Skip to content


Buku dan maknanya dalam sepertiga malam.

Bandung, 23 Juni 2011. Mendadak jenuh, setidaknya itulah yang sedang aku rasakan. Maghrib baru saja berlalu. Aku berharap  buku bagus The Rule of Four karya Ian Caldwell & Dustin Thomason bisa sedikit mengurangi rasa jenuh namun ternyata itu pun tak cukup. Saya pastinya tak sedang resah seperti Watson ataupun seperti Sherlock Holmes yang secara cerdik memecahkan misteri dalam Petualangan di Rumah Kosong, “the adventure of the empty house”.

Tapi sendirian di rumah bagi saya serasa sepi dan senyap, bahkan keresahan itu menyergap sampai ke neuron dan sel2 hepatocyte. Apa boleh buat, saya harus cari udara segar sekedar untuk refreshing.

Tak sampai setengah jam, saya pun sudah duduk manis di Hoka-hoka Bento BSM, menikmati Paket A 2 pcs shrimp roll + 1 pcs spicy chicken + 1 porsi beef yakiniku + 1 porsi salad ekstra + 1 porsi nasi dan segelas es jeruk. Dan hanya butuh 20 menit untuk menyelesaikannya.

Malam jum’at mungkin merupakan waktu yang tepat untuk mencari buku bacaan di Gramedia, agak sepian. Salah satu yang ingin aku cari adalah karya-karya Jodi Picoult atau nama lengkapnya Jodi Lynn Picoult. Wanita yang baru sebulan berulang tahun ke 45 adalah penulis novel bergenre fiksi yang sangat handal. Bayangkan saja, buku pertamanya ditulis saat ia berumur 5 tahun: “The Lobster Which Misunderstood”. Dan terakhir tahun 2011 ini ia menulis novel berjudul: “Sing You Home”, namun sayangnya belum terbit di sini. Ada sekitar 20 an karya Picoult dan karya dia seperti The Pact, Plain Truth, The Tenth Circle, My Sister’s Keeper saya anjurkan untuk dikoleksi.

Buku lain yang mau saya cari adalah karya Sebastian Fitzek, seorang jurnalis dan penulis yang masih muda tapi tulisannya sangat kuat. Novelnya berjudul “therapy” sangat fenomenal dan layak dikoleksi. Bulan juni ini Fitzek melounching karyanya: “Der Augensammler” tapi belum ada di sini.

Penulis lain yang sangat saya sukai adalah Dorothy Garlock, Sara Gruen dan tentu saja novelist pavorit aku yaitu Kate DiCamillo, yang pada tahun 2011 ini mendapat Theodore Seuss Geisel Medal dari novel bergenre fabel: Bink and Gollie.

Tak lama main di BSM karena niatnya memang cuman untuk makan malam, cari buku dan beli roti breadtalk. Pukul 22.00 an saya memulai membaca 1 dari 4 novel yang kelihatannya bagus: The Moon Looked Down. Buku ini sudah terbit 2 tahun yang lalu tapi baru bulan mei kemarin diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

The Moon Loked Down menceritakan kejadian pada awal-awal perang dunia. Tentang perjuangan Sophie Heller dan keluarganya yang melarikan diri dari Nazi Jerman dan mencari kehidupan baru baru di Amerika. Namun ternyata mereka menghadapi banyak masalah di lingkungannya yang baru di Victory, Illinois, USA.

Apa sebenarnya makna buku bagi seseorang?. Well, Abraham Lincoln pernah mengatakan tentang makna sebuah buku, katanya: The things I want to know are in books; my best friend is the man who’ll get me a book I ain’t read. Ada pesan-pesan moral yang seringkali bisa kita maknai, walaupun seperti kata Oscar Wilde: There is no such thing as a moral or an immoral book. Books are well written, or badly written. Mirip-mirip dengan apa kata Confucius: You cannot open a book without learning something.

Buku adalah salah satu sumber ilmu, motivasi, inspirasi, imajinasi dan lainnya, namun tentu ada batas-batas waktu yang harus diluangkan. Tak boleh terlalu larut dan berlebihan menyikapinya karena pada akhirnya apa yang kita lakukan dan kerjakanlah yang jauh lebih penting. Knowing is not enough; we must apply. Willing is not enough; we must do. Begitu kata Goethe. You cannot plough a field by turning it over in your mind. Kata sebuah pepatah kuno.

Sebagai sumber ilmu, banyak buku yang terlalu bagus dan sayang untuk tidak dibaca. Ilmu adalah kata yang berasal dari bahasa Arab, masdar dari ‘alima – ya’lamu yang berarti tahu atau mengetahui. Dalam bahasa Inggris Ilmu biasanya dipadankan dengan kata science. Jadi tak ada salahnya seseorang mesti banyak membaca.

Ilmu mengkaji hal-hal yang bersifat empiris dan dapat dibuktikan, filsafat mencoba mencari jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh Ilmu dan jawabannya bersifat spekulatif, sedangkan Agama merupakan jawaban terhadap masalah-masalah yang tidak bisa dijawab oleh filsafat dan jawabannya bersifat mutlak.

Saya tak ingin mempertentangkan pengertian “Ghair Mutanahi bil Fi’l” atau mempertentangkan antara filsafatnya Plato, Aristoteles dengan falsafah agama. Tapi tentang pentingnya sebuah ilmu bagi kemaslahatan. Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam , hal ini terlihat dari banyaknya ayat AL qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulya disamping hadis-hadis nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu. Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak wajib bagi setiap muslim dan muslimah menuntut segala ilmu, tetapi yang diwajibkan adalah menuntut ilmu perbuatan (‘ilmu AL hal) sebagaimana diungkapkan, sebaik-baik ilmu adalah Ilmu perbuatan dan sebagus–bagus amal adalah menjaga perbuatan”.

Well, malam sudah sangat larut. If one cannot enjoy reading a book over and over again, there is no use in reading it at all. Begitu kata Oscar Wilde.

Kata orang, alangkah beruntungnya jika kita bisa memanfaatkan sepertiga malam itu untuk melakukan ibadah kepada Allah yang telah menciptakan kita, memohon ampunan-Nya serta mensyukuri atas segala karunia-Nya. OMG.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.