Skip to content


Karena belum tentu yang kita anggap baik itu baik dan yang kita anggap buruk itu buruk.

Bandung, 6 Agustus 2011. “ hello, work, work…..but then 3 weeks holiday 🙂 Hope you are well ! sunny august!. Begitu dia bilang, sebut saja namanya PKO. Saya senang dengan teman dari HKI Finland.  Penggemar  avaruusromua…. bluesministeri…… leirinuotio  ini termasuk sahabat aq di jango Online yang cukup menyenangka. Setidaknya sering melakukan “shout”.

Hari ini selain menyelesaikan persiapan seminar Pengembangan e-Gov Kab. Sumedang, sebenarnya tak ada acara khusus.  Memang ada baiknya juga pemerintah meliburkan hari sabtu agar kita bisa merefresh sejenak otot dan otak yang kadang jenuh kalau segalanya mesti diselesaikan di kantor. Di rumah pun kita bisa bekerja walaupun tak seintens kalau kerja di kantor.

Jika di kantor kita terikat dengan aturan kantor maka di rumah kita terikat dengan aturan dan etika rumah tangga. Dalam ajaran Islam, banyak ayat al-Qur`an dan hadist, yang memerintahkan disiplin dalam arti ketaatan pada peraturan yang telah ditetapkan. Diantaranya dalam surah an-Nisâ` ayat 59, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. an-Nisâ` [4]: 59).

Jadi yang penting kita memiliki niat dalam bekerja dan tetap dalam rambu-rambu, kaidah-kaidah, etika dan aturan dimanapun kita sedang berada. Bedanya kalau di kantor, kita tidak bisa bekerja sambil mendengarkan musik online, sambil chatting di tweeter atau fb. Di rumah kita bisa sedikit santai. Islam mengajarkan kita agar benar-benar memperhatikan dan mengaplikasikan nilai-nilai kedisplinan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun kualitas kehidupan masyarakat yang lebih baik. Mengisi setiap menit bahkan detik dengan hal-hal yang sifatnya produktif tanpa harus mengabaikan spirit hablubinanash.

Pagi ini di salah satu status Fb anak2 mahasiswa ada satu hal yang cukup menggelitik: “Lucunya negeri ini”. Mirip sebuah judul sinetron tapi saya tidak tahu apakah ia serius dalam menulis updates statusnya?. Dan lagian, saya juga tidak mengerti dalam konteks apa ia menuliskan statusnya. Tapi oke lah. Saya mencoba mengintepretasikan secara bebas dan suka-suka saya, dengan padanan kata Hummingbird Haylee: she is amazing! she always knows how to make me laugh’.

Yang saya rasakan, saya catat dan saya perhatikan: akhir-akhir ini kita kehilangan orientasi dalam berbangsa dan bernegara. Terlalu banyak diskusi yang seringkali berujung tanpa hasil bahkan sekedar resume. Terlalu banyak rapat yang seringkali hanya membuat tubuh dan otak kita merasa penat. Terlalu banyak basa basi yang akhirnya benar-benar membuat hasilnya benar-benar basi.

Rasanya kita benar-benar membutuhkan suasana yang merujuk apa kata Hummingbird Haylee: ‘Heartwarming and hugely enjoyable’ Closer.

Dalam ruang lingkup lebih kecil, katakanlah di kampus. Anak2 yang baru mau menjalani kuliah perdana, shubuh ini anak-anak Maba sudah mesti dibuat sibuk dan pening dengan segala atribut yang tidak ada kaitannya dengan pembentukan nalar dan jauh dari cita2 mendisiplinkan perilaku mahasiswa?. Alhasil para orangtua sejak malam sampai pagi tadi, ikutan sibuk, sekedar untuk suatu acara yang lebih bersifat seremonial, bukan substansial.

Mestinya di bulan suci ramadhan, kita harus pandai-pandai menggunakan waktu sebaik-baiknya. Jangan kita gunakan waktu untuk kepentingan akhirat namun mengorbankan kepentingan duniawi, ataupun sebaliknya. Menggunakan waktu dalam usaha mencari karunia dan ridha Allah, secara seimbang dan proporsional.

Disiplin sangat terkait dengan nilai-nilai moral ajaran agama masing-masing. Pesan-pesan moral di dalamnyalah yang akan membuat etos kerja mereka kelak (insyaalloh) akan menjadi bekal dalam bekerja. Dan para senior memiliki kewajiban untuk mengarahkannya.

Well., lain kepala pasti lain isinya. Biasa saja berbeda pendapat asal tidak memaksakan. Bukan masalah HAM, yang juga jauh lebih penting adalah hati nurani. It’s yourself. It’s yourself. It’s yourself, don’t you know. More than anyone, more than me. Begitu kata Judy Garland dalam senandungnya: It’s yourself.

Lagian tidak patut bagi kita yang mengaku diri ini muslim, menggunakan apa kata orang banyak sebagai standart dalam berperilaku. Hanya Allah sajalah yang mampu menentukan itu adalah hal yang bagus dan tidak. Karena belum tentu yang kita anggap baik itu baik dan yang kita anggap buruk itu buruk.

Mari kita mulai mulai belajar bekerja bukan mengerjain. Semangat dalam bekerja merupakan keharusan untuk siapa pun yang ingin mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Baik sukses di dunia maupun akhirat. Begitu pun, dengan orang yang semangat dalam bekerja, dia akan meraih kebagiaan. Bahagia karena akan mendapatkan impian dan harapannya.

Somewhere over the rainbow, way up high. There’s a land that I heard of, once in a lullaby. Somewhere over the rainbow, skies are blue. And the dreams that you dare to dream, really do come true. Someday I’ll wish upon a star. And wake up where the clouds are far behind me. Where troubles melt like lemon drops away above the chimney tops. That’s where you’ll find me.

Somewhere over the rainbow, bluebirds fly. Birds fly over the rainbow, why then, oh why can’t I? . (Over The Rainbow by Judy Garland).

Posted in asisten.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.