Ani Rasiani D.* F.Sri Susilaningsih** Titis Kurniawan**
ABSTRAK
Penahanan pada seseorang yang melakukan tindak pidana dalam jangka waktu tertentu sering berdampak pada kesehatan fisik, psikologis serta dampak sosial, terutama pada saat penangkapan sampai dengan proses penahanan dijalani. Tahanan yang sakit membutuhkan asuhan keperawatan dan berhak mendapatkan perlindungan kesehatan baik bio, psiko, sosial dan spiritual, serta mendapatkan pelayanan keperawatan dengan kualitas dan standar yang sama seperti yang diterima oleh pasien lain yang bukan tahanan. Disisi lain, pasien tahanan sebagai tersangka atau terdakwa yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan barang bukti yang cukup, dalam hal adanya keadaan yang menimbulkan kekhawatiran bahwa tersangka akan melarikan diri, merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana, mempunyai keterbatasan tertentu seperti perlunya ruang rawat khusus yang terpisah dari perawatan umum dan tidak langsung berhubungan dengan lingkungan luar Rumah sakit , bebas dari gangguan masyarakat umum dengan sistem pengamanan yang memadai.
Posisi klien sebagai pasien tahanan,atau tahanan yang menjadi pasien merupakan fenomena karena kedua “status” ini dapat memunculkan respon yang unik , dengan pengalaman sakit yang dihadapinya dan keterbatasannya sebagai tahanan, diperlukan eksplorasi karena tidak semua orang dapat merasakan dan memahami kondisi yang dialaminya. Fenomena yang tergali diharapkan dapat memberi pemahaman baik bagi petugas kesehatan maupun kepolisian didalam memperlakukan pasien tahanan, sehingga dalam keterbatasannya sebagai tahanan ,klien dapat terpenuhi kebutuhan dasar manusiawi dan kualitas hidupnya tidak terabaikan.
Penelitian kualitatif ini dilakukan untuk mengungkap pengalaman pasien tahanan dalam menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara Sartika Asih Bandung. Pengumpulan data dilakukan untuk menggali pengalaman klien sebagai pasien tahanan, dengan teknik wawancara mendalam (in depth interview), dan pengamatan (Observasi). Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumentasi. Hasil penelitian pada enam orang informan didapatkan tema-tema yang dominan muncul yaitu: 1) perbedaan pelayanan perawatan, 2) perubahan perilaku perawat dan petugas lain dalam pelayanan, 3) malu menjadi pasien tahanan, 4) peran sebagai suami dan bapak terganggu, 5) harapan dan pasrah pada Tuhan, 6) perbedaan ruang perawatan, 7) cemas dengan proses hukuman.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi keperawatan dan Rumah Sakit yang menerima pasien tahanan. Pengalaman yang diungkapkan, dilakukan dan dirasakan oleh pasien tahanan sangat kompleks baik dilihat dari sisi klien sebagai tahanan dengan prosedur-prosedur pengamanan yang harus dijalani, maupun klien sebagai pasien dimana hak-hak dan kewajibannya harus dipenuhi sehingga membutuhkanb kerjasama yang baik antara perawat dan petugas kepolisian.
* Penulis adalah alumni Fakultas Ilmu Keperawatan UNPAD dan Perawat pada RS Bhayangkara Sartika Asih
**Penulis adalah Staf Edukatif Fakultas Ilmu keperawatan UNPAD