Skip to content


Agaraphobia: Melihat tidak hanya dengan mata namun juga harus menyertakan hati.

Capture12_13_20 Bandung, 27 Jan 2015. Cerita tentang “KPK vs Polri” kali ini benar-benar mirip sebuah sinetron, sangat dramatikal. Publik mendapat tontonan: ironi disana-sini, fiksi disana-sini, ada yang menggemaskan, ada yang menggelikan, ada yang masuk akal namun juga ada yang akal-akalan. Sebuah cerita dengan narasi yang jelas. Hanya saja pengamat dan publik mungkin melupakan satu hal yaitu para politisi busuk. Merekalah sebenarnya sutradaranya. KPK dan Polri sesungguhnya adalah pembela dan sahabat masyarakat, sebagai sebuah institusi mereka tidak layak dikriminalisasi.

Well, lupakan sejenak perang opini yang menyita waktu dan energi kita. Sejarah telah menceritakan bagaimana upaya para petualang, pemodal, kartel atau sekelompok politisi ambisius menguasai negara dengan berbagai cara yang kadang penuh intrik dan culas. “The Boys on the Bus” nya Timothy Crouse, adalah sebuah novel semi non fiksi yang bagus untuk pembelajaran bagaimana lika-liku Richard Nixon di tahun 1972an, menelikung lawan politiknya. Dan, sesungguhnya para politikus busuk sekarangpun mempraktekkan hal yang sama, bahkan dengan cara-cara yang lebih canggih.

Di tahun 2014 yang baru lewat, banyak novel semi fiksi yang bagus dan layak untuk dibaca. Cerita dan perang melawan kedzoliman dari masa ke masa selalu cenderung berulang. Salah satu novel terbaik 2014 yang perlu dibaca adalah “All the Light We Cannot See”. Sebuah novel berlatar sejarah perang, saat Nazi merambah eropah pada perang dunia II. Cerita tentang kehidupan sebuah keluarga Perancis pada sebelum, saat dan sesudah perang dunia. Sang penulis Anthony Doerr sebenarnya seorang warganegara Amerika, namun sejarah juga mencatat banyak penulis dari bangsa dan latar belakang yang berbeda bisa menulis dengan baik dan menakjubkan dalam memotret bangsa lain. Mungkin karena tidak bias dan lebih jernih cara pandangnya.

“All the Light We Cannot See” juga sebuah novel menarik karena tidak stereotipe dan karakter para pelaku dalam novel tergambar sangat detail nilai humanisnya. All the Light We Cannot See, menceritakan banyak hal tentang “ketidaksempurnaan” dalam satu sisi namun sesungguhnya sangat hebat dalam persepsi pembaca. Pelaku utama dalam novel itu Marie laure, anak seorang tukang kunci sebuah museum di Paris adalah seorang gadis yang telah mengalami kebutaan sejak berumur enam tahun. Anak hebat, kemampuan berpikirnya sangat cerdas dan memiliki kepercayaan sangat tinggi walaupun digambarkan sedikit pemalu. Laure pastinya seorang berkarakter multifaset walaupun hidup dalam lingkungan yang kurang sempurna. Perang dunia membuat keadaan semakin parah dan ia bersama keluarganya harus hidup berpindah-pindah dalam pelarian. Laure dewasa digambarkan sebagai seorang otodidak di bidang radio dan terlibat dalam gerakan bawah tanah membantu negaranya melawan Nazi yang menginvasi Perancis pada tahun 1940.

Situasi yang dihadapi Marie Laure sebenarnya juga dihadapi oleh masyarakat seperti sekarang, yang sedang galau karena situasi buruk atau sejenisnya. Keadaan yang dinamakan “Agaraphobia”, dalam ilmu kedokteran jiwa agaraphobia atau DSM-IV Tr adalah semacam gangguan yang ditandai dengan kecemasan terhadap sebuah situasi atau lingkungan yang tidak nyaman lagi atau berbahaya. Kondisi sekarang KPK vs Polri mengarah ke situasi seperti itu. Agaraphobia.

Bagi saya “All the Light we cannot See” adalah sebuah cerita pembelajaran yang kaya akan metafora. Kadang kita bisa melihat dengan jernih dan terang benderang justru dari tempat yang gelap. Banyak yang memiliki mata sempurna namun tidak digunakan dengan semestinya. Mungkin karena melihat dengan mata saja tidak cukup, melihat juga harus dibantu dengan hati. Selamat malam

Posted in FolkTale.


Kuliah UU ke-8

KULIAH KE-9 UU

Kuliah ke-10 UU

Posted in Materi UU dan Kebijakan.


Sebuah renungan pagi di Cilame, Bandung

Ukraina ReuterBandung, 4 Mei 2014. Matahari belum terbit, mungkin karena hari masih cukup pagi. Jam memang masih menunjukkan pukul 05.10 ketika saya bersiap-siap bersepeda. Mumpung cuacanya cerah, ada baiknya kita berolahraga dan sekalian refreshing. Rute hari ini rencananya adalah Cilame-Buper Andes–Gunung Padang dan sekitarnya.

Sambil menunggu terbitnya matahari dan ngecheck ulang kesiapan sepeda, kegiatan ngedengerin radio adalah pilihan bijak. BBC, Elshinta, Voa dan KLCBS adalah beberapa radio yang layak untuk didengar. Banyak peristiwa dramatis di hari-hari terakhir ini. Usai pileg yang kurang mengesankan dan para calon capres yang sama sekali tak menjanjikan, rasa-rasanya tak ada lagi rasa nyaman untuk mendengar dan menyimak para pengamat politik. Jaman sekarang susah mendapatkan pengamat yang kredibel, profesional dan etis. Ngeri rasanya kalau negara ini dipimpin oleh orang yang tidak benar.

Di luar sana sebenarnya ada peristiwa dramatis yang mestinya dipikirkan secara serius. Puluhan orang telah tewas dan lainnya cedera akibat bentrok antara etnis Ukraina melawan kelompok militan pro-Rusia di Odessa Ukraina. Sangat takjub melihat orang-orang yang sudah agak uzur bentrok hanya karena perbedaan ras dan ideologi. Sangat mengkhawatirkan, karena bisa jadi kasus Ukraina-Rusia memicu terjadinya perang dunia ke III. Tergantung Tuan Putin, Obama, Merkel, Cameron, bisa tidak duduk menyelesaikan masalah yang tidak bisa dianggap sepele.

Odessa Ukraina, ini adalah sebuah kota terbesar ke tiga Ukraina. Selain merupakan pusat budaya dan multietnis. Kota ini merupakan pelabuhan dan transportasi utama yang terletak di pantai barat laut Laut Hitam. Odessa atau Odesa jumlah populasinya diperkirakan hanya 1 jutaan orang lebih dikit. Dan, dari yang sedikit itu beberapa orang diantaranya adalah teman medsos di Jango Online, sebuah medsos kelompok penggemar musik yang sangat aku sukai. Pengin rasanya menikmati sore hari di Mozart Hotel. Lanjeronovskaya Street 13, Odessa 65026.

Nama Odessa aku ketahui saat masih remaja, maklum saat itu (tahun 1972 an) novel The Odessa File karya Frederick Forsyth seperti menjadi bacaan wajib setelah novel The Day of the Jackal. Namanya juga remaja, pengin mencari sesuatu yang di luar mainstream. The Odessa File meneguhkan: “there is no collective guilt,…guilt is individual, like salvation”. Suatu bangsa sebenarnya tidaklah jahat, hanya pribadi-pribadi, individu-individulah yang jahat. Tidak ada dosa kolektif, tidak ada dosa bersama. Begitu kira-kira pesan moralnya.

Sekitar empat tahun yang lalu, para remaja kita juga demam membaca sebuah novel asal China berjudul: First Love Forever Love yang ditulis oleh Shu Yi. Di negaranya (China Tiongkok), novel ini terjual sangat laris, konon mencapai 80 juta eksemplar. Novel tentang drama percintaan memang selalu menarik dan dibaca oleh para remaja. Kisah tentang Zhao Mei yang tidak lulus masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Tiongkok dan lantas memutuskan merantau kuliah di Odessa, Ukraina, sedikit banyak mengingatkan akan keindahan kota di pantai tenggara Ukraina. Well, katanya: “Jika saat itu aku punya keberanian, cinta kita pasti tak akan berakhir seperti ini”.

Pantai, museum, opera, ballet dan musik adalah ciri khas kota Odessa. Di kota ini, musik jazz sangat diapresiasi. Tahun 2013 yang lalu, salah satu anak bangsa kita yaitu pianis kita Joey Alexander Sila, memenangkan “Grand Prix 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill” yang diselenggarakan di Odessa, Ukraina.

Joey Alexander yang masih berumur 10 tahun, akhir April ini menuju Amerika Serikat untuk melakukan serangkaian konser jazz. Sebuah berita yang membanggakan bagi dunia jazz di negeri kita. Kehadiran Joey Alexander di Amerika Serikat atas undangan dari trumpetis jazz sohor Wynton Marsalis dalam sebuah konser dan gala dinner bertajuk “Love, Loss and Laughter: The Story of Jazz” yang mengambil tempat di Frederick P Rose Hall “The House Of Swing” yang berlokasi di Broadway 60 th Street, New York. Sungguh luarbiasa jika kita pada tanggal 7 Mei besok bisa menyaksikan Joey Alexander bermain solo piano jazz di Paul Roberson Center For The Arts , 102 Witherspoon Street Princeton, New Jersey, Amerika Serikat. Konser yang ini atas prakarsa dari Leonardo Pavkovich, pemilik label Moonjune Record di New York, yang juga merilis album-album jazz.

Well, Odessa Ukraina dan masyarakatnya yang multi etnis tak seharusnya porak poranda oleh jiwa petualang para politikus yang sangat ambisius memperebutkan kekuasaan. Kekacaubalauan cara berpikir para politikus bisa jadi bersifat universal dan pastinya itu sebuah ancaman, termasuk politikus di tanah air. Akan sangat ironis jika ideologi mengalahkan sendi-sendi peradaban dan agama. Selamat berhari minggu, selamat bersepeda dan selamat menikmati jazz pastinya.

Posted in Refresh.


Kawan lama memang tak mudah terlupakan

K75 SalatigaCipularang, 27 April 2014. Pepatah lama mengatakan “A true friend is one who thinks you are a good egg even if you are half-cracked”. Sebegitu toleransi dan sempurnakah sehingga tak ada setitik saja noktah hitam seseorang di mata seorang sahabat?. Mungkin, maksudnya tidaklah sebegitu ekstrim. Sahabat yang baik justru harus saling mengingatkan, memberi masukan yang berguna dan bermanfaat agar persahabatan tidak rusak oleh kebenaran semu. Saya tak bermaksud mempertentangkan arti sahabat dalam bingkai imanensi dan transedensi, namun agak setuju dengan Elbert Hubbard: “The friend is the man who knows all about you, and still likes you”.

Jam telah menunjukkan hampir pukul 21.00. Gedung Sasana Langgeng Budaya TMII masih penuh dengan dengan para undangan ngantenan anak seorang teman. Teman-teman masa kecil saya juga masih ada di dalam menikmati keceriaan, tepatnya kebersamaan berjumpa dengan dengan sahabat-sahabat lama. Sepanjang perjalanan tol cipularang malam ini sangat rame tapi memang ada yang sepi di relung-relung sel hepatosit saya. Pikiran saya yang sepertinya masih rame dengan pertanyaan-pertanyaan konyol dan memang begitulah biasanya akhir dari drama sebuah reuni. Dan, sesungguhnya sangat tepat kalau orang mengatakan: “A good friend is cheaper than therapy”.

Dan perjalanan malam ini, sesungguhnya ditengarai membuat orang sedikit bertambah semakin “cerdas”. Selain merangsang otak dan melatih daya ingat, kita juga ditantang untuk selalu mencoba mengelaborasi pikiran dan tindakan-tindakan kita. Bukan melamun tapi sejenis kontemplasi, menggali kamus dan menemukan jalan keluar apa yang bisa dan akan kita lakukan ke depan. Sungguhpun dalam kegelapan, dalam diri seseorang sesungguhnya terpendam cahaya yang tak mudah untuk dipadamkan.

Beruntung, kita ini sekarang hidup di jaman cyberspace. Jarak menjadi semakin sangat dekat. Teknologi cyberspace menciptakan istilah lain dalam leksikon persahabatan. Empati virtual merubah segalanya. Sisi positipnya komunikasi sosial menjadi jauh lebih mudah, teknologi yang dulunya susah dan rumit untuk diperoleh kini jauh lebih mudah untuk didapatkan. Dan, teman lama maupun sahabat baru (walaupun kadang sangat imajiner) bermunculan, kadang dari tempat yang tak terduga dan tak terbayangkan sebelumnya.

Pertemuan hari ini dengan sahabat-sahabat lama yang sangat singkat mengingatkan pada sebuah novel berjudul: “Just One Day”. Gayle Forman, jurnalis dan penulis buku itu, sepertinya tak sepakat bahwa hidup tak sekedar seperti sebuah koper: mengemas, merencanakan, dan memberi order. Banyak hal yang bisa terjadi secara tiba-tiba dan itu kadang-kadang tak butuh terlalu lama. Mungkin hal-hal seperti itulah yang mendorong seseorang mau bersusah payah merindukan sebuah perjalanan, mau mengambil resiko dan mencoba terus menemukan dirinya sendiri, dan mungkin juga karena dia mencari hari-hari yang diinginkan itu.

Untuk bisa mendapatkan identitas baru, bisa jadi seseorang menjadi tersesat. Tak jarang yang celaka, namun banyak juga yang tak padam semangatnya. Mendapatkan hal yang terbaik memang tak mudah, bahkan jika hal itu hanya sebuah mimpi. Apa pun bisa terjadi hanya dalam satu hari. Just One day.

Pukul 23.10, saya sudah sampai di pintu tol Buah Batu. Persis ketika Jeanni Seelly menyelesaikan senandungnya: Can I Sleep in Your Arms. Malam ini saya ingin cepat-cepat menemukan bantal, dan tidur. Mimpi yang indah, mimpi bertemu lagi sahabat-sahabat kecil bermain sepakbola sambil berhujan ria di lapangan UKSW Salatiga, sebuah kota kecil di lereng Gn Merbabu nan sejuk.

Posted in Refresh.


Mereka bisa dan kita pun (mestinya) bisa

dwicipto10Bandung, 21 April 2014. Konon, semangatlah yang membuat seseorang yang sepertinya biasa-biasa saja bisa menjadi kelihatan sangat luarbiasa. Kata orang, semangat dan ketekunan adalah kunci keberhasilan. Semangat itu pula yang mungkin menjadikan produk luarbiasa seringkali lahir dari buah ketekunan seseorang yang sangat menghargai sebuah proses dan berpikir positip bahwa dengan keterbatasan yang ada kitapun bisa melakukan hal-hal melampaui ketidakniscayaan.

Bagi mereka yang senang membaca tentang bioanthropologi pasti mengenal nama Helen Fisher. Karya-karya Helen selalu dinanti dan tak jarang menjadi rujukan baik para anthropolog, dan juga psikolog. Selain penuh dengan saran dan motivasi, pikiran-pikirannya yang kadang revolusioner membuat kita terpacu untuk membuka diri dan mau berkompetitif secara etis. Hati, jantung dan otak adalah bagian dari kepribadian dan sangat mempengaruhi keseharian dunia kita. Sebagai seorang biolog, Helen juga meyakini adanya hubungan kepribadian dasar seseorang dengan sistem neurokimia dari dopamin, serotonin, testosteron dan estrogen.

Konon katanya, dopamin dianalogkan seseorang berkarakter explorer (kreatif, bertemperamen seperti halnya seorang artis, dan diasosiasikan dengan warna kuning), seretonin merupakan penghela seorang berkarakter builder (masuk akal, bertemperamen seperti seorang ustad, dan diasosiasikan dengan warna biru), testosteron diibaratkan seseorang barkarakter direktur (mementingkan penalaran; sangat rasional dan diasosiasikan warna merah) sedang estrogen/oksitosin adalah karakter seorang negotiator (intuitif; idealis dan diasosiasikan dengan warna hijau).

Temperamen seseorang bisa jadi merupakan faktor bawaan (dan pastinya dari keluarga) dan juga sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial. Kepribadian, empati dan semangat yang dimiliki seseorang tak jauh dari apa yang menurut Helen dia sebut sebagai interaksi dan asosiasi antara mekanisme biologis dan neurokimia: lust, attraction and attachment.

Hampir tiap pagi sekitar pukul 06.10 an, saya melewati perempatan Jl. Ahmad Yani-Jl. Riau, melihat dan mengamati perilaku para pengemis yang sepertinya sangat sehat sehat-sehat fisiknya. Sepuluh menit dari situ, tepatnya di Jl. Martadinata, setiap hari pula saya melihat seorang bapak-bapak membersihkan halaman trotoar di depan kantor Kejaksanaan Tinggi dekat sekolah Taruna Bhakti. Dari caranya menyapu, terlihat bahwa bapak ini pernah terserang stroke. Saya telah melihatnya setidaknya sekitar 2 tahun yang lalu dan awalnya saya merasa iba, karena sepertinya bapak ini memaksakan diri untuk bekerja. Selain kelihatan sangat susah memegang sapu, bapak ini usianya juga sudah cukup tua. Namun dengan berjalannya waktu saya melihat kesehatannya ternyata maju semakin pesat. Mungkin semangat bekerja dan latihan bergerak setiap pagi yang membuatnya lebih sehat. Betapa bisa tidak simetrisnya antara keterbatasan dan semangat. Di dunia ini sangat banyak orang dengan keterbatasan fisik menjadi figur terkenal, diantaranya Stephen Hawking, fisikawan dan kosmologis terkenal.

Pikiran saya menerawang ke belakang, mengingat saat berakhirnya praktikum matakuliah Mankester. Sebagian besar mahasiswa sepertinya gembira dan lega dengan berakhirnya kegiatan praktikum. Mungkin di matakuliah yang lain takkan jauh berbeda. Miris dan khawatir, manakala suatu pembelajaran dianggap sebagai sebuah beban. Sangat miris karena setiap minggu sebagian besar tugas merupakan hasil copy paste. Dan poin pentingnya adalah sangat memilukan, melihat pragmatisme mengalahkan idealisme.

Belajar dari semangat bapak tua yang memiliki semangat tinggi (walaupun terkena stroke), sangat-sangat takjub dengan semangat Stephen Hawking atau pada Temple Grandin seorang penderita autis yang buku-bukunya tentang animal science dan animal welfare menjadi rujukan para ilmuwan peternakan dan kedokteran hewan. Belajar dari Helen Fisher, sepertinya ada satu hal yang penting untuk dipahami oleh kita yaitu niat dan cinta kita pada suatu pekerjaan. Niat dan cinta sangat berbeda dalam banyak hal tetapi bisa saling kerjasama dan saling mengisi. Jangan biarkan kita terjebak, tak punya niat dan tidak cinta dengan profesi yang kita cita-citakan karena hanya akan membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Wallahu’alam bi sawaf.

Posted in FolkTale.


Menyemangati tukik menuju laut lepas @Ujung Genteng

ken ratuUjung Genteng, 30 Desember 2012. Dimulai dengan hasil voting 8 lawan 4 diantara anak2 asdos biofapet, akhirnya kami memutuskan liburan akhir tahun 2012 ini ke daerah Ujung Genteng. Saya sendiri tadinya berharap ke Gn. Halimun, lebih menantang, lebih hijau, lebih teduh dan sepi dari keramaian. Tempat yang membuat kita merasa kerdil dan memahami hakekat sang maha kuasa.

Tapi Ujung genteng adalah salah salah satu tempat yang tak kalah eksotik. Ujung Genteng yang sekarang ini sangat jauh berbeda dengan tempat yang saya kunjungi beberapa tahun yang lalu. Dulu untuk menuju ke tempat itu serasa sangat lama. Jalanan tak begitu bagus,  naik turun meliuk dan tak hanya sesekali perut serasa mual. Perjalanan ke ujung genteng sekarang ini jauh lebih ramah dan lebih mudah. Jalan sudah cukup bagus. Sepanjang kanan dan kiri mulai Cianjur, Sukabumi, Jampang Wetan, Jampang Kulon, Surade dan seterusnya banyak yang bisa dilihat dan dinikmati.

Delapan jam perjalanan dari Bandung untuk sampai ke Ujung Genteng tak terasa jauh karena kita bisa menarik nafas dalam-dalam dan dalam oksigen yang kita hirup itu terasakan aroma kesegaran yang membuat neuron kita berpikir lebih cerdas, dan rasa takjub kita pada sang Illahi semakin mendalam. Peradaban maju dan tumbuh berkembang namun ada sisi-sisi lain manakala ciptaan Tuhan itu terawat baik oleh sentuhan dan akal budi manusia.

Well, sore ini kami akan mensyukuri pelepasan 144 tukik ke laut lepas di Pantai Pangumbahan. Kita tidak tahu berapa ekor dari mereka yang nantinya selamat, tumbuh berkembang menjadi dewasa dan akhirnya menurunkan generasi-generasi baru. Tapi jauh dalam lubuk hati ada semangat yang ingin kami titipkan pada anak-anak tukik yang berlomba-lomba bahkan  ada yang tertatih-tatih menyongsong ombak laut selatan, membawanya entah kemana nantinya mereka tumbuh dan berkembang.

Sunset  adalah sisi lain dari indahnya pantai Pangumbahan. Di kawasan penangkaran penyu ini, konon umur penyu sudah sangat tua. Ada yang bilang sudah puluhan tahun. Jadi sangat tepat kalau daerah konservasi penyu ini dilestarikan dan dijaga kebersihannya. Menikmati sunset di lingkungan yang kurang bersih pastinya agak kurang nyaman.

Masih di sekitar desa Pangumbahan, beberapa peselancar juga nampak bersiap-siap menikmati galaknya laut selatan. Semoga tidak ada yang mengalami kecelakaan, karena di musim yang agak kurang ramah seperti ini sebaiknya harus ekstra hati-hati.

Menjelang maghrib, kami mesti rehat sejenak untuk mempersiapkan tenaga untuk acara nanti malam: melihat aksi penyu dewasa bertelur dan mengubur telurnya di Pantai Pangumbahan. Dan, pukul 20.20 an kami mendapat informasi ada 2 ekor penyu sedang bertelur di pantai, kami pun bergegas ke pantai. Mengamati penyu bertelur dan menguburnya dalam-dalam agar tak diganggu manusia. Malam yang indah, walaupun berhujan-hujan di malam hari yang gelap gulita. Dan tentunya pengalaman beroffroad dengan sepeda motor sewaan. Pengalaman unik, aneh dan menyenangkan.

Jadi, hari ini makan malam kita tertunda. Benar-benar makan malam karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.20 an. Namun bukan makan malamnya yang penting,  makan bersama-sama teman-teman biofapet adalah sesuatu yang sangat langka. Sepertinya Remember You’re Mine nya Pat Boone akan mengingatkan malam ini.

Oscar Wilde pernah mengatakan: ”Children begin by loving their parents; as they grow older they judge them; sometimes they forgive them”.

Pagi ini, saya sangat gembira dan juga sedih. Gembira manakala menyaksikan anak-anak biofapet dengan riangnya menikmati sunrise di pantai timur Ujung Genteng. Bermain ombak, dan pasir sambil bersendau gurau satu sama lainnya. Sedih, karena beberapa diantara mereka akan segera menyelesaikan pendidikannya dan pastinya akan segera mengarungi masa depan mereka di tempat baru. Mengakhiri jauh lebih susah dibandingkan memulai.

Hidup ibarat sebuah penjelajahan. Tak ada tempat yang tidak bagus. Selalu ada nilai tambah di dalamnya dan akan memberikan catatan berharga. Sebuah peradaban tumbuh dan berkembang karena diantara mereka saling menyayangi dan mencintai. People have a moral standard about what they will do and will not do.

Thx to: Ken Ratu, Ambar, Cevi, Akbar, Lydia, Dina, Wini, Dian, Tantri, Fahmy dan Pak Dadan. Sarapan pake telur dadar, fillet ikan laut dan senandung Jambalaya by Henk Williams akan selalu mengingatkan kita akan Ujung Genteng.

 

Posted in Anak2 Biofapet.


Anytime you can

CIMG3734Limbangan, 18 Desember 2012. Hujan tak henti-hentinya mengguyur sepanjang perjalanan Priangan Timur dari Bandung sampai Tasikmalaya. Tak aneh jika, kerikil bahkan batu-batuan yang tak dapat digolongkan ukuran kecil terbawa aliran air, menggenangi badan jalan dan membuat perjalanan hari ini harus sangat ekstra hati-hati.

Perjalanan pada hakekatnya bukan hanya sekedar sebuah perpindahan tempat dan atau pergantian waktu. Ada banyak peristiwa kecil dan besar, ada cerita menyenangkan dan kadang menyedihkan. Saya lebih senang untuk mengatakan bahwa perjalanan adalah pergeseran spirit agar kita tak nampak apatis terhadap suatu perubahan waktu.

Banyak orang, kurang bisa merasakan kenyamanan dalam berhijrah dari satu waktu ke waktu berikutnya. Mensyukuri kehidupan, sudah pasti harus dilakukan. Dan cara kita mengapresiasi proses pun sudah selayaknya kita coba terus tingkatkan. Dengan cara itulah kualitas kita tetap terjaga. Standar berangkat dari kemauan, mungkin memang agak menyulitkan karena faktor eksternal seringkali menjadi penunda bahkan punya andil sangat besar menggagalkan sebuah keinginan.

Well, saya tak terlalu memikirkan deretan jumlah acara seminar, workshop, pelatihan dan sejenisnya. Yang saya coba ingat adalah banyaknya rapat berpengaruh signifikan terhadap kesehatan badan dan juga kesehatan emosional. Rentan terhadap sakit jiwa.

Banyak teman, rekan-rekan yang memberikan saran sangat baik dan bijak yaitu mengurangi aktifitas. Namun sepertinya susah, sesusah mengurangi nafsu makan. Namun saya pasti merenungkannya. Apalagi ada sebuah haditz, yang kira-kira: “Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim: 2588). Bersikap tawadhu’ karena Allah” artinya tawadhu’ yang dilakukannya adalah ikhlas karena Allah semata, bukan pura-pura tawadhu’ agar dikagumi manusia.

Ibnul Mubarak pernah mengingatkan: “Jadilah engkau orang yang tawadhu’ dan tidak menyukai popularitas. Namun janganlah engkau pura-pura tawadhu’ sehingga engkau menjadi riya’. Sesungguhnya mengklaim diri sebagai orang yang tawadhu’ justru mengeluarkanmu dari ketawadhu’an, karena dengan caramu tersebut engkau telah menarik pujian dan sanjungan manusia”.

Jalan kehidupan makin menanjak. Limbangan-Malangbong-Tasikmalaya tak seberapa menanjak. Dan, sambil lirak lirik rekan seperjalanan yang kelihatannya mulai jenuh dengan perjalanan. Saya mencoba memaknai perjalanan dengan mengkhayalkan apa yang akan terjadi esok dan kelak.

Sampai hari ini, beragam kesulitan telah terlalui. Sebagian dari mereka terselesaikan oleh waktu dan bagian lainnya masih menyisakan catatan misteri dan rahasia. Ada yang mengatakan kita dibekali oleh 4 modal oleh Allah SWT yaitu agama, akal, fitrah dan waktu. Tak mudah menderivasi agar aktifitas kita di hari-hari kemarin, hari ini dan esok benar-benar bisa menyelamatkan kita di hari akhir.

Dan, tak terasa juga kami sudah berada di komplek pondok pesantren Suryalaya. Ada beberapa hal yang ingin kami diskusikan di situ dengan keturunan Abah Anom. Learn everything you can, anytime you can, from anyone you can – there will always come a time when you will be grateful you did. (Sarah Caldwell).

Hujan masih terus mengguyur Tasikmalaya, namun waktu harus terus berjalan. Ada atau tidak ada hujan. Good day.

Posted in FolkTale.


Bukan akhir dari sebuah siklus

dewi rahayuBandung, 23 November 2012. Sayup-sayup lantunan jazz dari arah lapangan parkir PPBS mulai terdengar. Sepertinya acara Jatinangor Jazz Event sudah dimulai. Rencananya event yang diprakarsai anak-anak Fak. Psikologi akan dimulai pukul 14.00. Jatinangor Jazz Event dimeriahkan oleh grup musik The Groove Reunion, Soulvibe, dan Payung Teduh. Katanya akan hadir juga Grace Sahertian, David Manuhutu, dan HalfwholeProject. Tak ketinggalan Disc Jockey (DJ) Andezzz. Didesain seperti Locafore Jazz, pertunjukan JJE 2012 ini excellent dan keren abis.

Sayangnya hari ini, tepatnya sore ini adalah hari terakhir kami menyelenggarakan praktikum Biologi untuk angkatan 2012. Pastinya sesuatu yang wajib dan mesti dihadiri. Hari terakhir, tentunya adalah hari yang istimewa. Bukan hanya untuk mahasiswa praktikan namun juga anak-anak asisten yang pada tahun depan mungkin tidak lagi bergabung dan berpartisipasi dalam asistensi biologi. Beberapa bulan lagi mereka insyaallah jika tidak ada hambatan akan lulus S1. Dan, pastinya mereka akan mengabdikan diri ke tempat lain meneruskan perjalanan sesuai cita-citanya.

Jazz adalah musik kesukaan saya. Tak ada hari tanpa jazz. Semua lagu jazz enak didengar termasuk the Groove dengan khayalannya, satu mimpiku dan kapan lagi. Seandainya malam ini tidak ada acara penting di Bandung pasti akan menyempatkan diri nonton JJE yang berlangsung di lapangan PPBS, hanya 20 meter dari kantor.

Well, Bagaimana dengan anak-anak Fapet Unpad yang konon katanya banyak berisi anak-anak metal?. Mungkinkah suatu saat kita bisa menghadirkan “The Veterinary Street Jazz Band”?. Jazz dengan lengkingan suara gitar cukup keras membahana namun dengan nada harmoni yang romantis. Bahkan cenderung terdengar mirip symphoni. Konon katanya salah satu unsur dalam “jazz” adalah batil, kekacauan. Suara asli dari ternak sangat cocok untuk dimasukkan nadanya dalam unsur jazz. Dan buktinya bisa diterima, Animal Jazz dinominasikan sebagai RAMP 2008 (Rock Alternative Music Prize) dan memenangkan “Best song of the year” dan “Soundtrack of the year” pada tahun itu.

Pukul 17.40. alhamdulillah anak-anak kelas B 2012 mengakiri presentasi terakhir praktikum Biologi 2012. Dan pukul 18.20 an, kami sudah bisa meluncur turun ke bawah dan tentunya untuk pulang ke Bandung.

Hari ini hujan deras sepanjang Jatinangor-bandung, mengantar kepulangan kami. Cuaca yang kurang bagus akhir-akhir ini mempengaruhi stamina kami. Beberapa diantara anak asdos mengalami radang pernafasan. Di perjalanan, tak ada cerita penting tentang hari-hari terakhir ini. Alamiah sekali karena kami memang tak ingin segera mengakhiri kebersamaan. Sebuah kata yang cukup sensitif untuk kami semua. Namun saya tak pernah berpikir ini adalah akhir dari sebuah siklus.

Sepanjang perjalanan pulang kami lebih memilih topik lain sebagai pelepas kepenatan. Tentang metaphylaxis yang punya potensi untuk mencegah penyakit pernafasan dan sekaligus untuk mengurangi resiko stress. Tentang kebiasaan orang Mexico menambahkan paprika dalam makanan ternaknya untuk sapi potong, tentang cabe yang punya potensi untuk menambah nafsu makan manakala kita kekurangan gizi. Dan tentang potensi limbah cabe untuk industri pakan ternak. Walaupun dimulai dari diskusi yang nampaknya iseng-iseng namun menarik juga dan saatnya kita melirik kembali potensi fitogenik aditif. Sudah lama diketahui bahwa pemanfaatan cabe untuk sapi potong dapat meningkatkan asam butirat (30%) dan asam propionat (10,3%) di rumen dan diketahui juga sebagai mempromosi tumbuhnya papilla ruminis.

Berinteraksi langsung dengan anak-anak asdos mahasiswa sesungguhnya sangat penting, karena dengan diskusi-diskusi ringan kadang memunculkan ide-ide yang bagus. Saya pastinya akan kehilangan tandem-tandem yang dalam 3 tahun terakhir selalu rutin membantu dalam praktikum Biologi maupun Mankester. Namun seperti halnya mikrorganisme. Secara alamiah akan ada penyesuaian dan mungkin juga resistensi. Bukankah resistensi antimikroba juga mesti terjadi ketika perubahan genetik dari mikroba berubah secara alami?. Hanya bedanya kami yang masih ada di kampus pastinya tak akan resisten terhadap mantan anak-anak asdos, kami tidak pernah merancang untuk mencegah pertumbuhan mereka. Thx 4all teman-teman! See u next time 🙂

Posted in asisten.


Ketidaksesuaian dan Ketidakpastian

Bandung, 20112012. Hari ini makan siang bersama anak-anak asdos biofapet agak terlambat. Waktu telah menunjukkan pukul 12.45 an. Sebentar lagi, giliran anak mahasiswa kelas D 2012 yang akan melaksanakan praktikum terakhir Biologi pada semester ini.

Pokok bahasannya adalah tentang ekosistem. Di luar laboratorium, beberapa kelompok mahasiswa nampaknya masih sibuk menyiapkan bahan presentasi hari ini, sementara sebagian kelompok lainnya masih mengedit film yang akan mereka tampilkan hari ini.

Sambil makan siang, kami membaca masukan-masukan pesan dan kesan anak-anak kelas C terhadap proses pelaksanaan praktikum semester ini. Dan dalam suasana santai, bersama beberapa asdos kami mendiskusikan tentang format praktikum biologi ke depan. Bagaimana mengurangi ketidaksesuaian dan ketidakpastian. Topik pembicaraan langsung menuju ke implementasi sistem manajemen mutu berbasis ISO.

Pengendalian ketidaksesuaian adalah satu diantara delapan klausul dalam ISO 9001:2008 yang mesti mendapat perhatian super serius. Dan dengan penerapan SNI ISO/IEC 17025:2008, pengendalian ketidaksesuaian semakin menjadi penting. Antara sistem layanan akademik dan layanan laboratorium memiliki keterkaitan dalam pembelajaran termasuk dalam pelaksanaan praktikum. Mengintegrasikan SMM ISO 9001:2008 dan SNI ISO/IEC 17025:2008 adalah obsesi kami.

Temuan ketidaksesuaian (non conformity) adalah fakta yang dapat dibuktikan bahwa sesuatu telah terjadi ketidaksesuaian antara implementasi dengan kriteria yang dirujuk. Tentunya agak berbeda dengan observasi, yaitu sesuatu yang diprediksi akan terjadi temuan pada masa akan datang. Fakta sekarang belum terjadi tetapi akan terjadi bila tidak dilakukan tindakan.

Satu hal yang menjadi cita-cita kami adalah bagaimana caranya anak-anak mahasiswa praktikan sejak dini telah mengenal sistem manajemen mutu, termasuk dalam pelaksanaan praktikum. Materi praktikumpun harus distandarisasi. Tentunya tidak disemua materi praktikum. Namun beberapa diantara Pokok-pokok bahasan praktikum sebaiknya memiliki acuan standart, bisa SNI, IUPAC, AOAC ataupun good practices lainnya. Yang penting memiliki standar dan rutin divalidasi .

Validasi metode adalah proses penetapan kesesuaian sistem pengukuran. Menurut SNI 19-17025-2008, validasi metode adalah konfirmasi pengujian dan pengadaan bukti yang objektif bahwa memberikan data analisis yang berguna. Sedangkan menurut Horwitz, validasi metode adalah proses pendemonstrasian dan konfirmasi kinerja khusus metode analisis sebagai fungsi mutu dan pengukuran statistik pada kondisi operasi yang ditentukan.

Singkatnya Dari ketiga definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa validasi mengandung parameter konfirmasi secara pengujian terhadap suatu metode sehingga dapat melengkapi bukti-bukti untuk menyatakan kesesuaian metode terhadap persyaratan dan tujuan yang telah ditentukan. Pada pelaksanaannya terdapat beberapa metode yang harus divalidasi di laboratorium sebelum digunakan sebagai metode dalam analisis rutin, yaitu: (a) Metode non standar, (b) Metode yang didesain atau dikembangkan oleh laboratorium, (c) Metode standar yang digunakan di luar rentang yang ditentukan dan atau (d) Metode standar yang mengalami modifikasi.

Parameter-parameter yang direkomendasikan dalam validasi metode adalah: selektifitas, limit deteksi, limit kuantitasi, recovery, jangkauan kerja linear, akurasi serta presisi sebagai ripitabilitas dan reproduksibilitas.

Secara umum dikenal tiga cara yang digunakan untuk evaluasi akurasi metode uji, yaitu: (a) Uji Pungut Ulang (Recovery Test). Uji dilakukan dengan mengerjakan pengujian di atas contoh yang diperkaya dengan jumlah kuantitatif analat yang akan ditetapkan, (b) Uji Relatif terhadap akurasi metode baku. Uji dilakukan dengan mengerjakan pengujian pararel atas contoh uji yang sama menggunakan metode uji yang sedang dievaluasi dan metode uji lain yang telah diakui sebagai metode baku dan (c) Uji terhadap Standard Reference Material (SRM).

Dengan menggunakan SMM ISO, dan ada standar acuannya lainnya artinya apa yang dilakukan mahasiswa selama praktikum pun harus diukur sejauhmana ketidakpastiannya. Jika 1 kelompok mahasiswa akan menggunakan alat dan bahan untuk prosedur tertentu. Lab, mesti secara teratur melakukan kalibrasi terhadap berbagai alat yang digunakan untuk 1 paket materi praktikum. Begitu juga jika menggunakan bahan, bahan-bahan tersebut harus telah diketahui SRM nya. Tak masalah jika mahasiswa praktikan menggunakan alat2 lain dan bahan lain yang tidak terstandarisasi. Yang penting ada evaluasi dan dihitung sejauhmana ketidakpastian hasil pengukuran yang dilakukan oleh mahasiswa dibandingkan dengan hasil oleh dosen dan atau asisten. Dengan cara begitu, ada pertanggungjawaban kita bahwa praktikum yang kita selenggarakan telah mengadopsi sistem manajemen mutu. Ke depan bisa saja hasil praktikum mahasiswa kita kirim ke lab lain untuk uji profisiensi atau uji banding, kenapa tidak mungkin?

Well, diskusi dengan anak-anak asdos biofapet terpaksa harus diakhiri. Praktikum ekosistem akan segera dimulai kembali. Pastinya tentang ketidaksesuaian dan ketidakpastian akan menjadi pekerjaan rumah bersama. Kami memiliki cita-cita luhur bersama. Hari ini kita masih cukup marjinal tapi tidak untuk hari esok. Semoga.

Posted in asisten.


Berharap ada tempat terbaik, seperti yang kita inginkan.

Bandung, 13 November 2012.  Jatinangor-Tol Cileunyi -Pasteur yang biasanya bisa ditempuh  kurang dari 30 menit, hari ini terasa begitu bertambah lama.  Sepuluh menit  lagi sudah harus presentasi di Hotel Grand Aquilla. Dan posisi sekarang masih di Pasir Koja?. Hmmmm. Serasa pengin pulang ke rumah saja. Tempat dimana kita sangat  merdeka. Tak ada beban dan tak ada tekanan, teduh!.

Rumah adalah segalanya. Bisa jadi Ross Bagdasarian dan Willian William Saroyan merasakan hal yang sama tatkala di tahun 1939 menulis lirik Come on-a My House.  Rosemary Clooney beruntung bisa mempopulerkan lagu yang penuh nuansa tradisional Armenia itu dan menjadikannya sebagai salah satu penyanyi legendaris di tahun 1950 an.  Saya sangat menikmati lagu-lagu bernuansa jazz, semi jazz, soul dan sejenisnya. Jazz, bagi saya seperti obat yang bisa membuat kita keluar dari beban.

Hidup di kota besar pastinya penuh dengan tekanan.  Banyak hal yang susah untuk diprediksi karena ternyata banyak variabel. Hitung-hitungannya lebih rumit. Dan sepertinya ada banyak manfaatnya kita belajar tentang ketidakpastian. Ketidakpastian memadukan semua kesalahan yang diketahui menjadi suatu rentang tunggal, benarkah?

Mereka yang mengimplementasikan ISO/IEC 17025:2008 pasti paham akan ketidakpastian. Ketidakpastian adalah suatu parameter yang menetapkan rentang nilai yang didalamnya diperkirakan nilai benar yang diukur berada. Menghitung rentang tersebut dikenal sebagai pengukuran ketidakpastian. Keterampilan dan ketelitian seorang analis akan memberikan pengaruh pada besar kecilnya nilai ketidakpastian pengukuran. Dalam kehidupan sehari-hari mungkin juga seperti itu, kita harus profesional dan berkompeten seperti seorang analis, selalu presisi dan akurasi menangani segala sesuatu dan agar kita bisa mereduksi ketidakpastian.

Agar persentasi recovery kita bisa tinggi, kita harus bisa secara baik mengidentifikasi sumber-sumber ketidakpastian dan buat daftar dari semua faktor yang dapat memberikan kontribusi kesalahan terhadap hasil akhir. Perjalanan dari Kampus Jatinangor-Tol Cileunyi-Pasteur seringkali mengajarkan pada kita betapa susahnya  memprediksi dan mengukur ketidakpastian.

Usai seminar atau lokakarya di Hotel Grand Aquilla, pukul 13 an saya langsung balik. Bukan balik ke rumah tapi ke Jatinangor lagi. Well, bukannya tidak mau membantu (menyitir lagunya Hank Williams: I can’t help it). Secara pribadi saya tidak menikmati penyelenggaraan seminar dan atau lokakarya di hotel. Tidak mengajarkan arti efisiensi.  Di kampus cukup banyak tempat yang sangat layak untuk seminar dan sejenisnya. Lebih baik, uangnya ditabung untuk membeli peralatan lab atau membantu membeli CRM (Certified Reference Material), agar jaminan mutu hasil pengujian dari lab di lingkungan Unpad bisa lebih bagus.  Ada baiknya para petinggi memahami ilmu kuda. When a man’s mind rides faster than his horse can gallop they quickly both tire.

Selama perjalanan di tol, rasanya seperti orang yang lagi bengong, boring maksudnya. Kebanyakan radio, penuh dengan iklan.  Kadang merasa seperti pepatah Yet, for the most part, their only option is limited personalization of existing goods. Ada baiknya kita keluar dari bayang-bayang dan mencoba sesuatu yang lain. Co-Creation for Innovation, begitu kira-kira. Kita memang harus dan punya kriteria yang tidak hanya standar tapi lebih dari itu. Criteria is fluid and works together to increase Community Involvement in Innovation.

Sore ini, hujan lumayan lebat mengguyur kawasan Jatinangor. So, hawa jatinangor jadi lebih adem.  Sejenak serasa seperti berada di kawasan Pangalengan Timur, Goha.  Jadi rindu untuk bisa merefresh otak di sana. Teman lama, tempat lama  selalu menyisakan kenangan. Disanalah biasanya kita bisa keluar sejenak untuk menyelesaikan kepenatan. Good night.

Posted in FolkTale.