Tabayyun Solusi Terbaik Menangani Krisis Kepercayaan

   Berbagai aksi dari media sosial, yang berpengaruh dalam kehidupan ini sangat berdampak besar. Sebagai salah contohnya, pernah mendengar “Usir Metro TV?” Ya, berita ini memang sudah lama. Dan berita ini terjadi ketika aksi damai tanggal 4 November. Pasti tau kan, seluruh umat muslim di Indonesia mengenai aksi 4 November ?. Yang menjadi perhatiannya dari berita ini yaitu, suaranews.com, situs metrotvnews.com menyiarkan berita dengan judul “Tembak di Tempat Berlaku” pada Demo 4 November, Senin (31/10/16) pukul 12:32 WIB. Sehingga respon dari peserta aksi damai pada tanggal 4 November, yang mengeliling SNG Metro Tv agar kru televisi swasta tersebut tidak meliput tayangan aksi damai ke 2 itu. Tentu saja, ini menjadi kebingungan bagi polisi sendiri. Dari pihak kepolisian tidak pernah mengungkapkan hal seperti ini seperti yang dimaksud “Tembak di Tempat Berlaku”. Justru polisi, dalam programnya membuat pasukan asmaul husna. Dengan asmaul husna ini, tujuannya untuk pendekatan persuasif kepada massa umat islam pada peserta aksi damai, jika kondisinya memanas. Nah, loh sumber nya dari mana tiba-tiba berani menyiarkan berita “Tembak di Tempat Berlaku”. Masyarakat pun akhirnya, banyak yang bertanya-tanya kepada pihak polri. Tanggapan dari pihak polri, agar masyarakat mencermati berita yang sedang beredar dan yang ingin membuat memperkeruh suasana. Memang sebenarnya, membuat berita provokatif itu tidak jadi masalah. Bahkan menurut Hikmat Kusumaningrat, dalam Jurnalistik Teori dan Praktik, salah satu syarat berita yaitu provokatif. Maksudnya apa ? yaitu judul berita dibuat semenarik mungkin sehingga, orang lain pun ingin tahu apayang terdapat dalam isinya berita tersebut. Praktik yang terjadi jika konteksnya seperti pada judul berita tersebut, itu membuat sensasional hanya ingin menggemparkan, situasi dan memperkeruh serta mengesampingkan fakta dan aktualitas. Salah satu prinsip elemen jurnalistik yang dikemukakan oleh Bill Kovach, elemen urutan ketiga dari jurnalstik yaitu verifikasi. Verifikasi merupakan memeriksa ulang apa yang terjadi dengan sebenar-benarnya agar yang tersebar bukan berita bohong. ilansir dari tempo.co, menurut data Dewan Pers, jumlah pengaduan terkait pers dari seluruh Indonesia yang masuk sepanjang 2012 mencapai lebih dari 500 kasus. Dari jumlah itu, 328 di antaranya merupakan kasus dari media cetak dan 98 pengaduan terkait media online alias media cyber. Ada enam jenis pelanggaran kode etik jurnalistik yang dilakukan oleh media siber, salah satunya tidak menguji informasi atau melakukan konfirmasi yang terjadi sebanyak 30 kasus. Pelanggaran ini terjadi karena media cyber mengutamakan kecepatan tanpa dibarengi dengan verifikasi. Apalagi, sekarang sudah dalam keadaan teknologi modern yang rata-rata setiap orang mempunyai gadget, berita hoax pun mudah tersebar apabila tidak cermat si penggunanya. Hati-hati yah jangan sampai kita termakan berita bohong!
Islam mengajarkan kepada kita oleh firman Allah Subhanahuwata’ala, bahwa dalam memverifikasi data yang disampaikan itu, harus benar-benar ditelusuri kebenarannya. Seperti yang tercantum dalam surat Al Hujurat ayat ke 6 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. Betapa indahnya, agama islam ini jauh sebelum teori Bill Kovach dicetuskan ternyata dalam alquran telah diperintahkan seperti ini untuk seluruh umat manusia. Tentunya, apabila ayat ini direalisasikan pada semua elemen masyarakat dan elemen agama, pasti berita bohong pun mudah untuk ditepis. Nah, inilah konteks tabayyun yang terdapat dalam agama islam yang menjadi solusi dari zaman ke zaman. Dengan konteksnya menanyakan sumber kebenarannya dan ketelitiaannya sebelum disebarluaskan ke yang lain. Allah, menyuruh kita untuk berhati-hati dalam menerima berita. Karena, efeknya bisa sangat besar jika kita langsung menerima berita tanpa di klarifikasi serta verifikasi. Oleh karena itu, relasasi dari surat ini harus benar-benar direalisasikan supaya tidak kehilangan kepercayaan, dan tidak menjadi sumber bencana sensasional bagi yang lainnya.
Kesimpulannya langkah tindakan yang perlu diambil oleh media dan wartawan. Jika, di negara kita ini mengacu kepada UU Pers No. 40, etika pers, serta mengikuti prinsip Sembilan Elemen Jurnalisme, dan tentunya perintah Allah untuk selalu ber-tabayyun sebelum menyiarkan berita. Supaya media berfungsi sebagai kontrol sosial di masyarakat, bukan pencari sensasional dan dapat memperoleh kepercayaan untuk dikonsumsi dan menambah pengetahuan tanpa adanya pembohongan.

Sumber : Essay lomba GID “Tabayyun, Solusi dari Zaman ke Zaman”

Disusun Oleh :

Dina Aqmarina Yanuary
210110110267
Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Padjadjaran
Jatinangor
2016