Skip to content


Anytime you can

CIMG3734Limbangan, 18 Desember 2012. Hujan tak henti-hentinya mengguyur sepanjang perjalanan Priangan Timur dari Bandung sampai Tasikmalaya. Tak aneh jika, kerikil bahkan batu-batuan yang tak dapat digolongkan ukuran kecil terbawa aliran air, menggenangi badan jalan dan membuat perjalanan hari ini harus sangat ekstra hati-hati.

Perjalanan pada hakekatnya bukan hanya sekedar sebuah perpindahan tempat dan atau pergantian waktu. Ada banyak peristiwa kecil dan besar, ada cerita menyenangkan dan kadang menyedihkan. Saya lebih senang untuk mengatakan bahwa perjalanan adalah pergeseran spirit agar kita tak nampak apatis terhadap suatu perubahan waktu.

Banyak orang, kurang bisa merasakan kenyamanan dalam berhijrah dari satu waktu ke waktu berikutnya. Mensyukuri kehidupan, sudah pasti harus dilakukan. Dan cara kita mengapresiasi proses pun sudah selayaknya kita coba terus tingkatkan. Dengan cara itulah kualitas kita tetap terjaga. Standar berangkat dari kemauan, mungkin memang agak menyulitkan karena faktor eksternal seringkali menjadi penunda bahkan punya andil sangat besar menggagalkan sebuah keinginan.

Well, saya tak terlalu memikirkan deretan jumlah acara seminar, workshop, pelatihan dan sejenisnya. Yang saya coba ingat adalah banyaknya rapat berpengaruh signifikan terhadap kesehatan badan dan juga kesehatan emosional. Rentan terhadap sakit jiwa.

Banyak teman, rekan-rekan yang memberikan saran sangat baik dan bijak yaitu mengurangi aktifitas. Namun sepertinya susah, sesusah mengurangi nafsu makan. Namun saya pasti merenungkannya. Apalagi ada sebuah haditz, yang kira-kira: “Dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya” (HR. Muslim: 2588). Bersikap tawadhu’ karena Allah” artinya tawadhu’ yang dilakukannya adalah ikhlas karena Allah semata, bukan pura-pura tawadhu’ agar dikagumi manusia.

Ibnul Mubarak pernah mengingatkan: “Jadilah engkau orang yang tawadhu’ dan tidak menyukai popularitas. Namun janganlah engkau pura-pura tawadhu’ sehingga engkau menjadi riya’. Sesungguhnya mengklaim diri sebagai orang yang tawadhu’ justru mengeluarkanmu dari ketawadhu’an, karena dengan caramu tersebut engkau telah menarik pujian dan sanjungan manusia”.

Jalan kehidupan makin menanjak. Limbangan-Malangbong-Tasikmalaya tak seberapa menanjak. Dan, sambil lirak lirik rekan seperjalanan yang kelihatannya mulai jenuh dengan perjalanan. Saya mencoba memaknai perjalanan dengan mengkhayalkan apa yang akan terjadi esok dan kelak.

Sampai hari ini, beragam kesulitan telah terlalui. Sebagian dari mereka terselesaikan oleh waktu dan bagian lainnya masih menyisakan catatan misteri dan rahasia. Ada yang mengatakan kita dibekali oleh 4 modal oleh Allah SWT yaitu agama, akal, fitrah dan waktu. Tak mudah menderivasi agar aktifitas kita di hari-hari kemarin, hari ini dan esok benar-benar bisa menyelamatkan kita di hari akhir.

Dan, tak terasa juga kami sudah berada di komplek pondok pesantren Suryalaya. Ada beberapa hal yang ingin kami diskusikan di situ dengan keturunan Abah Anom. Learn everything you can, anytime you can, from anyone you can – there will always come a time when you will be grateful you did. (Sarah Caldwell).

Hujan masih terus mengguyur Tasikmalaya, namun waktu harus terus berjalan. Ada atau tidak ada hujan. Good day.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.