan ibadah terhadap sesama mahluknya. Seperti, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan lain sebagainya. Konteks dari hubungan manusia dengan manusia akan dijelaskan dalam tulisan ini, sebab hal inilah yang terjadi di masyarakat Indonesia dengan berbagai etnis, suku, budaya dan bahasa atau lebih dikenal dengan plural. Nah, dengan kejamakan masyarakat Indonesia ada suatu perintah dalam QS Al Hujurat [49] : 13 yang artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.” Sudah jelas bahwa dalam surat ini, terdapat konteks masyarakat yang majemuk, dan Allah menyuruh kepada kita supaya saling mengenal. Bukan jadinya, perbedaan ras, suku, dan etnis malah terjadi hal-hal peperangan. Sungguh hal tersebut tidak diperintahkan dalam agama islam.

      Dikutip dari Blaine J. Fowers dan Frank C. Richardson, masyarakat multikultural dapat diartikan juga sebagai “gerakan sosial-intelektual yang mengangkat nilai perbedaan sebagai prinsip inti dan menegaskan bahwa semua kelompok budaya harus diperlakukan dengan rasa hormat dan sama.” Hal ini, terdapat kaitannya dengan agama islam yang membahas kemajemukan ini telah menyampaikan kesetaraa yang tersirat dalam Q.S. Ali ‘Imran [3] : 138 “Inilah (Al Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia…” Bahwa alquran untuk semua umat manusia. Namun, dengan tetap menghargai perbedaan mengacu kepada Q.S. Al Hujurat [49] : 13.

        Apakah ini cukup sampai penjelasan dari QS Al Hujurat ? Tentu saja tidak, karena diperlukan tahapan selanjutnya dalam, mencapai tahapan saling mengenal. Yaitu dengan komunikasi lintas budaya, dalam bukunya Prof. Deddy Mulyana komunikasi lintas budaya merupakan bentuk komunikasi yang dilakukan oleh kedua pihak atau lebih dengan budaya yang berbeda dengan tujuan tertentu. Proses komunikasi lintas budaya perlu dilakukan dengan menjauhi karakter etnosentrisme, yaitu menilai kebudayaan lain dari sudut pandang sendiri. Dalam artian, membuka pikiran kita untuk menerima hal baru (openness to other ways of thinking). Intinya tidak berlaku sombong, hal ini sinkron dengan QS Luqman ayat 18 yang artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” Serta masih dalam QS Luqman ayat 31 yang artinya : “Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu…”

        Pada 2 ayat tersebut pesannya berupa sebagai manusia kita tidak boleh sombong, apabila sombong etnis manapun tidak akan menerima dan perlakuannya pun pasti berdampak negatif, karena sombong hanya meninggikan tiap ras suku budayanya masing-masing hingga tujuan untuk bersatu tidak terwujud, karena lebih bangga pada etnis nya masing-masing. Lalu, ayat 31 pesannya bahwa kita antar manusia, dalam hal berbicara tidak boleh dengan berkata kasar, karena berawal dari kata kasar bisa menimbulkan perkelahian. Padahal, itu masalah yang sepele dengan kata-kata yang diucapkan dari mulut. Tapi Allah Azza Wa Jalla memerintahkan seperti dalam QS Luqman tersebut, tentu harus dan wajib harus kita taati. Realisasi dari QS Luqman ayat 18 & 31 akan membawa kita kepada hubungan yang harmonis dari tiap etnis ras dan suku bangsa yang berbeda-beda. Sehingga penyelesaian masalah pun, bukan dengan paksaan tetapi, dengan jalan musyawarah. Seperti dalam QS Ali Imran [3] : 159 yang artinya : “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”  Dengan begitu, konsep alquran pun dapat dengan mudah kita laksanakan, dan yang timbul bukan masalah perpecahan tapi keharmonisan karena mengacu kepada alquran.

          Kesimpulannya umat islam dalam beribadah kepada Allah secara vertikal dan horizontal. Sehingga, sinkronisasi tersebut bisa terlaksana. Seperti Allah Azza Wa Jalla memerintahkan dalam alquran, dan umat manusia sebagai pelaksana dari perintah tersebut. Dan hubungan sesama mahluk Allah pun, tidak akan timbul perpecahan jika terealisasikannya dari alquran.

Sumber : Essay Lomba GID “KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA KAITANNYA DENGAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL INDONESIA DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN”

 

Disusun Oleh :

Mochammad Akbar Selamat

141510299

SMAN 4 Bandung

Kota Bandung

2016

Konsep Manhaj Islam dan Alquran Sebagai Bahan Bakar Revolusi Ahlak

Bagaimanakah kondisi ahlak dan moral di Indonesia saat ini ? tentu, jawaban ini lebih condong kepada kemunduran moral, karena di berita-berita nasional memberitakan kejahatan kriminalitas dan lain sebagainya, yang berbau negatif. Apakah ini bisa memundurkan suatu peradaban negara ? bisa saja, bukan hanya ekonomi loh! Yang menyebabkan suatu bangsa mengalami kemunduran, tapi hal-hal seperti ini bisa berdampak besar dengan skala luas. Apa buktinya bisa berdampak luas ? ya, lihat saja kasus-kasus penyebar berita hoax pencurian, korupsi uang negara, pemerkosaan dan prostitusi yang secara bebas dan legal, menyebabkan penyakit HIV dan AIDS tersebar dengan mudah. Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas semua ini ? bukan hanya dari pemerintah, tetapi seluruh warga Indonesia berhak bertanggung jawab. Yang awalnya dari perbaikan moral, dalam hal ini Presiden Joko Widodo mencanangkan program revolusi mental, memang program ini tidak asing karena pada abad ke 18 ideologi sosialis komunis. Terlepas, dari hubungan kedekatan dengan konsep terdahulu dan sekarang revolusi mental jawaban terbaik untuk permasalahan kemunduran suatu bangsa. Namun, islam menawarkan lebih tepatnya yaitu revolusi ahlak.

Perlunya penjelasan, mengenai revolusi mental ini supaya masyarakat awam bisa menangkap dan mengerti dengan baik-baik. Apa itu artinya revolusi ? Revolusi merupakan perubahan secara cepat atau relatif singkat, sedangkan mental kemampuan untuk merespon terhadap situasi kondisi. Ajaran revolusi mental ini dipopulerkan oleh golongan sosialis dan komunis. Dalam pandangannya yang diperkenalkan oleh Karl Max ini yaitu, bahwa agama adalah belenggu kebebasan mental manusia. Sebenarnya, aturan ini lah yang membelenggu tiap manusia sebab fitrahnya manusia itu beragama. Sayid Quthub dalam awal bukunya “Ma’alim fi Thariq” Keberadaan umat manusia yang terancam hancur diakibatkan oleh kebangkrutan nilai-nilai sistem kehidupan dunia Barat dan Timur. Benarkah seperti ini realitanya ? coba bandingkan, inti masalahnya berada di ahlak, toh patokan ekonomi dan kejeniusan dari peradaban bangsa yang maju bukan sebagai hal utama. Tapi ahlaknya yang maju dan terjaga sesuai dengan keislaman tentu kejeniusan dan ekonomi akan membawa kepada kesuksesan suatu bangsa.

Salahsatu, konsep agama islam dalam hal ahlak ini yaitu, manhaj islam konsep yang menawarkan otoritas hanya dimiliki oleh Allah S.W.T. Manhaj islam tidak menawarkan produk materil tetapi berupa ahlaq yang layak memegang qiyadah manusia. Sumber yang pasti dalam acuan menjalankan konsep ini alquran dan rasul sebagai pemberi contohnhya, untuk diikuti oleh umatnya, juga konsep ini bersifat menyeluruh.

Rasulullah S.A.W diutus oleh Allah dengan visi makarimal ahlak, yaitu menyempurnakan ahlak. Umat islam yang dikehendaki oleh Allah merupakan umat yang terpilih hal itu, tercantum sesuai dengan surat Ali Imran ayat 110 yang artinya :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah ….”

Dan juga terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 143 yang artinya :

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu …”.

Namun, peradaban sekarang sedikit demi sedikit terlalu condong terhadap budaya barat, sehingga umat yang sesuai tercantum pada surat diatas terkikis. Bahkan, banyak orang yang mengaku islam tetapi untuk mencegah perbuatan mungkar dan menyeru amar makruf, yah salahsatunya berupa solat. Banyak sekali kasus ini jika ditemukan di berbagai kalangan. Naudzubillah jangan sampai ya, kita termasuk golongan yang merugi hanya karena meninggalkan kewajiban yang telah diperintah oleh Allah S.W.T.

Kemabali lagi menuju konsep awal, apa yang kita butuhkan sebenarnya dari fitrah manusia ini ? yaitu alquran dan manhaj islam. Dengan kita kembali ke konsep ini, dan kita berjuang kembali untuk memperbaiki ahlak umat manusia ini dan tidak melenceng yang telah digariskan oleh islam, yakinlah kejayaan umat islam akan terwujud untuk menyejahterakan seluruh umat manusia. Apakah ini benar ? Tentu saja, hal ini bukan berita baru karena Allah berfirman dalam Alquran surat  An-Nuur ayat 55 yang artinya :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa,….” 

Peristiwa apa yang sesuai dengan konteks ayat ini ? yaitu terdapat peristiwa Fathul Mekkah yang dipimpin oleh Nabi Muhammad S.A.W dalam menaklukan kota Mekkah. Lalu, penaklukan konstatinopel oleh Muhammad Al Fatih tahun 1453. Ini adalah hanya beberapa bukti dari sekian banyak peristiwa pada jaman dahulu, dan hanya orang-orang beriman yang mempunyai karakteristik seperti dalam Ali Imran ayat 110 tadi.

Kesimpulannya islam membawakan konsep revolusi ahlak. Dimana aturan sumber utamanya berasal dari Alquran. Alquran inilah yang menentukan sikap untuk menghadapi segala tantangan dalam berbagai perkembangan peradaban di seluruh dunia. Dan Bukti bahwa, kejayaan islam bukan menjadi penghalang revolusi tapi sebagai bahan bakar revolusi.

 

Sumber :

ALQURAN DAN MANHAJ ISLAM SEBAGAI BAHAN BAKAR REVOLUSI AKHLAQ

Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai

Geological Islamic Day

Disusun oleh:

Hadiati Rabbani

NPM : 130112150582

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2016

Surat Al Kafirun Dalam Perspektif Sosiologi Agama serta Kaitannya dengan Toleransi

Assalamualaikum tiap upload pasti ada tulisan-tulisan yang baru nih… dan enak buat dibaca oleh umat muslim, insyaallah materi ini lebih seru dari sebelumnya lho!

Sekarang kan, lagi booming nya tuh, masalah toleransi dan isu SARA, nah itulah yang akan dipaparkan dalam tulisan ini sekarang!! Pahami dengan benar-benar yaaa!!

Memang, isu SARA dan toleransi ini paling sensitif, di negeri-ku yang tercinta ini Indonesia. Namun, saudara muslim kuuu, kalian juga harus tau, dan pegangan yang terbaik yaitu dari alquran, tidak melenceng dari apa-apa yang didalamnya!!

Penasaran, ga? Let’s check it out!!

Toleransi dan isu SARA merupakan salah satu masalah yang sering di singgung di negeri Indonesia. Mengapa sering disinggung ? Karena, negara kita memang jamak atau plural, beragam suku dan agama ada di Indonesia sehingga antar satu umat dan umat yang lain harus saling menghormati mengenai aturan yang ada di setiap agamanya masing-masing. Lalu, apa landasan umat muslim dalam hal toleransi ? yaitu dalam surat Al Kafirun, langsung kita ke inti masalahnya.

Tuduhan mengenai intoleransi terhadap umat muslim, contoh yang mainstreamnya yaitu tidak boleh mengucapkan selamat natal dan larangan memilih pemimpin non muslim. Setiap institusi memilliki aturannya masing-masing yang diakui oleh negara dan pula pengakuan, oleh karena itu umat muslim pun merujuk pada hal tsb, sehingga harus saling menghormati. Agama bersifat doktrinal dan mengekang, dalam agama islam jelas bahwa surat Al Kafirun ini sebagai landasan dalam menjalankannya, tanpa ada kecaman dan memliki rasa aman begitupun dengan golongan yang lainnya. Nah, inilah titik temu toleransi tersebut. Selanjutnya, mari kita kupas terkait mengucapkan selamat natal dan larangan pemimpin non muslim.

Institusi sosial agama Mengkupas kasus mengucapkan selamat natal, dalam proses nya seperti ini, natal merupakan kelahiran Yesus Kristus, atau Isa Al Masih yang diyakini oleh suatu golongan bahwa dia merupakan Anak Bapak (allah). Namun, dalam konteks agama islam bahwa keyakinan seperti itu bertentangan dengan Alquran bahwa Allah tidak diperanakan, dan merupakan zat yang tunggal, konteksnya jika kita mengucapkan selamat natal maka, mengakui juga bahwa Nabi Isa A.S sebagai Anak Allah, tentunya ini sangat bertentangan. Disinilah perannya institusi sosial agama sebagai toleransi menyikapi masalah ini, yang berperan sebagai doktrinal, serta mendapat pengakuan dan diakui oleh negara.

Lalu, Larangan memilih pemimpin non muslim sebagai pemimpin. Konteks ini sebenarnya bukan isu SARA tapi balik lagi ke konsep institusi sosial agama, yang berhak menentukan pilihannya dan meyakini apa yang telah diajarkan oleh agamanya serta dengan rasa tentram dan aman. Lagipula, ini mendukung program pemerintah sebagai salahsatu revolusi mental. Disinilah peran dari semua golongan untuk saling menghormati setiap orang tentang keyakinannya, dan inti dari toleransi seperti ini lah yang harus dilakukan di berbagai golongan agama di Indonesia. Lalu, bagaimana hubungannya dengan pancasila ? Toh, selama ahok menjadi gubernur pun kita selaku umat islam menghormati pancasila artinya ketika dia jadi gubernur, tidak ada saling menggulingkan kepemimpinan, apalagi sampai kudeta ? bener ga ? Nah, itulah umat muslim menghormati dan menghargai sebagai realisasinya dari pancasila yang demokrasi.

            Alquran dalam surat Al Kafirun telah menjadi sebuah toleransi dalam agama islam terhadap agama yang lainnya. Jika dalam realisasinya setiap hari, seperti islam tidak memaksakan kepada non muslim untuk masuk menjadi agama islam, serta islam juga tidak mengganggu keberadaan non muslim ketika mereka beribadah, mereka beribadah dengan rasa tentram dan aman dan di Jakarta merupakan salahsatu bukti kerukunan beragama seperti masjid istiqlal berdampingan dengan sebuah gereja. Dan ini pun, tidak ada kecaman dari pihak manapun kedua golongan saling tentram dan damai dalam menjalankan institusi sosial agama yang telah diyakininya dan diajarkannya.

 

Sumber :

Surat Al-Kafirun Dalam Perspektif Sosiologi Agama Sebagai Bagian Dari Institusi Sosial Dan Solusi Masalah Toleransi Kerukunan Hidup Umat Beragama

 

            Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai Geological Islamic Day

Oleh : Ali Ar-Ridho, 170310150054

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Padjadjaran

Jatinangor

2016

Penentuan Agenda Media Massa dengan Perspektif Alquran

Assalamualaikum, akhi ukhti apa kabar ? Semoga sehat selalu yaa..

Alhamdulillah barakallah… kami dari tim media gema FTG Unpad menghadirkan kembali tulisan-tulisan yang insyaallah bermanfaat untuk dibacanya!!

Ayook simak berikut mengenai tulisan resume, lho kok resume ? Kaya tugas dari dosen aja ?

Yaa.. yang penting menebar kebaikan ada medianya, dakwah pun jalan yaa, allahuakbar!! Resume ini, diambil dari acara terbesar di gema yaitu GID (Geological Islamic Day) dalam lomba essay tingkat pelajar yang bersekolah di region Bandung, Jawa Barat.

 

Baiklah, quotes pertama dimunculkan seperti ini “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”, kira-kira akhi dan ukhti tau dari siapa quotes ini ?  ya, memang jika ilmu tanpa agama juga nantinya akan membawa kepada kesombongan karena tidak memikirkan, siapa yang telah memberikan ilmu sehebat ini, kepada seorang manusia. Lanjuutt…

Ilmu di dunia ini terbagi menjadi dua yaitu ilmu eksakta dan ilmu humaniora, perbedaannya ialah jika ilmu eksakta ini berasal dari filsafat alam sedangkan ilmu humaniora berasal dari filsafat humaniora. (Bakker, Anton: 1990). Salahsatu yang akan disampaikan dalam resume ini berupa, ilmu humaniora khususnya di bidang ilmu komunikasi. Memangnya ilmu komunikasi ini penting banget, ya ?  Tentu saja, dikarenakan jaman sekarang mudah sekali informasi tersebar seperti media sosial, yang beritanya entah berujung kepada kebenaran atau berujung kepada kebohongan, biasanya disebut hoax. Tapi, sebenarnya agama islam telah mengatur tentang cara berkomunikasi serta, tidak boleh berbohong dalam menyampaikan berita seperti yang tercantum dalam surat Ash-Shaff ayat 2 hingga 3, dengan artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuau yang tidak kamu kerjakan ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Allah saja membenci kepada orang yang melakukan hal tersebut, oleh karena itu sebagai umat manusia tidak boleh melakukan hal tersebut, menyebarkan fitnah atau berita hoax. Hal tersebut hanya membuat keresahan di masyarakat yang berujung tidak akan dipercaya oleh siapapun. Meskipun, pembicaraanya sekali-sekali pernah benar tetap tidak akan percaya selamanya. Yang rugi siapa ? Orang yang melakukannya lah!

Selain surat Ash-Shaff tadi, Allah memerintahkan kepada, hambanya dalam surat Al Isra ayat 53 yang artinya : Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku : “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan (suka) menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

 

Dalam satu teori komunikasi yang dicetuskan oleh Mc Combs dan DL Shaw pada tahun 1972. Dengan intinya seperti ini bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa (Suparapto, Tomi: 2009).

Seperti kasus yang masih hangat bahkan sampai sekarang yaitu berita mengenai penistaan agama oleh ahok (4/11), ini merupakan fakta dari teori penentuan agenda tersebut serta, seluruh lapisan masyarakat tertuju pada kasus tersebut. Efek dari kasus ini, timbul demo anarkis yang beroknum mengatasnamakan islam berorientasi pada hal-hal anarkisme, padahal jika dikritisi dan diteliti beritanya, ternyata yang melakukan anarkis tersebut hanyalah preman-preman bayaran supaya mudah memprovokasi yang lainnya. Disini media massa dengan mudahnya merekam, dan menyebarluaskan berita tersebut. Allahuakbar ! jangan sampai umat islam mudah terprovokasi. Sebagai umat islam tentunya, dalam mendapatkan berita haruslah tersaring secara benar-benar, dan juga mengenai pemahaman terhadap penentuan agenda media massa yang tidak transparansi dalam memberikan informasi. Dalam Alquran surat Al Hujurat ayat ke 6 yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”.

Lalu, pada surat At Taubah ayat 96 juga, Allah memerintahkan kepada kita supaya teliti dan cermat dalam mendapatkan berita, yang artinya : “Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan kamu.”

Ada yang mengatakan bahwa “diam itu emas”. Memang, daripada kita menyebarkan berita hoax atau jadi juru fitnah, lebih baik diam jika tidak mengetahui sumbernya dan kebenarannya. Karena Allah pun, dalam Alquran senantiasa mengingatkan kepada umat manusia, supaya tidak berbohong,  kemudian berhati-hati dalam menerima berita dari seseorang agar nantinya tidak merugikan kepada orang yang menyebarkannya.

 

Kesimpulannya dengan media massa segala sesuatu mengenai berita bisa terekam, baik berita itu hoax atau benar, tentunya sebagai seorang muslim kita sudah dibekali perintah oleh Allah dalam Alquran­-Nya supaya benar-benar menyaring berita dan menentukan sumber serta kebenarannya. Jaman sekarang memang berbeda dengan dahulu, karena informasi dapat dengan mudah diakses disinilah kita berperan untuk menyaring dan memanfaatkan hal-hal positif untuk diteruskan dan disebarluaskan, sehingga umat manusia tidak merasa rugi dengan telah mengakses suatu informasi tersebut.

 

Sumber : Essay kompetisi Geological Islamic Day “PERSPEKTIF ALQURAN TERHADAP DAMPAK PENENTUAN AGENDA OLEH MEDIA MASSA KEPADA KHALAYAK”, Oleh Huurummaqsyuura (210510150078) Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor 2016.