Kita akan berhasil kalau kita punya motivasi tinggi

Sesuatu hal yang sering kita dengar bahkan juga sering saya rasakan kebenarannya tapi terasa kembali beberapa waktu yang lalu saat liburan lebaran. Kata-kata “Kita akan berhasil kalau kita punya motivasi tinggi” saya dapatkan setelah saya berhasil menyusuri lembah dan bukit takuban perahu. Hal ini saya lakukan bukan karena gak ada lagi kerjaan tetapi karena aku ketiban apes, liburan lebaran harus menemani bule dari belanda yang datang tepat tanggal 1 Oktober kemarin.

Bule ini tanggal 2 Oktober pingin ke takuban perahu. “Waduh”…..bisa dibayangkan hari kedua lebaran tempat-tempat wisata pasti muacetnya a’udzubillah. Terbukti, jalan menuju kesana sudah terjebak macet sejak dipertigaan McD Setia Budi. Aku putuskan langsung pindah jalur lewat dago yang tembus ke maribaya. Akhirnya berhasil sampai di kaki gunung takuban perahu.

Masya Allah, ternyata begitu sampai di gerbang takuban perahu, pertigaan menuju ke sari ater, sudah antri padat, semua badan jalan penuh dengan motor, truk, mobil pickup yang berisi penuh sesak dengan manusia sampai mobil land rover yang cuma berisi 2 orang saja, bahkan orang jualan pun tentunya selalu ada di saat2 seperti ini. Lengkap lah sudah kemacetan ini. Saya tunggu sampai 10 menit mobil tidak bergerak sedikit pun, lalu saya putuskan untuk si bule mengambil alih setir, saya mau menghampiri gerbang penjualan mau melihat kondisi nya seperti apa.

Ternyata, dilakukan sistem buka tutup. Tiket sengaja memang tidak dibuka dulu dengan alasan dari atas juga terjadi penumpukan manusia dan kendaraan. Dari atas tidak bisa turun dan dari bawah tidak bisa naik, maka dilakukan buka tutup jalan. 10 menit setelah itu akhirnya arus kembali bisa bergerak, ini menunjukkan tiket sudah dibuka dan kita boleh naik ke atas.

Baru setengah mobil ku mendaki, ternyata benar kata petugas dibawah tadi dari atas tidak bisa turun dan dari bawah tidak bisa naik. Bahkan mau kembali pun tidak bisa karena badan jalan hanya pas dengan dua mobil saja. Saya putuskan daripada berlama-lama dalam situasi seperti ini untuk langsung parkir saja kendaraan di tempat yang tidak menambah kemacetan, dan kita berjalan menuju puncak.

Gilanya lagi saat itu saya hanya menggunakan sandal biasa, atau sandal yang biasa dipake ke mall bukan naik gunung. karena jalan mendaki menyusuri jalan besar suasananya tidak menyenangkan maka kita putuskan masuk ke hutan. Lengkap lah sudah penderitaan ku saat itu, dengan kostum yang tidak tepat mendaki gunung.

Lelah, sulit, sakit, tetapi penasaran untuk bisa segera sampai di puncak semuanya berkecamuk menjadi satu. Motivasinya satu ingin sampai di puncak dan setelah berhasil akhirnya semua terobati dengan keindahan pemandangan alam yang diberikan.

Setelah menikmati keindahan diatas kemudian ada target satu lagi yang ingin dikunjungi. Kawah domas adalah target berikutnya. Kesulitan kali ini adalah kita harus berpisah karena mobil saya berada diantara kawah domas dan puncak takuban perahu sedangkan jalan yang ditempuh berbeda karena mereka lebih memilih menggunakan jalan yang disediakan melalui puncak takuban perahu. Diputuskan saya menunggu di jalan keluar kawah domas, dipinggir jalan tepatnya. Harapannya mereka akan sampai di kawah domas lebih cepat dari saya menurunkan mobil ke tempat tersebut karena kondisi kemacetan yang amat sangat parah.

Setelah bersusah payah dengan kemacetan, kurang lebih memakan 30 menit dari tempat saya parkir, akhirnya sampai juga di pinggir jalan tempat keluar wisata kawah domas. Saya tunggu 15 menit disana masih belum keluar juga, ditelpon beberapa kali tidak dijawab-jawab. Saya putuskan untuk menghampiri ke obyek wisata tersebut langsung.

Sepertinya tidak ada lagi yang tertarik mengunjungi obyek wisata ini, karena jalan menuju kawah domas begitu amat sangat sepi. Aku sudah lelah sekali saat itu karena tadi sudah mendaki gunung dengan sandal yang tidak representatif. Kaki kanan ku pun ada yang terkilir karenanya. Akhirnya setelah jalan kurang lebih 5 menit ada suara dari arah berlawanan dan ketika saya tanyakan apakah masih jauh, mereka menjawab, “waah masih jauh banget mas, terus saja”.

Terus aku kembali berjalan, sambil kembali coba menghubungi mereka tetapi tetap tidak berhasil. Aku terus berjalan, sudah lebih dari 10 menit aku berjalan akhirnya aku bertemu orang lagi yang pulang dari kawah tersebut, dan saat ku tanya dengan pertanyaan sama mereka kembali menjawab, “Kalau jalan biasa sekitar 15 menitan lagi mas”.

Aduuuh aku sudah lelah dan kesakitan dengan kaki ku yang terkilir ini. Aku gak pernah tahu seberapa jauh lagi aku harus berjalan yang pasti aku sudah hampir putus asa. Kemudian mendadak aku berpikir pekerjaan yang bakal aku hadapi setelah kembali bekerja. Aku akan mendapat pekerjaan yang maha berat yang belum pernah aku kerjakan sebelumnya, mengintegrasikan sistem informasi se Unpad. Hal ini yang menjadi motivasiku saat itu, kalau aku tidak berhasil berjalan sampai ke kawah domas saat itu maka kemungkinan besar aku pun tidak akan berhasil mengerjakan pekerjaan ku di Unpad.

Setelah aku berbicara dengan hatiku seperti itu mendadak segala letih dan sakit tadi hilang, yang ada saat itu adalah untuk ingin segera menyelesaikan perjalanan ini secepatnya. Ku percepat langkah kakiku, dan tidak kembali bertanya pada orang yang berpapasan denganku. Pokoknya aku harus bisa, harus bisa.

Alhamdulillah akhirnya aku berhasil bertemu mereka di kawah tersebut. Selain aku berhasil sampai kesana aku pun mendapat hadiah pemandangan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Satu pengalaman berharga aku rasakan, walau sudah sering terjadi dalam hidupku tetapi hal ini selalu menyenangkan untuk diingat,  kalau kita punya motivasi tinggi maka Insya Allah kita akan berhasil, amien.

-dito-

Categorized: Unpad

5 comments on “Kita akan berhasil kalau kita punya motivasi tinggi

  1. maaf nanti foto-foto barang buktinya segera akan di ulpload juga. Hehehe kata pupung reportase tanpa foto kurang lengkah, seperti masakan tanpa garam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *