Masyarakat Multikultural dengan Perspektif Alquran

         Apakah Negara Indonesia merupakan negara yang jamak ? Tentu saja, yang diambil dari judul ini pun multikultural. Uniknya, terdapat solusi-solusi yang ditawarkan oleh Allah   lewat alquran untuk tetap nyaman, dalam unity in diversity. Surat Adz Dzariat ayat 56 yang artinya “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. Mengisyaratkan kepada kita bahwa harus beribadah baik dari golongan manusia maupun jin, dalam hal ini siapa yang harus di sembahnya ? yaitu Allah Azza Wa jalla. Ibadah terbagi menjadi dua, ada ibadah vertikal yaitu hubungan manusia dengan Allah serta terdapat horizontal yaitu hubungan ibadah terhadap sesama mahluknya. Seperti, manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan lain sebagainya. Konteks dari hubungan manusia dengan manusia akan dijelaskan dalam tulisan ini, sebab hal inilah yang terjadi di masyarakat Indonesia dengan berbagai etnis, suku, budaya dan bahasa atau lebih dikenal dengan plural. Nah, dengan kejamakan masyarakat Indonesia ada suatu perintah dalam QS Al Hujurat [49] : 13 yang artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat.” Sudah jelas bahwa dalam surat ini, terdapat konteks masyarakat yang majemuk, dan Allah menyuruh kepada kita supaya saling mengenal. Bukan jadinya, perbedaan ras, suku, dan etnis malah terjadi hal-hal peperangan. Sungguh hal tersebut tidak diperintahkan dalam agama islam.

      Dikutip dari Blaine J. Fowers dan Frank C. Richardson, masyarakat multikultural dapat diartikan juga sebagai “gerakan sosial-intelektual yang mengangkat nilai perbedaan sebagai prinsip inti dan menegaskan bahwa semua kelompok budaya harus diperlakukan dengan rasa hormat dan sama.” Hal ini, terdapat kaitannya dengan agama islam yang membahas kemajemukan ini telah menyampaikan kesetaraa yang tersirat dalam Q.S. Ali ‘Imran [3] : 138 “Inilah (Al Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia…” Bahwa alquran untuk semua umat manusia. Namun, dengan tetap menghargai perbedaan mengacu kepada Q.S. Al Hujurat [49] : 13.

        Apakah ini cukup sampai penjelasan dari QS Al Hujurat ? Tentu saja tidak, karena diperlukan tahapan selanjutnya dalam, mencapai tahapan saling mengenal. Yaitu dengan komunikasi lintas budaya, dalam bukunya Prof. Deddy Mulyana komunikasi lintas budaya merupakan bentuk komunikasi yang dilakukan oleh kedua pihak atau lebih dengan budaya yang berbeda dengan tujuan tertentu. Proses komunikasi lintas budaya perlu dilakukan dengan menjauhi karakter etnosentrisme, yaitu menilai kebudayaan lain dari sudut pandang sendiri. Dalam artian, membuka pikiran kita untuk menerima hal baru (openness to other ways of thinking). Intinya tidak berlaku sombong, hal ini sinkron dengan QS Luqman ayat 18 yang artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” Serta masih dalam QS Luqman ayat 31 yang artinya : “Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu…”

        Pada 2 ayat tersebut pesannya berupa sebagai manusia kita tidak boleh sombong, apabila sombong etnis manapun tidak akan menerima dan perlakuannya pun pasti berdampak negatif, karena sombong hanya meninggikan tiap ras suku budayanya masing-masing hingga tujuan untuk bersatu tidak terwujud, karena lebih bangga pada etnis nya masing-masing. Lalu, ayat 31 pesannya bahwa kita antar manusia, dalam hal berbicara tidak boleh dengan berkata kasar, karena berawal dari kata kasar bisa menimbulkan perkelahian. Padahal, itu masalah yang sepele dengan kata-kata yang diucapkan dari mulut. Tapi Allah Azza Wa Jalla memerintahkan seperti dalam QS Luqman tersebut, tentu harus dan wajib harus kita taati. Realisasi dari QS Luqman ayat 18 & 31 akan membawa kita kepada hubungan yang harmonis dari tiap etnis ras dan suku bangsa yang berbeda-beda. Sehingga penyelesaian masalah pun, bukan dengan paksaan tetapi, dengan jalan musyawarah. Seperti dalam QS Ali Imran [3] : 159 yang artinya : “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”  Dengan begitu, konsep alquran pun dapat dengan mudah kita laksanakan, dan yang timbul bukan masalah perpecahan tapi keharmonisan karena mengacu kepada alquran.

          Kesimpulannya umat islam dalam beribadah kepada Allah secara vertikal dan horizontal. Sehingga, sinkronisasi tersebut bisa terlaksana. Seperti Allah Azza Wa Jalla memerintahkan dalam alquran, dan umat manusia sebagai pelaksana dari perintah tersebut. Dan hubungan sesama mahluk Allah pun, tidak akan timbul perpecahan jika terealisasikannya dari alquran.

Sumber : Essay Lomba GID “KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA KAITANNYA DENGAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL INDONESIA DALAM PERSPEKTIF AL QUR’AN”

 

Disusun Oleh :

Mochammad Akbar Selamat

141510299

SMAN 4 Bandung

Kota Bandung

2016