[ Kalau (wanita) i’tikaf boleh ga ya? ]

Suasana ramadhan sih kurang asik kalau ga dilengkapi i’tikaf sebagai salah satu bentuk ibadah dan mendekatkan diri pada Allah. Hmm…tapi untuk kaum Hawa, itikaf boleh ga ya?? 🤔🤔🤔

I’tikaf merupakan kegiatan ‘berdiam diri’ dimasjid untuk melakukan ibadah kepada Allah. i’tikaf adalah ibadah Sunnah yang bisa dilakukan kapan saja. Dibulan ramadhan justru sangat dianjurkan memperbanyak ibadah seperti melakukan itikaf di malam bulan ramadhan ( terutama 10 hari terakhir).

Dari Aisyah R.A, mengatakan:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi perempuan sama seperti halnya laki-laki dianjurkan untuk melakukan itikaf. Tetapi juga untuk hal ini para ulama memiliki beberapa pendapat:

1. Pendapat pertama, adalah pendapat jumhur yang menyatakan keumuman berbagai dalil mengenai pensyari’atan i’tikaf yang turut mencakup pria dan wanita, kecuali terdapat dalil yang mengecualikan.

Hadits ‘Aisyah dan Hafshah radhiallahu ‘anhuma, yang keduanya memperoleh izin dari rasullullah untuk beri’tikaf sedang mereka berdua masih dalam keadaan belia saat itu. (HR. Bukhari: 1940)

2. Pendapat kedua, menyatakan bahwa i’tikaf dimakruhkan bagi wanita. Dalil yang menjadi patokan bagi pendapat ini diantaranya adalah sebagai berikut:

Hadits ‘Aisyah R.A yang menerangkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk melepas kemah-kemah istrinya ketika mereka hendak beri’tikaf bersama beliau”. (HR.Ibnu Khuzaimah: 2224)

Hadits ‘Aisyah R.A, beliau mengatakan: “Seandainya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui apa kondisi wanita saat ini tentu beliau akan melarang mereka (untuk keluar menuju masjid) sebagaimana Allah telah melarang wanita Bani Israil.” (HR. Bukhari: 831 dan Muslim: 445)

Pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur yang menyatakan bahwa i’tikaf juga disunnahkan bagi wanita berdasarkan beberapa alasan berikut:

1. berbagai dalil menyatakan bahwasanya wanita juga turut beri’tikaf dan tidak terdapat dalil tegas yang menerangan bahwa pemudi dimakruhkan untuk beri’tikaf.

Hadits ‘Aisyah yang menyatakan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk melepas kemah para istri beliau ketika mereka beri’tikaf bukanlah karena ketidaksukaan beliau apabila para wanita turut beri’tikaf tapi memerintahkan hal tersebut karena kekhawatiran jika para istri beliau saling cemburu dan berebut untuk melayani beliau. Maka, dalam hadits tersebut beliau mengatakan, “Apakah kebaikan yang dikehendaki oleh mereka dengan melakukan tindakan ini?”. Akhirnya beliau pun baru beri’tikaf di bulan Syawwal.

Hadits ‘Aisyah ini justru menerangkan bolehnya wanita untuk beri’tikaf, karena ‘Aisyah dan Hafshah di dalam hadits ini diizinkan nabi untuk beri’tikaf dan pada saat itu keduanya berusia belia.

Adapun perkataan ‘Aisyah yang menyatakan rasullullah akan melarang wanita untuk keluar ke masjid apabila mengetahui kondisi wanita saat ini, secara substansial, bukanlah karena i’tikaf tidak disyari’atkan bagi wanita. Namun, perkataan beliau tersebut menunjukkan akan larangan bagi wanita untuk keluar ke masjid apabila dikhawatirkan terjadi fitnah.

Nah, jadi wanita juga dianjurkan untuk melakukan itikaf sebagaimana yang dijelaskan dalam dalil 😉. Tetapi untuk para wanita yang beritikaf (di masjid umum) harus mempertimbangkan kemungkinan terjadi fitnah, jika dibolehkan harus dengan syarat seperti: mendapat izin (ayah/suami), berpakaian menutup sesuai syariat, atau bisa didampingi oleh mahramnya, dan juga hal lainnya terkait kedudukan seorang wanita (tidak melalaikan kewajiban dan tanggung jawab). Lebih utama untuk melakukan itikaf di masjid ‘pribadi’ (khusus wanita atau milik keluarga) dibandingkan dengan masjid umum.

Referensi:
Muhammad Nur Ichwan Muslim, ST., 2011. https://muslim.or.id/6745-fiqih-ringkas-itikaf-1.html#_ftn16

#RamadhanSemangat
#KeputrianAzzahra
#GeologicalMuslimAssociation