Skip to content


Disiplin dan etos kerja dimulai dari ruang-ruang kelas.

Bandung, 4 Mei 2011. Kampus adalah sebuah tempat dan wahana dimana kita bisa belajar tentang banyak hal selain pendidikan. Secara sosiologis melalui interaksi dengan berbagai komunitas kita semestinya memperoleh pengayaan bathiniyah dan bagaimana semestinya berinteraksi  dengan banyak orang dengan berbagai karakternya. Secara filosofis melalui pembelajaran, semestinya ada nilai tambah dalam berpikir secara sistematis, daya logik dan daya analisis. Sesederhana itukah?. Wallahualam bishowab.

Ada pandangan sinis tentang keterkaitan ibadah dengan bekerja. Padahal keduanya mestinya satu paket,  bisa berjalan simetris dan saling memperkuat. Dalam pandangan dan pengamatan saya, banyak mahasiswa yang bagus dan taat dalam ibadah,  rajin dan disiplin di kelas namun tak sedikit yang  sering terlambat masuk kelas,  terlihat ngantuk di kelas, dan kurang cekatan dalam menjalankan profesi. Pandangan yang semestinya bisa di kikis seandainya kita bisa menyelaraskan filosofi pendidikan tentang sistematika berpikir dengan performan kita dengan nilai2 keimanan dan taqwa. Karena dalam proses pendidikan dan pembelajaran, mestinya output sistematika berpikir adalah rajin, disiplin dan tepat waktu sedangkan outcomesnya adalah etos kerja dan produktivitas.

Tentu kita tak boleh melupakan satu hal yaitu: Dahulukan Yang Harus Didahulukan. Mendahulukan yang utama merupakan sesuatu yang menuntut integritas, disiplin dan komitmen. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Mu’minun 23:1-3 “Sungguh berhasil orang-orang mukmin, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka dan orang-orang yang berpaling dari perbuatan dan percakapan yang sia-sia”, dan dalam surat Al-’Ashr 103:1-3 “Demi waktu, sesungguhnya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran”. Dan shalat yang diwajibkan dengan ketentuan waktu yang jelas (kitaaban mawquuta), seharusnya membantu kita mengajarkan kedisiplinan dalam melakukan segala sesuatu.

Proses pendidikan dan pembelajaran yang dijalani di kampus dalam waktu yang cukup singkat hanya sedikit membekali ilmu, hardskill dan softskill yang itupun bersifat duniawi. Nilai-nilai universal ada yang tersirat dan terkandung dalam berbagai mata kuliah namun pesan itu seringkali tak tertangkap jelas dan hilang bersamaan dengan pergantian semester.

Ringkas kata, ada sebuah pilihan dan sedikit resiko yang secara cerdas dan bijak harus dipilih oleh teman-teman yang kini sedang belajar di kampus. Seberapa jauh kita mampu memanfaatkan waktu yang pendek namun bernilai tinggi itu untuk mempersiapkan masa depan. Sekolah dan kuliah tidak mempersiapkan mereka menjadi seorang pekerja namun lebih dari itu menjadi muslimin yang memiliki etos kerja tinggi.

Di ruang kelas, kedisiplinan dan kesungguhan yang tinggi sangatlah berarti. Cermin tak pernah berbohong. Karena itu apresiasi dan penghargaan terhadap sesuatu, termasuk menghargai waktu adalah sesuatu yang mestinya bisa ditauladani. Kata para ahli: kultur sosial punya dampak pada tingkat kemampuan orang untuk berinisiatif, karena manusia punya tabiat “saling terpengaruh dan mempengaruhi”.

Mengutip al-Qardhawi dalam bukunya “Qimatul waqti fil Islam”: waktu adalah hidup itu sendiri, maka jangan sekali-kali engkau sia-siakan, sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaidah. Setiap orang akan mempertanggung jawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian, seperti gemar menangguhkan atau mengukur waktu, yang berarti menghilangkan kesempatan. Namun, kemudian ia mengkambing hitamkan waktu saat ia merugi, sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan.

Rasulullah menasehati umatnya agar sekali-kali latihan hidup susah, “Ikhsyausyinu, fainnanni’mata la tadumu.” Bersusah-susahlah, karena sesungguhnya nikmat Allah itu tidak selamanya (bersama kita). Mestinya hal tersebut berdampak pada disiplin, integritas dan etos kerja. Kita kaum Muslimin mestinya mempunyai etos kerja yang demikian kuat dan mendasar, karena ia bermuara pada iman, berhubungan langsung dengan kekuatan Allah. Tentu sangat ironis karena kadang ternyata tak selalu terlihat simetris. Masih banyak yang ‘jauh panggang dari pada api’. Padahal, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Islam adalah pangkal segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung tombaknya adalah jihad.” (H.R.Thabrani). Semangat jihad juga semestinya nampak di ruang-ruang kelas, di dalam laboratorium, kandang dan lain-lain. Tidak hanya kelihatan nampak sholeh namun kita harus menunjukkan prestasi dan semangat jihad.

Kultur pendidikan dimana kita sedang belajar dan kuliah akan membentuk kepribadian dan sangat mempengaruhi daya inisiatif seseorang. Kita semestinya mensyukuri dapat menikmati masa-masa perkuliahan, nikmat hidayah, berupa ilmu dan petunjuk-Nya. Dengannya, kita membangun konsep diri, skema berfikir, membangun paradigma dan persepsi terhadap segala hal, termasuk cara kita memandang diri kita sendiri selaku manusia dan hamba-Nya.

Ada beberapa alasan mengapa kita saling berwasiat dan perlu melakukan kontemplasi. Ke depan tugas dan tantangan kita akan semakin berat dan komplek. Gelar sarjana takkan berarti apa-apa tanpa pemaknaan dan penguatan. Ketika kita memilih pekerjaan, maka haruslah didasarkan pada pertimbangan moral, apakah pekerjaan itu baik (amal shalih) atau tidak. Islam memuliakan setiap pekerjaan yang baik, tanpa mendiskriminasikannya namun ketika sebuah profesi telah kita pilih maka jihad adalah pilar yang sangat penting dan itu dimulai dari kondisi kelas dan lingkungan kampus. Transendensi menjadikan nilai-nilai keimanan sebagai bagian penting dalam membangun peradaban dan menempatkan agama (nilai-nilai Islam) pada kedudukan yang sangat sentral dalam segala profesi. Aktif, dinamis, produktif dan profesional dimulai dari hal-hal yang sederhana, yaitu tidak terlalu sering terlambat pada saat perkuliahan.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.