Skip to content


Sebuah renungan pagi di Cilame, Bandung

Ukraina ReuterBandung, 4 Mei 2014. Matahari belum terbit, mungkin karena hari masih cukup pagi. Jam memang masih menunjukkan pukul 05.10 ketika saya bersiap-siap bersepeda. Mumpung cuacanya cerah, ada baiknya kita berolahraga dan sekalian refreshing. Rute hari ini rencananya adalah Cilame-Buper Andes–Gunung Padang dan sekitarnya.

Sambil menunggu terbitnya matahari dan ngecheck ulang kesiapan sepeda, kegiatan ngedengerin radio adalah pilihan bijak. BBC, Elshinta, Voa dan KLCBS adalah beberapa radio yang layak untuk didengar. Banyak peristiwa dramatis di hari-hari terakhir ini. Usai pileg yang kurang mengesankan dan para calon capres yang sama sekali tak menjanjikan, rasa-rasanya tak ada lagi rasa nyaman untuk mendengar dan menyimak para pengamat politik. Jaman sekarang susah mendapatkan pengamat yang kredibel, profesional dan etis. Ngeri rasanya kalau negara ini dipimpin oleh orang yang tidak benar.

Di luar sana sebenarnya ada peristiwa dramatis yang mestinya dipikirkan secara serius. Puluhan orang telah tewas dan lainnya cedera akibat bentrok antara etnis Ukraina melawan kelompok militan pro-Rusia di Odessa Ukraina. Sangat takjub melihat orang-orang yang sudah agak uzur bentrok hanya karena perbedaan ras dan ideologi. Sangat mengkhawatirkan, karena bisa jadi kasus Ukraina-Rusia memicu terjadinya perang dunia ke III. Tergantung Tuan Putin, Obama, Merkel, Cameron, bisa tidak duduk menyelesaikan masalah yang tidak bisa dianggap sepele.

Odessa Ukraina, ini adalah sebuah kota terbesar ke tiga Ukraina. Selain merupakan pusat budaya dan multietnis. Kota ini merupakan pelabuhan dan transportasi utama yang terletak di pantai barat laut Laut Hitam. Odessa atau Odesa jumlah populasinya diperkirakan hanya 1 jutaan orang lebih dikit. Dan, dari yang sedikit itu beberapa orang diantaranya adalah teman medsos di Jango Online, sebuah medsos kelompok penggemar musik yang sangat aku sukai. Pengin rasanya menikmati sore hari di Mozart Hotel. Lanjeronovskaya Street 13, Odessa 65026.

Nama Odessa aku ketahui saat masih remaja, maklum saat itu (tahun 1972 an) novel The Odessa File karya Frederick Forsyth seperti menjadi bacaan wajib setelah novel The Day of the Jackal. Namanya juga remaja, pengin mencari sesuatu yang di luar mainstream. The Odessa File meneguhkan: “there is no collective guilt,…guilt is individual, like salvation”. Suatu bangsa sebenarnya tidaklah jahat, hanya pribadi-pribadi, individu-individulah yang jahat. Tidak ada dosa kolektif, tidak ada dosa bersama. Begitu kira-kira pesan moralnya.

Sekitar empat tahun yang lalu, para remaja kita juga demam membaca sebuah novel asal China berjudul: First Love Forever Love yang ditulis oleh Shu Yi. Di negaranya (China Tiongkok), novel ini terjual sangat laris, konon mencapai 80 juta eksemplar. Novel tentang drama percintaan memang selalu menarik dan dibaca oleh para remaja. Kisah tentang Zhao Mei yang tidak lulus masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Tiongkok dan lantas memutuskan merantau kuliah di Odessa, Ukraina, sedikit banyak mengingatkan akan keindahan kota di pantai tenggara Ukraina. Well, katanya: “Jika saat itu aku punya keberanian, cinta kita pasti tak akan berakhir seperti ini”.

Pantai, museum, opera, ballet dan musik adalah ciri khas kota Odessa. Di kota ini, musik jazz sangat diapresiasi. Tahun 2013 yang lalu, salah satu anak bangsa kita yaitu pianis kita Joey Alexander Sila, memenangkan “Grand Prix 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill” yang diselenggarakan di Odessa, Ukraina.

Joey Alexander yang masih berumur 10 tahun, akhir April ini menuju Amerika Serikat untuk melakukan serangkaian konser jazz. Sebuah berita yang membanggakan bagi dunia jazz di negeri kita. Kehadiran Joey Alexander di Amerika Serikat atas undangan dari trumpetis jazz sohor Wynton Marsalis dalam sebuah konser dan gala dinner bertajuk “Love, Loss and Laughter: The Story of Jazz” yang mengambil tempat di Frederick P Rose Hall “The House Of Swing” yang berlokasi di Broadway 60 th Street, New York. Sungguh luarbiasa jika kita pada tanggal 7 Mei besok bisa menyaksikan Joey Alexander bermain solo piano jazz di Paul Roberson Center For The Arts , 102 Witherspoon Street Princeton, New Jersey, Amerika Serikat. Konser yang ini atas prakarsa dari Leonardo Pavkovich, pemilik label Moonjune Record di New York, yang juga merilis album-album jazz.

Well, Odessa Ukraina dan masyarakatnya yang multi etnis tak seharusnya porak poranda oleh jiwa petualang para politikus yang sangat ambisius memperebutkan kekuasaan. Kekacaubalauan cara berpikir para politikus bisa jadi bersifat universal dan pastinya itu sebuah ancaman, termasuk politikus di tanah air. Akan sangat ironis jika ideologi mengalahkan sendi-sendi peradaban dan agama. Selamat berhari minggu, selamat bersepeda dan selamat menikmati jazz pastinya.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.