Skip to content


Peduli dan Empati: Boleh dan Harus.

Bandung, 20 Mei 2011. Shubuh baru saja berlalu namun kandang sapi perah sudah selesai dibersihkan. Sebentar lagi Pak Dodo akan segera memulai proses pemerahan. Paling lambat pukul 05.00 susu sudah harus terkumpul di TPK Cihawuk. Pak Dodo pasti tak ingin susu yang mereka peroleh pada pagi ini sia-sia hanya karena tak terangkut oleh truk tangki pengangkut susu.

Pak Dodo seorang peternak yang sudah menggeluti ‘usaha’nya belasan tahun, tepatnya 15 tahun sekian bulan. Walaupun demikian jumlah ternaknya tak pernah beranjak lebih dari 4 ekor. 2 sedang laktasi ketiga, 1 dara dan seekor lainnya masih pedet. Pagi ini dia akan setor 17 liter air susu.

Dengan satu isteri dan 1 orang anak, diusianya yang menginjak 48 tahun sebenarnya untuk ukuran Kp Ranca, Ds. Tarumajaya. Kec. Kertasari Pak Dodo termasuk peternak yang beruntung. Selain mengusahakan 3 Ha lahan miliknya kadang dia masih dibantu isterinya berwiraswasta. Banyak peternak sapi perah yang hanya memiliki 2 – 3 ekor dan tak memiliki lahan. Namun pada tahun-tahun terakhir ini ia merasa sangat prihatin. Daya beli peternak dan petani umumnya semakin rendah. Sudah beberapa tahun terakhir harga susu tak kunjung membaik sementara harga pakan dan biaya hidup semakin meningkat bak meteor.

Para ahli selalu memberi angin segar bahwa usaha sapi perah sangat perspektif. Indikator makronya, di Indonesia masih sangat memerlukan, dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN konsumsi susu per kapita bangsa Indonesia termasuk yang rendah 11,84 liter (2010). Artinya, rata-rata orang Indonesia minum 32,44 mililiter atau 2 sendok makan per hari. Bandingkan dengan negara-negara eropah umumnya yang sudah mencapai di atas 50 liter.

Fakta bahwa konsumsi susu nasional tumbuh positip memang sangat melegakan. Tapi benarkah orang Indonesia butuh susu segar?. Kelihatannya koq tidak. Masyarakat lebih menyukai susu bubuk dan kental manis. Iklannya sangat gencar dan menarik. Setiap saat di televisi ada iklan-iklan tentang susu bubuk, susu kental manis, susu evaporasi. Anak2 malahan mendapatkan pengetahuan tentang pentingnya minum susu segar melalui sinetron. Pola konsumsi susu itu ditangkap pedagang dan industri sebagai sebuah peluang usaha yang menjanjikan. Menurut catatan sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional harus dipenuhi dari susu impor baik sebagai bahan baku ataupun produk susu. Seperti Skim Milk Powder (SMP) dan Anhydrous Milk Fat (AMF).

Tidak ada yang salah dengan iklan tapi kurang seimbang. Secara langsung dan tidak langsung berdampak sangat buruk terhadap usaha peternakan rakyat. Preferensi masyarakat terhadap susu digiring secara tidak bertanggungjawab. IPS? Ada yang bilang masih untung IPS masih mau menyerap dari peternakan rakyat melalui koperasi. Tapi menurut saya, instrumen kebijakan rasio penyerapan susu segar dan ijin impor susu oleh IPS seperti jaman orde baru jauh lebih baik. Bolehkah dan baikkah kalau pemerintah terlalu ikut campur dengan perdagangan?. Menurut saya boleh dan harus.

Namanya saja untuk kesejahteraan rakyat bukan kesejahteraan untuk segelintir pengusaha. Negara harus menjadi aktor utama yang bertanggungjawab mencapai janji kesejahteraan. Kalau tidak mau berperan, ya jangan salahkan kalau ada anggapan bahwa pemerintah tidak serius dalam memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat.

Pak Dodo yang seorang peternak sapi perah bukanlah satu-satunya peternak yang mengeluhkan kurangnya perlindungan terhadap nasib peternak. Para petani, nelayan dan buruh perkebunan malahan lebih buruk lagi?. Sekali lagi masalah perlindungan.

Beberapa waktu lalu, petani di Desa Genaharjo, kecamatan Semanding, kabupaten Tuban resah. Ratusan hektar sawah yang menghampar hanya terlihat pohon jagung yang mulai menguning. Pohon-pohon jagung itu baru berusia sekitar dua minggu. Petani bahkan sudah empat kali mengeluarkan dana untuk tanam jagung karena tiap kali tanam jagung yang diprediksi tak akan turun hujan deras lagi namun tiba-tiba hujan kembali turun. Maka hancurlah harapan petani untuk bisa memanen jagung yang telah menghabiskan dana dan tenaga. Para petani kebingungan?. Bagaimana seharusnya pemerintah (pusat dan daerah) bertanggungjawab atau minimal berempati? Jangan salahkan alam, jangan salahkan petani, peternak, nelayan dll. Mereka berhak mendapat perlindungan dan tentunya penjelasan dan jalan keluar. Memasuki musim paceklik ke depan, sudahkah para pemimpin memikirkan solusinya kalau2 ada masalah?.

Tentu ada pertanyaan balik, pemerintah tidak bisa sendirian mengatasi masalah di lapangan. Harus ada partisipasi aktif masyakat, perguruan tinggi, elemen2 LSM dan lain-lain. Nah,kalau begitu mestinya pemerintah harus sering2 turun, buka mata dan telinga mendengarkan aspirasi, tidak semaunya sendiri. Dan.,jangan ragu2 dengan kebijakan. Sejauh kebijakannya pro rakyat, insyaalloh akan didukung.

Tak ada yang salah dengan pasar bebas. Tapi para pemimpin harus memiliki komitmen yang jelas. Pemimpin yang cerdas adalah mereka yang mengutamakan, memprioritaskan dan memperkuat usaha dan industri strategis dalam negeri terlebih dahulu sebelum bersaing dengan produk impor. Membangun industri dalam negeri sudah pasti akan memberikan nilai tambah jauh lebih tinggi daripada sedikit2 impor.

Apa itu industri strategis? Pikirkan sendiri, pemimpin khan mestinya lebih tahu. Dan mereka dipilih untuk menjalankan amanah UUD 1945 dan nilai2 dalam Pancasila. Selamat memaknai Hari Kebangkitan Nasional. Dan jangan lupa tanggal 1 Juni nanti bukan hanya merupakan hari lahirnya Pancasila tapi juga hari susu sedunia.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.