Skip to content


Sederhana, damai, dan tidak memaksakan life style mereka

Bandung, 23 Januari 2011. Pagi yang kurang cerah untuk sebuah hari libur. Mendung masih menyelimuti kota Bandung dan seakan ingin mengatakan, hari ini mungkin kurang baik untuk menikmati liburan jadi lebih baik duduk-duduk manis di rumah.

Pagi ini ada hallo-hallo dari jajaran RT untuk meramaikan senam aerobik di taman milik RW (kebetulan lapangannya hanya berjarak 30 meter, dekat rumah pokoknya). Tapi hari ini ada saudara yang akan pulang ke Pontianak lewat Bandara Sutta, jadi jam 08.00 mesti sudah harus sampai ke BSM. Jadi harus menemani saudara yang sudah jauh-jauh menyambangi ke Bandung.

Buru-buru kulipat selimut kesayangan, sebuah Quilt yang bertahun-tahun menemaniku. Quilt ini sejenis jahitan yang terdiri dari beberapa lapisan yang umumnya digabung-gabungkan, menggunakan teknik yang disebut teknik quilting.

Aku pastinya bukan berasal dari suku Amish (mereka merupakan keturunan jerman-swiss) di amerika. Sebuah suku  yang memiliki ciri khas memakai quilt dan dikenal dengan quilt Amish. Katanya quilt mereka mencerminkan filosofi agama. Mereka hanya menggunakan warna solid dalam pakaian dan quilt. Membatasi warna seperti kuning atau merah karena dianggap “terlalu duniawi”. Hitam adalah warna dominan. Dan quilt karya suku Amish memiliki kualitas tertinggi. Quilt Amish sangat antik dan merupakan salah satu yang paling sangat berharga di kalangan kolektor dan penggemar quilting.

Bangsa Amish ini agak ter-isolate dari daerah dan masyarakat amerika sekitarnya. Karena budaya, sosial, dan agama mereka yang membatasi aturan hidup mereka, maka tidak heran banyak yang berpendapat bahwa amish bisa dikategorikan strict dan jauh dari moderenisasi. Sederhana, damai, dan tidak memaksakan life style mereka kepada orang lain inilah yang menjadi nilai mereka.

Tentu di berbagai belahan dunia banyak juga quilt-quilt lain yang tak kalah indah. Seperti quilts Hawaii yang sangat khas atau juga Quilt Provencal. Selimut Provencal, saat ini sering disebut sebagai “boutis”, adalah quilt tradisional yang dibuat di Prancis Selatan mulai dari abad ke-17.

Well,

Henk Williams dengan Jambalaya nya menemaniku menyikat dua sisir roti Eaton. Dua sisir roti sebenarnya tak cukup membuat kenyang. Tapi pagi ini tak ada waktu untuk memasak. Dan dalam sehari-hari memang tak biasa sarapan pagi. Kadang saja sarapan nasi Goreng.

Jambalaya tuh mungkin sejenis nasi goreng kalau disini?. Jambalaya adalah salah satu makanan di  Louisiana, Amerika Serikat.  Konon masakantersebut  berasal dari makanan khas dari Spanyol dan Perancis. Bedanya dengan nasi goreng di kita mungkin adalah pada daging dan sayuran.  Creole Jambalaya (atau juga disebut “Jambalaya merah”). Biasanya, ditambah daging dengan seledri atau paprika, merica, dan bawang, daging biasanya ayam dan sosis seperti sosis andouille atau diasapi.

Ada juga jambalaya-jambalaya lain. Mungkin sama seperti disini nasi goreng pun khan nerbeda-beda bumbu dan tambahan-tambahannya.

Tapi sebetulnya jambalaya yang kumaksud adalah “Jambalaya (On the Bayou), sebuah lagu country yang pertama kali disenandungkan oleh  Hank Williams pada tahun 1952.

Good-bye Joe, me gotta go, me oh my oh

Me gotta go pole the pirogue down the bayou

My Yvonne, the sweetest one, me oh my oh

Son of a gun, we’ll have big fun on the bayou.

Ada juga versi lainnya yaitu Cajun French

“Goodby Joe” J’ai Pour Allez, Mi-O-Ma-Y-O

J’ai Pour Allez Moi Tout Seul Sur Le Bayou

Ma Yvonne, La Plus Jolie, Sur Le Bayou

Tonnerre M’ecrase.  Un Va Avoir Un Bon Temp  Sur Le Bayou

Saya tidak tahu etimologi Jambalaya.  The Oxford English Dictionary  menulis: “Jambalaya” berasal dari kata Provençal “jambalaia,” yang berarti mash mish atau mixup, dan juga artinya pilau (pilaf) beras. Penting ngga penting, yang penting lagunya enak di dengar dan aku suka.

Dalam perjalanan ke BSM, sesekali saya buka majalah National Geographic edisi bulan Februari 2011. Tentang monyet pesek penakluk alam, tentang daging ilegal, tentang memburu nyamuk DBD. Artikel-artikel lainnya akan saya baca nanti malam. Membaca National Geographic harus lebih serius, terlalu bagus isinya dan sayang kalau membacanya sepintas-pintas.

Pagi ini saya juga sekilas membaca sebuah koran terkemuka. Yang menarik disitu adalah tentang film Temple Grandin. Film yang dibintangi antara lain oleh Claire Danes ini mendapatkan penghargaan Golden Globe sebagai  pemeran terbaik untuk film televisi. Selamat.

Di kalangan teman-teman sejawat di peternakan maupun para dokter hewan, nama temple Grandin pasti cukup dikenal. Bukan karena dia seorang penderita autis yang bisa keluar dan menjadi seorang ilmuwan saja namun karena karya-karya digunakan sebagai referensi untuk perkuliahan Fakultas Peternakan. Karya utama Grandin adalah “Livestock Handling and Transport, CAB International, Wallingford, Oxon, United Kingdom (2003). Buku lainnya adalah Beef Cattle Behavior, Handling and Facilities Design. Grandin Livestock Handling Systems Inc., Fort Collins, CO. Grandin, T. 1998 (Editor). Genetics and the Behavior of Domestic Animals. Academic Press, San Diego, CA. Grandin T. and Johnson C., 2005. Animals in Translation. Scribner (Division of Simon and Schuster), New York, NY.  Grandin T. and Deesing M. 2008. Humane Livestock Handling. Storey Publishing, North Adams, Massachusetts.  Grandin T. and Johnson C. 2009. Animals Make Us Human. Houghton Mifflin Harcourt, New York, NY. Grand in, T. 2009. Slaughter plants behavior and welfare assessment, Encyclopedia of Animal Behavior (online) ANBY: 00083 Elsevier (ln press, accepted for publication). Grandin, T. 2010. Improving Animal Welfare: A Practical Approach, CABI Publishing, Wallingford, Oxfordshire UK. (ISBN-13-978-1-84593-541-2).

Grandin sukses mendapatkan berbagai gelar. Diantaranya sebagai sajana  Psychology dari Franklin Pierce University (1970) Master of Science in Animal Science dari  Arizona State University (1975) dan Ph.D. University of Illinois (1989).

Jadi dia benar-benar  wanita autis yang sangat produktif. Dan di bulan Agustus 2011 ini, sebuah film semibiografi dari Temple Grandin, akan dapat kita nikmati di Indonesia.  Setelah James Herriot (seorang dokter hewan), yang buku2nya sangat bagus dan biografinya juga diangkat dalam layar putih. Mungkin Temple Grandin lah yang karya-karyanya menyusul diangkat dalam film layar lebar. Good Job.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.