Skip to content


Mereka bisa dan kita pun (mestinya) bisa

dwicipto10Bandung, 21 April 2014. Konon, semangatlah yang membuat seseorang yang sepertinya biasa-biasa saja bisa menjadi kelihatan sangat luarbiasa. Kata orang, semangat dan ketekunan adalah kunci keberhasilan. Semangat itu pula yang mungkin menjadikan produk luarbiasa seringkali lahir dari buah ketekunan seseorang yang sangat menghargai sebuah proses dan berpikir positip bahwa dengan keterbatasan yang ada kitapun bisa melakukan hal-hal melampaui ketidakniscayaan.

Bagi mereka yang senang membaca tentang bioanthropologi pasti mengenal nama Helen Fisher. Karya-karya Helen selalu dinanti dan tak jarang menjadi rujukan baik para anthropolog, dan juga psikolog. Selain penuh dengan saran dan motivasi, pikiran-pikirannya yang kadang revolusioner membuat kita terpacu untuk membuka diri dan mau berkompetitif secara etis. Hati, jantung dan otak adalah bagian dari kepribadian dan sangat mempengaruhi keseharian dunia kita. Sebagai seorang biolog, Helen juga meyakini adanya hubungan kepribadian dasar seseorang dengan sistem neurokimia dari dopamin, serotonin, testosteron dan estrogen.

Konon katanya, dopamin dianalogkan seseorang berkarakter explorer (kreatif, bertemperamen seperti halnya seorang artis, dan diasosiasikan dengan warna kuning), seretonin merupakan penghela seorang berkarakter builder (masuk akal, bertemperamen seperti seorang ustad, dan diasosiasikan dengan warna biru), testosteron diibaratkan seseorang barkarakter direktur (mementingkan penalaran; sangat rasional dan diasosiasikan warna merah) sedang estrogen/oksitosin adalah karakter seorang negotiator (intuitif; idealis dan diasosiasikan dengan warna hijau).

Temperamen seseorang bisa jadi merupakan faktor bawaan (dan pastinya dari keluarga) dan juga sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial. Kepribadian, empati dan semangat yang dimiliki seseorang tak jauh dari apa yang menurut Helen dia sebut sebagai interaksi dan asosiasi antara mekanisme biologis dan neurokimia: lust, attraction and attachment.

Hampir tiap pagi sekitar pukul 06.10 an, saya melewati perempatan Jl. Ahmad Yani-Jl. Riau, melihat dan mengamati perilaku para pengemis yang sepertinya sangat sehat sehat-sehat fisiknya. Sepuluh menit dari situ, tepatnya di Jl. Martadinata, setiap hari pula saya melihat seorang bapak-bapak membersihkan halaman trotoar di depan kantor Kejaksanaan Tinggi dekat sekolah Taruna Bhakti. Dari caranya menyapu, terlihat bahwa bapak ini pernah terserang stroke. Saya telah melihatnya setidaknya sekitar 2 tahun yang lalu dan awalnya saya merasa iba, karena sepertinya bapak ini memaksakan diri untuk bekerja. Selain kelihatan sangat susah memegang sapu, bapak ini usianya juga sudah cukup tua. Namun dengan berjalannya waktu saya melihat kesehatannya ternyata maju semakin pesat. Mungkin semangat bekerja dan latihan bergerak setiap pagi yang membuatnya lebih sehat. Betapa bisa tidak simetrisnya antara keterbatasan dan semangat. Di dunia ini sangat banyak orang dengan keterbatasan fisik menjadi figur terkenal, diantaranya Stephen Hawking, fisikawan dan kosmologis terkenal.

Pikiran saya menerawang ke belakang, mengingat saat berakhirnya praktikum matakuliah Mankester. Sebagian besar mahasiswa sepertinya gembira dan lega dengan berakhirnya kegiatan praktikum. Mungkin di matakuliah yang lain takkan jauh berbeda. Miris dan khawatir, manakala suatu pembelajaran dianggap sebagai sebuah beban. Sangat miris karena setiap minggu sebagian besar tugas merupakan hasil copy paste. Dan poin pentingnya adalah sangat memilukan, melihat pragmatisme mengalahkan idealisme.

Belajar dari semangat bapak tua yang memiliki semangat tinggi (walaupun terkena stroke), sangat-sangat takjub dengan semangat Stephen Hawking atau pada Temple Grandin seorang penderita autis yang buku-bukunya tentang animal science dan animal welfare menjadi rujukan para ilmuwan peternakan dan kedokteran hewan. Belajar dari Helen Fisher, sepertinya ada satu hal yang penting untuk dipahami oleh kita yaitu niat dan cinta kita pada suatu pekerjaan. Niat dan cinta sangat berbeda dalam banyak hal tetapi bisa saling kerjasama dan saling mengisi. Jangan biarkan kita terjebak, tak punya niat dan tidak cinta dengan profesi yang kita cita-citakan karena hanya akan membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran. Wallahu’alam bi sawaf.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.