CIO Harus Berpikir Seperti CFO dalam Krisis Ekonomi

Dell Executive Summit 2008 cukup menggugah saya dalam berpikir. Para CIO dari beberapa institusi di Indonesia dan Asia Pasifik berkumpul dan sebagian besar mengeluhkan krisis ekonomi yang terjadi saat ini. Live must go on, begitu juga IT, we can’t just wait and see sampai situasi krisis ini berakhir atau membaik. Semua CIO tentunya mempunyai target tertentu yang pada akhirnya berdampak kepada cost yang menjadi beban institusi. Disisi lain intitusi harus survive dan menghemat sebisa mungkin segala pengeluaran yang ada. CFO tentunya akan mengutamakan pengeluaran untuk beberapa hal yang vital, yang tentunya bukan untuk investasi jangka panjang. Pada kondisi seperti ini CIO dan CFO memerlukan strategi jitu bahkan bisa melejit dalam krisis.

Data centre adalah salah satu bagian yang memerlukan cost tidak sedikit, disisi lain data centre lah yang menjadi jantung IT. Apabila IT sudah dijadikan sebagai tulang punggung dalam business process apalagi berperan dalam generating revenue maka Data Centre lah salah satu bagian terpenting yang harus diperhatikan. Kalau kita melihat lebih kedalam pengeluaran yang dihasilkan untuk Data Centre dan mengelompokkannya terdapat pengeluaran untuk :

  1. New IT Equipment
  2. Electricity and Cooling
  3. Server Management and Man Power

Melihat tren pengeluarannya dari tahun ke tahun untuk 3 kelompok diatas, hasil investigasi IBM menginformasikan data berikut ini :

dito

Kita bisa perhatikan dari hasil investigasi dan prediksi kedepan pengeluaran untuk data centre : trend untuk pembelian perangkat IT baru cenderung flat, pengeluaran untuk listrik dan pendingin cenderung meningkat, dan pengeluaran untuk server management dan human power cenderung meningkat jauh lebih tinggi.

Melihat trend seperti itu kalau kita mencoba untuk melakukan penghematan dalam pembelian server baru misalnya diharapkan cost untuk pembelian peralatan IT baru pun akan turun. Efeknya pengeluaran untuk listrik akan flat dan diharapkan cost untuk server management pun akan menjadi tidak terlalu tinggi.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kalau kita betul2 membutuhkan pengadaan server baru untuk aplikasi yang baru ? Jawaban inovatif nya adalah gunakan “Virtualization”. Beberapa vendor besar telah mendukung untuk virtualization ini antara lain Microsoft, Novel, dan beberapa vendor hardware salah satunya Dell. Virtualization bisa diimplementasikan dalam microsoft product antara lain pada :

  1. Server –> windows server 2008 hiper v dan suse linux enterprise with xen os atau vmware
  2.  Application –>ms softgrid application virtualization
  3. Presentation –> windows server terminal service
  4. Desktop –>ms virtual pc

Apabila kita akan melakukan virtualization maka yang harus kita perhatikan dari server adalah performance I/O, Processor, dan RAM. Apabila ketiga hal tadi tidak kita perhatikan maka performance server akan memberikan dampak buruk terhadap aplikasi yang berjalan didalam virtual server tersebut. Oleh karena itu gunakan server yang sudah teruji baik dalam mengimplementasikan konsep virtualization ini.

Artikel ini tentunya akan menarik kalau ingin diperdalam lagi dengan step by step melakukan virtualization, semoga hengky atau dani mau menulis mengenai hal ini karena Unpad telah melakukan konsep virtualization ini sebelum saya datang kedalam pertemuan dell executive summit 2008. a Thousand of Thanks to both of you guys.

-dito, yogyakarta 22 november 2008-

One comment on “CIO Harus Berpikir Seperti CFO dalam Krisis Ekonomi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *