Skip to content


Hidup tak cukup hanya untuk berhitung mundur namun juga harus berpikir ke depan.

Bandung, 28 Juli 2011. Gemeretak dan lenguhan suara sapi  membuat suasana yang sudah cukup ramai menjadi semakin meriah.  Beberapa peternak dengan lembutnya mengelus badan dan sesekali memberikan rumput gajah, tak peduli dengan penonton yang melimpah ruah memadati lapangan yang sebenarnya tak terlalu luas.   47 ekor sapi potong PO, peranakan PO dengan Simmental, Limousin, Brahman dan Angus dari berbagai umur  itu  berjejer rapi menunggu saat dimulainya penilaian. Sebagian besar sapi pasti  tak saling mengenal karena mereka memang juga baru berdatangan beberapa jam yang lalu dari aneka penjuru di Jawa Barat.

Hanya berjarak beberapa meter dari barisan sapi potong, puluhan sapi perah FH juga berjejer rapi. Sebentar lagi mereka juga akan ikut kontes ternak. Bedanya dengan sapi potong, sapi-sapi perah ini lebih nurut dan lebih rapi. Tak berangasan seperti sapi potong.

Selain sapi potong dan sapi perah, kontes ternak tingkat  Jawa Barat yang sering dikenal dengan Pesta Patok ini juga diikuti ternak domba dan kambing. Tahun ini  Kab. Purwakarta, tepatnya desa Babakan, kecamatan Wanayasa menjadi tempat dilaksanakannya Pesta Patok ke IX dan Kontes Ternak 2011 Jawa Barat.

Ini adalah wahana untuk memotivasi peternak menghasilkan bibit unggul, karenanya harus benar-benar dimanfaatkan. Kalah menang hanyalah masalah nomor saja, yang jauh lebih penting adalah kedepannya:  harus menjadi pembelajaran dan merancang perbibitan lebih baik, lebih bersemangat dan amanah dalam melayani.

Bertemu dan berinteraksi dengan peternak, dengan para kolega yang bergerak di sektor swasta (kesehatan, perbibitan, alsin), kolega-kolega yang bekerja di dinas-dinas peternakan bahkan para alumnus pastilah sangat menyenangkan. Sangat mengesankan, bertemu dengan mantan-mantan mahasiswa yang sewaktu kuliah di kampus bahkan jarang ngobrol atau sekedar ngomong-ngomong.  Di lapangan atau momen seperti pesta Patok, jarak sosial  terpangkas lebih pendek. Jauh di mata dekat di hati benar-benar terwujud.

Jam sudah menunjukkan pukul 22 an ketika, kami terpaksa harus meninggalkan Pesta patok yang akan dibuka keesokkan harinya. Yang penting tugas pokok sebagai juri kontes sudah terselesaikan dan saatnya untuk kembali. Besok kami harus melanjutkan aktifitas di kampus. Kebetulan hari  kamis 28072011, acaranya sangat padat.  Selain ada Lokakarya Akademik, juga akan ada pelatihan2 untuk tujuan penerapan ISO 17025:2005 di Pusat Pelayanan Basic Science.

Malam hari, saat pekerjaan maraton 4 hari terakhir terselesaikan, barulah terasa penatnya badan dan puyengnya pikiran. Dimulai dengan menyelesaikan laporan e-Gov,  seminar tentang Pakan dan Alsin di Hotel Sariater, Ciater dan berlanjut dengan Seminar tentang Sapi Perah di Hotel Grand Aquilla, Kontes Ternak dan Pesta Patok di Purwakarta dan terakhir Lokakarya akademik dan Pelatihan ISO 17025:2005. Walaupun secara fisik membuat capai namun semuanya menyenangkan. Harus menyiapkan materi saja yang agak kurang menyehatkan. Seperti dikejar setoran, begitulah kira-kira.

Beberapa catatan penting pastilah ada:  Usaha peternakan, apapun bentuknya memiliki tujuan yang sama yaitu perolehan efisiensi produksi dan efisiensi ekonomi yang optimal. Untuk mencapai tujuan tersebut peternak harus (a) memperhatikan input dan output untuk tujuan produksi, (b) mengetahui paramater zooteknis, dan (c) melakukan evaluasi proses atau sistem produksi secara terus menerus menggunakan prinsip PDCA (Plan, Do, Check and Action).

Manajemen, pengelolaan atau tatalaksana adalah suatu “seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang-orang”.  Sebagai bagian integral dari sistem produksi maka pengelolaan faktor-faktor produksi sangat mempengaruhi keberhasilan manajemen pemeliharaan ternak.  Melalui optimalisasi sumberdaya yang dimiliki maka produktivitas ternak dapat dimaksimalkan, sehingga tujuan dan standar produksi yang diinginkan dapat tercapai.  Pemeliharaan ternak harus dilakukan secara sistematis. Untuk suatu kegiatan tertentu proses-proses kegiatan harus berdasarkan prinsip efisiensi produksi dan ekonomis serta penggunaan semua sarana dan prasarana secara efektif dengan kaidah yang lazim berlaku dalam sistem produksi ternak.

Peternak modern adalah mereka yang dalam menerapkan Good Farming Practices dan Good Husbandry Practices tidak saja menggunakan buku-buku pedoman, sering menerima pelatihan-pelatihan teknis namun juga menggunakan standart-standart normatif yang biasa dipergunakan untuk menjalankan usahanya. Misalnya: menerapkan SNI yang terkait dengan komoditasnya, paham akan peraturan pemerintah terkait Menteri Pertanian membuat Keputusan Menteri Pertanian tentang Pedoman Cara Pembuatan Pakan Yang Baik (CCPB), paham terhadap Codex Alimentarius Comission seperti CAC/RCP 54-2004 Code Of Practice On Good Animal Feeding, GMPs  dan Good Breeding Practices dan lain-lain.

Dan dalam perspektif keamanan pangan, para peternak di masa depan secara pelahan dan pasti harus paham dengan sistem manajemen mutu berbasis HACCP, SMART, SIPOC, Six Sigma, ISO dan lain. Tinggal dipilih mana yang lebih cocok, pas dan sreg.

Well, hidup tak cukup untuk hanya berhitung mundur namun juga harus berpikir ke depan. Marhaban ya Ramadhan, bulan suci ramadhan tinggal beberapa jam lagi. Saatnya mengurangi aktifitas duniawi.  Berbagai hiruk pikuk kehidupan yang menakjubkan mesti dikajiulang, harus diamati dan dilihat dengan hati konsekuensinya.

Saatnya mengeavaluasi diri dan berkontemplasi. Pasti banyak lubang-lubang yang harus diperbaiki, pasti panyak bolong-bolong yang mesti ditambal.  Mesti  berusaha menjadi orang yang sabar dan bertawakal. “Alladziina shabaruu wa ‘alaa rabbihim yatawakkaluun”.

Mohon maaf lahir dan bathin. Wilujeng shaum.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.