Skip to content


Menyemangati tukik menuju laut lepas @Ujung Genteng

ken ratuUjung Genteng, 30 Desember 2012. Dimulai dengan hasil voting 8 lawan 4 diantara anak2 asdos biofapet, akhirnya kami memutuskan liburan akhir tahun 2012 ini ke daerah Ujung Genteng. Saya sendiri tadinya berharap ke Gn. Halimun, lebih menantang, lebih hijau, lebih teduh dan sepi dari keramaian. Tempat yang membuat kita merasa kerdil dan memahami hakekat sang maha kuasa.

Tapi Ujung genteng adalah salah salah satu tempat yang tak kalah eksotik. Ujung Genteng yang sekarang ini sangat jauh berbeda dengan tempat yang saya kunjungi beberapa tahun yang lalu. Dulu untuk menuju ke tempat itu serasa sangat lama. Jalanan tak begitu bagus,  naik turun meliuk dan tak hanya sesekali perut serasa mual. Perjalanan ke ujung genteng sekarang ini jauh lebih ramah dan lebih mudah. Jalan sudah cukup bagus. Sepanjang kanan dan kiri mulai Cianjur, Sukabumi, Jampang Wetan, Jampang Kulon, Surade dan seterusnya banyak yang bisa dilihat dan dinikmati.

Delapan jam perjalanan dari Bandung untuk sampai ke Ujung Genteng tak terasa jauh karena kita bisa menarik nafas dalam-dalam dan dalam oksigen yang kita hirup itu terasakan aroma kesegaran yang membuat neuron kita berpikir lebih cerdas, dan rasa takjub kita pada sang Illahi semakin mendalam. Peradaban maju dan tumbuh berkembang namun ada sisi-sisi lain manakala ciptaan Tuhan itu terawat baik oleh sentuhan dan akal budi manusia.

Well, sore ini kami akan mensyukuri pelepasan 144 tukik ke laut lepas di Pantai Pangumbahan. Kita tidak tahu berapa ekor dari mereka yang nantinya selamat, tumbuh berkembang menjadi dewasa dan akhirnya menurunkan generasi-generasi baru. Tapi jauh dalam lubuk hati ada semangat yang ingin kami titipkan pada anak-anak tukik yang berlomba-lomba bahkan  ada yang tertatih-tatih menyongsong ombak laut selatan, membawanya entah kemana nantinya mereka tumbuh dan berkembang.

Sunset  adalah sisi lain dari indahnya pantai Pangumbahan. Di kawasan penangkaran penyu ini, konon umur penyu sudah sangat tua. Ada yang bilang sudah puluhan tahun. Jadi sangat tepat kalau daerah konservasi penyu ini dilestarikan dan dijaga kebersihannya. Menikmati sunset di lingkungan yang kurang bersih pastinya agak kurang nyaman.

Masih di sekitar desa Pangumbahan, beberapa peselancar juga nampak bersiap-siap menikmati galaknya laut selatan. Semoga tidak ada yang mengalami kecelakaan, karena di musim yang agak kurang ramah seperti ini sebaiknya harus ekstra hati-hati.

Menjelang maghrib, kami mesti rehat sejenak untuk mempersiapkan tenaga untuk acara nanti malam: melihat aksi penyu dewasa bertelur dan mengubur telurnya di Pantai Pangumbahan. Dan, pukul 20.20 an kami mendapat informasi ada 2 ekor penyu sedang bertelur di pantai, kami pun bergegas ke pantai. Mengamati penyu bertelur dan menguburnya dalam-dalam agar tak diganggu manusia. Malam yang indah, walaupun berhujan-hujan di malam hari yang gelap gulita. Dan tentunya pengalaman beroffroad dengan sepeda motor sewaan. Pengalaman unik, aneh dan menyenangkan.

Jadi, hari ini makan malam kita tertunda. Benar-benar makan malam karena jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.20 an. Namun bukan makan malamnya yang penting,  makan bersama-sama teman-teman biofapet adalah sesuatu yang sangat langka. Sepertinya Remember You’re Mine nya Pat Boone akan mengingatkan malam ini.

Oscar Wilde pernah mengatakan: ”Children begin by loving their parents; as they grow older they judge them; sometimes they forgive them”.

Pagi ini, saya sangat gembira dan juga sedih. Gembira manakala menyaksikan anak-anak biofapet dengan riangnya menikmati sunrise di pantai timur Ujung Genteng. Bermain ombak, dan pasir sambil bersendau gurau satu sama lainnya. Sedih, karena beberapa diantara mereka akan segera menyelesaikan pendidikannya dan pastinya akan segera mengarungi masa depan mereka di tempat baru. Mengakhiri jauh lebih susah dibandingkan memulai.

Hidup ibarat sebuah penjelajahan. Tak ada tempat yang tidak bagus. Selalu ada nilai tambah di dalamnya dan akan memberikan catatan berharga. Sebuah peradaban tumbuh dan berkembang karena diantara mereka saling menyayangi dan mencintai. People have a moral standard about what they will do and will not do.

Thx to: Ken Ratu, Ambar, Cevi, Akbar, Lydia, Dina, Wini, Dian, Tantri, Fahmy dan Pak Dadan. Sarapan pake telur dadar, fillet ikan laut dan senandung Jambalaya by Henk Williams akan selalu mengingatkan kita akan Ujung Genteng.

 

Posted in Anak2 Biofapet.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.