Skip to content


Ketika semangat menghadiri kuliah di kelas mulai luntur dan terasa melelahkan.

Bandung,  19 Agustus 2011.  Kadang saya berpikir, kenapa  mesti hari minggu yang digunakan untuk hari libur bukannya hari jum’at?. Tentu banyak pertimbangan kenapa pikiran liar itu mesti muncul. Namun pada akhirnya, saya memutuskan untuk berpikir masa bodoh. Mungkin karena saya selalu melihat produktivitas tidak diukur oleh waktu namun pada dampak dan hasil.

Tepat pukul 06.15. Ketika matahari pagi masih malas menyemburat ke permukaan dan embun masih membasahi beberapa tempat, saya sudah nongkrong di Gedung Biru, istilah untuk gedung PPBS Unpad. Sepi adalah suasana pagi yang terbiasa saya dapatkan dan tak terlalu mengganggu perasaan. Hidup harus jalan terus dengan dan atau tanpa keramaian.

Tak lama di PPBS karena harus ganti kantor ke Fapet. Pagi ini adalah kuliah perdana untuk mata kuliah UU dan Kebijakan Pembangunan Peternakan. Mestinya pukul 07.30 perkuliahan dimulai. Dan alhamdulillah ruangan kuliah belum dibuka. Alhasil kuliah mundur 10 menit. Dan yang hadir hanya 14 mahasiswa. Hmmm.

Usai kuliah., pukul 09.00. Pindah ruangan ke Lab. Unggas. Hari ini adalah jam praktikum Biologi. Saya selalu bersemangat jika ada praktikum Biologi. Berhadapan dengan anak2 mahasiswa baru yang belum tercemar dengan lingkungan adalah sesuatu yang menyenangkan. Mereka masih memiliki semangat yang bagus.

Pukul 15.00, saya kembali ke kelas lagi untuk mengajar MK UU dan Kebijakan Pembangunan Peternakan. Alhamdulillah, kali ini 3 orang lebih banyak dari kuliah pagi tadi.

Saya paling malas berbicara tentang asumsi. Walaupun hal tersebut mestinya perlu sebagai bahan perenungan. Dan ‘protes’ bagi aku hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Lebih baik protes pada diri sendiri daripada ke orang lain yang kurang memiliki empati dan memiliki kepekaan.

Well, beberapa hari yang lalu saya mengikuti seminar dan lokakarya di Bappeda. Temanya adalah membahas tentang roadmap dan implementasi e-Government. Materi yang saya anggap sangat penting. Saya ingin mengutip dari Department of Economic and Social Affairs. United Nations, New York, 2010.

E-government – once a bold experiment and now an important tool for public sector transformation – has progressed to the point where it is now a force for effective governance and citizen participation, both at national and local levels. This is important. Until  governments have the capacity to lead development efforts and deliver services that fully respond to the needs of citizens, the achievement of the internationally agreed development  goals will continue to elude us. With the Millennium Development Goal time horizon of 2015 quickly approaching, it is no longer a question of whether we can afford information and communications technology in health, education, environmental protection and a multitude of other areas, but where to deploy them first and how rapidly gains can be realized.

Setiap 2 tahun sekali PBB  membuat e-government development index atau dikenal dengan EGDI.Dan saya ingin menyampaikan ke teman-teman tentang hasil survei Department of Economic and Social Affairs. United Nations, New York, 2010 tentang performans e-Gov negara2  di berbagai belahan dunia  (190  negara anggota PBB).

Ternyata kita masih sangat tertinggal dibandingkan negara lain Online service index and its components: index value: 0.2444 (ranking 102), Telecommunication infrastructure index and its components. Index value:  0.1143 (ranking 116).  E-participation index:  0.1286 (ranking 86). Human capital index: Index value: 0.8540 (ranking 87), Adult literacy rate (% ): 92.00, Combined gross enrolment  ratio for primary, Secondary  and tertiary  schools (%) hanya 72.20.

Dengan performans di atas maka E-government development index: 0.4026 jadi  kita hanya menempati ranking 109. Kurang giatkah pemerintahan sekarang? Ataukah sistem pendidikan yang salah karena merekalah yang menyediakan sumberdaya manusia?.

Koq bisa begitu?. Saya jadi ingat tentang semangat  mahasiswa saat kuliah dan atau praktikum. Bukannya tidak bersemangat tapi sebagian besar dari mereka hanya kurang bersemangat. Bagaimana dengan semangat mereka dalam memanfaatkan ICT?., mungkin mereka terlalu bersemangat, tapi sebatas untuk pesbukan dan twitteran. Buktinya kita adalah ranking ke 3 pengguna FB dan Twitter di dunia?. Terbukti bahwa pemanfaatan ICT kita masih digunakan untuk hal2 yang kurang produktif.

Adakah yang salah dengan kita para dosen?., pasti iya dan jelas. Dosen dan (saya pun) harus introspeksi. Mungkin perkuliahan dan praktikum harus lebih menarik agar mereka yang pada semester satu sangat bersemangat tidak hilang semangatnya pada semester2  berikutnya. Sangat disayangkan jika sumberdaya itu tersia-siakan untuk hal-hal yang kurang produktif.

Semoga puasa bulan ramadhan ini bisa menjadi hari-hari pencerahan. Semangat berkontribusi untuk keluarga dan negara dimulai dari para individu dan bisa dilihat di kelas. Sanggupkan mereka keluar dari jebakan hedonism? Wallahu’alam Bishawab.

 

Posted in asisten.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.