Skip to content


Intermezo

Rabi’ul-Awal 1511 tepat hari Selasa, 24 Oktober 2087. Di kelas virologi dasar, pagi ini para mahasiswa membahas tentang sebuah keluarga virus yang bernama corona. Ada mahasiswa yang mempertanyakan kenapa Covid-19 pada tahun 2020 bisa Pandemik, apakah masyarakat pada waktu itu perilakunya masih primitif?. Mahasiswa lain menanyakan bagaimana sequenzing genome SARS-CoV-2 penyebab Covid-19, bagaimana transmisi simptomatiknya, vaksin dan obat pada waktu itu.

Menarik karena SARS, MERS, Covid-19 jika dirunut ke belakang mampu menginfeksi jutaan orang dan bahkan membunuh ribuan orang. Sampai-sampai pada tahun 2020 tersebut berbagai liga utama sepakbola di dunia dihentikan. Saat itu medsos yang sedang populer adalah twitter, facebook, Youtube, dan Instagram. Pada waktu itu juga trending beberapa istilah yang lucu-lucu diantaranya #lockdown, #daruratsipil, #dirumahmajuterus dll. Para dosen dan guru pada waktu itu diliburkan dan kuliahnya mesti menggunakan sistem darling, mereka tiba2 harus belajar dengan Google Classroom, Google Meet, Zoom, Quizizz, yang sekarang sudah tidak dikenal lagi.

Istilah primitif sebenarnya agak sadis untuk memberikan suatu penilaian. Primitif adalah suatu kebudayaan masyarakat atau individu tertentu yang belum mengenal dunia luar atau jauh dari keramaian teknologi. Primitif mempunyai arti tidak mengenal teknologi modern.
Mungkin lebih tepatnya adalah primitif modern, yaitu sebuah tingkah laku atau perilaku seseorang di kehidupan modern yang memiliki sifat primitif. Maksudnya ialah seseorang hidup di zaman modern akan tetapi cara primitive dilakukan di kehidupannya, seperti; berkata kasar,kekerasan,hanya mementingkan diri sendiri untuk hidup aman dan damai,tidak suka sosialisasi, ataupun kriminalitas, seksual dimana-mana tanpa mengikuti peraturan di era modern.

Begitulah kehidupan, tingkah laku kita hari ini akan dicatat oleh sejarah dan diperbincangkan oleh generasi mendatang. Mungkin akan ada yang mentertawakannya tapi bisa jadi banyak juga yang bangga bagaimana para tetuanya dulu berjuang memerangi Covid-19, menyabung nyawa dengan menggunakan APD yang minim. Wallahualam bishawab.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.