Skip to content


Kawan lama memang tak mudah terlupakan

K75 SalatigaCipularang, 27 April 2014. Pepatah lama mengatakan “A true friend is one who thinks you are a good egg even if you are half-cracked”. Sebegitu toleransi dan sempurnakah sehingga tak ada setitik saja noktah hitam seseorang di mata seorang sahabat?. Mungkin, maksudnya tidaklah sebegitu ekstrim. Sahabat yang baik justru harus saling mengingatkan, memberi masukan yang berguna dan bermanfaat agar persahabatan tidak rusak oleh kebenaran semu. Saya tak bermaksud mempertentangkan arti sahabat dalam bingkai imanensi dan transedensi, namun agak setuju dengan Elbert Hubbard: “The friend is the man who knows all about you, and still likes you”.

Jam telah menunjukkan hampir pukul 21.00. Gedung Sasana Langgeng Budaya TMII masih penuh dengan dengan para undangan ngantenan anak seorang teman. Teman-teman masa kecil saya juga masih ada di dalam menikmati keceriaan, tepatnya kebersamaan berjumpa dengan dengan sahabat-sahabat lama. Sepanjang perjalanan tol cipularang malam ini sangat rame tapi memang ada yang sepi di relung-relung sel hepatosit saya. Pikiran saya yang sepertinya masih rame dengan pertanyaan-pertanyaan konyol dan memang begitulah biasanya akhir dari drama sebuah reuni. Dan, sesungguhnya sangat tepat kalau orang mengatakan: “A good friend is cheaper than therapy”.

Dan perjalanan malam ini, sesungguhnya ditengarai membuat orang sedikit bertambah semakin “cerdas”. Selain merangsang otak dan melatih daya ingat, kita juga ditantang untuk selalu mencoba mengelaborasi pikiran dan tindakan-tindakan kita. Bukan melamun tapi sejenis kontemplasi, menggali kamus dan menemukan jalan keluar apa yang bisa dan akan kita lakukan ke depan. Sungguhpun dalam kegelapan, dalam diri seseorang sesungguhnya terpendam cahaya yang tak mudah untuk dipadamkan.

Beruntung, kita ini sekarang hidup di jaman cyberspace. Jarak menjadi semakin sangat dekat. Teknologi cyberspace menciptakan istilah lain dalam leksikon persahabatan. Empati virtual merubah segalanya. Sisi positipnya komunikasi sosial menjadi jauh lebih mudah, teknologi yang dulunya susah dan rumit untuk diperoleh kini jauh lebih mudah untuk didapatkan. Dan, teman lama maupun sahabat baru (walaupun kadang sangat imajiner) bermunculan, kadang dari tempat yang tak terduga dan tak terbayangkan sebelumnya.

Pertemuan hari ini dengan sahabat-sahabat lama yang sangat singkat mengingatkan pada sebuah novel berjudul: “Just One Day”. Gayle Forman, jurnalis dan penulis buku itu, sepertinya tak sepakat bahwa hidup tak sekedar seperti sebuah koper: mengemas, merencanakan, dan memberi order. Banyak hal yang bisa terjadi secara tiba-tiba dan itu kadang-kadang tak butuh terlalu lama. Mungkin hal-hal seperti itulah yang mendorong seseorang mau bersusah payah merindukan sebuah perjalanan, mau mengambil resiko dan mencoba terus menemukan dirinya sendiri, dan mungkin juga karena dia mencari hari-hari yang diinginkan itu.

Untuk bisa mendapatkan identitas baru, bisa jadi seseorang menjadi tersesat. Tak jarang yang celaka, namun banyak juga yang tak padam semangatnya. Mendapatkan hal yang terbaik memang tak mudah, bahkan jika hal itu hanya sebuah mimpi. Apa pun bisa terjadi hanya dalam satu hari. Just One day.

Pukul 23.10, saya sudah sampai di pintu tol Buah Batu. Persis ketika Jeanni Seelly menyelesaikan senandungnya: Can I Sleep in Your Arms. Malam ini saya ingin cepat-cepat menemukan bantal, dan tidur. Mimpi yang indah, mimpi bertemu lagi sahabat-sahabat kecil bermain sepakbola sambil berhujan ria di lapangan UKSW Salatiga, sebuah kota kecil di lereng Gn Merbabu nan sejuk.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.