Tentang IPv6   no comments

Posted at 2:04 pm in Uncategorized
  1. Pendahuluan

 

Dunia teknologi informasi telah menjadikan internet sebagai kebutuhan hidup untuk mendapatkan asupan informasi. Melihat kapasitas alamat IP yang disediakan perlu mengakomodir banyaknya pengguna yang ada maka diperlukan lebih banyak alamat IP. Oleh karena itu para peneliti telah membuat protokol baru yang dapat menampung lebih banyak pengguna internet dari sebelumnya yaitu IPv6.

 

  1. Sejarah IPv6

Protokol internet versi enam (IPv6 atau IPing) di kembangkan sebagai pengganti bagi IPv4 yang dimulai dari tahun 1991. Pengerjaan IPv6 ini dikerjakan oleh Internet Engineering Task Fore dan selesai pada tahun 1997.

Pengalamatan IPv6 menggunakan 128 bit dibandingkan IPv4 yang hanya 32 bit sehingga akan menghasilkan alamt unik yang lebih banyak dari yang hanya 4 miliyar menjadi 340 trillun lebih. Sehingga ini akan dapat menangani isu habisnya alamat IP yang sebelumnya menggunakan IPv4.

Desain dari IPv6 sendiri memiliki fokus kompatibiliti dengan versi IPv4. Sehingga masih dapat menggunakan IPv4 bersamaan dengan IPv6.

Format penamaan Ip pada IPv6 direpresentasikan dalam 16 bit desimal dan dipisahkan dengan titik dua “:” berikut contoh pengalamatan pada IPv6 :

FE80:0000:0000:0000:02AA:00FF:FE9A:4CA2

Alamat tersebut dapat juga disingkat dengan mengubah blok yang berisi nol ‘0000’ semua dengan satu nol ‘0’ sehingga menjadi :

FE80:0:0:0:02AA:00FF:FE9A:4CA2

Bahkan jika ada blok nol ‘0’ yang berurutan dapat disingkat dengan tanda titik dua ganda “::”. Sehingga  alamt di atas dapat menjadi :

FE80::02AA:00FF:FE9A:4CA2

Namun penggunaan tanda titik dua ganda hanya boleh ada satu kali.

  • Kelebihan IPv6

IPv6 memiliki kelebihan dibandingkankan dengan IPv4. Dengan lebih banyaknya alamat yang dimiliki oleh IPv6 maka kekurangan alamat Ip dapat diatasi dan penyedia layanan internet dapat melayani pengguna yang lebih banyak.

Ethienne Khan (Khan, 2017) menyebutkan bahwa performa IPv6 sedikit lebih unggul dibanding dengan IPv4. Peningkatan ini terjadi pada kasus ketika pada jalur terjadi persetujuan peer.

Pada IPv4 terdapat isu permasalahan ketika ingin melakukan koneksi peer to peer sedangkan IPv6 mendukung koneksi jaringan dari hulu ke hilir yang merupakan koneksi peer to peer yang di gunakan dalam aplikasi seperti Voice over Internet Protocol atau VOIP. Dalam melakukan konfigurasi pada IPv6 dapat dilakukan secara otomatis sehingga tidak perlu lagi melakukan konfigurasi manual ketika ingin melakukan komunikasi secara independent. Penggunaan Internet Protocol Security atau IPsec pada IPv6 juga memberikan keamanan lebih. Dengan menggunakan IPsec komunikasi melalui jaringan dapat menjadi lebih private dan aman karena menggunakan kriptografi pada data yang dikirim kan. (Microsoft, 2005). Jika selama ini IPv4 menggunakan Neatwork Address Translation atau NAT dan Application Layered Gateway atau LAG maka pada IPv6 tidak perlu lagi menggunakannya (Babatunde & Al-Debagy, 2014)

 

  1. Format Header pada IPv6

Format pada IPv6 memiliki perbedaan dengan IPv4 di mana telah dilakukan penyerdehanaan pada strukturnya. Panjang header IPv6 meningkat menjadi 40 byte (dari 20 byte) dan menggunakan 16-byte alamat, dan memiliki 8-byte informasi kontrol. Berikut adalah ilustrasi header IPv6 :

0 4            12 16     24 31
vers traffic class flow label
payload length   nxt hdr hop limit
Source Address  
destination address  
data…  

Figure 1

Penjelasan pada Figure-1:

  • Vers: 4-bit protocol internet versi enam (6).
  • Traffic class: 8-bit nilai traffic class.
  • Flow label: 20-bit blok
  • Payload length: Panjang paket dalam byte dalam format 16-bit unsigned integer.
  • Next header: Menunjukkan jenis header yang mengikuti header IP dasar.
  • Hop limit: Blok ini mirip dengan blok TTL IPv4, tetapi sekarang diukur dalam lompatan dan bukan detik.
  • Source Address: Alamat 128-bit.
  • Destination Address: Alamat 128-bit.

 

  1. Prefix yang telah diisi

Berikut adalah tabel yang menunjukkan prefix yang sudah diisi pada IPv6

 

Alokasi Prefix (bin) Awalan rentang alamat (hex) Panjang Mask (bits) Pecahan ruang alamat
sudah dipesan 0000 0000 0:: /8 8 1/256
NSAP 0000 0001 200:: /7 7 1/128
IPX 0000 0010 400:: /7 7 1/128
Alamat unicast global yang dapat dikelompokkan 001 200:: /3 3 3/8
Link-local unicast 1111 1110 10 FE80:: /10 10 1/1024
Site-local unicast 1111 1110 11 FEC0:: /10 10 1/1024
Multicast 1111 1111 FF00:: /8 8 1/256
Total alokasi 15%

Table 1

Alamat unicast adalah pengidentifikasi yang ditugaskan untuk antarmuka tunggal. Paket yang dikirim ke alamat tersebut hanya dikirimkan ke antarmuka itu.

Alamat unicast IPv6 secara agregat memiliki prefix (awalan) bit-length acak, mirip dengan alamat IPv4 di bawah Classless Inter-Domain Routing.

Alamat multicast adalah pengenal yang ditetapkan untuk sekumpulan antarmuka pada beberapa host. Paket yang dikirimkan ke alamat tersebut dikirimkan ke semua antarmuka yang terkait dengan alamat tersebut. Tidak ada alamat broadcast di IPv6, fungsi mereka digantikan oleh alamat multicast.

Alamat Anycast adalah tipe khusus dari alamat unicast yang ditugaskan untuk antarmuka pada banyak host. Paket yang dikirim ke alamat tersebut dikirimkan ke antarmuka terdekat dengan alamat tersebut. Router menentukan antarmuka terdekat berdasarkan definisi jaraknya, misalnya, melompat jika terjadi RIP atau status tautan dalam kasus OSPF.

  1. Adopsi IPv6

Pada September 200, Jepang mengumumkan program strategi nasional mereka untuk menerapkan IPv6 yang disebut “u-Japan” (Ubiquitous Japan). Program nasional ini memberikan dukungan kepada peneliti untuk melakukan riset pada IPv6 dan memberikan insentif pajak bagi oraganisasi yang menerapkan IPv6 pada infrastrukturnya. Lalu, dilanjutkan pada 2001 dengan program “e-Japan Priority Policy Program” dengan tujuan untuk menerapkan IPv6 pada 2005.

Perusahaan telekomunikasi Jepang NTT menjadi Internet Service Provider (ISP) pertama yang di dunia yang menerapkan IPv6 dalam infrastrukturnya. Saat ini telah lebih dari 15 ISP yang menyediakan layanan internet berbasis IPv6 di seluruh Jepang. Pada 2015 negara – negara lain di Asia dan sekitarnya yang memberi perhatian lebih pada IPv6 antara lain: Australia, China, India, Korea Selatan, Singapura. Indonesia sendiri telah melakukan usaha penerapan IPv6 sejak tahun 2006 silam dan pada 2014 telah melakukan uji publik terhadap Rancangan Peraturan Menteri tentang Kebijakan Roadmap Penerapan IPv6 di Indonesia.

 

  • Kesimpulan

Naiknya jumlah pengguna internet di dunia telah menyebabkan infrastruktur yang ada untuk ikut berkembang dan menampung seluruh pengguna internet yang ada. IPv6 memiliki perbedaan pada format header dibandingkan dengan IPv4. Kelebihan yang dimiliki oleh IPv6 seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mempermudah dan meningkatakan kualitas teknologi yang sudah ada. Negara-negara di dunia pun telah mencoba melakukan penerapan ini sejak 2005 yang diawali oleh negara Jepang.

Referensi

Babatunde, O., & Al-Debagy, O. (2014). A Comparative Review Of Internet Protocol Version. International Journal of Computer Trends and Technology (IJCTT), 10-13.

Kementrian Komunikasi Dan Infromatika Republik Indonesia. (2014, Januari 16). Uji Publik RPM Kebijakan Roadmap Penerapan IPv6. Diambil kembali dari Kementrian Komunikasi dan Informatika: https://kominfo.go.id/content/detail/3757/siaran-pers-no-8pihkominfo12014-tentang-uji-publik-rpm-kebijakan-roadmap-penerapan-ipv6/0/siaran_pers

Khan, E. (2017). Real World RTT Performance Comparison of IPv4 and. Enschede: University of Twente.

Microsoft. (2005). IP Security (IPSec). Dipetik Maret 20, 2018, dari Microsoft System Center: https://technet.microsoft.com/en-us/library/cc179879.aspx

Racherla, S., & Daniel, J. (2012). IPv6 Introduction and Configuration. IBM Redpaper publication.

Written by fahmifan909 on May 20th, 2018

Trying mobile app development   no comments

Posted at 8:35 am in Programming

At school we were told to make a mobile app for android. The teacher said we can use Java, because this is for the lecture of OO Programming 2, the OO Programming 1 was about basic Java SE. For this lecture we will develop mobile app alone not in a team. I proposed to my teacher if i can used React Native for developing later and he said yes. So, i run into React Native page and set up for local dev. After a while the API and structure was a little bit different to ReactJs. I struggled when trying to connect my phone to my laptop using expo app. It failed several times, but i can figured it out after digging into stack overflow & github issues. The hot reload sometimes failed, i haven’t found the answer for this one, after all it was quit fun. Maybe i’ll follow for more tutorial about developing mobile app in React Native. After some reasearch i get a suggestion in youtube about Flutter. It’s a framework for bulding android & ios app using Dart language. It was inspired by react they said and after tried it building simple app following their guids, it was really enjoyable develop in Flutter.

Written by fahmifan909 on February 28th, 2018

Tagged with , , , , ,

One sprint, One App   no comments

Posted at 8:36 am in Programming

For the last week I do sprint for making a food app. When i go to college, sometimes i have to stay overnight in my friends house. Doing homework make us hungry and when we want to order food we don’t have the menus and it was annoying so i want to make a webapp to display a menus of small restaurants there. It build using ReactJs, tachyons, & styled-components for frontend & lumen for backend api. It’s still in development but the core feature is done, it left the login and adding reviews for a restaurant features. This is my first project outside the college tasks and i have a lot of trouble and fun. Still progress to finishing all features and then deploy it to the web.

Written by fahmifan909 on February 12th, 2018