Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam

Bismillahirrohmaanirrohim, Assalamu’alaikum wr. wb.

Asyhadu alla ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammadarrosullah

——
Tulisan ini saya tulis karena untuk pertama kalinya dalam hidupku diminta untuk ceramah di masjid. Saat itu (1 Agustus 2011) saya membaca surat undangan untuk menjadi penceramah pada tanggal 26 Agustus 2011, Ina, istriku tertawa, lalu kemudian menyarankanku untuk mundur saja menjadi penceramah. Saya hanya tersenyum saja saat itu. Selama beberapa hari saya berpikir mau ceramah mengenai apaaa ? Akhirnya saya menetapkan saja bahwa semua ini adalah karunia dari Allah, saya diberi kesempatan untuk ceramah pun merupakan karunia dan kehendakNya. Setidaknya dengan kesempatan ini saya mau kembali belajar dan terus belajar mengani agama Islam, mau kembali membaca Al Qur’an. Saya lalu memulainya dengan menyebut hamdallah, Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Dan kalimat itu saya jadikan tema ceramahku nanti.

—–

Bapak, ibu, semua jamaah yang berbahagia. Mari pertama-tama kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan karuniaNya lah hingga saat ini kita semua masih diberikan waktu untuk beribada karenaNya.

Kalau saya boleh jujur ini adalah pengalaman saya berdiri di mimbar masjid untuk menyampaikan ceramah kepada seluruh jamaah masjid yang mulia ini.

Terus terang walau telah 26 hari semenjak saya membaca surat tugas dari Pak Haji Syihapudin semestinya waktu tersebut sudah cukup lama untuk menyiapkan bahan ceramah. Tetapi hingga saat ini saya merasa masih belum juga pantas berdiri di mimbar yang mulia ini.

Kalau Pak Riki beberapa waktu yang lalu dapat menyampaikan pengalaman spiritualnya saat umroh maka untuk saya, mohon diberi ijin untuk BELAJAR MEMBACA di depan bapak, ibu, saudara sekalian di masjid yang mulia ini.

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin,

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin,

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin,

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.

Tidak berhenti saya terus mengucapkan kalimat ini.

Bukan merupakan suatu kebetulan saya dan keluarga hijrah dari Jalan Cibabat ke komplek sariwangi ini. Dimana setelah sekian lama saya tinggal di Cibabat, saya selalu merasa enggan untuk berulang kali mengunjungi dan shalat berjamaah di masjid atau mushola yang ada di daerah tersebut. Itu bukan terjadi selama beberapa saat saja, kami tinggal disana cukup lama, tidak kurang dari sembilan tahun.

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, setelah kami hijrah ke sariwangi indah ini, masjid raudhatul irfan, dan semua jamaahnya dapat membukakan hati saya untuk menggerakan jasad saya ke masjid ini. Semoga kebiasaan ini bukan hanya berlaku sementara saja, tetapi berlangsung terus dan terus hingga akhir hayar menjemput saya. Aamiin…

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam,

Kalau kita sering menyebut kalimat tersebut seharusnya kita menyadari betul keagungan dan kebesaranNya.

Sedikitnya 17 kali dalam sehari kita terus mengulang menyebut kalimat Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatunya.

Semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita ini, kita harus mengimani bahwa itu semua merupakan takdir. Tadi saya mengatakan bukan suatu kebetulan saya hijrah ke komplek sariwangi indah ini. Tetapi saya harus meyakininya bahwa itu semua adalah takdir dari Allah SWT.

Bapak, ibu, saudara sekalian yang saya muliakan.

Ada suatu cerita, dimana seorang petani miskin pada suatu waktu menerima pemberian dari seorang saudagar seekor anak kuda. Dengan penuh rasa syukur kuda putih tersebut dia rawat hingga tumbuh menjadi kuda yang sangat gagah dan menawan. Suatu hari, ada seorang yang kaya raya ingin membeli kuda tersebut dengan harga yang tinggi. Akan teteapi petani tersebut tidak berniat menjualnya.

Teman-teman si petani miskin tersebut menyayangkan keputusannya tersebut bahkan banyak yang mengejeknya. Apalagi pada keesokan harinya kuda tersebut hilang dari kandangnya.

Teman-temannya berkata, “Makanya dengar kata orang tua dulu, kalau sesuatu sudah ada yang menawar itu segera diberikan kalau tidak nanti akan kehilangan sama sekali. Sungguh jelek nasibmu teman, padahal kemarin kalau kudamu dijual tentu sekarang kamu akan kaya”

Si petani miskin itu hanya terdiam.

Beberapa bulan telah berlalu sejak hilangnya kuda petani miskin tersebut, pada suatu pagi di kandangnya mendadak muncul kuda putih yang dulu hilang, bahkan kali ini kuda tersebut bersama dengan lima ekor kuda lainnya.

Mengetahui peristiwa ini teman-teman si petani lalu berkata, “wah beruntung sekali nasibmu, ternyata kudamu membawa keberuntungan”

Mendegar pujian teman-temannya tersebut si petani hanya terdiam.

Hari demi hari berlalu, pada suatu hari anak si petani yang sudah menginjak remaja, saat ikut melatih kuda-kudanya, terjatuh dari kuda dan menyebabkan kakinya patah.

Melihat kejadian tersebut, kembali teman-teman si petani berkata, “Rupanya kuda-kudamu itu membawa sial, lihat sekarang kaki anakmu patah”

Petani tersebut tetap diam tidak berkomentar satu patah katapun mendengar ejekan teman-temannya.

Seminggu sejak kejadian kaki anak si petani patah, pecah peperangan di negaranya. Semua anak muda seantero negeri diwajibkan untuk berperang. Tentunya anak muda yang sehat saja yang diminta untuk membela bangsa dan negaranya. Tentunya anak si petani yang kakinya patah tidak diminta ikut berperang karena tidak bisa berjalan.

Beberapa bulan kemudian ada kabar duka di desa tersebut, karena anak-anak dari teman-teman si petani tersebut gugur di medan perang.
Kemudian mereka berkata kepada si petani, “beruntung sekali nasibmu karena anakmu tidak ikut berperang, sementara kami harus kehilangan mereka”

Karena berulang kali teman-temannya tersebut menyebutkan masalah nasib, maka barulah si petani tersebut berkomentar, “Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau jelek. Semuanya adalah suatu rangkaian proses. Syukuri dan terima keadaan yang terjadi saat ini. Apa yang kelihatan baik untuk hari ini belum tentu baik untuk hari esok. Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk di hari esok.

Peristiwa-peristiwa yang muncul secara kebetulan itu justru membuat kita merasa tidak nyata. Pada saat-saat itu kita harus mengedepankan rasa ikhlas dan husnudzon (berbaik sangka). Dengan ikhlas kita akan lapang dada dan dengan husnudzon kita akan positive thinking kepada Allah atas apa yang terjadi dan kita alami. Sebab Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya

Saat saya sibuk mencari bahan untuk ceramah di hari ini, Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, diberi buku oleh teman saat menempuh kuliah S2 dulu. Terima kasih Ibu Prahesti, beliau adalah istri dari Pak Indra Utoyo CIO PT Telkom. Pak Indra Utoyo merupaka pengarang buku Managemen Alhamdulillah. Dari bukunya tersebut saya mengutip kalimat-kalimat yang disampaikan pada ceramah ini.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada tutur kata yang salah, dimana kesalahan itu sepenuhnya berasal dari diri saya. Dan kebenaran hanya berasal dari Allah SWT.

Billahi Taufiq walhidayah, wassalamu’alaikum wr. wb.

One comment on “Alhamdulillahirobbil ‘alamiin, Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam

  1. Selamat menjadi penceramah, sebuah langkah maju dalam mendalami agama. Tak banyak orang yang berani memulai. Selamat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *