Skip to content


Agaraphobia: Melihat tidak hanya dengan mata namun juga harus menyertakan hati.

Capture12_13_20 Bandung, 27 Jan 2015. Cerita tentang “KPK vs Polri” kali ini benar-benar mirip sebuah sinetron, sangat dramatikal. Publik mendapat tontonan: ironi disana-sini, fiksi disana-sini, ada yang menggemaskan, ada yang menggelikan, ada yang masuk akal namun juga ada yang akal-akalan. Sebuah cerita dengan narasi yang jelas. Hanya saja pengamat dan publik mungkin melupakan satu hal yaitu para politisi busuk. Merekalah sebenarnya sutradaranya. KPK dan Polri sesungguhnya adalah pembela dan sahabat masyarakat, sebagai sebuah institusi mereka tidak layak dikriminalisasi.

Well, lupakan sejenak perang opini yang menyita waktu dan energi kita. Sejarah telah menceritakan bagaimana upaya para petualang, pemodal, kartel atau sekelompok politisi ambisius menguasai negara dengan berbagai cara yang kadang penuh intrik dan culas. “The Boys on the Bus” nya Timothy Crouse, adalah sebuah novel semi non fiksi yang bagus untuk pembelajaran bagaimana lika-liku Richard Nixon di tahun 1972an, menelikung lawan politiknya. Dan, sesungguhnya para politikus busuk sekarangpun mempraktekkan hal yang sama, bahkan dengan cara-cara yang lebih canggih.

Di tahun 2014 yang baru lewat, banyak novel semi fiksi yang bagus dan layak untuk dibaca. Cerita dan perang melawan kedzoliman dari masa ke masa selalu cenderung berulang. Salah satu novel terbaik 2014 yang perlu dibaca adalah “All the Light We Cannot See”. Sebuah novel berlatar sejarah perang, saat Nazi merambah eropah pada perang dunia II. Cerita tentang kehidupan sebuah keluarga Perancis pada sebelum, saat dan sesudah perang dunia. Sang penulis Anthony Doerr sebenarnya seorang warganegara Amerika, namun sejarah juga mencatat banyak penulis dari bangsa dan latar belakang yang berbeda bisa menulis dengan baik dan menakjubkan dalam memotret bangsa lain. Mungkin karena tidak bias dan lebih jernih cara pandangnya.

“All the Light We Cannot See” juga sebuah novel menarik karena tidak stereotipe dan karakter para pelaku dalam novel tergambar sangat detail nilai humanisnya. All the Light We Cannot See, menceritakan banyak hal tentang “ketidaksempurnaan” dalam satu sisi namun sesungguhnya sangat hebat dalam persepsi pembaca. Pelaku utama dalam novel itu Marie laure, anak seorang tukang kunci sebuah museum di Paris adalah seorang gadis yang telah mengalami kebutaan sejak berumur enam tahun. Anak hebat, kemampuan berpikirnya sangat cerdas dan memiliki kepercayaan sangat tinggi walaupun digambarkan sedikit pemalu. Laure pastinya seorang berkarakter multifaset walaupun hidup dalam lingkungan yang kurang sempurna. Perang dunia membuat keadaan semakin parah dan ia bersama keluarganya harus hidup berpindah-pindah dalam pelarian. Laure dewasa digambarkan sebagai seorang otodidak di bidang radio dan terlibat dalam gerakan bawah tanah membantu negaranya melawan Nazi yang menginvasi Perancis pada tahun 1940.

Situasi yang dihadapi Marie Laure sebenarnya juga dihadapi oleh masyarakat seperti sekarang, yang sedang galau karena situasi buruk atau sejenisnya. Keadaan yang dinamakan “Agaraphobia”, dalam ilmu kedokteran jiwa agaraphobia atau DSM-IV Tr adalah semacam gangguan yang ditandai dengan kecemasan terhadap sebuah situasi atau lingkungan yang tidak nyaman lagi atau berbahaya. Kondisi sekarang KPK vs Polri mengarah ke situasi seperti itu. Agaraphobia.

Bagi saya “All the Light we cannot See” adalah sebuah cerita pembelajaran yang kaya akan metafora. Kadang kita bisa melihat dengan jernih dan terang benderang justru dari tempat yang gelap. Banyak yang memiliki mata sempurna namun tidak digunakan dengan semestinya. Mungkin karena melihat dengan mata saja tidak cukup, melihat juga harus dibantu dengan hati. Selamat malam

Posted in Uncategorized.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.