Surat Al Kafirun Dalam Perspektif Sosiologi Agama serta Kaitannya dengan Toleransi

Assalamualaikum tiap upload pasti ada tulisan-tulisan yang baru nih… dan enak buat dibaca oleh umat muslim, insyaallah materi ini lebih seru dari sebelumnya lho!

Sekarang kan, lagi booming nya tuh, masalah toleransi dan isu SARA, nah itulah yang akan dipaparkan dalam tulisan ini sekarang!! Pahami dengan benar-benar yaaa!!

Memang, isu SARA dan toleransi ini paling sensitif, di negeri-ku yang tercinta ini Indonesia. Namun, saudara muslim kuuu, kalian juga harus tau, dan pegangan yang terbaik yaitu dari alquran, tidak melenceng dari apa-apa yang didalamnya!!

Penasaran, ga? Let’s check it out!!

Toleransi dan isu SARA merupakan salah satu masalah yang sering di singgung di negeri Indonesia. Mengapa sering disinggung ? Karena, negara kita memang jamak atau plural, beragam suku dan agama ada di Indonesia sehingga antar satu umat dan umat yang lain harus saling menghormati mengenai aturan yang ada di setiap agamanya masing-masing. Lalu, apa landasan umat muslim dalam hal toleransi ? yaitu dalam surat Al Kafirun, langsung kita ke inti masalahnya.

Tuduhan mengenai intoleransi terhadap umat muslim, contoh yang mainstreamnya yaitu tidak boleh mengucapkan selamat natal dan larangan memilih pemimpin non muslim. Setiap institusi memilliki aturannya masing-masing yang diakui oleh negara dan pula pengakuan, oleh karena itu umat muslim pun merujuk pada hal tsb, sehingga harus saling menghormati. Agama bersifat doktrinal dan mengekang, dalam agama islam jelas bahwa surat Al Kafirun ini sebagai landasan dalam menjalankannya, tanpa ada kecaman dan memliki rasa aman begitupun dengan golongan yang lainnya. Nah, inilah titik temu toleransi tersebut. Selanjutnya, mari kita kupas terkait mengucapkan selamat natal dan larangan pemimpin non muslim.

Institusi sosial agama Mengkupas kasus mengucapkan selamat natal, dalam proses nya seperti ini, natal merupakan kelahiran Yesus Kristus, atau Isa Al Masih yang diyakini oleh suatu golongan bahwa dia merupakan Anak Bapak (allah). Namun, dalam konteks agama islam bahwa keyakinan seperti itu bertentangan dengan Alquran bahwa Allah tidak diperanakan, dan merupakan zat yang tunggal, konteksnya jika kita mengucapkan selamat natal maka, mengakui juga bahwa Nabi Isa A.S sebagai Anak Allah, tentunya ini sangat bertentangan. Disinilah perannya institusi sosial agama sebagai toleransi menyikapi masalah ini, yang berperan sebagai doktrinal, serta mendapat pengakuan dan diakui oleh negara.

Lalu, Larangan memilih pemimpin non muslim sebagai pemimpin. Konteks ini sebenarnya bukan isu SARA tapi balik lagi ke konsep institusi sosial agama, yang berhak menentukan pilihannya dan meyakini apa yang telah diajarkan oleh agamanya serta dengan rasa tentram dan aman. Lagipula, ini mendukung program pemerintah sebagai salahsatu revolusi mental. Disinilah peran dari semua golongan untuk saling menghormati setiap orang tentang keyakinannya, dan inti dari toleransi seperti ini lah yang harus dilakukan di berbagai golongan agama di Indonesia. Lalu, bagaimana hubungannya dengan pancasila ? Toh, selama ahok menjadi gubernur pun kita selaku umat islam menghormati pancasila artinya ketika dia jadi gubernur, tidak ada saling menggulingkan kepemimpinan, apalagi sampai kudeta ? bener ga ? Nah, itulah umat muslim menghormati dan menghargai sebagai realisasinya dari pancasila yang demokrasi.

            Alquran dalam surat Al Kafirun telah menjadi sebuah toleransi dalam agama islam terhadap agama yang lainnya. Jika dalam realisasinya setiap hari, seperti islam tidak memaksakan kepada non muslim untuk masuk menjadi agama islam, serta islam juga tidak mengganggu keberadaan non muslim ketika mereka beribadah, mereka beribadah dengan rasa tentram dan aman dan di Jakarta merupakan salahsatu bukti kerukunan beragama seperti masjid istiqlal berdampingan dengan sebuah gereja. Dan ini pun, tidak ada kecaman dari pihak manapun kedua golongan saling tentram dan damai dalam menjalankan institusi sosial agama yang telah diyakininya dan diajarkannya.

 

Sumber :

Surat Al-Kafirun Dalam Perspektif Sosiologi Agama Sebagai Bagian Dari Institusi Sosial Dan Solusi Masalah Toleransi Kerukunan Hidup Umat Beragama

 

            Karya Ini Disusun untuk Mengikuti Lomba Esai Geological Islamic Day

Oleh : Ali Ar-Ridho, 170310150054

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Padjadjaran

Jatinangor

2016