Skip to content


Ketidaksesuaian dan Ketidakpastian

Bandung, 20112012. Hari ini makan siang bersama anak-anak asdos biofapet agak terlambat. Waktu telah menunjukkan pukul 12.45 an. Sebentar lagi, giliran anak mahasiswa kelas D 2012 yang akan melaksanakan praktikum terakhir Biologi pada semester ini.

Pokok bahasannya adalah tentang ekosistem. Di luar laboratorium, beberapa kelompok mahasiswa nampaknya masih sibuk menyiapkan bahan presentasi hari ini, sementara sebagian kelompok lainnya masih mengedit film yang akan mereka tampilkan hari ini.

Sambil makan siang, kami membaca masukan-masukan pesan dan kesan anak-anak kelas C terhadap proses pelaksanaan praktikum semester ini. Dan dalam suasana santai, bersama beberapa asdos kami mendiskusikan tentang format praktikum biologi ke depan. Bagaimana mengurangi ketidaksesuaian dan ketidakpastian. Topik pembicaraan langsung menuju ke implementasi sistem manajemen mutu berbasis ISO.

Pengendalian ketidaksesuaian adalah satu diantara delapan klausul dalam ISO 9001:2008 yang mesti mendapat perhatian super serius. Dan dengan penerapan SNI ISO/IEC 17025:2008, pengendalian ketidaksesuaian semakin menjadi penting. Antara sistem layanan akademik dan layanan laboratorium memiliki keterkaitan dalam pembelajaran termasuk dalam pelaksanaan praktikum. Mengintegrasikan SMM ISO 9001:2008 dan SNI ISO/IEC 17025:2008 adalah obsesi kami.

Temuan ketidaksesuaian (non conformity) adalah fakta yang dapat dibuktikan bahwa sesuatu telah terjadi ketidaksesuaian antara implementasi dengan kriteria yang dirujuk. Tentunya agak berbeda dengan observasi, yaitu sesuatu yang diprediksi akan terjadi temuan pada masa akan datang. Fakta sekarang belum terjadi tetapi akan terjadi bila tidak dilakukan tindakan.

Satu hal yang menjadi cita-cita kami adalah bagaimana caranya anak-anak mahasiswa praktikan sejak dini telah mengenal sistem manajemen mutu, termasuk dalam pelaksanaan praktikum. Materi praktikumpun harus distandarisasi. Tentunya tidak disemua materi praktikum. Namun beberapa diantara Pokok-pokok bahasan praktikum sebaiknya memiliki acuan standart, bisa SNI, IUPAC, AOAC ataupun good practices lainnya. Yang penting memiliki standar dan rutin divalidasi .

Validasi metode adalah proses penetapan kesesuaian sistem pengukuran. Menurut SNI 19-17025-2008, validasi metode adalah konfirmasi pengujian dan pengadaan bukti yang objektif bahwa memberikan data analisis yang berguna. Sedangkan menurut Horwitz, validasi metode adalah proses pendemonstrasian dan konfirmasi kinerja khusus metode analisis sebagai fungsi mutu dan pengukuran statistik pada kondisi operasi yang ditentukan.

Singkatnya Dari ketiga definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa validasi mengandung parameter konfirmasi secara pengujian terhadap suatu metode sehingga dapat melengkapi bukti-bukti untuk menyatakan kesesuaian metode terhadap persyaratan dan tujuan yang telah ditentukan. Pada pelaksanaannya terdapat beberapa metode yang harus divalidasi di laboratorium sebelum digunakan sebagai metode dalam analisis rutin, yaitu: (a) Metode non standar, (b) Metode yang didesain atau dikembangkan oleh laboratorium, (c) Metode standar yang digunakan di luar rentang yang ditentukan dan atau (d) Metode standar yang mengalami modifikasi.

Parameter-parameter yang direkomendasikan dalam validasi metode adalah: selektifitas, limit deteksi, limit kuantitasi, recovery, jangkauan kerja linear, akurasi serta presisi sebagai ripitabilitas dan reproduksibilitas.

Secara umum dikenal tiga cara yang digunakan untuk evaluasi akurasi metode uji, yaitu: (a) Uji Pungut Ulang (Recovery Test). Uji dilakukan dengan mengerjakan pengujian di atas contoh yang diperkaya dengan jumlah kuantitatif analat yang akan ditetapkan, (b) Uji Relatif terhadap akurasi metode baku. Uji dilakukan dengan mengerjakan pengujian pararel atas contoh uji yang sama menggunakan metode uji yang sedang dievaluasi dan metode uji lain yang telah diakui sebagai metode baku dan (c) Uji terhadap Standard Reference Material (SRM).

Dengan menggunakan SMM ISO, dan ada standar acuannya lainnya artinya apa yang dilakukan mahasiswa selama praktikum pun harus diukur sejauhmana ketidakpastiannya. Jika 1 kelompok mahasiswa akan menggunakan alat dan bahan untuk prosedur tertentu. Lab, mesti secara teratur melakukan kalibrasi terhadap berbagai alat yang digunakan untuk 1 paket materi praktikum. Begitu juga jika menggunakan bahan, bahan-bahan tersebut harus telah diketahui SRM nya. Tak masalah jika mahasiswa praktikan menggunakan alat2 lain dan bahan lain yang tidak terstandarisasi. Yang penting ada evaluasi dan dihitung sejauhmana ketidakpastian hasil pengukuran yang dilakukan oleh mahasiswa dibandingkan dengan hasil oleh dosen dan atau asisten. Dengan cara begitu, ada pertanggungjawaban kita bahwa praktikum yang kita selenggarakan telah mengadopsi sistem manajemen mutu. Ke depan bisa saja hasil praktikum mahasiswa kita kirim ke lab lain untuk uji profisiensi atau uji banding, kenapa tidak mungkin?

Well, diskusi dengan anak-anak asdos biofapet terpaksa harus diakhiri. Praktikum ekosistem akan segera dimulai kembali. Pastinya tentang ketidaksesuaian dan ketidakpastian akan menjadi pekerjaan rumah bersama. Kami memiliki cita-cita luhur bersama. Hari ini kita masih cukup marjinal tapi tidak untuk hari esok. Semoga.

Posted in asisten.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.