Skip to content


What I cannot see is infinitely more important than what I can see.

Garut, 15 Januari 2011. Pukul 12 lewat beberapa menit  telah berlalu, gerimis kecil menyambut kedatangan kami, hanya beberapa meter dari pintu Gerbang Stasiun Pengamat Dirgantara (SPD) Pameungpeuk. Stasiun Pengamat Dirgantara tersebut  berada di bawah Kedeputian Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan LAPAN yang berlokasi di tepi pantai Cilauteureun Pamuengpeuk Garut  LAPAN.

Katanya lokasi radar di Pameungpeuk yang terletak di tepi pantai Lautan Hindia selain untuk meningkatkan pemahaman tentang cuaca dan iklim di Kawasan Barat Indonesia, juga digunaikan untuk mendukung informasi tentang fenomena-fenomena seperti ENSO dan QBO yang menjadi perhatian pakar iklim dunia. Dengan pengaturan arah pancar sinyal yang ditransmisikan, radar VHF LAPAN dapat dipakai untuk penelitian irregularitas ionosfer pada lapisan E dan F seperti fenomena ES (E Sporadic) dan ESF (Equatorial Spread F), serta penelitian VHF-TEP (Very High Frequency-Trans Equatorial Propagation) di daerah ekuator.

Tak jauh dari pintu gerbang LAPAN,  perjalanan kami sempat tertahan oleh puluhan rombongan  sapi yang dengan santainya menguasai jalan raya. Sapi-sapi tersebut oleh masyarakat di situ dikenal sebagai turunan sapi Santjang, yang secara fenotipe mirip Banteng. Namun entahlah apakah secara genotip masih mewarisi cukup banyak gen dari Banteng.  Dahulu sebagian besar  sapi Santjang atau banteng sancang (Bos Sundaicus) cukup banyak ditemukan di daerah kawasan cagar alam Leuweung Sancang dan Perkebunan karet Mira-mare di perbatasan Garut dengan Tasikmalaya.

Leuweung Sancang atau Hutan Sancang adalah hutan yang dilegendakan sebagai tempat tilem (tempat hilangnya) Prabu Siliwangi. Di hutan ini juga terdapat pohon Kaboa (mirip dengan pohon bakau/Mangrove) yang menurut kepercayaan setempat merupakan penjelmaan para prajurit Pajajaran yang setia kepada Prabu Siliwangi. Oleh karena itu hutan ini dipercaya sebagai hutan keramat yang memiliki daya magis bagi kalangan masyarakat lokal. Konon?.

5 jam yang lalu, kami para Staf PPBS Unpad berniat melakukan refreshing ke ke Jabar Selatan. Pilihannya adalah Pantai Santolo Pameungpeuk Kab. Garut. Sebuah daerah pantai yang masih lumayan alamiah dan layak untuk dinikmati. Walaupun sudah sering ke daerah itu namun untuk  solidaritas rekan sekerja, saya dengan senang hati menyertai teman2 perjalanan.

Perjalanan yang beresiko mengingat cuaca hari-hari terakhir kurang ramah untuk berlibur. Dimana-mana bahkan di berbagai belahan dunia terjadi bencana alam akibat perubahan iklim yang sangat ekstrim. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahkan merilis peringatan dini cuaca ekstrim pada 14-17 Januari akan terjadi siklon tropis Vince di Samudra Hindia. Kecepatannya bisa 39 sd 55 kilometer atau bahkan lebih dan akan menyebabkan hujan deras disertai kilatan petir dan angin kencang.

Tanda-tanda tak nyamannya  refreshing kali ini sudah terlihat. Sepanjang perjalanan dari Bandung sampai ke Pameungpeuk hujan tak hentinya tercurah dari langit.  mestinya kami bisa menikmati pemandangan alam yang luar biasa sepanjang Cikajang sd Cisompet.

Hanya sore hari di pantai Santolo lumayan agak cerah sehingga memungkinkan kami untuk bermain di bibir pantai. (walaupun beberapa kali terdengar suara melalui pengeras suara dari petugas keselamatan pantai  untuk berhati-hati manakala di pantai).

Dan malangnya, karena kelewat bandel saya sampai terjauh terkena hempasan angin dan ombak pantai Santolo yang sangat keras menghantamku dari belakang dan menghempaskanku masuk ke laut terbentur batu dan karang.  Lumayan, setidaknya ada 14 luka terbuka dan memar2. Sesuatu yang  harus menjadi media pembelajaran berharga.

Sungguh luar biasa  kekuatan alam dan sang Pencipta. Sekitar pukul 00.30 malam, saat orang2 mulai tertidur, alam menunjukkan kegarangannya. Badai angin laut, deru ombak,  hujan dan petir yang menyambar-nyambar membuat suasana mencekam. Dalam hitungan detik suasana menjadi gelap gulita karena  lampu padam dan angin yang sangat kencang mengguncang tempat penginapan yang kebetulan persis di depan bibir pantai. Curahan hujan mengguyur kamar dan alat2 di beberapa tempat mulai beterbangan tak karuan.

Semua orang berlarian, Tak ada pilihan lain,  mereka harus dievakuasi di tengah malam di bawah guyuran hujan. Namun selain suasana yang mencekam ternyata juga banyak kejadian yang lucu-lucu.  Banyak yang larinya salah arah, menangis sesenggukan dan lain-lain.

Hampir 2,5 jam, kami “melarikan diri” ke tempat yang jauh dari pantai. Dan setelah mendengar bahwa badai sudah mereda, kami pindah ke tempat lain tapi masih di daerah pantai (gratis disediakan oleh pemilik penginapan). Pukul 05.30, kami pada nengok kembali ke tempat yang kami tinggalkan semalam untuk mengecheck barang2 yang tak sempat di bawa keluar.

Pukul 09.00 saat sarapan pagi kami saling ngeledek tentang perilaku dan kejadian-kejadian lucu semalam. Tapi biarlah itu menjadi rahasia kami. Pasti banyak hikmah dari sebuah perjalanan bersama terutama untuk menjalin talisilaturahim dan keakraban rekan2 sejawat.  Dan seharusnya sebuah kecelakaan dan kelalaian kecil harus bisa menjadi bahan evaluasi bersama untuk ke arah perbaikan.

Dahulu saya sangat kagum dengan salah satu pendapat  Einstein: “Imagination is more important  than knowledge.”  Namun setelah kejadian kemarin saya lebih menyukai apa kata  Duane Michals:  “I believe in the imagination. What I cannot see  is infinitely more important than what I can see.”

Terimakasih untuk semuanya:  Anyone can make a mistake.  But there is always a valuable education from an incident. Your life does not  get better by chance,  it gets better by change. God still loves me.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.