Skip to content


EIDS, One Health dan 2019-nCoV

Bandung, 26 Januari 2020. Salah satu ancaman kesehatan yang paling harus diwaspadai adalah apa yang disebut dengan New Emerging Infection Disease (EIDs), yang kalau diterjemahkan artinya adalah infeksi yang baru muncul. Contoh yang paling update adalah Virus corona (2019-nCoV) dari Wuhan China, yang berpotensi mengancam kesehatan global. Penyakit Infeksi Emerging. EIDs adalah penyakit yang muncul dan menyerang suatu populasi untuk pertama kalinya, atau telah ada sebelumnya namun meningkat dengan sangat cepat, baik dalam hal jumlah kasus baru di dalam suatu populasi, atau penyebarannya ke daerah geografis yang baru.

Virus korona sebagian besar bersirkulasi diantara hewan, tetapi telah diketahui berevolusi dan menginfeksi manusia, seperti yang terlihat pada SARS, MERS, dan empat virus korona lain ditemukan pada manusia yang menyebabkan gejala pernapasan ringan seperti pilek. Keenamnya dapat menyebar dari manusia ke manusia. Sampai saat ini belum ada yang berhasil menemukan hewan apa yang bertanggung jawab terhadap virus corona baru. Jika penyebab sudah ditemukan, maka penanganannya akan lebih mudah.

Sejumlah peneliti di Tiongkok telah mengisolasi koronavirus baru yang diberi kode 2019-nCoV. Sedikitnya 70% urutan genom 2019-nCoV sama seperti SARS-CoV. Urutan genom betacoronavirus Wuhan menunjukkan kesamaan dengan betacoronavirus lain yang ditemukan pada kelelawar; Namun, virus ini secara genetik berbeda dari koronavirus lain seperti Koronavirus terkait Sindrom pernapasan akut berat (SARS) dan Koronavirus terkait Sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS).[53] Seperti SARS-CoV, virus itu merupakan anggota dari garis keturunan B koronavirus Beta-CoV.

Lima genom dari koronavirus baru telah diisolasi dan dilaporkan termasuk BetaCoV/Wuhan/IVDC-HB-01/2019, BetaCoV/Wuhan/IVDC-HB-04/2020, BetaCoV/Wuhan/IVDC-HB-05/2019, BetaCoV/Wuhan/WIV04/2019, dan BetaCoV/Wuhan/IPBCAMS-WH-01/2019 dari Institut Nasional untuk Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Virus Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok, Institut Biologi Patogen, dan Rumah Sakit Jinyintan Wuhan. Panjang dari RNA itu adalah sekitar 30 kilo pasangan basa.

WHO memperingatkan wabah ini berpotensi meluas, khususnya di tengah puncak arus mudik Tahun Baru Imlek. Sejumlah pihak mempertanyakan apakah virus ini sudah beredar lebih lama daripada yang diperkirakan, apakah Wuhan benar-benar asal mula wabah atau cuma lokasi temuan pertama berkat pengawasan dan pengujian yang berkelanjutan, dan mungkinkah Wuhan berkembang menjadi kasus penularan massal (superspreader). Pada tanggal 22 Januari 2020, komite darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah membahas apakah wabah ini tergolong kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia menurut Peraturan Kesehatan Internasional. Namun WHO memutuskan menolak penggolongan itu pada 23 Januari.

Pertumbuhan populasi, globalisasi dan degradasi lingkungan terjadi sangat cepat. Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal sebagai salah satu ‘hotspot’ di Asia Tenggara dengan risiko pandemik penyakit infeksi baru.

Beberapa tahun terakhir, Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bersama dengan FAO ECTAD Indonesia, menggalakkan upaya untuk meningkatkan kewaspadaan munculnya penyakit infeksi baru (PIB). Langkah tersebut diantaranya melalui program Emerging Pandemic Threat (EPT-2) yang didanai USAID. Program EPT-2 ini terdiri dari enam output yaitu Output A (laboratorium, surveilans, penguatan kapasitas); Output B (One Health); Output C (peningkatan produktifitas perunggasan); Output D (rantai pasar); Output E (penguatan kapasitas instansi terkait pengendalian PHMS dan zoonosis); Output F (kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat untuk meningkatkan pengendalian PHMS dan zoonosis), dan Output G (manajemen proyek), ditambah dengan isu AMR/AMU.

Penyakit zoonosis merupakan penyebab lebih dari satu miliar kasus dan satu juta kematian per tahun. Tingginya biaya penyakit yang muncul dan pandemi sangat menjadi perhatian, seperti yang terlihat dengan dampak ekonomi multi-sektoral lokal dan global dari Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS), H1N1, dan virus Ebola. Pada saat yang sama, penyakit endemik berkontribusi pada penyakit yang terus-menerus dan beban ekonomi melalui dampak pada kesehatan dan mata pencaharian, serta pada produksi pertanian dan ekosistem. Bahkan juga akan mempengaruhi perdagangan dan wisatadan lain-lain.

Saatnya Kerjasama Global Health Security Agenda (GHSA) diintensifkan dalam kerangka kerja yang jelas mengingat Indonesia adalah salah satu inisiator berdirinya GHSA yang beranggotakan 65 negara dan didukung oleh badan-badan PBB seperti WHO, FAO, OIE, Bank Dunia, serta organisasi nonpemerintah dan sektor swasta. Tahun 2018 yang lalu Bank Dunia menerbitkan sebuah buku berjudul “One Health: Operational Framework for Strengthening Human, Animal, and Environmental Public Health Systems at their Interface”. Secara keseluruhan, Kerangka Operasional tersebut memberikan orientasi yang kuat kepada One Health untuk membantu pengguna dalam memahami dan mengimplementasikannya, dari dasar pemikiran hingga panduan nyata untuk penerapannya. Sebuah buku petunjuk operasional yang sangat bagus dan relevan dengan kondisi global saat ini.

Pemerintah harus bekerja keras mengerahkan segala sumberdaya yang dimiliki untuk mencegah masuknya virus Corona 2019-nCoV ke wilayah Indonesia dengan belajar dari kasus-kasus EIDs sebelumnya.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.