Skip to content


Sebuah ruang untuk memupuk kebersamaan dan kesetiakawanan.

Bandung, 29 Juni 2011. Sejak sore hari, langit di atas Bandung sudah diselimuti mendung. Menjelang Isya’ petir dan kilat menyambar-nyambar dan kelihatannya tak lama lagi hujan akan segera turun.

Hari ini bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW (Rajaban). Sebuah hari yang memiliki makna penting dalam ruang imajinasi umat Islam. Bukan hanya mirajnya seorang mukmin dalam upaya pendakian spiritual. Seorang mukmin dituntut untuk semakin meningkatkan kualitasnya. Semakin lapang dada, rendah hati dan tajam hati nuraninya.

Q.S. Al-Isra 1: “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi di sekelilingnya. Untuk kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kekuasaan kami. Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha mengetahui”.

Beberapa menit yang lalu, Romi salah seorang asisten biofapet pamitan, untuk melanjutkan perjalanan berikutnya yaitu: bekerja. Sedari awal saya yakin bahwa kampus adalah wahana untuk belajar. Mungkin biofapet hanyalah sebuah shelter sebuah tempat antara untuk menuju perjalanan berikutnya. Tamat belajar sebenarnya hanya sebuah istilah yang kadang terasa absurd. Dan shelter itu setiap saat bisa digunakan manakala teman2 masih membutuhkan untuk bertanya ataupun sekedar untuk berteduh sementara.

Perasaan itu barangkali bisa diwakili dari senandung Seorang penyanyi lawas yang juga seorang pegiat hak-hak sipil bernama Lena Mary Calhoun Horne dalam lagunya Tomorrow Mountain: Just across Tomorrow Mountain. There’s a happy city, they say. Where the people are grand and time is planned. Yah, hanya Far across Tomorrow Mountain. Can’t you cross that distant mountain?.

Tak ada yang tidak bisa kita lakukan jika kita berusaha dan memiliki niat yang kuat. Mungkin tak harus sedramatis kisah Yu Gong yang konon katanya dianggap bodoh karena berusaha memindahkan dua gunung tinggi antara Jizhou di Selatan dan Heyang di utara Tiongkok.

Dalam sebuah hikayat: Seorang pria Zhi Sou (orang pandai) melihat mereka bekerja dan berusaha menghentikan mereka, berkata, “ Anda terlalu bodoh, tua, dan lemah bahkan mengambil rumput dan pohonpun tak mampu. Bagaimana Anda bisa memindahkan gunung yang tinggi?”

“Anda salah,” Yu Gong berkata dengan mendesah.” Lihat, anak-anakku bisa meneruskan pekerjaanku setelah saya meninggal. Ketika anak-anakku meninggal bisa diteruskan cucu-cucuku. Dari generasi ke generasi, tak kan berakhir. Tetapi Gunung-gunung itu tidak bisa tumbuh tinggi. Apakah Anda ragu saya tidak bisa memindahkan gunung-gunung itu?”

Kemudian Dewa di Surga, setelah mengetahui kisah Yu Gong, sangat terharu. Dia kemudian memerintahkan malaikat untuk memindahkan dua gunung tinggi itu.

Apakah Anda masih percaya bahwa orang-orang seperti Yu Gong adalah bodoh? Dengan tekad, apapun dapat dicapai. Dan pada akhirnya, saya pun setuju dengan apa kata Doris Day: Que sera, sera. Whatever will be, will be. The future’s not ours, to see. Que Sera, Sera. Selamat bekerja Rom, selamat menyongsong masa depan.

Harus selalu lapang dada?. Saya kira itu tak mungkin dilupakan. Surat Al-Insyiraah: “Bukankah Kami telah melapangkan bagimu: dadamu (wahai Muhammad serta mengisinya dengan iman dan hidayah pertunjuk)? Dan Kami telah meringankan bebanmu (menyiarkan Islam)- Yang memberati tanggunganmu, (dengan memberikan berbagai kemudahan dalam melaksanakannya)? Oleh itu, maka (tetapkanlah kepercayaanmu) bahwa sesungguhnya tiap-tiap kesulitan akan disertai kemudahan, bahwa sesungguhnya tiap-tiap kesukaran, disertai kemudahan. Kemudian apabila engkau telah selesai (melaksanakan amal sholeh), maka bersungguh-sungguhlah engkau dalam berusaha (mengerjakan amal sholeh yang lain), Dan kepada Tuhanmu saja hendaklah engkau memohon.”

Ada keyakinan, jika kita bersedih hati karena kehilangan orang terdekatnya, maka cara menyembuhkannya adalah dengan membaca berkali-kali Surah Al-Insyiraah, insyaalloh sesudah membaca Surah Al-Insyiraah, ajukan doa agar apa yang diinginkan terkabul atas ijin Allah SWT.

Dan, esok?. Hidup harus selalu optimis. Semangat Isra miraj harus menjadi pembelajaran bagi kita. Hanya saja seperti yang kita inginkan sejak awal spirit anak2 biofapet adalah kebersamaan, kesetiakawanan dalam semangat: “Innama al-umam al-akhlaq ma baqiyat, fain hum dzahabat akhlaquhum dzahaba”. Di dekat kita saling mengingatkan, di kejauhan kita saling mendoakan. Insyaalloh.

Posted in Anak2 Biofapet.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.