Skip to content


In that wonderful moment.

Cirebon, 31 Juli 2010. Lima anak kecil itu nampak asyik bermain di sawah, kelihatannya mereka sedang memancing dan mencari belut, ikan gabus dan sejenisnya yang biasa hidup di sawah. Mengingatkan masa kecil nan indah di Semarang 40 tahun yang lalu.

Namun bukan itu saja yang menarik perhatian. Dua dari anak yang belakangan aku tahu masih sekolah di SD Negeri 1 Jagapura Kulon, Kec Gegesik kab. Cirebon itu memakai topi berwarna hijau lumut berlogo Unpad. Topi anak-anak mahasiswa Unpad yang beberapa waktu yang lalu baru saja usai melaksanakan KKN di situ.

Belut sawah atau juga sering disebut moa, atau lindung (Monopterus albus) adalah sejenis ikan anggota suku Synbranchidae (belut), ordo Synbranchiiformes, yang mempunyai nilai ekonomi dan ekologi. Ikan ini enak untuk dimakan, baik digoreng, atau digoreng renyah sebagai makanan ringan.

Teman-teman pencinta lingkungan pasti paham dengan keberadaan belut sawah. Secara ekologi, belut dapat dijadikan indikator pencemaran lingkungan karena hewan ini mudah beradaptasi. Lenyapnya belut menandakan kerusakan lingkungan yang sangat parah telah terjadi. Belut merupakan predator di lingkungan sawah. Makanannya ikan kecil, cacing, krustasea. Ia sebenarnya aktif di malam hari.

Hewan ini dapat mengambil oksigen langsung dari udara dan mampu hidup berbulan-bulan tanpa air, asalkan lingkungannya tetap basah. Hewan ini bahkan mampu menyerap oksigen lewat kulitnya. Kebiasaannya adalah bersarang di dalam lubang berlumpur dan menunggu mangsa yang lewat. Dimanapun juga, karakteristik anak-anak adalah senang bermain bersama. Lingkungan alam adalah dunia anak-anak yang harus ditanamkan sejak dini agar mereka mencintai ciptaan dan mengenal kebesaran Tuhan. Itulah esensi kehidupan yang tak boleh dilupakan sampai kapanpun.

Menjelang Dhuhur, kami berlima sudah nongkrong di sebuah warung tepat di depan kantor Kuwu Ds jagapuro Kulon Kec Gegesik. Kami sedang menunggu Ibu Kuwu, kepala uptd, PPL Pertanian dan petani peternak gapoktan. Hari ini rencananya, bersama-sama dengan Tim teknis Dinas ESDM Provinsi Jabar akan merancang ulang program PHK Institusi Unpad di desa tersebut.

Mestinya kami sebentar lagi harus segera melaksanakan Sholat Lohor (Dhuhur), sholat sunnah qobliyah dan sholat sunnah ba’diyah yang biasanya sering tertunda. Tapi lihat kanan kiri ngga’ kelihatan masijid. Dan lagian sudah lama, saya tidak duduk-duduk bersendau gurau di bawah pohon Mangga yang teduh sambil minum kopi hangat. Kelihatannya pohon mangga arum manis kalau melihat daunnya. Saya ngga hapal jenisnya karena katanya ada sekitar 35 sampai dengan 40 jenis. Peneliti lainnya malahan menyebutkan ada 70 spesies mangga, entahlah mana yang benar?.

Produksi yang diperoleh dari mangga Arummanis berkisar 200-300 buah (rata-rata 250 buah) per pohon. Dengan demikian, produksi per Ha dapat mencapai 31.000 buah (jarak tanam 8 x 10m) dan 52.000 buah (jarak tanam 6 x 8 m). Dalam setiap kg terdapat ± 3 buah, berarti dari setiap Ha diperoleh hasil sebesar ± 10,4 – 17,3 ton. Begitu kata pak PPL Pertanian barusan.

Pukul 12.30 an, diskusi hangat tentang implementasi program PHKI Unpad dengan para pemuka masyarakat pun dimulai. Tidak terlalu lama diskusi yang dilakukan di kantor Bu Kuwu karena target kami hari ini adalah menuju lokasi untuk penempatan panel tenaga surya. Di desa ini kami akan membangun 3 unit untuk digunakan sebagai model saja agar beberapa hektar sawah yang pada musim kemarau tak termanfaatkan bisa lebih produktif. Selain itu juga untuk mendorong meningkatkan KUKM setempat khususnya pengolahan kacang hijau, kelompok peternak itik di situ.

Dan karena lokasinya agak dekat dengan sebuah sekolah dasar, setidaknya anak-anak sekolah tersebut akan teringat dan melihat adanya model pengembangan energi baru dan terbarukan. Suatu saat kami juga inginpinggir sawah dan di dekat sekolah tersebut dibangunkan semacam jamban yang airnya diperoleh dari energi surya. Begitulah kira-kira rencananya. Insyaalloh terealisir.

Energi surya atau matahari telah dimanfaatkan di banyak belahan dunia dan jika dieksplotasi dengan tepat, energi ini berpotensi mampu menyediakan kebutuhan konsumsi energi dunia saat ini dalam waktu yang lebih lama. Matahari dapat digunakan secara langsung untuk memproduksi listrik atau untuk memanaskan bahkan untuk mendinginkan. Potensi yang patut dikembangkan di tengah mahalnya bahan bakar yang lain.

Ke Slendra

Sore hari ini, kami ke kampung sebelah yaitu Slendra, masih di daerah Gegesik. Tujuannya melihat gapoktan domba di desa itu. Beberapa hari yang lalu puluhan domba mati di situ. Dari analisis laboratorium kebanyak positip hellminthiasis dan anaplasma.  Melihat perkandangan yang kumuh-kumuh tak terawat, cara pengelolaan yang ngga jelas dan pakan yang ada memang sungguh memprihatinkan. Harus ada sentuhan manajemen dan teknologi. Karena kalau saya amati potensi daerah ini sangat bagus untuk pengembangan ruminansia. Sawah sangat luas, produksi limbah pertanian melimpah.

Well., hari ini kami hanya sempat makan pisang goreng dan minum air kelapa yang menyegarkan namun menyenangkan bisa seharian ada di Kecamatan Gegesik.

Dalam perjalanan pulang kami iseng-iseng menggunakan GPS untuk mencari rumah makan yang lumayan enak untuk makan malam.  Ngga ketemu-ketemu namun akhirnya ada sebuah rumah makan yang menjual Sate kambing dan gule Abah Jenggot, di daerah Kadipaten. Lumayan juga rasanya, bumbunya kelihatannya dicampur lada atau pala?.

Terimakasih Tuhan, hari ini kami diijinkan bertemu dengan teman-teman yang mengasyikkan. In that wonderful moment somethin’ happened to my heart, begitu kata Patti Page dalam lagu Changing Partners.

Posted in Refresh.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.