penelitian

ABSTRAK

Belerang pada padi diperlukan untuk sintesis asam amino sistin, sistein, dan metionin, yang selanjutnya membentuk protein. Selain itu belerang sangat membantu perkembangan pucuk, akar dan anakan. Padi sawah yang mengalami kekurangan belerang umurnya lebih panjang dengan persentase kehampaan gabah yang tinggi, untuk mengatasi kekahatan belerang pada padi, perlu dilakukan upaya perbaikan kualitas dan produktivitas tanah melalui pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik. Salah satu sumber S anorganik yang baik untuk padi sawah adalah pupuk amonium sulfat [(NH4)2SO4] karena dapat memasok S yang tersedia bagi tanaman, yaitu sulfat (SO42-).

Eceng gondok (Eichhornia crassipes (Mart.) Solm) merupakan gulma air yang sangat mengganggu dan pemanfaatannya belum maksimal. Oleh karena itu diperlukan alternatif untuk memanfaatkan gulma tersebut, diantaranya sebagai bahan baku pupuk organik dalam bentuk bokashi. Bokashi eceng gondok  merupakan sumber gas amonium sulfat serta mengandung unsur N, P, dan K sehingga mampu menyediakan S untuk tanaman

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pupuk bahan organik dalam bentuk bokashi eceng gondok yang unggul dalam meningkatkan unsur belerang yang dibutuhkan oleh tanaman terutama padi. Dengan diberikannya bokashi eceng gondok pada tanah maka dapat meningkatkan penyerapan belerang sehingga dapat meningkatkan kandungan protein pada padi.

Optimasi bokashi eceng gondok dan belerang harus ditentukan sebelum diaplikasikan ke tanah. Dosis dan kondisi bokashi eceng gondok serta cara aplikasinya menentukan tingkat proses mineralisasi belerang yang tinggi sehingga dapat diperoleh belerang yang optimum. Perlu juga dicari berapa besar tingkat efisiensi penggunaan pupuk belerang baik anorganik dan organik dengan adanya penggunaan bokashi eceng gondok dan pupuk ammonium sulfat.

 

 

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Beras merupakan makanan pokok sebagian besar rakyat Indonesia. Permintaan akan beras terus meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan makin bertambahnya  jumlah penduduk. Menurut proyeksi Bank Dunia (1992) yang dikutip Manwan (1994), bahwa kebutuhan beras di Indonesia akan terus meningkat. Periode 1995-2005 yaitu pada tahun 1995, 2000, dan 2005 diperlukan beras berturut-turut sekitar 30.8, 33.7, dan 37.2 juta ton. Konsumsi beras nasional dinilai sangat tinggi yaitu 139 kg/kapita/tahun (Endonesia, 2009). Produksi padi nasional 2008 diperkirakan mencapai 60,28 juta ton GKG atau naik 5,46% dibanding produksi 2007 (Apriyantono, 2009).

Menurut Astawan (2007) komposisi kimia beras berbeda-beda tergantung pada varietas dan cara pengolahannya. Selain sebagai sumber energi dan protein, juga mengandung berbagai unsur mineral dan vitamin Sebagian besar karbohidrat  adalah pati (85-90 persen),.Beras pecah kulit rata-rata mengandung 8 persen protein, sedangkan beras giling mengandung 7 persen, kualitas protein beras lebih baik karena kandungan lisinnya lebih tinggi.Walaupun demikian lisin tetap merupakan asam amino pembatas yang utama dalam beras.

Belerang adalah bagian yang penting dari protein dan asam amino. Umumnya S organik merupakan sumber utama belerang untuk pertumbuhan tanaman. Tanaman menyerap belerang terutama dalam bentuk ion Sulfat (SO42-) anorganik.  Sulfat  dalam tanah sangat mudah tercuci sehingga pemberian pupuk yang mengandung SO42-, seperti pupuk amonium sulfat (24% S) dan mengandung 21% N dalam bentuk NH4+ untuk membantu meningkatkan kandungan N dalam tanah (Kimberly et al, 2002)

Pemakaian pupuk anorganik secara terus menerus dengan dosis tinggi dapat menimbulkan efek residual yang berakibat turunnya produktivitas tanah sehingga perlu diimbangi dengan pemberian pupuk organik. Bahan organik tanah memegang peran penting dalam  nutrisi belerang pada tanaman, yang dapat meng akumulasi belerang dalam substansi humus dan kemudian berperan sebagai sumber belerang bagi tanaman (Anisimova et al., 2000).

Bahan organik tanah dikenal sebagai penyumbang utama sulfur yang dapat tersedia bagi tanaman, menurunnya kandungan bahan organik tanah sering dianggap sebagai suatu faktor yang menyumbang terhadap berkurangnya belerang (Goenadi, 2000).Salah satu sumber bahan organik yang keberadaannya cukup banyak dan selama ini belum banyak dimanfaatkan adalah  eceng gondok íEichhornia crassipes (Mart.) Solmý. Menurut Supryanto dan Muladi (1999), gulma air seperti eceng gondok dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Pemanfaatan gulma air tersebut dapat menekan problem yang ditimbulkannya dan justru kebanyakan terjadi di negara-negara berkembang.Kelebihan dari bokashi dengan bahan baku eceng gondok adalah kandungan unsur sulfur nilainya lebih tinggi dibandingkan bokashi dengan bahan baku yang beraneka ragam.

 

1.2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus penelitian ini adalah :

  1. Mendapatkan padi yang berkualitas (protein tinggi), produktivitas tinggi dan bokashi Eceng gondok yang unggul dengan kelebihan unsur belerangnya
  2. Mengetahui pengaruh pemberian pupuk bokashi Eceng gondok dan belerang terhadap komponen hasil yaitu kandungan protein-N  (asam-asam amino sistin, sistein,  metionin) , Protein-S dan amida-N, karbohidrat (pati, gula, pati, lignin dan lemak),  serapan  belerang dan hasil padi serta beberapa sifat kimia tanah yang meliputi (pH, C, N, P, Zn, Fe) pada Fluventic Eutrudeps
  3. Mencari dosis optimum pupuk S pada setiap dosis bokashi yang memberikan  hasil gabah tertinggi padi kultivar IR-64 pada. Fluventic Eutrudeps
  4. Mengetahui bagaimana hubungan antara sifat kimia tanah (pH, C, N, P, Zn, Fe) dengan S total tanah serta ser apan S oleh tanaman padi.

 

1.3. Urgensi Penelitian

Sulfur pada padi diperlukan untuk sintesis asam amino sistin, sistein, dan metionin, yang selanjutnya membentuk protein. Selain itu belerang sangat membantu perkembangan pucuk, akar dan anakan. Padi sawah yang mengalami kekurangan belerang umurnya lebih panjang dengan persentase kehampaan gabah yang tinggi (Sammi et, al.,2002). Untuk mengatasi kekahatan belerang pada padi, perlu dilakukan upaya perbaikan kualitas dan produktivitas tanah melalui pemberian pupuk anorganik dan pupuk organik. Salah satu sumber S anorganik yang baik untuk padi sawah adalah pupuk amonium sulfat [(NH4)2SO4] karena dapat memasok S yang tersedia bagi tanaman, yaitu sulfat (SO42-). Sulfur (S) merupakan salah satu unsur hara makro esensial yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman, tidak terkecuali untuk padi. Namun sejak beberapa tahun terakhir, kekahatan belerang telah ditemukan pada padi di Pulau Jawa yang ditanam pada berbagai jenis tanah (Anwar, 2002).       Beberapa faktor penyebab kekahatan belerang adalah penerapan sistem pertanian intensif, penggunaan pupuk rekomendasi NPK tanpa S dan kurangnya kandungan bahan organik pada tanah. Kekahatan belerang dapat menurunkan produksi tanaman baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Kebutuhan akan unsur S belum sepenuhnya disadari, diantara para petani banyak yang hanya mengutamakan  N dan P saja seperti yang terjadi di beberapa tempat, hanya petani yang sudah maju yang menambahkan pupuk belerang. Bahan organik tanah dikenal sebagai penyumbang utama sulfur yang dapat tersedia bagi tanaman, menurunnya kandungan bahan organik tanah sering dianggap sebagai suatu faktor yang menyumbang terhadap berkurangnya sulfur (Schnug dan Silvia, 2000).

Salah satu sumber bahan organik yang keberadaannya cukup banyak dan selama ini belum banyak dimanfaatkan adalah  eceng gondok íEichhornia crassipes (Mart.) Solmý. Menurut Imsande (2000), gulma air seperti eceng gondok dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Pemanfaatan gulma air tersebut dapat menekan problem yang ditimbulkannya dan justru kebanyakan terjadi di negara-negara berkembang.

Proses dekomposisi bahan organik tersebut dalam tanah oleh mikroorganisme mendapatkan sumbangan nitrogen dari pupuk sulfur ((NH4)2SO4 sebagai sumber energi dan untuk berkembang biak (Sutanto, 2002). Tetapi secara umum C-organik akibat pemberian pupuk yang mengandung belerang dan bahan organik pada lahan sawah akan meningkat.

Pemberian pupuk ZA dan bahan organik secara bersamaan akan meningkatkan nitrogen tanah, karena kedua-duanya merupakan sumber nitrogen. Tetapi yang penting adalah kemampuan bahan organik dalam mengakumulasi belerang dalam substansi humus dan kemudian berperan sebagai sumber belerang bagi tanaman yang selanjutnya berpengaruh terhadap ketersediaan nitrogen. Belerang yang dihasilkan dapat digunakan oleh tanaman untuk membentuk senyawa protein feredoksin dalam kloroplas, yang berpartisipasi dalam oksidoreduksi dengan mentransfer elektron dan berperan nyata dalam reduksi nitrit dan sulfat, asimilasi N2 oleh bakteri bintil dan bakteri tanah pemfiksasi nitrogen yang hidup bebas (Tisdale et al., 1993), sehingga dengan meningkatnya aktivitas bakteri pemfiksasi nitrogen, diharapkan kandungan N – total tanah dapat meningkat. Tetapi, peningkatan nitrogen ini menguntungkan mikroorganisme dalam proses dekomposisi sehingga berpotensi menghambat sampai mengurangi ketersediaan nitrogen dalam tanah dan penyerapan nitrogen oleh tanaman (Sammi et al., 2002)

Sangat terbatas informasi tentang S-total, ketersediaan S dan potensi tanah-tanah tropikal akibat pemberian bokashi. Oleh karena itu sangat menarik untuk dilakukan penelitian tentang pengaruh penambahan pupuk belerang dan bokashi eceng gondok pada tanah  Fluventic Eutrudeps.

Pemberian eceng gondok sebagai bahan organik merupakan salah satu tindakan perbaikan lingkungan tumbuh tanaman dan diharapkan dapat mendukung kemantapan produktivitas tanah serta meningkatkan kualitas dan hasil tanaman, pemberian eceng gondok sebagai bahan organik dapat memperbaiki sifat-sifat kimia, fisika dan biologi tanah.

Dengan demikian, pemberian pupuk belerang dan bahan organik pada lahan sawah berpotensi mengurangi kelarutan fosfat dalam tanah dan penyerapan fosfat oleh tanaman.  Ketersediaan belerang, nitrogen, fosfat, dan unsur hara lainnya dalam tanah akibat pemberian pupuk mengandung belerang dan bahan organik diharapkan akan mening­katkan serapan unsur-unsur hara tersebut dan pada  akhirnya dapat meningkatkan hasil tanaman padi sawah

 

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.