KISAH NABI YAQUB AS

[PART 4]

“ Assalamualaikum Warrohmatullah Paman, kata Ya’kub sambil mencium tangan sang Paman takzim.
“ Waalaikumussalam anakku.” Kata Laban terharu. Air mata meleleh membasahi wajahnya yang mulai tua dimakan usia.
Segera Laban memeluk Ya’kub. Lama…dilepaskanlah segala kerinduan akan Rifqa sang adik kepada Ya’kub. Ya’kub juga tidak dapat menahan keharuannya. Penerimaan sang paman membuatnya merasa seperti mendapat orang tua baru. Maka keduanya saling berpelukan melepaskan rindu si bapa saudara dengan anak saudara, Alangkah gembiranya hati masing-masing dengan pertemuan yang tidak disangka-sangka itu dan mengalirlah pada pipi masing-masing air mata yang dicucurkan oleh rasa terharu dan sukcita.
“ Bagaimana engkau bisa sampai ke sini. Mana rombonganmu” kata Laban kemudian.
“ Alhamdulillah saya sendiri paman. Saya tidak memakai kendaraan. Tetapi Allah Yang Maha Perkasa, menguatkan saya dan selalu menjaga saya sampai saya kemari.” Kata Ya’kub panjang lebar.
“Masya Allah, anakku. Engkau berjalan seorang diri dari Kan’an yang jauh itu? Tanpa kuda atau unta?” kata Laban nyaris tak percaya.
“Iya paman, Alhamdulillah, Allah mudahkan.” Kata Ya’kub.
“Baiklah Ya’kub. Sekarang istirahatlah dulu. Paman akan siapkan kamar untukmu. Engkau telah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan. Sebelumnya kita makan bersama dulu. Kata sang paman sambil tersenyum.
“Iya paman, terima kasih.”

Maka disapkanlah oleh Laban tempat dan bilik khas untuk anak saudaranya Ya’qub yang tidak berbeda dengan tempat-tempat anak kandungnya sendiri di mana ia dapat tinggal sesuka hatinya seperti di rumahnya sendiri.
Betapa bersyukurnya Ya’kub kepada Allah yang telah memberkahi perjalanannya, mempertemukannya dengan pamannya Laban dan mentakdirkan Laban menerimanya dengan tangan terbuka. Ya’kub diperlakukan Laban dengan baik sekali. Dia diberi kamar yang baik dan dijamu makan minumnya dengan baik.
Setelah beberapa hari menetap dirumah sang paman. Maka pada hari ketiga Ya’kub pun memberitahukan pamannya tentang pesan bapanya Nabi Ishaq.
“Paman, maaf sebelumnya. Bisakah kita berbicara? Ada pesan Ayah yang ingin saya sampaikan kepada Paman,” Kata Ya’kub dengan sopan
“Oh, iya nak. Boleh. Silahkan duduk dan katakan apa yang telah Ayahmu pesankan untuk paman.”
“Ini, paman, Ayah bermaksud melamar putri paman untuk dinikahkan dengan ku.” Kata Ya’kub hati-hati.
Laban bin batwayil tersenyum. Ia mengangguk paham. Sesungguhnya jauh dilubuk hatinya dia sendiri menginginkan Ya’kub menjadi menantunya. Tiga hari Ya’kub menginap di rumahnya sudah cukup baginya mengetahui karakter Ya’kub. Tidak bisa dipungkiri kesantunan Nabi Ya’kub dan kepatuhannya kepada syariat Islam membuat Laban jatuh hati padanya.
“ Baiklah, aku terima lamaran ayahmu untukmu.? Engkau boleh menikahi putriku?”
“ Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. “lirih terucap dari lisan Ya’kub. Matanya berbinar-binar. Terbayang di wajahnya anak pamannya yang pertama kali bertemu dengannya.
“ Tapi nak, paman punya satu syarat untukmu?”
“iya paman, katakan saja. Insya Allah aku akan memenuhinya.”
“ Engkau ku terima sebagai menantuku. Sebagai mas kawinnya engkau harus bekerja mengurus peternakanku salama tujuh tahun. Dan selama masa itu engkau akan tetap mendapatkan hakmu sebagai karyawnku tanpa kukurangi sedikitpun. Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagai orang yang baik.” Kata Paman Laban sambil tersenyum.
Ya’kub bahagia mendengar tawaran pamannya. “Sesungguhnya itu bukanlah syarat yang berat. Bahkan sebaliknya syarat itu adalah sebuah jalan baginya untuk membiayai kehidupan rumah tangganya kelak.”

#GEMAZumratulAkhyar
#GEMAkeren2018
________________________________
-GEMA Zumratul Akhyar 2018-

Line : @kvu4684t
Instagram : gemaunpad
Youtube : Geological Muslim Association
Blog : http://Blogs.unpad.ac.id/gemaunpad

[ COMIC GEMA ]

(Manusia Kuat)

Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata: Rasulullah SAW bersabda,”Orang kuat bukanlah yang kuat dalam bergulat, namun orang yang mampu menguasai dirinya tatkala Marah. 😉😉😉

[ ZINNIRAH, MEMILIH BUTA DEMI MEMPERTAHANKAN AQIDAH ]


Zinnirah adalah seorang muslimah yang lahir dari sebuah keluarga sangat miskin, kehidupannya serba kekurangan, dan ia berasal dari keturunan bangsa Roma. Zinnirah tidak terkenal karena kecantikkannya karena ia memang tidak memiliki kecantikan, ia hanya seorang hamba sahaya, namun ia mempunyai aqidah yang kuat pada masa itu.

Zinnirah terpisah dari keluarganya dan ketika itu ia menjadi seorang tawanan perang. Sejak itu ia menjadi hamba sahaya, dijual dan sering ditukar dari tangan ke tangan. Sepanjang jadi hamba sahaya Zinnirah sering diperlakukan kasar dan adakalanya diperlakukan seperti binatang oleh tuannya.

Suatu ketika Zinnirah berkenalan dengan seorang hamba yang senasib dengannya, yang dari hamba itu ia mendapatkan setitik cahaya Islam, karena hamba tersebut menjelaskan ajaran yang disampaikan Rosulullah shallallahu alaihi wasalam. Penjelasan ajaran tersebut membuat hati Zinnirah terbuka dan dengan sepenuh hati seketika itu Zinnirah memeluk Islam tanpa ada keraguan.

Pada peringkat awal keislamannya terpaksa harus dirahasiakan, melihat situasi yang akan mengancam dirinya dari masyarakat sekitar yang sangat membenci Islam. Ia melakukan shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an secara sembunyi-sembunyi dan sangat hati-hati, karena tuannya sangat memusuhi Islam.

Zinnirah termasuk orang pada masa awal yang masuk Islam. Permulaan Islam itu penuh cobaan, siapa yang memeluknya maka dia tidak dapat terlepas dari cacian, kecaman dan siksaan serta berbagai cobaan lainnya, itu semua dirasakan oleh Zinnirah.

Nasibnya lebih malang ketika ia dibeli oleh seorang bangsawan Quraisy yang sangat berpengaruh pada masa itu, yaitu Umar Al-Khattab, ketika itu Umar belum memeluk Islam dan memusuhi Rasulullah, Umar terkenal dengan bengisnya dan sering mencerca Rasulullah pada masa itu.

Umar belum mengetahui keislaman Zinnirah, sampai pada suatu ketika Umar mendengar suara lantunan Al-Qur’an yang datang dari Zinnirah, hal ini sontak membuat kemarahan Umar, yang kemudian Umar menghukumnya dengan siksaan berat.

Zinnirah adalah seorang muslimah yang terlihat lemah, namun ia mempunyai jiwa yang cukup kental serta tabah sehingga ia menjadi mangsa awal yang diburu Umar atas kebenciannya terhadap Islam.

Berbagai siksaan seperti dipukul, dijemur di tengah-tengah panasnya terik matahari menjadi kebiasaan rutin bagi Zinnirah dalam menjalani kehidupannya sebagai hamba yang memeluk Islam. Namun, dengan ketabahnnya ia melewati semua itu dengan hati tenang dan mengharap pada pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala.

Tibalah kemarahan Umar memuncak terhadap Zinnirah, dengan wajah bengis bak singa Umar menyeret Zinnirah ke padang pasir, kemudian mengikat kaki dan tangan Zinnirah di tengah panas terik. Umar berharap Zinnirah dapat meninggalkan Islam dan kembali ke agama nenek moyang.

Ketabahan Zinnirah atas siksaan tersebut, tidak membuatnya goyah untuk melepaskan aqidah yang telah ia yakini, cahaya Islam yang akan dipegang kuat, ia tidak akan berpaling dari Islam.

Melihat hal itu, Umar kembali menyeretnya ke pinggir kota dan mengikatnya di tiang, dan Umar menyuruh orang lain untuk mencongkel mata Zinnirah sehingga buta. Ia mendapat cacian dan makian dari kafir Quraisy, yang mereka percaya bahwa Zinnirah telah dilaknat Tuhan Latta dan Uzza.

Iman Zinnirah tidak luntur, sekalipun ia telah kehilangan matanya, ia buta demi mempertahankan aqidahnya. Kepercayaannya terhadap Allah tidak akan luntur, sekalipun ia harus dibunuh tetap tidak akan mampu menggoyahkan keimanannya. Berita ini telah sampai kepada Abu Bakar as-Siddiq, yang kemudian membeli Zinnirah dengan harga tinggi, sejak itu Zinnirah lebih tekun dalam melaksanakan ajarannya, ia dapat beribadah dan atas Karunia Allah matanya dapat melihat kembali, ia dapat melihat keindahan.

Pengorbanan Zinnirah mempertahankan keyakinanya membuahkan hasil, karena peristiwa tersebut telah membuat banyak orang Quraisy memeluk Islam termasuk Umar Al-Khattab, tentunya atas hidayah yang Allah berikan.

Sifat bengis Umar berubah menjadi lembut, sikap kasarnya berganti dengan pemaaf, bakhil bertukar dengan pemurah, dari mengutamakan dunia menjadi mengutamakan akhirat, bahkan Umar salah satu yang tergolong Khulafurrasyidin.

Dari kisah di atas, ada hikmah yang dapat kita ambil dari Zinnirah, seorang hamba sahaya yang dimuliakan Allah bukan karena pangkatnya, namun karena kegigihan dan ketabahnnya mengagungkan nama Allah. Semoga perjuangannya sebagai seorang muslimah yang membuatnya tidak terkenal di dunia namun terkenal di langit dapat menginspirasi kita sebagai muslimah untuk selalu berjuang di jalan Allah demi mendapatkan ridhoNya, aamiin.

Referensi : Iklima Aulia R
(http://www.mirajnews.com/2013/07/zinnirah-memilih-buta-demi-mempertahankan-aqidah.html)

#SyiarMuslimah
#AqidahMuslimah
#GeologicalMuslimAssociation

#GEMAZumratulAkhyar
#GEMAkeren2018
________________________________
-GEMA Zumratul Akhyar 2018-

Line : @kvu4684t
Instagram : gemaunpad
Youtube : Geological Muslim Association
Blog : http://Blogs.unpad.ac.id/gemaunpad

KISAH NABI YAQUB AS

[PART 3]

Teman-temanku ..
Tiba pada akhirnya Ya’qub di depan pintu gerbang kota Fadan A’ram setelah berhari-hari siang dan malam menempuh perjalanan yang membosankan tiada yang dilihat selain dari langit di atas dan pasir di bawah. Alangkah lega hatinya ketika ia mulai melihat binatang-binatang peliharaan berkeliaran di atas ladang-ladang rumput ,burung-burung berterbangan di udara yang cerah dan para penduduk kota berhilir mundir mencari nafkah dan keperluan hidup masing-masing.
“Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah, Engkau telah sampaikan aku ke kota ini.” Bisik hati Ya’kub terharu. Air matanya menetes membasahi pelupuk matanya. Terbayang di wajahnya senyum tulus ibu dan bapaknya. “tolong sampaikan salamku kepada Ayah ibuku ya Allah.” (bisik hati Ya’kub)
Sesampainya disalah satu persimpangan jalan Ya’kub berhenti sebentar untuk bertanya kepada salah seorang penduduk di mana letaknya rumah saudara ibunya Laban berada. Ternyata mencari Pamannya Laban tidaklah sesulit yang ia kira. Benar kata Ayahnya Nabi Ishq kalau Laban adalah seorang tokoh masyarakat yang terkenal. Pamannya adalah pemilik dari suatu perusahaan perternakan yang terbesar di kota itu. Allah telah mengatur sedemikian rupa, ketika Ya’kub sedang bertanya maka Allah takdirkan anak Laban lewat di dekat mereka, segera saja orang yang ditanya Ya’kub segera menunjuk ke arah seorang putri Laban yang sedang menggembala kambing seraya berkata kepada Ya’qub :
“Alhamdulillah tuan, itulah dia puterinya Laban yang akan dapat membawamu ke rumah ayahnya, ia bernama Rahil.”
“Alhamdulillah, terima kasih pak.” Kata Ya’kub sopan.
Dengan segera pergilah Ya’qub menghampiri Putri Laban yang ternyata sangat ayu itu dan cantik itu, Pesan yang diwasiatkan ayahnya agar ia menikah dengan putri sang paman membuat jantungnya berdebar tak menentu lalu dengan suara yang terputus-putus seakan-akan ada sesuatu yang mengikat lidahnya ,ia mengenalkan diri, bahwa ia adalah saudara sepupunya sendiri.
“ Assalamualaikum , sapa Ya’kub sopan
“ hm…Waalaikumussalam..maaf. ada apa?” sahut Rahil sembari memalingkan wajahnya.
“ Maaf, dik. Salam kenal . Nama saya Ya’kub. Saya dari Kan’aan menuju Fadam A’ram untuk berjumpa dengan paman saya yaitu Paman Laban bin Batwayil. Beliau adalah saudara ibu saya. Ibu saya bernama Rifqa bin Batwayil.
“ betulkah, itu? Kata Rahil
“ Bapak Laban adalah ayah saya, Saya Rahil putri ke duanya.” Kata Rahil mengenalkan diri.
“Alhamdulillah, jadi adik adalah anak Paman Laban. Berarti kita sepupu ya.” Kata Ya’kub.
Rahil tersenyum sambil menundukkan wajah dia.
“ Bolehkah saya berjumpa dengan paman. Ada pesan bapak saya untuk beliau.” Kata ya’kub dengan sopan.
“ Baiklah, ikut saya. “ namun berjalanlah di depan saya. Insya allah saya akan tunjukkan arahnya.” Kata Rahil dengan lembut.
Berjalanlah Ya’kub di depan diiringi putri sang paman. Kesopanan putri sang paman menggelitik hatinya. Selama dalam perjalanan hati Ya’kub kembali berdebar-debar. Apakah sang paman akan menerimanya dengan senang hati ataukah sebaliknya menyuruhnya pergi dan pura pura tidak mengenalnya. Kembali fikiran Ya’kub mengembara jauh. Namun dengan segera ditepisnya. “Astargfirullah, “ mengapa aku berfikiran buruk.” Desis hatinya. Kemudian Nabi Ya’kub berdoa kepada Allah agar sang paman menerimanya dengan tangan terbuka.
Sesampainya di rumah sang paman, segera Rahil mengabarkan kedatangan Ya’kub. Laban bin batyawil segera menemui Ya’kub. Btwayil tertegun memandang wajah Ya’kub..Ya..wajah Ya’kub mengingatkannya pada sang adik Rifqa. Sekali lagi dipandangnya wajah Yakub dengan seksama. Ya..hatinya tidak syak lagi. Inilah anak Rifqa adiknya. Wajah Ya’kub memiliki banyak kesamaan dengan sang adik.
#GEMAZumratulAkhyar
#GEMAkeren2018
________________________________
-GEMA Zumratul Akhyar 2018-

Line : @kvu4684t
Instagram : gemaunpad
Youtube : Geological Muslim Association
Blog : http://Blogs.unpad.ac.id/gemaunpad

[ SUDAH BENARKAH AKU? ]

Luqman Hakim yang telah memberikan teladan yang baik sebagai orang tua.
Ia menanamkan nilai-nilai kebajikan kepada anaknya dan salah satunya adalah larangan menyekutukan Allah SWT.

Di dalam Al Qur’an terdapat beberapa ayat yang menyebutkan nama Luqman Hakim.
Allah SWT berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman: 13)

Dalam sebuah riwayat yang diceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim mengadakan perjalanan ke luar kota bersama putranya sambil menaiki seekor keledai. Pada saat ia masuk ke dalam pasar, anaknya mengikutinya dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sebagian orang berkata,
“Lihat, itu orang tua yang tidak tahu diri, dia enak-enakan naik keledai, sementara anaknya dibiarkan berjalan kaki.”

Luqman kemudian berhenti sejenak sambil memperhatikan perkataan orang yang didengarnya.

Kemudian Luqman turun dari keledainya, lalu diletakkan anaknya di atas keledainya. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya kembali.

Di tengah perjalanan, kembali beberapa orang melihatnya. Kemudian mereka pun usil dengan mengomentari keberadaan Luqman.
“Lihat, orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya enak-enakan menaiki keledai, sungguh kurang ajar anak itu,” kata orang tersebut.

Mendengar kata-kata itu, Luqman kembali berhenti sebentar. Ia kemudian ikut menaiki keldai itu bersama anaknya. Namun demikian beberapa orang yang lain kembali mengoloknya.
“Lihat itu, dua orang menaiki seekor keledai, sungguh tidak punya rasa kasihan menyiksa keledai itu,” kata orang yang lain.

Luqman sedikit kesal dengan komentar orang-orang yang ditemuinya.
Ia merasa tidak pernah merasa benar di mata orang-orang itu. Tetapi, untuk kesekian kalinya, Luqman dapat menerima ejekan itu.

Ia kemudian berhenti lagi dan turun dari keledai bersama anaknya. Luqman dan anaknya berjalan kaki sedangkan keledainya hanya dituntun saja. Akan tetapi belum jauh ia melangkah, ungkapan miring kembali diterimanya.
“Sungguh dua orang aneh berjalan kaki, padahal mereka membawa seekor keledai, kenapa tidak dikendarai saja,” komentar orang yang lain lagi.

Luqman dapat mengambil hikmah dari komentar orang-orang tersebut.
Dirinya kemudian menasehati anaknya tentang berbagai sikap manusia dan sesuatu yang diucapkannya.

“Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka bagi ornag yang berakal, tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan hanya kepada Allah SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap masalah,” tutur Luqman kepada anaknya.

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya,
“Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinan (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang), dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu adalah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya.”
Dalam kesempatan lain, Luqman juga berpesan kepada anaknya agar tidak menyekutukan Allah SWT, sesungguhnya ia telah berada pada kezaliman yang besar.

Nah muslimin dan muslimah sekalian menjaga perilaku, hati, akal dan perkataan memang lah hal yang sangat sulit mengingat kita hidup di zaman di mana penilaian orang lain lebih penting dari pada penilaian Allah, terutama bagi seorang muslimah. Kenapa? karena seorang wanita merupakan pribadi lemah lembut dan selalu bertindak berdasarkan perasaan, janganlah sekali-sekali kalian menyakiti perasaan orang lain dan merendahkannya dikarenakan emosi semata. Manusia memang bukan makhluk ciptaan Allah yang hampir sempurna tapi jangan pernah merasa paling benar dan malah merendahkan orang lain dengan apa yang tampak dari luarnya saja.

Referensi:
http://kisahalamiah.blogspot.co.id

#SyiarMuslimah
#sudahbenarkahkita?
#GeologicalMuslimAssociation

#GEMAZumratulAkhyar
#GEMAkeren2018
________________________________
-GEMA Zumratul Akhyar 2018-

Line : @kvu4684t
Instagram : gemaunpad
Youtube : Geological Muslim Association
Blog : http://Blogs.unpad.ac.id/gemaunpad