Another trial of community development

Baru aja pulang dari pertemuan dengan komunitas perguruan tinggi yang diprakarsai ama telkom. Hadir pada pertemuan ini temen-temen IT dari Unpad, Upi, UIN, Uninus, Unpad, STM Telkom, IT Telkom.

Pada pertemuan kali ini bapak Dani Hadimukti coba share “how to develop live streaming” kemudian juga ada presentasi dari vendor networking mengenai solusi jaringan menuju multimedia, dan dilanjutkan dengan diskusi sharing resources.

Diawali dengan Kang Holin yang mengusulkan bahwa yuk berbagi resources jangan cuma content resources saja. Diskusi ini lumayan menghangat sampai ada recana mempertemukan para rektor perguruan tinggi sebandung untuk membahas resources sharing.

Saya dari Unpad karena diminta juga memberikan sumbangan komentar maka issu yang saya sampaikan adalah :

1. Infrastruktur

Harus ada komitmen yang tinggi mengenai infrastruktur kalau kita masih sibuk dengan trouble shooting gimana mau develop something sampai ke dunia kreatif. Telkom harus mulai memikirkan gimana infrastruktur tadi didapatan dengan murah, intranet saja dulu tanpa internet tapi dengan kecepatan yang tinggi.

2. Kebijakan

Kalau cuma hanya level bandung atau jawa barat sih kayanya repot tetapi tentunya lebih mudah untuk di manage dan di maintain. Tapi yang paling penting adalah bagaimana komunitas yang kecil ini dapat dukungan dari bukan cuma anggota komunitas ini saja tapi juga dapat dukungan dari level2 yang lebih tinggi, ristek misalnya, atau depkominfo, dephankam, dll.

3. Learn from others community

Sudah banyak komunitas lain sejenis yang tujuannya sama dan Indonesia sudah merasakannya antara lain AI3, TEIN, Inherent, Jardiknas, dll. Mereka punya banyak kesulitan disana dan juga tentunya banyak success story-nya. Harapan dengan kecilnya komunitas ini tentunya lebih realistis langkah-langkah yang diambil.

4. Jangan berpikir hanya sebagai pengguna tapi sebagai pencipta

Tidak sadarkah kita bahwa sebenernya IT yang kita gunakan selama ini adalah barang import semua. Mulai dari hardware, software, sampai ke kurikulum yang mendoktrin kita para brainware-nya untuk berpikir sesuai dengan harapan penciptanya. Kapan kita berpikir break through dan memiliki konsep yang out of the box.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *