Skip to content


Memaknai Hari Ayah dan HBD my Son.

Bandung, 19 Juni 2011. Sepi, itulah salah satu hal yang sangat terasa. Di depan rumah,  ada sebuah taman bermain yang lumayan cukup luas. Seperti biasanya pada hari minggu pagi bapak-bapak dan ibu-ibu nampak asyik bersenam ria sambil mengikuti irama lagu yang lumayan keras memekakkan. Tapi sepi? Mestinya denyut kehidupan harus sudah mulai ramai karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Tapi sendirian di rumah di hari minggu memang sungguh menakjubkan.

Saya: “Dik, selamat ulang tahun. Makin rajin,  taat sama orang tua dan semoga semakin tambah dewasa. Amin.”

Thareq: “Iya, terimakasih Pa.”

Saya: “Sudah sampai dimana sekarang?”

Thareq: “Barusan sudah lewat Lapindo, Sidoarjo.”

Surabaya, Pasuruan, Lumajang dan Jember. Sayangnya musim libur, musim menyambangi orang tua, musim mengenang kembali kampung halaman yang dulu-dulunya merupakan acara pokok di akhir bulan juni sd awal  juli dalam  beberapa tahun terakhir tak lagi bisa dinikmati. Masih sangat beruntung,  jarak  840  km di ujung timur pulau Jawa itu tak lantas memutus komunikasi.  Chatting di BBM membuat dunia sedemikian dekat.

Minggu, 19 Juni 2011,  saya tak tahu apakah anak saya satu-satunya itu tahu bahwa hari lahir dia bersamaan  dengan hari Ayah?. Tapi kelihatannya dia tidak tahu. Hari ini adalah Hari Ayah atau orang luar sering menyebutnya sebagai Father Day. Di beberapa negara pada Father Day dirayakan dengan syahdu tapi disini  jarang terdengar, kalah populer dengan Hari Ibu.

Hari Ayah adalah semacam perayaan untuk menghormati seorang  ayah. Hari ayah  dirayakan pada hari Minggu ketiga bulan Juni untuk melengkapi dan menghormati Hari Ibu. Kebiasaan yang telah dilakukan sejak  awal abad kedua puluh  ini disertai dengan pemberian hadiah, makan malam khusus untuk ayah,  saling mengingatkan dan mendoakan antar keluarga.

Kasih sayang orangtua, terutama sangat penting agar anak belajar mencintai orang lain. Keteladanan seorang  anak bermula dari lingkungan kecil yaitu keluarga. Bahkan seorang ibu bisa jadi lebih besar pengaruhnya terhadap anak.

Buktinya Rasulullah menyanjung para ibu seperti dalam hadits: “Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti kepada ibumu, karena sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya.” (HR Imam Ahmad & Nasa’i). Hadits itu membuktikan betapa berharganya seorang ibu hingga surga bayarannya untuk orang yang berbakti padanya.

Bagaimana dengan peran seorang ayah?  Peran seorang ayah juga yang tak kalah penting  seperti halnya  peran yang dimiliki oleh seorang ibu. Seorang ayah dituntut untuk selalu bekerja keras, profesional dan teguh pada iman. .“Sesungguhnya Allah mencintai jika seseorang melakukan suatu pekerjaan hendaknya dilakukannya secara itqon (profesional)”. HR Baihaqi dari Siti Aisyah ra.

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.”” (HR. Bukhari).

Rasulullah saw bersabda, ”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas).

Hati saya menjadi lumayan teduh mengingat ayat-ayat dan hadits yang terkait dengan pekerjaan dan peranan orangtua. Namun sekaligus juga terenyuh dan terharu jika mengingat ayah yang telah cukup lama mendahului. Sangat ajaib, bahwa kita ada disini. Begitulah, menjadi orang tua berarti kita harus siap berjihad. Seorang ibu berjihad dalam rumahnya membesarkan dan mengasuh anak sedangkan seorang ayah berjihad menafkahi keluarga. Saling bahu membahu.

Walaupun ada penelitian bahwa seorang  ibu cenderung membuat anaknya teratur, manis dan tenang, dan sebaliknya para ayah lebih suka membangkitkan semangat, menantang nyali atau mengambil resiko  dan menstimulasi aktivitas. Pada umumnya para ibu menggendong anak – anak mereka dengan posisi menghadap kedalam dan lebih melindungi sang anak, sementara para ayah lebih cenderung menggendong dengan posisi anak menghadap keluar, mempersiapkan mereka untuk lebih berani menatap hidup (Kata Jim Plouffe, Reader Digest).

Para ayah cenderung membiarkan anak belajar dari pengalaman yang ada, bahkan kadang kala membiarkan mereka berbuat kesalahan agar bisa memetik hikmahnya. Namun keduanya saling mendukung.

Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk menyangi keluarga, termasuk anak di dalamnya. Ini berarti Beliau saw mengajarkan kepada kita untuk memenuhi hak anak terhadap kasih sayang. Sabda Rasulullah saw: Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling penyayang kepada keluarganya.”

Seorang ahli (Dorothy Law Nolte) mengatakan :”Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” Bila orang tua gagal mengungkapkan rasa sayang pada anak-anaknya, anak-anak tersebut tak akan mampu menyatakan sayangnya kepada orang lain.

Pada akhirnya kita mesti mengingat bahwa: “Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah).

Makna dan hakekat seorang ayah?. Terlalu banyak yang mesti dikatakan. Ada pepatah kuno yang mengatakan: “A truly rich man is one whose children run into his arms when his hands are empty”.

Clarence Budington Kelland mengatakan: He didn’t tell me how to live; he lived, and let me watch him do it.   Dia tidak memberitahu saya bagaimana untuk hidup, ia hidup, dan membiarkan aku melihat bagaimana dia melakukannya. “Blessed indeed is the man who hears many gentle voices call him father!  (Lydia M. Child).

Karunia terbesar yang pernah saya miliki  datang dari Allah, aku memanggilnya Dad!. Begitu kata orang. Selamat untuk Hari Ayah dan HBD my Son. 19 Juni 2011.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.