Skip to content


Supernormal, Lingkungan, dan Etologi.

Bandung, 15 April 2020. Kadang kita membutuhkan waktu yang lebih lama memberi judul yang cocok untuk sebuah tulisan daripada membuat kesimpulan. Kitapun kadang mengalami susahnya membuat kesimpulan sebuah pemikiran. Tapi sebuah tulisanpun kadang tak harus disimpulkan, cukup dipahami.

Usai kuliah daring tentang tingkah laku kuda, saya sempat berpikir (karena kurang yakin) apakah melalui kuliah daring itu cukup efektif?. Bagaimana kalau mereka cuman menghidupkan Hpnya kemudian ditinggal tidur-tiduran sambil membaca komik? Atau sambil nonton TV?.

Komik adalah contoh bagaimana mereka menciptakan rangsangan supernormal, menekankan semua fitur yang menarik tentang manusia. Buku-buku komik dan film kadang-kadang diremehkan sebagai barang anak-anak, tetapi mereka menawarkan alur cerita rinci dan kreatif. Mereka juga menawarkan tema yang mencerminkan emosi dan keinginan manusia yang dalam. Dari sudut pandang evolusi, kita mendapatkan wawasan tentang asal-usul yang mendasari mengapa karakter-karakter itu terlihat seperti itu, mengapa kita tertarik padanya, dan mengapa kita terhubung dengan mereka pada tingkat pribadi seperti itu. Itulah yang membuat orang kecanduan akan komik.

Persis 113 tahun yang lalu atau tepatnya 15 April 1907, di Den Haag Belanda lahir seorang anak lelaki yang kemudian diberi nama Nicolaas Tinbergen. Anak ini pada saat kecil sampai dengan remaja prestasinya biasa-biasa saja. Ia tidak betah berada di ruangan dan bahkan suka bolos sekolah. Hobinya melihat lingkungan sekitar apapun yang ia temui apakah itu hewan atau yang lainnya. Dalam otobiografinya Niko menulis: “Saya telah menganggap sekolah, lebih sebagai gangguan dan pembatasan kebebasan saya yang membuat frustrasi. Kebosanan semata karena harus mempelajari tabel perkalian”.

Namun usai menjalani tiga bulan kerja lapangan di sebuah observatorium burung mengubah pandangan dia tentang tentang universitas, tentang kuliah. Tinbergen belajar di universitas di Wina, di Leiden di Belanda, dan di Universitas Yale.

Di Universitas Leiden, Niko mengungkapkan kemampuannya untuk berpikir secara mandiri; mempertanyakan pendekatan kuno dan subyektif terhadap perilaku hewan. Dia lebih suka mengamati makhluk dengan hati-hati di habitat aslinya, sebelum merancang dan melakukan eksperimen sederhana dan metodis untuk lebih memahami pola perilaku. Jadilah Niko menyelesaikan Tesis PhD-nya yang hanya di 32 halaman. Konon katanya tesis terpendek dalam catatan di universitas Leiden. Studinya tentang bagaimana tawon penggali menemukan jalan mereka kembali ke liang mereka di pasir setelah mencari makan. Tapi itu adalah pendekatan ilmiahnya yang merupakan warisan Niko yang paling berpengaruh. Dengan kolaborator dan sahabatnya Konrad Lorenz, Niko memberi nama, menetapkan, dan menyempurnakan bidang ‘etologi’ sebagai cabang zoologi.

Nikolaas Tinbergen, seorang ahli zoologi Inggris kelahiran Belanda yang memenangkan Hadiah Nobel untuk Kedokteran pada tahun 1973. Dia berbagi Hadiah Nobel untuk Fisiologi atau Kedokteran tahun 1973 dengan Konrad Lorenz, ahli zoologi Jerman, dan Karl von Frisch, ahli zoologi Austria, untuk “penemuan mereka di bidang organisasi dan terjadinya pola perilaku individu dan sosial” di dunia Hewan.

Studi yang dilakukan oleh mereka pada ikan, serangga dan burung meletakkan dasar untuk studi lebih lanjut tentang pentingnya pengalaman khusus selama periode kritis perkembangan normal, serta efek dari situasi psikososial abnormal pada mamalia. Pada saat itu, penemuan tsb dinyatakan telah menyebabkan “terobosan dalam pemahaman mekanisme di balik berbagai gejala penyakit kejiwaan, seperti kesedihan, obsesi kompulsif, perilaku stereotipik dan postur katatonik”.

Kata penulis buku ‘The Study of Instinct’ ini: ‘Aku lebih seperti kupu-kupu yang melayang dengan riang dari satu bunga ke bunga berikutnya, dan bukannya seperti lebah madu pekerja yang” bekerja terus-menerus “. Tetapi hal itu selalu menjadi sifat saya, dan jika … sebagai akibatnya [saya] kehilangan banyak hal dan mendapatkan banyak hal, saya setidaknya telah setia pada sifat saya.’

Pendekatan sistem pendidikan bagi anak normal dan supernormal pastilah berbeda. Mereka yang digolongkan dengan supernormal juga sangat rentan jika tidak ada yang mengarahkan. Orang tua mempunyai peran yang sangat penting, karena orang tualah yang menemukan beberapa karakteristik anak pada usia yang sangat dini. Disamping orang tua, lingkungan masyarakat juga mempunyai peran yang sangat besar. Karena di lingkungan masyarakatlah mereka berkembang yang dapat mempengaruhi baik buruknya anak. Apakah Nicolaas Tinbergen termasuk golongan supernormal, saya juga tidak tahu. Namun dari karya-karyanya ia adalah orang yang super luar biasa.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.