Skip to content


Kesehatan Mental di Era Corvid-19

Minggu, 29 Maret 2020. Sambil menyeduh teh, pagi ini saya baca beberapa portal. Sepintas-sepintas saja diantaranya: @kemenkes. Jangan diam saja, bergerak itu bikin sehat. 1. Membakar kalori 2. Mengurangi stress dan emosional 3. Meningkatkan daya tahan tubuh 4. Bikin tidur makin nyenyak 5. Bikin wajah & tubuh makin segar. Terus gerak, gerak & gerak ya #Healthies. Banyak yang menarik, bagus, lucu namun kadang bikin parno. Bagaimana ngga parno kalau tiap jam ada pertanyaan dari saudara, kawan, teman: bagaimana khabarnya, loe sehat ngga’, aman ngga daerah loe?.

Di era mewabahnya corvid-19. Ada sisi positip dan negatif dalam melakukan work from home (WFH). Sisi positipnya tentu banyak tapi satu hal sisi negatifnya adalah kemungkinan stress dan emosional. Intinya karena bosan di rumah terus. Wajar saja karena kita dikenal sebagai makhluk sosial. Kesehatan mental inilah yang nampaknya perlu diperhatikan betul. Beberapa ahli mendefinisikan kesehatan mental adalah “terhindarnya orang dari gejala-gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose)”. Ada juga yang mendefinisikan agak berbeda,yaitu “kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain dan masyarakat serta lingkungan dimana ia hidup”.

Persoalan psiko-sosial dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dianggap remeh temeh. Soal kepincangan sosial,musibah, keluh kesah, prasangka buruk, kata-kata yang tidak baik, tenggang rasa, gampang menuduh, fitnah memfitnah adalah masalah-masalah yang kita hadapi sekarang-sekarang ini. Di eradigital, di era gobalisasi. Jadi mestinya kesehatan jiwa itu adalah bagaimana kita bisa mewujudkan keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem biasa yang terjadi dan merasakan secara positip kebahagiaan dan kemampuan dirinya. Sangat sulit, namun mungkin itulah jalan yangharus kita lakukan.

Di era digital, berita-beritabermunculan sangat cepat. Kita harus pandai mensortingnya agar tidak mengalami masalah kejiwaan. Jika kita ngga’ disiplin bisa-bisa waktu kita habis hanya untuk benda bernama ponsel. Jujur, saya termasuk orang yang “biasa” saja menggunakan Hp, maksudnya seperlunya saja. Mungkin termasuk orang “kuno”, yang senang baca koran dan buku. Beruntunglah Koran Kompas. Walaupun dalam beberapa hal opininya dimata saya kadang kurang sreg namun sampai hari ini (sekitar 35 tahun) saya masih berlangganan koran Kompas. Senang saja mengamati tingkah laku Timun, Sukribo, Konpopilan dan lain-lain. Adasesuatu yang hilang, jika ngga baca koran.

Beberapa tahun yang lalu, banyak pakar yang meramalkan era koran akan segera berakhir. Media cetak sudah di era senjakala. Memang sich jumlah kios dan loper koran sepertinya semakin jauh berkurang. Omset koran jatuh bebas walaupun ada seorang pedagang kios yang berpendapat: “Saya percaya hari kiamat, tapi saya enggak percaya koran bakal gulung tikar.”

Era Sosmed yang pernah booming seperti facebook dan sejenisnya cepat atau lambat pada akhirnya akan bergeser menjadi ke era anti Sosmed. Untuk memahami apa yang mendorong pergeseran ini, kitabisa tanyakan ke anak-anak kita sendiri. Mereka umumnya berpendapat tak ada gunanya menghabiskan waktu membangun identitas melalui online dan mengumpulkan banyak “teman” online. Serasa seperti di terminal bandara, sangat ramai dan semua orang bisa melihat dan mungkin kadang membuat seseorang tserasatidak nyaman.

Pada akhirnya anak-anak sekarang umumnya ingin menjadi diri mereka sendiri dan menjalin pertemanan nyata berdasarkan minat bersama. Mereka juga menginginkan privasi, keamanan, dan kelonggaran dari kerumunan orang di platform sosial – termasuk pada orang tua mereka sendirijuga. Mereka merasa nyaman dan bersemangat untuk berkumpul di sekitar kepentingan bersama. Mereka lebih suka berbicara dalam utas pesan pribadidaripada di forum terbuka. Platformnya: perpesanan pribadi, komunitas mikro,dan pengalaman bersama atau kombinasi dari ketiganya. Ada sisi baik dan buruknya juga.

Para orangtua harus lebih menyimak apa yang dilakukan anak-anak kita generasi millenial dan generasi Z. mereka sepertinya mulai meninggalkan platform sosial tradisional seperti Facebook Messenger dan WhatsApp. Kalaupun masih digunakan cenderung menggunakan fungsi messenger pribadi. Instagram, platform yang menunjukkan tren peningkatan penggunaan di kalangan orang muda, baru-baru ini meluncurkan aplikasi mandiriyang baru, yang disebut Threads, yang dirancang khusus untuk pengiriman pesan cepat dengan teman dekat melalui kamera dan teks. Bahkan Omnichannel pun dianggap ketiggalan jaman. Sekarangeranya “digital campfires”, Micro-Community Campfires, Text Rex, Fortnite, O2O dan sejenisnya.

Persis seperti apa kata MarkZuckerberg (Maret 2019). “Hari ini kita sudah melihat bahwa pesan pribadi,cerita singkat, dan kelompok-kelompok kecil sejauh ini merupakan bidang komunikasi online yang paling cepat berkembang. Zuckerberg memperhatikan pergeseran ini tidak hanya karena data menunjukkan bahwa Facebook kehilangan audiens muda, tetapi karena trend masa kini yanglebih menggunakan mode komunikasi yang lebih pribadi.

Mata adalah pintu jiwa. Hal-halyang masuk dari pintu jiwa itu mempengaruhi pembentukan tabiat dan perkembangan kesehatan pikiran. Membaca dan mendengar adalah cara terbaik untuk mengisi otak atau jiwa. Kesehatan mental sedikit banyak dipengaruhi oleh bagaimana kita memanfaatkan medsos secara lebih arif. Tugas orangtualah untuk memastikan agar anak-anak kita membatasi perilaku asosial.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.