Skip to content


Bebek apa yang kalau berjalan selalu ke arah kiri.?

Situ Cileunca, 2 Juni 2011. Kabut dan embun pagi masih   menyelimuti kawasan Situ Cileunca Pangalengan.  Di tepian danau buatan Belanda,  kapal-kapal kecil itu masih diam seribu bahasa, sepi. Semuanya masih merapat, hampa, termenung dalam kesepian. Mereka mungkin menunggu kedatangan kami, yang ingin menikmati suasana di situ sepagi mungkin.  Dan, walaupun telah beberapa kali mengelilingi Situ Cileunca dengan kapal kecil tapi saya selalu yakin kesegaran udara di sini  tak akan membuat orang pernah bosan. Merefresh otak agar kembali segar.

Sesekali kami mendiskusikan kenapa air danau sekarang nampak lebih berwarna hijau, bagaimana kondisi pengontrol ketinggian air (Waterbouwkundige) di sisi sebelah timur Situ Cileunca air yang keluar dari kontrol itu mengalir ke Sungai Palayangan yang kemudian digunakan untuk menggerakan turbin di PLTA Plengan?.

Hanya sekali putaran dan tak lebih dari setengah jam, kami pun segera menyantap makanan yang telah kami pesan di sebuah rumah makan di situ. Menu khas Sunda: ikan mas, gurame, ayam kampung dan lalapan. Tidak ada kembang kol, baby bok choy, caisim, teri, kuetiau kering bahkan kentang padahal Pangalengan terkenal karena itu, tapi daun bawang, pala, merica dan baunya minyak wijen lumayan menguatkan badan sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.

Ngga’ terlalu lama di Situ Celeunca Pangalengan, menjelang pukul 08.30   melalui Pulosari, kami bergerak ke perkebunan teh Waspada di riung gunung. Tujuan berikutnya adalah ke perkebunan teh Gambung Ciwidey. Selain pohon teh dan pinus, yang bisa dinikmati di situ adalah pohon kayu putih yang populasinya mulai tinggal sedikit.  Perjalanan menuju ke Ciwidey lumayan  berliku dan naik turun tapi disitulah nikmatnya.

Jalan teroboson dari Pangalengan ke Ciwidey ini bisa memangkas sekitar 25 km. Tapi waktu yang ditempuh menjadi jauh lebih lama karena selain jalannya kecil berliku naik turun juga di sana sini sudah rusak. Begitu sempitnya sehingga kalau berpapasan dengan mobil lain, salah satu harus menepi atau berhenti.  Teman2 yang suka olahraga sepeda gunung, memanfaatkan jalur ini sehingga menambah daftar kehidupan di situ, dan mungkin sambil menghirup harumnya bau minyak kayu putih. Di perjalanan kami berpapasan dengan rombongan bicycle tersebut: mountain bikes, road bikes, bmx dan sejenisnya.

Di beberapa kesempatan, kami sengaja berhenti. Pemandangan yang indah tak boleh dilewatkan, viewnya memang bagus sekali, That’s amazing view pokoknya. Seperti karpet permadani hijau yang luas menutupi perbukitan, jadi pengin tiduran di atas kebun teh,  Kata Shena.

Dan di beberapa tempat, pastinya memori ini mengingatkan saya pada anak2 asdos biofapet generasi 2005 dan 2006.  Kami pernah bekerja bersama dengan mereka dan ke daerah ini beberapa tahun yang lalu. Orang Belanda memang ngga bisa jauh dengan Gezith (panorama) dan  gebergte (pegunungan). Generasi sekarang dalam hal satu ini beruntung dapat ‘mewarisi’ peninggalan2 mereka.

Well, walaupun memasuki kawasan kawah Putih Gn Patuha Ciwidey lumayan macet tapi tak mengurangi semangat kami untuk menuju ke sana. Tak salah jika orang bilang Kawah Putih, Situ Patengan, kawasan air panas Cimanggu,  Ranca Upas dan sekitarnya adalah surga yang tercecer. Luar biasa sang Maha Pencipta: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya”. [Ibrahim : 34].

Sangat menyenangkan ada di daerah dengan ketinggian 2300 meter. Sebuah perjalanan yang menyenangkan karena ada pengayaan dan keseimbangan rohani dan bathin. Dengan waktulah kita memiliki kesepakatan untuk saling mengerti dan memahami. Dengan kebersamaanlah kita bisa saling menghargai perbedaan.

Perjalanan yang penuh teka teki di sekitar Ciwidey ini  diakhiri di sebuah tempat  yang menawarkan gurihnya bebek goreng. Namun minuman secangkir bandrek lah yang mampu memberikan rasa hangat di tenggorokan yang dari kemarin2 serasa kering.

Akan ada perjalanan lain yang lebih menyenangkan atau barangkali sebaliknya lebih menyulitkan. Tapi percayalah, bukan perjalanannya yang penting namun kesempatan untuk saling berbagi, saling memberi, saling mendorong dan saling mengingatkanlah yang jauh lebih penting.   Sepertinya kita harus lebih mencermati sabda nabi: Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti satu bangunan, sebagiannya menguatkan yang lainnya.

Anyone can give up, it’s the easiest thing in the world to do. But to hold it together when everyone else would understand if you fell apart, that’s true strength. Thx untuk: Citra, Anne, Shinta, Romi, Adi, Shena, Dewi Rahayu, Inggit, Ambar, Novia dan Akbar.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.