Skip to content


Cerita yang tertinggal dari Pelabuhan Omle

Bandung, 25 September 2011.  Matahari sudah mulai menyembul ketika kami mengawali  perjalanan dengan  anak2 Biofapet ke Purwakarta.  Seperti biasanya, tak ada yang tak meleset dari waktu yang disepakati. Tapi pasti ada hikmah dari segala keterlambatan. Dengan terlambat, kami bisa melihat dan menikmati keramaian orang yang belanja di lapak-lapak Pasar Kaget di Metro yang biasanya hanya berlangsung pada hari minggu pagi sampai sekitar pukul 10.an.

Berpikir positip saja seperti  kalau kita ndengerin l lagunya Judy Garland:  I Got Rhythm.  Day can be sunny, with  never a  sigh. Birds in trees sing their day full a song.  Setiap peristiwa selalu memiliki alasan dan sisi selanjutnya adalah sebuah cerita yang biasanya asyik-asyik saja.  Akan lebih bagus kalau memaknai apa kata  Whitney Brown:  The past actually happened but history is only what someone wrote down.  Atau apa kata Pearl Buck:  If you want to understand today, you have to search yesterday

Dan setelah bertanya beberapa kali, akhirnya kami sampai juga di tepi Pelabuhan Omle atau kadang ada yang menyebutnya dengan Pelabuhan Usman. Panas sekali cuacanya, disana sini tanah meretak dan hijauan kering meranggas. Iseng-iseng saya buka internet, loaaH kita berada di Coordinates: 6°34’13″S 107°24’4″E. Pantesan saja.

Tujuan kami tentunya ke acara walimahan Adi&Titin di Kp KaliJaya Ds Tajursindang Kec Sukatani. Kecamatan Suka Tani ini ada di sebelah Barat Kec. Jatiluhur. Cukup luas juga kecamatan Sukatani ini, dan Ds Tajursindang adala salah satu dari  14 desa di Kecamatan tersebut. Untuk mencapainya yang lumayan praktis adalah titip mobil di Pelabuhan Omle kemudian naik perahu ke kampung tersebut. Lumayan murah, cuman 5000 rupiah per orang biayanya dan kita bisa menikmati pemandangan kanan kiri yang penuh dengan semacam estuarin/rumpon/sejenisnya di  Waduk Jatiluhur.

Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, merupakan tempat yang sangat potensial, untuk membesarkan berbagai jenis ikan, salah satunya adalah ikan patin atau dalam bahasa latinnya disebut pangasius sp. Ikan patin dibesarkan di jaring terapung. Keuntungan pembesaran dengan cara ini, ikan cepat besar dan tidak bau lumpur.

Pemandangan yang enak dilihat, tapi juga membuat nyinyir. Kolam jaring terapung yang terlalu overload di Waduk Jatiluhur ini juga menjadi masalah lingkungan. Setiap jaring berukuran 10 kali 10 meter, dan dapat menampung 15 ribu hingga 30 ribu ekor ikan. Konon katanya ada sekitar 17 sd 20 ribuan keramba jaring apung tapi kebanyakan liar dan 30 persennya kosong dan lebih banyak lagi yang ngga bayar pajak, nah Lho?. Idealnya di Waduk Jatiluhur hanya ada 4.000 Kolam jaring terapung saja dan wajarnya satu orang maksimal hanya memiliki 20 petak/kolam saja tidak ribuan. Begitu kata Pemerintah.

Tepat pukul 09. 00 pagi, rombongan 14 anak Biofapet telah tiba di acara  Walimatul ‘Ursy Ad&Titin, tapi ternyata rombongan dari Subang belum tiba. Jadi kami menunggu dengan sabar acara yang bersejarah tersebut.

Hukum walimatul  ‘urs adalah sunnah menurut jumhur ulama.  Sebagian  ulama  mewajibkan  walimah  karena adanya  perintah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan  wajibnya  memenuhi  undangan  walimah. Walimah  asalnya  berarti  sempurnanya  sesuatu  dan berkumpulnya  sesuatu.  Dikatakan    (Awlamar Rajulu)  jika  terkumpul  padanya  akhlak  dan kecerdasannya.  Kemudian  makna  ini  dipakai  untuk penamaan  acara  makan-makan  dalam    resepsi pernikahan  disebabkan  berkumpulnya  mempelai  laki-laki  dan  perempuan  dalam  ikatan  perkawinan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ” Umumkanlah pernikahan ini.  Adakanlah di dalam masjid dan meriahkanlah dengan pukulan rebana.”  Sabda Nabi lainnya: “bila salah seorang dari kalian diundang untuk menghadiri jamuan makanan, hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Jika tidak sedang berpuasa hendaklah ia ikut makan, dan jika sedang berpuasa, hendaklah ia ikut mendoakan.” Senang rasanya bisa menghadiri aacra  Walimatul ‘Ursy Ad&Titin.

Setelah shalat Dhuhur di Masjid Agung Purwakarta, kami pun cabut ke bandung untuk melihat penutupan Braga Festival 2011. Sebenarnya sabtu kemarin saya sudah melihat Braga Festival sekalian melihat Pameran Batik ASEAN di Gedung Merdeka Jl Asia Afrika, yang kebetulan berakhir sabtu kemarin. Tapi untuk solidaritas Biofapet tak apalah.

Banyak acara yang bisa dinikmati di Festival Braga misalnya:  permainan musik jazz dan musik blues oleh Belasan band blues akan beraksi sejak tengah hari hingga tengah malam, diselingi pemutaran film The Unseen Blues. Pada musik balada (ada konser Leo Kristi), bahkan juga lagu-lagu rock klasik.

Cukup menarik juga adanya “Area Sawah-sawahan”  yang seluruh padinya ditanam dalam pot ini di musik tarawangsa., permainan musik tradisional karinding dan  kesenian tradisional lainnya. Kemarin saya juga sempat lihat seni  debus, reog, teater, sulap, dan tarot, serta permainan alat musik kecapi dan  dari  Kelompok Payung Hitam. Banyak acara lain yang menarik seperti  pemutaran film independen, pelatihan membuat skenario dan tentunya aneka stan-stan dan saung untuk para pedagang, mulai dari makanan, pakaian, hingga benda seni. Menghibur dah.

Cerita diakhiri dengan makan malam di Braga Citywalk. Banyak pilihan di situ, ada Ronde Jahe Alkateri, iga bakar Si Jangkung, Sate Maulana Yusuf, Tahu Gejrot Pak Deden, Nasi Goreng Bogarasa Cibadak, Mie Kocok Kebon Jukut, Batagor Abun, Pempek Rama, Baso Tahu Sin Sien Hien, Lotek&Rujak Kampung, Ketan Bakar Lembang, Otak-Otak Pajagalan, Srabi Notosuman, Gorengan Simanalagi, Bebek Van Java, Kedai Penyet, Nasi Gudeg Banda, Mie Baso Anugerah Padjajaran, Nasi Bakar Ijo, Nasi Liwet Jambal Roti, dan lain-lain.

Well, malam ini bukan Judy Garland:  I Got Rhythm, yang ada dalam ingatanku. Tapi seorang penyanyi bernama Sonia Braga:  We can bring to characters dark and bright sides that nobody even dreams about. Kita harus bisa menjaga diri baik-baik diri sendiri dan teman di sekitar anda.“He’s very happy now, … He’s enjoying doing the show and things are to his liking. Having worked with him.

Thx for all: Biofapet.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.