Skip to content


Interaksi pun akan berubah secara natural di musim Corvid-19

Bandung, 14 April 2020. Di hari libur seperti sekarang ini, salah satu kesempatan yang hilang akibat era WFH Covid-19 adalah kesempatan untuk berinteraksi di Ruang Terbuka Hijau (RHT). Ini disebabkan kebijakan pemerintah yang menutup RHT-RHT di Kota Bandung. RTH selain berfungsi sebagai tempat istirahat dan rekreasi masyarakat kota, juga memiliki manfaat ekologi yaitu sebagai suplai oksigen, perbaikan kesuburan tanah, dan habitat satwa dengan berbagai macam burung. Tidak di era Covid-19 pun sebenarnya hanya tinggal sedikit tempat untuk kita bisa menikmati RTH. Padahal RHT ini sangat penting untuk mengimbangi kehidupan perkotaan yang semakin jauh dari kondisi ideal secara ekologis.

Di Bandung, tak jauh dari rumah. Di hari sabtu atau minggu, kadang saya bersepeda ke arah Ciparay dengan tujuan menuju Majalaya. Dalam perjalanan pulang sore hari saat melewati Gede Bage tepatnya di Kampung Ranca Bayawak, kelurahan Cisarinten Kidul sebagai seorang biolog pastinya terkesima melihat ratusan burung blekok yang sedang pulang ke sarangnya. Konon katanya sudah hampir setengah abad burung blekok atau kuntul sawah, bernama latin Ardeola speciosa itu menghuni Kampung Ranca Bayawak. Ngga’ tahu ke depannya dengan semakin berkembangnya pembangunan kawasan terpadu Bandung Teknopolis di daerah Gedebage, bisa jadi burung-burung tersebut akan hijrah, mungkin ke daerah Rancaekek atau Majalaya.

Saya beruntung pernah tinggal di beberapa kota yang relatif asri,teduh dan kaya dengan pohon-pohon yang mungkin sekarang sudah semakin jarang ada di kota-kota besar seperti mahoni, asam jawa, asam belanda dan lain-lain. Menikmati masa kecil (1959 – 1974) di Semarang selatan, saya pastinya menikmati oksigen dari pohon-pohon besar di sepanjang jalan Srondol, Ngesrep, Gombel, Jatingaleh, Sultan Agung, Dokter Wahidin, Kalisari, dan Pemuda.

Di masa kecil itulah kami, menikmati betul keteduhan sepanjang jalan dan keelokan Burung kuntul atau blekok sawah (Ardeola speciosa), kuntul kerbau (Bubulcus ibis) dan lain-lain. Pohon mahoni memiliki bunga yang sangat unik. Pada usia muda, buah dari pohon mahoni ini berbentuk seperti bola rugby. Ketika menua, buah mulai mekar dan memperlihatkan biji yang tersusun rapi. Sedang asam belanda, orang Jawa menyebutnya asem londo. Asam Belanda (Pithecellobium dulce) ini dinamakan asam namun sebenarnya rasanya sama sekali tidak asam bahkan cenderung manis. Sarang burung blekok saya lihat banyak di atas pohon asam Jawa.

Blekok sawah memiliki tubuh berukuran kecil sekitar 45 cm. Kepala dan dada kuning tua. Punggung nyaris hitam. Tubuh bagian atas lainnya coklat bercoret-coret. Tubuh bagian bawah putih. Saat terbang sayap terlihat sangat kontras dengan punggung yang hitam. Iris berwarna kuning, paruh kuning, ujung paruh hitam, kaki hijau buram. Kadang mereka hidup sendiri, berpasangan atau dalam kelompok. Berdiri diam dengan posisi tubuh rendah, kepala ditarik, menunggu mangsa. Blekok biasanya berbiak bulan Desember-Mei atau Januari-Agustus.

Di masa remaja, saat menempuh pendidikan esema di Salatiga. Sepanjang jalan Diponegoro penuh pepohonan nan rindang dan udara yang serasa sangat segar. Setiap hari jalan pulang pergi dari jl Taman Pahlawan sampai ke jl Cemara serasa tak ada capeknya karena kerindangan pohon-pohonnya. Pohon mahoni diketahui mampu mengurangi polusi udara. Konon katanya pohon mahoni dapat mengurangi polusi udara sekitar 70%.

Pohon lain yang mengingatkan saat-saat masih remaja adalah sawo becik dan Dewandaru. Bagi masyarakat Jawa ada mitos yang berkembang di masyarakat, jika masyarakat menanam pohon sawo di depan rumahnya akan membawa keberuntungan dan mendapatkan kebaikan bagi siapa saja yang menanamnya. Manfaat sawo kecik sendri sangat banyak untuk kesehatan, antara lain bisa menurunkan kolestrol. Karena sawo kecik memiliki kandungan vitamin C dan flavonoid yang tinggi maka buah ini bisa mencegah dan menurunkan kolestrol yang ada di dalam tubuh. Jadi tidak heran jika buah ini paling banyak dicari untuk mengatasi kolestrol karena sangatlah berkhasiat.

Sedangkan Dewandaru, dari beberapa penelitian mengandung antioksidan yang tinggi. Buah dewandaru dapat dikonsumsi langsung. Rasanya asam hingga manis, bergantung pada tingkat kemasakan dan kultivarnya. Buah yang merah gelap kehitaman, memiliki rasa manis. Dewandaru telah dianggap sebagai bahan penelitian obat yang penting, mengingat riwayatnya yang panjang sebagai obat tradisional. Minyak esensialnya adalah antihipertensif, antidiabetik, antitumor, dan analgesik. Hasil penelitian bahkan menunjukkan khasiatnya sebagai antiviral dan aktivitas antijamur. Mungkin perlu diujikan untuk melawan penyakit Corvid-19.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.