Skip to content


Menciptakan peluang untuk memilih cara yang salah.

Bandung, 6 Januari 2011. Minggu-minggu terakhir  ini kita terlalu sering disodori berita-berita yang membikin kening turun 2 cm, yaitu masalah Gayus.  Bahkan anak-anak kecil sangat mengenal nama dan wajah yang bersangkutan. Sebuah pendidikan buruk bagi anak-anak, masa depan harapan bangsa. Anak-anak dan remaja semestinya mendapatkan informasi  yang lebih berkualitas dan juga cerita yang lebih menyejukkan.

You’ve Come To The Right Place!.  Kalimat itu saya  temukan dalam sebuah situs yang mungkin sangat akrab dengan para pembaca buku anak-anak. http://cbiclubhouse.com/.  Selain situs tersebut para pembaca buku anak kadang-kadang mengunjungi http://www.write4kids.com/, sebuah situs tempat kita bisa belajar banyak pada para penulis buku handal terutama mereka yang pernah mendapatkan the Newbery Medal. Dari situlah dulu saya mengenal sastrawan  top seperti Linda Sue Park, penulis buku terkenal:  of A Single Shard.

Datang ke tempat yang tepat dan (benar), adalah sesuatu yang patut kita renungkan. Yang kumaksud di sini tentunya adalah sumber-sumber ilmu pengetahuan dan pembelajaran. Terlalu naif jika di jaman sekarang, seseorang hanya mengandalkan pada beberapa dosen atau guru atau sekolah-sekolah formal.  Belajar bisa darimana saja. Hanya dengan cara belajar mandirilah seseorang bisa mengembangkan potensi diri.

“Lively, literate, and fun to read”,  begitu kata William F. Buckley  dalam California Review.  Sesekali ada baiknya juga kita  lihat (baca, red)   The Cornell Review , The Dartmouth Review ,  The Harvard Salient atau  The Michigan Review, dan masih banyak lagi yang artikel-artikelnya sangat bermanfaat.

Kalau pada saat kanak-kanak saya suka karya/komik Hans Christian Andersen, Rowling, J.K. dan saat remaja mulai suka  karya Kate DiCamillo, Robert Munsch,  Patricia Polacco,  Lowry  Lois maka pada saat kuliah mulai menyukai karya James Herriot, Patricia Reilly Giff dan lain-lain.

Beberapa tahun terakhir saya suka karya Katherine Paterson, (orang yang pernah mendapatkan Memorial Award 2006 Astrid Lindgren untuk Sastra) dan dua kali memenangkan Newbery Medal. Tulisannya bagus-bagus, sebagaimana komentar Smedman, “is her colorful concision. Whether she is narrating or describing, her mode is understatement, her style pithy. She dramatizes, never exhorts. . . . (She is) a major artist, skilled, discerning, and compassionate.”

Paterson membentuk identifikasi yang kuat dengan pembaca karena dia begitu sangat percaya dengan apa yang dia tulis. “Mengapa saya terus menulis cerita tentang anak-anak dan orang muda yang menjadi yatim-piatu atau terisolasi atau terasing?”. Kata Paterson yang sering menulis tentang anak-anak yatim dan atau yang terasing dari orang tua mereka, dan  remaja yang mengisolasi diri atau yang berhubungan hanya dengan satu atau dua teman dekat saja.

Mungkin karena dalam banyak hal Paterson mengajarkan – makna kerendahan hati, tanggung jawab, dan harapan. Tanpa kelihatan sedikit berkotbah.

Hal lain yang bisa menjadi pembelajaran bagi kita yang sering bergumul dengan ternak adalah Fabel. Dalam berbagai hal cerita fabel seringkali mengajarkan pada kita kepekaan, kepedulian dan humanis. Mungkin kalau jaman sekarang ditambah dengan animal ethic, animal welfare dan sejenisnya.

Pada tahun 1940, George Orwell  menulis novel yang terkenal:  Animal Farm, sebuah fabel politik tentang kontradiksi internal komunisme Soviet. Novel yang menjadi sebuah film tersebut  bercerita tentang hewan ternak, yang  lelah dieksploitasi oleh manusia, dan akhirnya  memutuskan untuk mengusir manusia dan mendirikan utopia sosialis di daerah pertanian.

Babi, yang paling pintar dari binatang, memutuskan untuk membuat prinsip-prinsip dimana lahan pertanian tersebut harus dijalankan – “. Semua binatang adalah sama” yaitu memiliki rasa sayang. namun situasi menjadi  cepat berubah (menjadi buruk) ketika babi mendapatkan monopoli kekuasaan, yang dia gunakan untuk menindas semua hewan lainnya. Alegori Orwell itu sebenarnya  untuk menunjukkan bagaimana kontradiksi internal Komunisme menyebabkan keruntuhannya.

Professor Paul Lake dari of Arkansas Tech, baru saja merilis sebuah buku berjudul  “Cry Wolf”, sebuah fabel politik tentang demokrasi Amerika, dengan menggunakan hewan untuk menceritakan kisah yang mirip. Katanya:  Lima puluh tahun dari sekarang, saya tidak akan terkejut melihat hal yang sama seperti dalam  Animal Farm.  The story is about animals that inherit a farm after their human master dies. The animals start out with a constitution, a judge, free elections, and good laws. The most sacred of the laws reads “No Trespassing.”

Demokrasi bukannya tanpa ongkos. Selalu ada resiko disana. Kebebasan ada batasnya. Melalui fabel politik tersebut Prof Lake ingin mengingatkan sesuatu yang mungkin saja terjadi apabila karena “demokrasi, kebebasan  dan alasan HAM”: jika lebih banyak ” hewan liar” yang diizinkan untuk bermigrasi ke peternakan. Terutama jika mereka memiliki kebiasaan mereka sendiri, banyak yang bertentangan dengan hukum pertanian dan konstitusi.

Di bawah tekanan dari hewan liar, kelas kewarganegaraan  dihapuskan. Selain itu, hewan baru yang bersimpati untuk memiliki lebih banyak hewan liar masuk ke tanah mereka. Setelah beberapa saat, ketika binatang buas lebih banyak daripada hewan ternak asli, mereka memilih untuk mengizinkan hewan liar untuk masuk, seperti rubah dan anjing hutan. Sebagian besar hewan ternak asli terbunuh dan dimakan. Akhirnya, peternakan hampir hancur dan menjadi bagian dari padang gurun itu sendiri.  Demokrasi tidak menyelamatkan peternakan, melainkan menciptakan peluang untuk memilih cara yang salah.

Profesor Lake  ingin menyampaikan tentang apa yang kemungkinan bisa terjadi di USA, mungkin sama seperti di negara komunis (Uni Soviet). Menggunakan pertanian sebagai simbol, dengan referensi seperti bahaya imigrasi ilegal, terorisme, dan kebijakan politik.   So, bagaimana dengan Indonesia. Mungkin akan berlaku hal yang sama. Bukankah USA sepertinya menjadi kiblat politik negara kita?.

Untuk menghibur diri, saya malam ini ingin menetralisir pikiran-pikiran liar, sebelum terjerumus ke anarkistik. “Planning and execution are but two aspects of a single act.” kata J. A. Scott Kelso.

Well, ada sebuah artikel yang bagus:  THE COMPLEMENTARY NATURE – karya  J. A. Scott Kelso and David A. Engstrøm. Cambridge (Massachusetts): MIT Press. ISBN:0-262-11291-4. 2006. Subyek dalam buku tersebut  (The Complementary Nature) adalah sebuah  sintesis novel ilmiah dan filosofis.   Dengan retrospeksi bisa dilihat hukum dari pasangan komplementer. Mungkin  alam memang diatur seperti itu.  Buku yang menceritakan tentang bagaimana pola yang layak dalam mengorganisasikan dan mengkoordinasikan diri sebelum pindah ke neuroscience teoritis dan empiris tersebut, bagus untuk ditelaah. Mencari keseimbangan!.

Dan sekedar main tebak-tebakan. Kira-kira Gayus tuh waktu masa kanak-kanak atau remaja suka ngga yaa sama fabel?.

Posted in FolkTale.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.