Skip to content


Sore menjelang petang @Jatinangor.

Bandung, 21 September 2011. Sudah berminggu-minggu, debu membuat  udara Bandung tak lagi bagus untuk kesehatan.  Di berbagai sudut Kota tak susah untuk menemukan orang-orang yang  tak lagi malu menggunakan masker. Bukan karena takut tertular Flu Burung namun radang tenggorokanlah yang menjadi sebab musababnya. Jadi ketika sore ini, Kawasan Jatinangor diguyur hujan walaupun hanya sebentar namun rasanya menyegarkan. Seperti ada sebuah tambahan energi. Awal dari sebuah pergantian musimkah?.

Langit jatinangor yang sedikit lebih gelap juga tak mengurangi semangat anak2 2011 yang sedang asyik praktikum Biologi. Sore ini mereka praktikum entomologi, menggunakan preparat lebah dan ektoparasit.  Pada Sesi ke 4 praktikum hari ini justru anak2 asisten yang mulai sedikit loyo karena mulai kecapaian setelah dari pagi mendampingi praktikum. Mestinya 1 hari  dibatasi maksimum hanya 2 atau 3 kelas saja praktikumnya agar kami bisa sedikit punya waktu untuk sekedar istirahat.

Anak-anak praktikan yang sedang asyik melakukan pengamatan, bekerja bergerombol seperti semut. Mungkin seperti apa kata Saskya Pandita:  “When many work together for a goal, Great things may be accomplished. It is said a lion cub was killed By a single colony of ants”.

Saskya Pandita atau tepatnya Sakya Pandita Kunga Gyeltsen adalah seorang pemimpin spiritual Tibet dan seorang pemimpin Buddha yang terkenal di abad 11 (1182-1251)  dan dikenal sebagai seorang bijak yang sangat ahli bahasa Sanskerta. Di India, Cina, Mongolia dan Tibet dia dikenal sebagai salah satu tokoh yang  mahir dalam ilmu kedokteran, tata bahasa, dialektika, sastra, Sanskerta bahkan juga dikenal sebagai orang yang ahli dalam puisi, menari dan astrologi.

Ada tiga jenis serangga yang bukan hanya disebut, tapi menjadi nama surat dalam Al-Qur’an, yaitu semut (an-naml), laba-laba (al-ankabut), dan lebah (an-nahl). Surat semut (an-Naml), adalah surat yang ke-27 dalam urutan mushhaf. Ada doa bagus yang tersirat dari  Surat tersebut: “Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni`mat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”

Asyik juga bisa berdiskusi tentang serangga dengan anak2 mahasiswa baru. Sebenarnya yang menjadi topik utama adalah serangga yang sering berhubungan dan atau merugikan ternak. Tapi mungkin informasinya tak bisa terserap dengan sempurna sehingga preparat yang mereka bawa dan diskusinya melenceng ke keluarga serangga seperti semut, kupu-kupu, dan belalang. Ektoparasit seperti sarcoptest, Psoroptest dan ektoparasit pada ternak  tak tersentuh.

Dari kecil saya pun senang melihat perilaku semut (Hymenoptera Formicidae). Ada sekitar 10.000 spesies semut. Dan seperti serangga lainnya, semut memiliki 3 pasang kaki. Setiap kaki memiliki tiga sendi. Kaki semut sangat kuat sehingga mereka dapat berjalan sangat cepat. Sebagai perbandingan, jika seseorang pria bisa berlari secepat untuk ukuran sebagai semut maka, dia bisa berlari secepat kuda pacuan. Semut dapat mengangkat 20 kali berat tubuh mereka sendiri. Otak semut memiliki sekitar 250 000 sel. Jika otak manusia memiliki 10.000 juta sel maka  40.000 koloni semut memiliki otak kolektif ukuran yang sama sebagai manusia.

Sayangnya rata-rata umur harapan hidup semut hanya 45-60 hari. Semut menggunakan antenae mereka tidak hanya untuk menyentuh, tetapi juga untuk indra penciuman mereka. Kepala semut memiliki sepasang besar, rahang kuat. Rahang membuka dan menutup menyamping seperti sepasang gunting. Semut dewasa tidak bisa mengunyah dan menelan makanan padat. Sebaliknya mereka menelan jus yang mereka peras dari potongan-potongan makanan. Mereka membuang bagian kering yang tersisa.

Tentu kita tak boleh melihat semut sebagai hama, karena semut pun banyak manfaatnya bagi  ekosistem dan kehidupan manusia. Ada pepatah yang bagus untuk direnungkan: “Not to engage in the pursuit of ideas is to live like ants instead of like men. (Mortimer Adler).

Ada juga film-film horor tentang “semut” seperti:  Legion of Fire: Killer Ants! Yang dibuat berdasarkan karya Greg W. Anderson. Film horror nan sadis yang menggambarkan keluarga semut pembunuh (di Amerika Selatan) yang bangkit setelah puluhan tahun hilang, mereka muncul kembali akibat adanya aktivitas seismik yang menyebabkan pemanasan bawah tanah. Dan Mulailah  kebangkitan semut pembunuh tersebut dan membuat horror. Sampai pada akhirnya ada orang yang bisa  menemukan cara untuk menghentikan semut kejam tersebut. Selain film tersebut dan keluarga Marabunta, rasanya tak ada lagi cerita tentang semut yang mengerikan.

Usai praktikum Biologi pukul 17.10, kami pun bergegas pulang. Dan, dalam perjalanan sepanjang Cileunyi, Cinunuk, Cibiru dan Jl. Soekarno Hatta. Kami pun berjumpa dengan ratusan “semut” yang menggunakan helm naik sepeda motor. Macet total.

Macet adalah kosa kata yang tak asing di telinga karena hampir kita hadapi di jalan.  Di rumah sambil merobohkan badan, malam ini saya buka-buka buku Aesop lama tentang fabel. The Ants!.

Ants were once men and made their living by tilling the soil. But, not content with the results of their own work, they were always casting longing eyes upon the crops and fruits of their neighbours, which they stole, whenever they got the chance, and added to their own store. At last their covetousness made Jupiter so angry that he changed them into Ants. But, though their forms were changed, their nature remained the same: and so, to this day, they go about among the cornfields and gather the fruits of others’ labour, and store them up for their own use.

Maknanya  kira-kira adalah:  You may punish a thief, but his bent remains. Nahhhh.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.