Penentuan Agenda Media Massa dengan Perspektif Alquran

Assalamualaikum, akhi ukhti apa kabar ? Semoga sehat selalu yaa..

Alhamdulillah barakallah… kami dari tim media gema FTG Unpad menghadirkan kembali tulisan-tulisan yang insyaallah bermanfaat untuk dibacanya!!

Ayook simak berikut mengenai tulisan resume, lho kok resume ? Kaya tugas dari dosen aja ?

Yaa.. yang penting menebar kebaikan ada medianya, dakwah pun jalan yaa, allahuakbar!! Resume ini, diambil dari acara terbesar di gema yaitu GID (Geological Islamic Day) dalam lomba essay tingkat pelajar yang bersekolah di region Bandung, Jawa Barat.

 

Baiklah, quotes pertama dimunculkan seperti ini “Ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh”, kira-kira akhi dan ukhti tau dari siapa quotes ini ?  ya, memang jika ilmu tanpa agama juga nantinya akan membawa kepada kesombongan karena tidak memikirkan, siapa yang telah memberikan ilmu sehebat ini, kepada seorang manusia. Lanjuutt…

Ilmu di dunia ini terbagi menjadi dua yaitu ilmu eksakta dan ilmu humaniora, perbedaannya ialah jika ilmu eksakta ini berasal dari filsafat alam sedangkan ilmu humaniora berasal dari filsafat humaniora. (Bakker, Anton: 1990). Salahsatu yang akan disampaikan dalam resume ini berupa, ilmu humaniora khususnya di bidang ilmu komunikasi. Memangnya ilmu komunikasi ini penting banget, ya ?  Tentu saja, dikarenakan jaman sekarang mudah sekali informasi tersebar seperti media sosial, yang beritanya entah berujung kepada kebenaran atau berujung kepada kebohongan, biasanya disebut hoax. Tapi, sebenarnya agama islam telah mengatur tentang cara berkomunikasi serta, tidak boleh berbohong dalam menyampaikan berita seperti yang tercantum dalam surat Ash-Shaff ayat 2 hingga 3, dengan artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuau yang tidak kamu kerjakan ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Allah saja membenci kepada orang yang melakukan hal tersebut, oleh karena itu sebagai umat manusia tidak boleh melakukan hal tersebut, menyebarkan fitnah atau berita hoax. Hal tersebut hanya membuat keresahan di masyarakat yang berujung tidak akan dipercaya oleh siapapun. Meskipun, pembicaraanya sekali-sekali pernah benar tetap tidak akan percaya selamanya. Yang rugi siapa ? Orang yang melakukannya lah!

Selain surat Ash-Shaff tadi, Allah memerintahkan kepada, hambanya dalam surat Al Isra ayat 53 yang artinya : Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku : “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan (suka) menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

 

Dalam satu teori komunikasi yang dicetuskan oleh Mc Combs dan DL Shaw pada tahun 1972. Dengan intinya seperti ini bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa (Suparapto, Tomi: 2009).

Seperti kasus yang masih hangat bahkan sampai sekarang yaitu berita mengenai penistaan agama oleh ahok (4/11), ini merupakan fakta dari teori penentuan agenda tersebut serta, seluruh lapisan masyarakat tertuju pada kasus tersebut. Efek dari kasus ini, timbul demo anarkis yang beroknum mengatasnamakan islam berorientasi pada hal-hal anarkisme, padahal jika dikritisi dan diteliti beritanya, ternyata yang melakukan anarkis tersebut hanyalah preman-preman bayaran supaya mudah memprovokasi yang lainnya. Disini media massa dengan mudahnya merekam, dan menyebarluaskan berita tersebut. Allahuakbar ! jangan sampai umat islam mudah terprovokasi. Sebagai umat islam tentunya, dalam mendapatkan berita haruslah tersaring secara benar-benar, dan juga mengenai pemahaman terhadap penentuan agenda media massa yang tidak transparansi dalam memberikan informasi. Dalam Alquran surat Al Hujurat ayat ke 6 yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”.

Lalu, pada surat At Taubah ayat 96 juga, Allah memerintahkan kepada kita supaya teliti dan cermat dalam mendapatkan berita, yang artinya : “Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan kamu.”

Ada yang mengatakan bahwa “diam itu emas”. Memang, daripada kita menyebarkan berita hoax atau jadi juru fitnah, lebih baik diam jika tidak mengetahui sumbernya dan kebenarannya. Karena Allah pun, dalam Alquran senantiasa mengingatkan kepada umat manusia, supaya tidak berbohong,  kemudian berhati-hati dalam menerima berita dari seseorang agar nantinya tidak merugikan kepada orang yang menyebarkannya.

 

Kesimpulannya dengan media massa segala sesuatu mengenai berita bisa terekam, baik berita itu hoax atau benar, tentunya sebagai seorang muslim kita sudah dibekali perintah oleh Allah dalam Alquran­-Nya supaya benar-benar menyaring berita dan menentukan sumber serta kebenarannya. Jaman sekarang memang berbeda dengan dahulu, karena informasi dapat dengan mudah diakses disinilah kita berperan untuk menyaring dan memanfaatkan hal-hal positif untuk diteruskan dan disebarluaskan, sehingga umat manusia tidak merasa rugi dengan telah mengakses suatu informasi tersebut.

 

Sumber : Essay kompetisi Geological Islamic Day “PERSPEKTIF ALQURAN TERHADAP DAMPAK PENENTUAN AGENDA OLEH MEDIA MASSA KEPADA KHALAYAK”, Oleh Huurummaqsyuura (210510150078) Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor 2016.