Skip to content


Semua memori yang kita miliki masih akan tersimpan dengan baik, selama kita masih bisa berkedip.

Bandung, 12  Januari 2011.  Hujan gerimis yang tak kunjung henti memaksaku tertahan lebih lama di sebuah tempat fotokopian persis di depan pintu gerbang samping kampus Unpad Dipati Ukur. Sebenarnya saya  tidak menunggu hujan berhenti tapi menunggu fotokopi laporan. Saat menunggu selesainya fotokopi  mataku tertuju pada sebuah buku master fotokopian (untuk anak2 Fakultas Ekonomi), yang kelihatannya sudah lumayan kusam akibat debu. Mungkin buku itu tidak laku-laku: “International Trade and Agricultural”, pengarangnya Won W. Koo and P. Lynn Kennedy. Terbitan tahun 2005.  Jadi, belum terlalu tua.

Perdagangan internasional selalu menarik untuk dicermati dan disikapi. Baru beberapa yang hari yang lalu, pemerintah mewacanakan kebijakan  penting di bidang Peternakan yaitu pengenaan bea masuk untuk bahan baku pakan ternak impor. Menurut pemerintah, hal tersebut untuk mengantisipasi lonjakan harga pangan, pada awal tahun ini. Sebagian pengusaha melihat, jika kebijakan tersebut dilaksanakan maka  akan berdampak pada penurunan daya beli produk ternak dan terpangkasnya pendapatan peternak. Selain itu kebijakan tersebut dinilai akan menghambat pertumbuhan industri peternakan nasional.

Kelihatannya demi stabilisasi harga, bea masuk impor  produk pangan diturunkan. Menurut Menko Perekonomian Hatta, komoditas bahan pangan yang bakal dibebaskan bea masuk itu diantaranya beras, terigu, kedelai, dan pakan ternak. Sementara gula dan jagung masih tetap dikenakan bea masuk, karena pemerintah ingin meningkatkan produksi kedua komoditas itu.

Pertanyaannya adalah sampai kapan pembebasan bea masuk tersebut nantinya akan terus diberlakukan?. Jangan-jangan malahan akan membuat industri peternakan dalam negeri (baca, sektor primer) malahan sekarat?.  Perlu strategi jangka panjang yang tepat. Liberalisasi pasar pertanian dan peternakan sudah terlalu lama dan akibatnya menyengsarakan.

Sekarang saja, diperkirakan selama ini bahan baku pakan ternak (unggas) berasal dari jagung kuning (10% impor), tepung ikan (90% impor). Sedangkan untuk MBM, Bungkil Kedele, Rape Seed Meal, Corn Gluten Meal, Calcium  Phosphate, feed additive dan vitamin hampir 100% impor. Industri pakan ternak dalam negeri mendesak agar bea masuk bahan baku dikenakan 0%.  Konon, pengenaan bea masuk 0% diharapkan bisa menekan harga pakan ternak di dalam negeri yang selama ini rentan dengan fluktuasi kurs dan harga bahan baku impor.

Beberapa waktu yang lalu memang ada kebijakan, pengenaan PPN tetap harus dilakukan, sebab jika PPN dalam negeri dibebaskan, PPN impor juga harus dibebaskan. Akibatnya, harga barang primer impor, menjadi jauh lebih murah. Hal ini dikhawatirkan akan menyaingi produk dalam negeri, sehingga peternak dan petani domestik juga yang akhirnya dirugikan.

Memang agak ganjil. Mengingat negara kita ini kaya dalam soal sumber daya alam, namun faktanya industri pakan ternak di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Ketergantungan impor bahan baku pakan telah menguras devisa negara yang besar. Karena itu, harus dicarikan substitusi bahan baku pakan yang bisa diproduksi di dalam negeri. Masak sich kita-kita membiarkan potensi dan dayasaing lokal terbunuh di negerinya sendiri?. Karena menurut saya apapun kebijakannya yang penting harus juga bertujuan  meningkatkan daya saing industri dan usaha peternakan di negeri ini.

Jadi membaca buku “International Trade and Agricultural” seolah mengingatkan pada kesia-siaan proses pembelajaran karakter dan National Building generasi muda kita. Saya jadi kasihan dengan anak-anak mahasiswa, yang seringkali direcoki dan dicekoki dengan berbagai teori tentang kebijakan pembangunan. Mestinya belajar (teoritis dan empiris) untuk diterapkan sesuai dengan ide dasar mendirikan negara. Banyak yang paham bahwa krisis pangan global, tidak hanya karena masalah perubahan iklim namun juga permainan canggih spekulan kakap skala global yang ingin meraup untung dari perdagangan komoditas. Dan, juga ketamakan dan kerakusan  para Multinational Corporate (MNC) yang ingin mencengkeram ekonomi negeri kita.

Dulu rasanya bangga sekali  bisa membaca buku-buku klasik seperti An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (Adam Smith, 1776) atau bukunya  David Ricardo: The Principles of  Political Economy and Taxation (1817). Dan pada saat dipaksa untuk mempelajari teori dan karakteristik Pasar Persaingan Sempurna (homogeneous product, perfect knowledge, small relatively output, price taker, free entry and exit). Tentang Pasar Monopoli (Faktor–faktor penyebab terbentuknya Monopoli  Hambatan Teknis (Technical Barriers to Entry), tentang pasar oligopoli, karakter dan penyebab terbentuknya pasar oligopoli dan lain-lain.

Namun kelihatannya ke sini, buku-buku itu hanya membawa sindrom ketidakpuasan. Petinggi-petinggi pemerintahan kelihatannya harus sering baca-baca buku alternatif. Katakanlah buku: Sweetness of Freedom (2010) by Stephen Garr Ostrander dan Martha Aladjem Bloomfield. Atau baca 100 Memoirs – WordPress.com. Saya suka Nancy K. Miller penulis “But Enough About Me: What Do You Think of My Memoir?”.  Cerdas dan bijaksana dalam menuliskan memoarnya.

Impor pangan pasti diperlukan. Karena kalau tidak impor bahan bakunya, mungkin kita tidak bisa menikmati roti berkualitas, sashimi,  sushi Oishii, coklat ala Swiss dan lain-lain. Walaupun demikian makanan lokal seperti daging bebek cabe ijo, ca buncis kuning, gurame goreng kremes tetaplah menarik dan nyum-nyum.

Teori klasiknya Adam Smith bisa jadi sudah usang namun faktanya kaum merkantilis (mereka yang mengidentikkan kekayaan dengan uang): kekayaan adalah kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, semakin banyak penganutnya.  Jadi sampai kapan kita menjadi diri sendiri, menjadi bangsa yang mandiri. Jangan lupa kita hidup di jaman USB. Bahwa: semua memori yang kita miliki masih akan tersimpan dengan baik, selama masih bisa berkedip”, “all we have are flashes.”

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.