Category Archives: Artikel

[ WANITA PERTAMA YANG MATI SYAHID]

SUMAYYAH BINTI KHAYYAT
“WANITA PERTAMA YANG MATI SYAHID”

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman” padahal mereka belum lagi diuji?” (QS Al-Ankabut: 2)

“Apakah kalian mengira akan dapat masuk surga, padahal belum lagi terbukti bagi Allah orang-orang yang berjuang di antara kalian, begitu pun orang-orang yang tabah?” (QS Ali Imran: 142)

“Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, hingga terbuktilah bagi Allah orang-orang yang benar dan terbukti pula orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut: 3)

Sumayyah binti Khayyat adalah sosok shahabiyah Assabiqunal Awwalun (generasi terbaik pertama) bersama Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Khatab, Ummu Aiman dan Ruqayyah. Beliau sosok mukminah yang memiliki harga diri (izzah) yang tinggi. Ditambah lagi, Sumayyah bersama Suaminya Yasir dan Anaknya Ammar telah mentauladankan sebuah potret keluarga muslim yang sempurna. Merekalah keluarga pertama yang menyatakan Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya secara totalitas.

Sumayyah adalah wanita pertama yang memberikan perlawanan kepada kaum musyrikin demi membela panji Islam. Ibnul Atsir mengatakan, “Dia adalah orang ketujuh dari tujuh orang yang mula-mula masuk Islam. Dia termasuk orang yang menerima siksaan berat demi Allah SWT.”
Ibnu Mas’ud berkata, “Orang yang mula-mula membela Islam ada tujuh orang; Rasulullah SAW, Abu Bakar, Bilal, Khabbab, Shuhaib, Ammar, dan Sumayyah.”

Seperti halnya Bilal bin Rabbah R.a yang mengalami penyiksaan atas keislamannya di awal masa ajaran Islam menerangi Mekkah, Sumayyah beserta keluarganya juga mendapatkan perlakuan yang sama. Saat para pembesar Kafir Quraisy mengetahui keislaman Sumayyah, mereka menyerbu rumahnya. Sumayyah bersama suami dan anaknya ditangkap dan dibawa ke depan khalayak ramai untuk disiksa. Mereka kemudian di seret ke kawasan padang pasir yang sangat membakar dan dipenuhi bongkah batu besar. Pakaian mereka ditanggalkan lalu kedua tangan dan kakinya diikatkan pada bongkah batu yang panas yang terpapar sinar matahari padang pasir. Mereka dipukul dan dicambuk hingga tubuh mereka memerah darah. Penyiksaan demi penyiksaan terus dilakukan agar keluarga Sumayyah mau meninggalkan agama yang dibawa oleh Rasulullah Shallahhu’alaihi wassalam. Sumayyah dan keluarganya sama sekali tidak merasa gentar. Mereka saling berpandangan dengan penuh kasih sayang, saling menenangkan serta memberi kekuatan. Tidak ada rasa takut sedikitpun dibenak mereka dalam memperjuangkan agama Allah.

Seorang Sumayyah, sosok yang sangat sabar, tegar, mencintai Islam dengan sepenuh jiwa dan raganya, memiliki keimanan yang tidak dapat digoyahkan, menerima penyiksaan dan penganiayaan diluar kesanggupan orang kuat sekalipun. Sumayyah bahkan menyaksikan kesyahidan suaminya di sampingnya. Beliau juga melihat anaknya Ammar dibakar hidup-hidup. Dan itu sama sekali tidak dapat melunakkan hati Sumayyah untuk mengakui berhala-berhala kaum Quraisy sebagai Tuhan. Hatinya telah keras membatu karena dipenuhi kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya. Sampai-sampai Abu Jahal dan pengikutnya berputus asa menyiksanya. Dengan penuh kebencian dan Kemarahannya, Abu Jahal menancapkan tombak di perut Sumayyah secara perlahan hingga menembus punggungnya. Sebagian riwayat ada yang mengatakan tombak itu ditancapkan dibawah tubuhnya (kemaluannya). Demikianlah, tegarnya Sumayyah. Manisnya Iman telah mengantarkannya pada Syahidan. Syahidah pertama Fii sabililillah.

Wallahu’alam

#syahidahpertama
#keputrianazzahra

#GEMAZumratulAkhyar
#GEMAkeren2018
________________________________________________
-GEMA Zumratul Akhyar 2018-

Line : @kvu4684t
Instagram : gemaunpad
Youtube : Geological Muslim Association
Blog : http://Blogs.unpad.ac.id/gemaunpad

[ Aku dan Hijrah Zaman Now ]

Kini kita telah berada pada zaman “muslimah ngaji” menjadi jutaan, hijab menjadi pujian, dan kata “Hijrah” menjadi banggaan. MasyaAllah, nampaknya syariat Allah tidak lagi asing bahkan diminati, sunnah Nabi tidak lagi didebati bahkan diindahi.

Dan inilah “Aku dan Hijrah Zaman Now”

Jika dahulu shahabiyah berhijab karena Allah Ta’ala, aku berhijab karena mengikuti trend modern hari ini. Niatku sesungguhnya bukan karena perintah Allah dalam QS. An-Nuur : 24,31 dan QS. Al-Ahzab:59. Buktinya, aku tak menghafalkan ayat itu atau sekedar menghafal terjemahannya, aku belum cukup membaca tafsirnya apalagi mentadabburinya.

Ya inilah “Aku dan Hijrah Zaman Now”

Jika muslimah di zaman Nabi dan sahabat menutup kain ke seluruh tubuhnya dan seutuhnya, aku berhijab karena ingin dilihat. Aku ingin seisi dunia dan jagad maya tahu bahwa aku sedang belajar menjadi baik

Inilah “Aku dan Hijrah Zaman Now”

Dulu, muslimah zaman Nabi menutup diri dari celah fitnah dan senantiasa menyembunyikan kecantikan dirinya. Aku di zaman now mengumbar fitnah kemana-mana dengan hijab gelapku yang anggun, hijabku yang lebar berkibar-kibar di akun social mediaku, mataku yang indah berhias cadar menggugah misteri untuk para ikhwan, gambarku yang siluet dan dari belakang memberi kesan yang dalam dan eksotis kemudian kuberi caption ayat-ayat Allah, hadits-hadits Nabi, dan kata-kata mutiara. Sungguh sebenarnya yang ingin kusampaikan memang kebaikan tapi kupadukan dengan memamerkan diriku pada khalayak bahwa aku telah berhijrah.

Aku mengaku mengikuti Ummahatul Mu’minin namun aku lupa ternyata Ummahatul Mu’minin bermahkota rasa malu, sampai-sampai mereka jika berbicara dengan lelaki lain berada di balik tirai hijab, tidak saling melihat apalagi saling menatap, apalagi mengobrol basabasi. Sedangkan aku membuka semua celah percakapan dengan lawan jenis tanpa rasa malu. Aku berdalih “tidak ngapa-ngapain kok!” aku lupa bahwa syaithan itu licik bahkan syaithan mengalir hingga ke darah manusia.

Inilah aku dan aku menyadari bahwa selama ini aku salah, padahal aku pernah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya amalan itu bergantung dari niatnya.” Maka apa yang bisa kubanggakan dari hijrahku ini jika ternyata usahaku menutup diri ternyata sia-sia di sisi Allah hanya karena sesuatu yang tersembunyi di dalam hatiku, ialah niatku!
Apa yang bisa kubanggakan sementara muslimah di zaman Nabi harus meneteskan darah, air mata, sujud yang panjang disepertiga malam untuk menegakkan perintah Allah, sementara aku hanya berbekal membaca sedikit dan mendengar kajian sedikit, banyak tertawa bercanda, lalu dengan pedenya bermodal hijab saja kuyakin akan masuk Syurga? Bagaimana mungkin!

Kusadari bahwa muslimah zaman Nabi senantiasa berbekal dengan tarbiyah Nabi, mereka senantiasa menghias diri dengan mengilmui Al-Quran dan sunnah sedalam-dalamnya hingga hijab di mata mereka adalah jihad dan perjuangan mereka. Sementara aku? Apa yang bisa aku banggakan dengan hijrahku? Aku hadir di majelis ilmu sekadar meramaikan dan pencitraan, bagaikan buih di lautan yang banyak namun tak ada artinya.

Semoga yang berperan “aku” dalam tulisan ini bukanlah engkau yang sedang membaca tulisan ini. Jika engkau sedikit tersinggung maka muhasabahlah dan kenalilah dirimu wahai muslimah yang cantik nan shalihah, taatilah perintah Tuhanmu sesungguhnya Ia Maha Melihat lagi Maha Mengetahui. Ia mengetahui yang tersembunyi dalam hati dan semua amalan kecil dan besar, dan menghisab semuanya.

Dan wanita yang sejati ialah yang menyadari fitrahnya sebagai muslimah yang indah, senantiasa menjaga kehormatannya, rasa malunya, dan menaati Rabb semesta alam. Semoga Allah memberikan taufiq-Nya, menunjukkan pada kita jalan yang lurus dan meneguhkan kita di atasnya. Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kita berada, barakallahufiikunna jami’an. Wallahu Ta’ala a’lam

Sumber : ukthy_Ria Mardiah (https://www.wattpad.com/511243314-muslimah-hijrah-aku-dan-hijrah-zaman-now)

#GEMAZumratulAkhyar
#GEMAkeren2018
________________________________________________
-GEMA Zumratul Akhyar 2018-

Line : @kvu4684t
Instagram : gemaunpad
Youtube : Geological Muslim Association
Blog : http://Blogs.unpad.ac.id/gemaunpad

[ Udahlah! Pulang aja… ]

Pulang aja…
Dunia seisinya ini adalah ujian, entah itu kesenangan ataupun penderitaan semua itu ujian keimanan. Maka dari itu, untuk melakukan kebaikan dan kebenaran itu butuh kekuatan, dan untuk mempertahankannya sudah pasti butuh kesabaran dan keikhlasan…Seperti halnya dalam hijrah (road to Allah) terdapat banyak lika-liku yang harus dihadapi.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:’kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji?.”
(QS. Al-ankabut :2)

Ya sederhananya sih begini, kalau kita memainkan sebuah game apa kita akan tetap berada di level 1 terus-menerus, atau tetap pada beginner mode? Tentu saja seorang player sejati tak akan mau berada tetap di situasi itu (yakalii ga lanjut 😝), pastinya kita akan mencoba tantangan yang lebih di level selanjutnya dan meng-upgrade skill untuk menyelesaikan challenge. Dan uniknya, kadang di level yang lebih tinggi kita bisa saja berhadapan lagi dengan musuh yang sama seperti yang pernah dihadapi di level sebelumnya, lalu mendapat serangan ‘combo’ yang ga setengah2 karena semua musuh bergabung di level stage sekarang. Mau protes bagaimanapun, yang namanya misi tetaplah misi, tantangan yang harus diselesaikan. Pilihannya cuma 2: berhenti ditengah jalan (exit bahkan log out 🤕) atau tetap bertahan untuk melawan 😎.

Begitu juga dengan kita manusia, seorang player atau pejuang sejati ia akan memilih untuk bertahan dan menghadapi semua ujian tersebut, tetap rela bersusah-payah demi memegang hal yang benar.
Sulit? sakit kena serangan? Babak belur jiwa dan raga? memang…
Tak apa, pulang aja…

Manusia itu memang jago bikin salah, ya itu manusiawi karna kita bukan malaikat. Sering terpeleset dalam proses menjadi benar itu, Allah sudah tau. Tapi yang menjadi tanggungjawab kita adalah apakah diri ini masih mau pulang?

Udah! pulang aja…
Belom terlalu jauh kok untuk pulang pada-Nya. Jadikanlah cobaan dalam hijrah sebagai modal untuk memperbaiki diri, dan menyadari ternyata diri ini masih belum sebaik seperti yang seharusnya. Berbesar hatilah menerima ucapan-ucapan yang tidak enak di hati. Manusia tak bisa selalu benar, ya manusia memang pendosa, tapi semangat untuk bangkit setelah jatuh itulah yg menjadi cerminan iman didada.

“Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-baqarah :155)

Capek main-main? lelah terpeleset? udah ah, pulang aja… 😂

#semangatjihadfiisabilillah!
#keputrianazzahra2018

[ MUSLIM HEROES ]

ZUBAIR BIN AWWAM “SANG KSATRIA RASULULLAH”

Tahukah kamu?

1. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap nabi memiliki kesatria dan kesatriaku adalah Zubair.” (HR. Bukhari)
Hadits di atas diucapkan Rasulullah saw setelah Zubair bin Awwam berhasil 3X menyusup ke benteng Yahudi sendirian dan memata-matai isinya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai pendekar andalan nabi, dia tak hanya mahir dalam pertarungan namun juga memiliki skill infiltrasi (penyusupan) dan spionase (memata-matai) yang hebat bagaikan prajurit pasukan elit.

2. Keberaniannya jauh di atas manusia normal. Bahkan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib yang terkenal kuat dan pemberani mengakui kehebatannya.
Menurut Umar bin Khattab, Zubair termasuk 1 dari 4 orang yang masing-masing kekuatannya setara 1000 orang.

3. Ali bin Abi Thalib, berkata “Zubair adalah orang yang paling berani. Tidak ada yang mengetahui kadar orang yang besar kecuali orang yang besar.” Maksudnya adalah Ali tahu betapa pemberaninya Zubair karena dia sendiri juga pemberani.

4. Ciri khasnya dalam pertempuran adalah dia membawa 2 pedang di kiri dan kanan. Selain itu, dia punya tombak kecil yang di taruh di punggungnya. Tombak ini runcing di kedua sisinya dan khusus digunakan untuk menghadapi musuh yang kuat.

5. Dalam peperangan, dia biasanya bukan di barisan depan melainkan di depan barisan.
Seringkali ketika pasukan muslimin dan musuh sudah dalam posisi berhadapan, sebelum komandan memerintahkan menyerang, Zubair sudah maju duluan mendekati musuh. Bukan menyerang melainkan beratraksi memamerkan skillnya di depan barisan pasukan musuh.

6. Setelah mendengar teriakan takbir tanda perintah menyerang dari komandan pasukan muslim yang berada jauh di belakangnya, ga pake lama, ga pake nunggu, Zubair langsung menerjang barisan pasukan musuh. Sementara teman-temannya sedang berlari mendekat menyerbu pasukan musuh, Zubair udah bacok-bacokan duluan di kerumunan musuh.
Sehebat-hebatnya Zubair dia tidak pernah sok jagoan & bertindak gegabah.

7. Gara-gara aksi Zubair semacam ini, mental lawan nge-drop duluan. Mereka yang harusnya fokus menghadapi pasukan muslim di depan, malah jadi gagal fokus, barisan kacau, formasi pasukan bubar, sehingga tentara muslimin bisa menyerang dengan mudah.

8. Menurut para sahabat, kekuatan utama pasukan kaum muslimin ada di 3 orang yaitu Zubair, Hamzah, dan Ali.

9. Walaupun jagoan, Zubair selalu menjaga penampilan. Dia selau pakai baju bersih dan rapi termasuk ketika sedang berperang. Malaikat Jibril kadang mendatangi Rasulullah saw dalam wujud manusia. Namun dia tidak sembarangan menjelma. Jibril hanya mau menyerupakan dirinya dalam wujud 2 orang sahabat yaitu Zubair yang terkenal selalu menjaga penampilan dan Dihyah Al Kalbi, sahabat paling tampan se-Madinah.
10. Di Perang Badar, ada seorang prajurit Quraisy yang menggunakan baju besi di seluruh tubuh sehingga hanya terlihat matanya, bahkan kudanya pun menggunakan pakaian besi. dia punya skill langka yaitu mampu menggunakan pedang yang sangat panjang seperti galah. Para sahabat berusha mengalahkannya dengan susah payah tapi tak berhasil. Selain jangkauan serangannya yang jauh, pertahanannya juga sangat sulit ditembus. Dia bebas menebas musuhnya, sedangkan semua serangan tak mempan kepadanya. Ketika Rasulullah saw mendengar tentang ini, beliau memerintahkan Zubair untuk membereskannya.

Kira-kira bagaimana cara Zubair mengalahkan orang ini?

Sementara si orang Quraisy itu sedang asyik bacokin orang-orang yang tidak bisa membalas, Zubair mencari celah. Ternyata satu-satunya bagian yang tak tertutup adalah matanya. Zubair menyiapkan tombaknya, setelah mendapat kesempatan dia lempar dan mengenai tepat di antara kedua mata lawannya itu, menancap hingga tembus ke belakang.
Setelah lawannya mati, Zubair kesulitan mengambil tombak yang menancap di kepala orang itu hingga tombaknya bengkok.

11. Peristiwa kematian Zubair ini terjadi pada Kamis, 10 Jumadil Akhir tahun 36 H.

12. Walaupun dia mengikuti semua pertempuran di jaman Rasulullah dan para sahabat, walaupun dia sudah mengalahkan entah berapa ratus atau mungkin berapa ribu orang kafir, namun ternyata Zubair justru meninggal di tangan orang muslim yang zalim. Hal ini menunjukkan bahwa mati dalam keadaan dizalimi termasuk mati syahid.

13. Zubair meninggalkan harta sebanyak 50.200.000 dirham.

Kita umat Islam punya tokoh-tokoh hebat yang nyata dan lebih layak dijadikan Idola.
Dari Ibnu Mas’ud ia berkata: “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah lalu berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah pendapat Rasul mengenai seorang yang mencintai sesuatu kaum, tetapi tidak pernah menemui kaum itu?” Rasulullah bersabda: “Seorang itu beserta orang yang dicintainya. (HR.Bukhari)
Marilah belajar sejarah agar tidak salah pilih tokoh idola!
Marilah kita nge-fans kepada Rasulullah saw dan para sahabat agar bisa dipertemukan dengan mereka di surga nanti.

sumber:
Sahabat-Sahabat Rasulullah karya Syaikh Mahmud Al Mishri
SIrah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri
66 Orang yang Dicintai Rasul karya Prof. Dr. Muhammad Bakar Ismail



#GEMAZumratulAkhyar
#GEMAkeren2018
________________________________
-GEMA Zumratul Akhyar 2018-

Line : @kvu4684t
Instagram : gemaunpad
Youtube : Geological Muslim Association
Blog : http://Blogs.unpad.ac.id/gemaunpad

Ada apa dengan 10 hari awal bulan Dzulhijjah ??

Bulan Dzulhijjah merupakan bulan yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Lantas mungkin timbul pertanyaan dalam benak kita,

manakah yang lebih utama, apakah 10 hari pertama Dzulhijjah ataukah 10 malam terakhir bulan Ramadhan?

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zaadul Ma’ad memberikan penjelasan yang bagus tentang masalah ini. Beliau rahimahullah berkata, “Sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam pertama dari bulan Dzulhijjah. Dan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama dari sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dari penjelasan keutamaan seperti ini, hilanglah kerancuan yang ada. Jelaslah bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan lebih utama ditinjau dari malamnya. Sedangkan sepuluh hari pertama Dzulhijah lebih utama ditinjau dari hari (siangnya) karena di dalamnya terdapat hari nahr (qurban), hari ‘Arofah dan terdapat hari tarwiyah (8 Dzulhijjah).”

Ibnu Rajab Al Hanbaly berkata:
“Apabila sesuatu itu lebih dicintai oleh Allah, maka sesuatu tersebut lebih afdhal di sisi-Nya.”

Maka jangan kita sia-siakan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini.

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mengakatakan :
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentangnya :

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“

Berdasarkan hadist yang mulia ini, maka seharusnya kita berusaha untuk mengerjakan amal shalih pada 10 hari ini. dengan berpuasa, berdzikir, membaca al-Qur’an, memperbanyak shalat Sunnah, bersedekah, dan berbuat baik kepada sesama, dan yang lainnya, yang mendekatakan hamba kepada Allah tabaroka wata’alaa, karena amal shalih pada 10 hari ini (bulan Dzulhijjah) lebih baik daripada amal shalih pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (pada lafadz hadistnya) menggeneralisasi penguatan kata “min” (ما مِنْ أَيَّامٍ) Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada 10 hari pertama (bulan Dzulhijjah).

Dan seharusnya para thullabul ilmi meningkatkan kesadaran kepada para manusia mengenai keutaman 10 hari ini, karena kebanyakan manusia tidak menyadarinya dan mereka jahil (tidak tahu) tentang keutamaanya.
Mereka butuh diingatkan, diberitahu, dan diberikan ilmu. Dan hari yang diutamakan dari (hari-hari) puasanya adalah berpuasa pada hari arafah (9 Dzulhijjah).

Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang puasa pada hari arafah maka beliau bersabda :

“Aku berharap kepada Allah, itu akan menghapuskan (dosa) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya.”

Maka apa yang disandarkan kepada 10 hari bulan Dzulhijjah, kita boleh berpuasa pada hari Arafah saja (9 Dzulhijjah) atau pada 10 hari seluruhnya (1-9 Dzulhijjah).

Yukk kita berlomba-lomba dalam kebaikan.

Wallahu’alam Bisawab.

Source :

6 Amalan Utama di Awal Dzulhijah


https://muslim.or.id/31753-ada-apa-dengan-10-hari-pertama-bulan-dzulhijjah.html
https://www.facebook.com/kajiansunnahchannel/videos/1731309220510437/

[ Kalau (wanita) i’tikaf boleh ga ya? ]

Suasana ramadhan sih kurang asik kalau ga dilengkapi i’tikaf sebagai salah satu bentuk ibadah dan mendekatkan diri pada Allah. Hmm…tapi untuk kaum Hawa, itikaf boleh ga ya?? 🤔🤔🤔

I’tikaf merupakan kegiatan ‘berdiam diri’ dimasjid untuk melakukan ibadah kepada Allah. i’tikaf adalah ibadah Sunnah yang bisa dilakukan kapan saja. Dibulan ramadhan justru sangat dianjurkan memperbanyak ibadah seperti melakukan itikaf di malam bulan ramadhan ( terutama 10 hari terakhir).

Dari Aisyah R.A, mengatakan:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi perempuan sama seperti halnya laki-laki dianjurkan untuk melakukan itikaf. Tetapi juga untuk hal ini para ulama memiliki beberapa pendapat:

1. Pendapat pertama, adalah pendapat jumhur yang menyatakan keumuman berbagai dalil mengenai pensyari’atan i’tikaf yang turut mencakup pria dan wanita, kecuali terdapat dalil yang mengecualikan.

Hadits ‘Aisyah dan Hafshah radhiallahu ‘anhuma, yang keduanya memperoleh izin dari rasullullah untuk beri’tikaf sedang mereka berdua masih dalam keadaan belia saat itu. (HR. Bukhari: 1940)

2. Pendapat kedua, menyatakan bahwa i’tikaf dimakruhkan bagi wanita. Dalil yang menjadi patokan bagi pendapat ini diantaranya adalah sebagai berikut:

Hadits ‘Aisyah R.A yang menerangkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk melepas kemah-kemah istrinya ketika mereka hendak beri’tikaf bersama beliau”. (HR.Ibnu Khuzaimah: 2224)

Hadits ‘Aisyah R.A, beliau mengatakan: “Seandainya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui apa kondisi wanita saat ini tentu beliau akan melarang mereka (untuk keluar menuju masjid) sebagaimana Allah telah melarang wanita Bani Israil.” (HR. Bukhari: 831 dan Muslim: 445)

Pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur yang menyatakan bahwa i’tikaf juga disunnahkan bagi wanita berdasarkan beberapa alasan berikut:

1. berbagai dalil menyatakan bahwasanya wanita juga turut beri’tikaf dan tidak terdapat dalil tegas yang menerangan bahwa pemudi dimakruhkan untuk beri’tikaf.

Hadits ‘Aisyah yang menyatakan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk melepas kemah para istri beliau ketika mereka beri’tikaf bukanlah karena ketidaksukaan beliau apabila para wanita turut beri’tikaf tapi memerintahkan hal tersebut karena kekhawatiran jika para istri beliau saling cemburu dan berebut untuk melayani beliau. Maka, dalam hadits tersebut beliau mengatakan, “Apakah kebaikan yang dikehendaki oleh mereka dengan melakukan tindakan ini?”. Akhirnya beliau pun baru beri’tikaf di bulan Syawwal.

Hadits ‘Aisyah ini justru menerangkan bolehnya wanita untuk beri’tikaf, karena ‘Aisyah dan Hafshah di dalam hadits ini diizinkan nabi untuk beri’tikaf dan pada saat itu keduanya berusia belia.

Adapun perkataan ‘Aisyah yang menyatakan rasullullah akan melarang wanita untuk keluar ke masjid apabila mengetahui kondisi wanita saat ini, secara substansial, bukanlah karena i’tikaf tidak disyari’atkan bagi wanita. Namun, perkataan beliau tersebut menunjukkan akan larangan bagi wanita untuk keluar ke masjid apabila dikhawatirkan terjadi fitnah.

Nah, jadi wanita juga dianjurkan untuk melakukan itikaf sebagaimana yang dijelaskan dalam dalil 😉. Tetapi untuk para wanita yang beritikaf (di masjid umum) harus mempertimbangkan kemungkinan terjadi fitnah, jika dibolehkan harus dengan syarat seperti: mendapat izin (ayah/suami), berpakaian menutup sesuai syariat, atau bisa didampingi oleh mahramnya, dan juga hal lainnya terkait kedudukan seorang wanita (tidak melalaikan kewajiban dan tanggung jawab). Lebih utama untuk melakukan itikaf di masjid ‘pribadi’ (khusus wanita atau milik keluarga) dibandingkan dengan masjid umum.

Referensi:
Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST., 2011. https://muslim.or.id/6745-fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn16

#RamadhanSemangat
#KeputrianAzzahra
#GeologicalMuslimAssociation

[ AMALAN SUNNAH WANITA KETIKA HAID ]


Hikmah haid bagi muslimah adalah merupakan training atau latihan, karena muslimah pada akhirnya akan mempunyai anak dan harus membersihkan kotoran pada anaknya yang masih bayi,maka Allah SWT memberikan training berupa haid, sehingga nantinya terbiasa dalam merawat bayinya.

Dari Aisyah r.a. Menyatakan: “Kami mengalami haid ,Maka Kami diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk mengqadha shaum dan tidak diperintahkan untuk mengqadha solat.” (H.R. Bukhari-Muslim/Dalam Shahih Jami No. 3514).

Banyak ibadah sunnah lainnya yang dianjurkan yang dapat dilakukan diantaranya yaitu:

1. Menyediakan dan memberi ifthar (hidangan berbuka), kepada orang-orang yang shaum baik bagi anggota keluarga maupun saudara-saudara umat Islam
Ifthar adalah amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, karena mengandung pahala yang besar dan kebaikan yang berlimpah.

2. Menjauhi Larangan Agama
Muslimah yang bijak tentunya berupaya memanfaatkan setiap detik ketika bulan Ramadhan walaupun ketika sedang haid, dan terhalang menunaikan shaum masih mendapat pahala yaitu dengan berusaha menjauhi segala yang dilarang oleh Agama,dan berusaha menjaga lisan dengan tidak menggunjing dan selalu berusaha berkata-kata yang manfaat.

3. Memperbanyak Berdoa dan Berdzikir Sepanjang Hari
Berdoa dibulan ramadhan adalah sangat mustajab, dan sangat dianjurkan, tentunya sebagai muslimah juga memanfaatkan waktu dengan senantiasa memperbanyak berdoa dan bedzikir setiap saat, Allah SWT Berfirman: “Dan Rabbmu Berfirman: Berdoalah Kepada-Ku Niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Al-Mu’min: 60).

4. Mengingatkan anggota keluarga dalam kebaikan, terutama saudara laki-laki agar senantiasa solat berjamaah dimesjid
Rasulullah SAW Bersabda: “Dan jikalau mereka mengetahui apa-apa yang ada dalam solat Isya dan shubuh niscaya mereka mendatangi keduanya bahkan mereka akan mencintainya.”

5. Mengingatkan anggota keluarga untuk menunaikan solat sunat terutama solat sunnat dhuha dan solat sunat qiyamul lail
Sebagaimana kita telah ketahui bersama bahwa solat sunnat dhuha dan solat sunnat qiyamul lail adalah merupakan ibadah yang dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.

6. Menyibukkan diri menuntut Ilmu yang bermanfaat
Salah satu kreteria wanita solehah adalah selalu bersemangat dalam menuntut ilmu, semangat dalam mengamalkan ilmu nya, dan semangat dalam mengajak orang lain agar mengamalkan ilmunya, dengan demikian di bulan ramadhan ini walau terhalang dengan tidak shaum seyogiyanya menyibukkan diri meluangkan waktu untuk bersemangat menuntut ilmu yang manfaat dunia dan akhirat.

So, ukhti jangan sampe haid atau nifas dijadikan alasan untuk gak beribadah ya?

Sumber:
Amal.com

#SyiarMuslimah
#GeologicalMuslimAssociation
#AyoBeramalBaik

HUKUM MENCUKUR ALIS

Bagaimana hukum mencukur alis dalam islam?

Dalam beberapa adat pernikahan yang ada di Indonesia, kita mungkin pernah atau bahkan sering menjumpai pengantin wanita mencukur habis alisnya karena harus menyesuaikan dengan riasan pengantin di wajahnya. Tidak hanya itu, mencukur alis sampai habis pun sering kali dilakukan oleh banyak wanita yang bekerja di luar rumah untuk mempercantik diri, dengan alasan penampilan adalah penunjang keberhasilan karir mereka.

Padahal sesungguhnya perbuatan mencukur alis ini adalah salah satu perbuatan yang dilarang dan diharamkan dalam syariat Islam. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَعَنَ النَّبِيُّ صلّى الله عليه وسلّم النَّامِصَةَ وَالمُتَنَمِّصَةَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang menghilangkan bulu alis dan yang meminta dihilangkan bulu alisnya.” (HR. Abu Dawud, dan terdapat hadits pendukung yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari & Muslim)

Menghilangkan bulu alis maksudnya adalah mencabut bulu alis atau mencukur bulu alis atau mengerik bulu alis, dan bisa saja dilakukan sendiri baik itu sebagian maupun seluruhnya, dengan alat ataupun dengan tanpa alat. Perbuatan menghilangkan bulu alis ini termasuk perbuatan merubah ciptaan Allah. Karena itu hendaknya setiap wanita menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Namun bila seorang wanita menemukan rambut atau bulu yang seharusnya tidak tumbuh pada wajah seorang wanita, seperti kumis dan jenggot, maka ia boleh menghilangkannya karena kumis dan jenggot tadi dapat memberikan mudharat dan memperburuk rupanya.

Kodrat seorang wanita adalah ingin selalu tampil cantik, namun tampil cantiknya seorang wanita haruslah dalam koridor syariat. Dimana kecantikan seorang wanita adalah hak suaminya, dan hanya boleh dilihat oleh orang-orang yang menjadi mahramnya. Dan seorang wanita mukminah adalah wanita yang selalu menjaga kehormatan dirinya dan menjaga hak-hak suaminya.

Wallahul Musta’an.

Sumber :
Majalah Al-Buhuts no 37: 170-171, Fatwa Syaikh Ibnu Baz
Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin juz 2 halaman 830-831

#SyiarMuslimah
#GeologicalMuslimAssociation

CINTA NABI

Cinta Nabi ﷺ 1
Cinta Nabi. Kalimat sederhana yang begitu dalam maknanya. Dua kata yang bisa membuat orang menebusnya dengan dunia dan seisinya. Karena memang demikianlah hakikinya. Nabi Muhammad ﷺ wajib lebih dicintai dari orang tua, istri, anak, dan siapapun juga.
Namun, kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah sesuatu yang bebas ekspresi. Tetap ada aturan yang indah dan elegan. Tidak boleh berlebihan (Ghuluw) dan juga menyepelekan. Tidak boleh mengada-ada. Karena beliau ﷺ begitu mulia untuk dipuja dengan sesuatu yang bukan dari ajarannya.
Allah ﷻ berfirman,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS:An-Nisaa | Ayat: 69).
Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini turun terkait dengan kisah Tsauban bin Bujdad radhiallahu ‘anhu bekas budak Rasulullah ﷺ. Ia sangat mencintai Nabi ﷺ. Suatu hari ia menemui Nabi ﷺ, dengan rona wajahnya berbeda. Menyiratkan kekhawatiran dan rasa sedih yang bergemuruh di dalam hatinya. Melihat kondisinya yang demikian maka Rasulullah ﷺ pun bertanya kepadanya.
Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Apa yang membuat raut wajahmu berbeda (dari biasa) wahai Tsauban’?

‘Aku tidak sedang sakit atau kurang enak badan wahai Rasulullah ﷺ . Aku hanya berpikir, jika tak melihatmu, aku sangat takut berpisah denganmu. Perasaan itu tetap ada, hingga aku melihatmu. Kemudian aku teringat akhirat. Aku takut kalau aku tak berjumpa denganmu. Karena engkau di kedudukan tinggi bersama para nabi. Dan aku, seandainya masuk surga, aku berada di tingkatan yang lebih rendah darimu. Seandainya aku tidak masuk surga, maka aku takkan melihatmu selamanya’, kata Tsauban radhiallahu ‘anhu.
Sebab dari perkataan Tsauban tersebut, kemudian Allah ﷻ turunkan tersebut.
Bukankah lisan mu selalu mengatakan ingin bertemu dengan Nabi Muhammad ﷺ ? Bukankah kita sering mengatakan ingin berada di Jannah firdaus bersama orang-orang shalih?
Allah sudah kabarkan kepada mu cara untuk dikumpulkan bersama para Nabi, shiddiqin, syuhada dan sholihin, mengapa engkau belum juga mendatangi cara tersebut untuk meraih surga yang engkau cita-citakan?
Bersambung….
Referensi :
– http://kisahmuslim.com/5735-merekalah-orang-orang-yang-mencintai-nabi.html
– https://www.youtube.com/watch?v=Knp2_y_nEig

#GEMAZumratulAkhyar
#GEMAkeren2018
________________________________
-GEMA Zumratul Akhyar 2018-

Line : @kvu4684t
Instagram : gemaunpad
Youtube : Geological Muslim Association
Blog : http://Blogs.unpad.ac.id/gemaunpad

[ K E S E D E R H A N A A N A Z – Z A H R A ]


Menjadi anak raja hampir selalu membawa takdir keberuntungan. Kekuasaan puncak sang ayah tak hanya memungkinkan dia hidup serba kecukupan tapi juga berlumuran kemewahan. Lantas, bagaimana dengan putri Nabi Muhammad SAW Fatimah Az Zahra, pemimpin tertinggi dan pelaksana risalah ilahi?

Suatu hari Fatimah Az Zahra, dihampiri Abdurrahman bin ‘Auf. Dia mengabarkan bahwa Rasulullah tengah menangis sedih selepas menerima wahyu dari Jibril. Abdurrahman datang dalam rangka mencari obat bagi suasana hati Nabi yang kalut pada waktu itu. Satu hal yang selalu membuat Rasulullah bahagia adalah melihat putrinya.

“Baik. Tolong menyingkirlah sejenak hingga aku selesai ganti pakaian.” Demikian diceritakan dalam kitab al-Aqthaf ad-Daniyyah melalui riwayat Umar bin Khattab.

Keduanya lalu berangkat ke tempat Rasulullah. Saat itu Fathimah menyelimuti tubuhnya dengan pakaian yang usang. Ada 12 jahitan dalam lembar kain tersebut. Serpihan dedaunan kurma juga tampak menempel di sela-selanya.

Sayidina Umar bin Khattab menepuk kepala ketika menyaksikan penampilan Fathimah. “Betapa nelangsa putri Muhammad SAW. Para putri kaisar dan raja mengenakan sutra-sutra halus sementara Fatimah anak perempuan utusan Allah puas dengan selimut bulu dengan 12 jahitan dan dedaunan kurma.”

Sesampainya menghadap ayahandanya, Fathimah bertutur, “Ya Rasulullah, tahukah bahwa Umar terheran-heran dengan pakaianku? Demi Dzat yang mengutusmu dengan kemuliaan, aku dan Ali (Sayyidina Ali bin Abi Thalib, suaminya) selama lima tahun tak pernah menggunakan kasur kecuali kulit kambing.”

Fathimah menceritakan, keluarganya menggunakan kulit kambing tersebut hanya pada malam hari. Sementara pada siang hari kulit ini menjelma sebagai tempat makan untuk unta. Bantal mereka hanya terbuat dari kulit yang berisi serpihan dedaunan kurma.
“Wahai Umar, tinggalkan putriku. Mungkin Fatimah sedang menjadi kuda pacu yang unggul (al-khailus sabiq),” sabda Nabi kepada sahabatnya itu.

Analogi kuda pacu merujuk pada pengertian keutamaan sikap Fathimah yang mengungguli seluruh putri-putri raja lainnya. “Tebusanmu (wahai Ayah) adalah diriku,” sahut Fatimah.

Dengan kedudukan dan kharisma ayahandanya yang luar biasa, Fatimah Az Zahra sesungguhnya bisa memperoleh apa saja yang ia kehendaki, lebih dari sekadar pakaian dan kasur yang bagus. Namun, kepribadian Rasulullah yang bersahaja tampaknya memang mewaris ke dalam dirinya. Fathimah tetap tampil sederhana, dengan segenap kebesaran dan kemewahan jiwanya.

Sumber:
Ari Cahya Pujianto on 20 Juni 2017

#SyiarIslam
#AkhlakIslam
#GeologicalMuslimAssociation