Skip to content


Prioritas mesti dimulai dari pemahaman terhadap diri sendiri.

Bandung, 15 Mei 2011. Dalam beberapa hari terakhir ini, frekuensi guyuran hujan, angin bahkan kilatan petir di Bandung kelihatannya lebih tinggi dibandingkan pada hari-hari sebelumnya. Hampir setiap hari curahan air dari langit jatuh dan menggenangi kawasan Bandung Timur dan Selatan. Mungkin orang-orang sudah begitu jemunya dengan banjir sehingga menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Guyuran hujan memang sedikit mengganggu beberapa aktivitas luar. Orang2  menjadi agak malas bepergian. Lihat saja di kelas:  anak-anak mahasiswa banyak yang terlambat masuk kuliah bahkan tidak masuk sama sekali. Semangat, disiplin ataupun etos langsung maupun tidak langsung memang ditentukan cuaca dan situasi. Sebuah gejala alamiah dan manusiawi?.

Hujan memang harus kita pandang sebagai rahmat atau rezeki: alat untuk bersuci ( Mandi, Wudhu, Mencuci najis),  bahan konsumsi manusia (makan dan minum),  untuk menyuburkan tanah untuk menumbuhkan tanaman (QS. Al An’am :99 ) bahkan untuk kehidupan hewan ternak (QS.An Nur :45).   Hujan seringkali menyebabkan banjir tapi  bukan hujannya yang mesti kita tolak. Karena banjir, lebih disebabkan oleh perilaku manusia dalam mengelola lingkungan.

Petir adalah lompatan bunga api raksasa antara dua massa dengan medan listrik berbeda. Sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik dan menimbulkan suara yang menggelegar. Kita mengenalnya sebagai geledek.

Ada pendapat bahwa ar ro’du (geledek) adalah suara malaikat. Ar ro’du kadang dimaknakan dengan malaikat yang ditugasi mengatur awan. Sedangkan al barq atau ash showa’iq adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat yang digunakan untuk menggiring mendung.

”Subhanalladzi sabbahat lahu”. Maha suci Allah, ”Sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya.”

Tapi barangkali ada sisi lain menarik dari petir. Konon setiap tahunnya, petir menyumbang sebanyak 10 juta ton nitrogen yang diperlukan oleh tumbuhan dan mengisi 4/5 atmosfer bumi. Proses alam ini menyebabkan fiksasi nitrogen hingga menghasilkan unsur nitrogen. Nitrogen itulah yang diperlukan oleh tumbuhan dan bagian penting penyusun protein, zat nutrient utama bagi kehidupan manusia dan hewan.

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (banyak membawa kemanfaatan), lalu Kami tumbuhkan dengan air itu taman-taman dan biji-biji tanaman yang diketam. Dan pohon kurma yang tingi-tinggi yang memiliki mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Demikianlah terjadinya kebangkitan.” (Qs. Qaaf: 9-11).

Jadi dalam memandang hujan, petir dan geledek kita mesti harus bijak. Pekerjaan tak harus berhenti karena fenomena alam. Biarlah Tuhan yang mengatur kehidupan ini.

Setahun yang lalu saya sedang santai membaca sebuah buku “Storm Prey” karya John Sanford. Sebuah buku bergenre horor (melebihi Silence of the Lamb, red), saya diberitahu seorang teman untuk membaca karya  David E. Stein:” Interrupting Chicken”. Katanya mah bagus untuk merefresh otak.

Awalnya saya kira itu sebuah buku peternakan, setidaknya tentang ayam. Saya bolak-balik membaca buku itu dari bab ke bab lain, bahasanya agak “sedikit rumit” ,  tak terlalumudah untuk dipahami dan dimengerti. Tapi lama-lama saya agak sedikit paham apa tujuannya. Intinya sepertinya kita seharusnya menyikapi anak-anak yang kebetulan menderita autism and ADHD atau singkatan Attention deficit hyperactivity disorder. Inattention, hyperactivity, dan  impulsivity adalah beberapa kunci penting bagi para penderita  ADHD.

Rupanya banyak pertanyaan-pertanyaan besar yang bisa muncul dari kehidupan seekor ayam. Cerita menjelang tidur untuk seorang anak ternyata sangat penting. Mungkin harmonisasi kehidupan bisa diturunkan dari generasi ke generasi melalui sebuah cerita fabel yang kadang kelihatannya sederhana. Pesannya adalah agar anak-anak mestinya bisa memaknai buku yang memancing pertanyaan besar tentang kehidupan. Sambil perlahan secara serius memikirkan hakekat kehidupan itu sendiri.

Well, 5 hari terakhir sejak senin kemarin sangat menyita dan menguras pikiran. Audit eksternal ISO 9001:2008 PPBS tahap ke dua perlu persiapan yang matang agar kebijakan dan sasaran mutu yang ingin dicapai bisa berlanjut dan alhamdulillah pada akhirnya bisa berlanjut dengan baik. Belum juga dengan kepenatan ISO, pekerjaan lain sudah menunggu: membuat rancang bangun nasional pengembangan ternak kerja dan pedomannya. Dan, alhamdulillah belum selesai, insyaalloh harus diselesaikan minggu depan.

Pekerjaan tak harus diselesaikan di kampus. Belajar tak harus dilakukan di kampus. Namun aturan perkuliahan, aturan kerja, dan lain-lain mengharuskan kehadiran secara fisik. Dan lebih dari itu, secara sosiologis memang ada baiknya kehidupan ini secara rutin dipelihara dengan cara melakukan komunikasi secara langsung. Begitulah semestinya kita memaknai hidup dan kehidupan. Namun kadang-kadang terlalu lama di kampus justru membuat banyak pekerjaan tidak selesai, itulah faktanya?.

Jadi semestinya ada tujuan yang jelas dalam kehidupan ini. Prioritas dalam melihat kehidupan. Priority in employment. That would be a great craft to include in a story time at school, the library or at home. Begitu ya??  “Getting in touch with your true self must be your first priority.”

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.